Dunia berubah dalam semalam. Langit di atas tanah perbatasan Amerika berubah warna, bumi terbelah, dan makhluk-makhluk yang dulunya manusia atau ternak kini bangkit sebagai monster haus darah. Di tengah kekacauan itu, Elena Cross — janda pemilik Rocking Spur Ranch yang tengah hamil delapan bulan — berjuang sendirian mempertahankan tanahnya dari serangan pertama gerombolan ternak yang bermutasi.
Di saat paling genting, sebuah kekuatan misterius bangkit dalam dirinya: **Gudang Tanpa Batas**, sebuah sistem ajaib yang bisa memunculkan senjata, makanan, obat-obatan, dan perbekalan apa pun dari udara kosong — aktif hanya karena satu syarat: melindungi kehidupan baru di tengah kehancuran dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miichi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Menuju Pegunungan Timur
Perjalanan menuju zona pegunungan timur memakan waktu jauh lebih lama dari ekspedisi-ekspedisi sebelumnya—hampir tiga minggu penuh, melintasi wilayah yang belum pernah dijelajahi oleh siapa pun dalam rombongan, kecuali Kapten Reyes dan timnya yang telah melakukan pengintaian awal.
Lanskap berubah drastis seiring mereka bergerak semakin jauh ke timur. Padang rumput dan ngarai berbatu yang familiar bagi Elena perlahan digantikan oleh hutan-hutan lebat yang tumbuh dengan pola aneh—pohon-pohon menjulang tinggi dengan daun yang berkilau seperti kristal, sungai-sungai yang mengalir dengan warna kebiruan tidak wajar, dan sesekali, reruntuhan kota-kota yang telah lama ditinggalkan, kini diselimuti tumbuhan yang tumbuh liar dengan kecepatan tidak masuk akal.
"Zona-zona ini belum sepenuhnya dipetakan sejak kiamat," jelas Reyes suatu malam, saat mereka mendirikan kemah di tepi hutan kristal yang mereka lewati hari itu. "Divisi kami fokus mempertahankan apa yang tersisa dari struktur pemerintahan di ibu kota sementara, jadi eksplorasi wilayah seperti ini jadi prioritas rendah, meski jelas dibutuhkan."
Dr. Voss, yang duduk di dekat api unggun sambil memeriksa catatan-catatan yang ia bawa, mengangguk setuju. "Pola pertumbuhan tanaman seperti ini konsisten dengan efek regenerasi yang tidak terkendali—sama seperti kristal yang tumbuh di reruntuhan Prometheus regional, hanya dalam skala yang jauh lebih luas di sini."
Grimes, yang sejak awal perjalanan cenderung diam dan menjaga jarak, penuh kesadaran akan sejarahnya yang rumit dengan sebagian anggota tim, akhirnya angkat bicara. "Kalau efek regenerasi menyebar seluas ini hanya dari resonansi awal, aku khawatir kondisi di dekat fasilitas pusat sendiri akan jauh lebih ekstrem."
"Seberapa ekstrem?" tanya Whitlock, yang meski telah menerima keputusan Elena mengizinkan Grimes ikut, masih menjaga kewaspadaan tertentu terhadapnya.
"Aku tidak yakin," Grimes mengakui jujur, "tapi berdasarkan pengalamanku sendiri memaksa fragmenku tumbuh melampaui batasnya, aku bisa menduga bahwa dekat sumber kekuatan sebesar itu, hukum-hukum alam yang kita kenal mungkin tidak lagi sepenuhnya berlaku."
Elena, yang duduk agak terpisah dari kelompok, menatap ke arah kotak cahayanya sendiri yang berdenyut pelan di kegelapan malam, merasakan sesuatu yang aneh—resonansi yang semakin kuat seiring mereka mendekati tujuan, seolah bagian dari dirinya sendiri mulai bergema dengan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang pernah ia rasakan sebelumnya.
"Ada yang berbeda," gumamnya, lebih pada dirinya sendiri, namun cukup keras untuk didengar Dr. Voss yang duduk di dekatnya.
"Berbeda bagaimana?" tanya Voss, penasaran.
"Gudangku," Elena mencoba menjelaskan, meski sulit menemukan kata-kata yang tepat. "Sejak kita mulai mendekati zona ini, aku bisa merasakan sesuatu yang seperti... panggilan. Bukan ancaman, tapi juga bukan sepenuhnya ramah. Seperti sesuatu yang telah lama menunggu, dan kini menyadari kedatanganku."
Voss mencatat pengamatan itu dengan seksama, wajahnya serius memikirkan implikasinya. "Itu bisa jadi hal baik, atau sangat berbahaya, Nyonya Cross. Kesadaran di Prometheus regional yang kau temui memilihmu karena niat murnimu. Kalau fasilitas pusat memiliki kesadaran serupa namun jauh lebih besar, resonansi yang kau rasakan mungkin adalah tanda bahwa entitas itu juga mulai 'mengenali' kehadiranmu, sama seperti yang terjadi di regional."
Malam itu, saat sebagian besar anggota tim telah tertidur lelap kelelahan dari perjalanan panjang, Elena tetap terjaga, menatap ke arah timur—ke arah pegunungan yang mulai terlihat samar di kejauhan, siluet gelap yang menjulang tinggi di bawah cahaya bulan yang mulai kembali normal.
Kotak cahayanya berdenyut pelan di sudut penglihatannya, dan untuk sesaat, ia bisa bersumpah mendengar bisikan samar—bukan kata-kata yang jelas, melainkan gema perasaan yang sulit dijelaskan: penantian panjang, kesepian yang mendalam, dan sesuatu yang menyerupai harapan yang hampir padam namun belum sepenuhnya hilang.
*Aku datang,* pikirnya, mengirimkan niat itu ke arah gema yang samar, meski ia tidak sepenuhnya yakin apakah pesan itu akan diterima atau bahkan dimengerti. *Aku datang untuk mencari jawaban, dan mudah-mudahan, untuk membawa keseimbangan yang telah lama hilang.*
Angin malam berhembus pelan melalui hutan kristal di sekitar mereka, membawa suara gemerincing lembut dari daun-daun yang berkilau, seolah alam sendiri merespons niat yang baru saja terkirim ke arah gunung-gunung yang menjulang gelap di kejauhan, menyimpan rahasia yang akan segera terungkap.
---
ajaib kenapa tidak rahsia kan saja
gila !!