Pada ulang tahun pernikahannya yang pertama, Hazel Frost menemukan suaminya, Mason Roux mencium wanita lain dengan kedua matanya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, bahwa wanita itu adalah adik tiri suaminya, Jennifer.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi rahasia yang menyakitkan. Meski tahu hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki, Hazel tetap bertahan. Ia mencoba membuat Mason melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar wanita yang terpaksa harus dinikahi.
Namun semakin lama, Hazel mulai menyadari satu hal, bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan sendirian. Lalu ketika ia akhirnya memilih berhenti dan pergi, Mason justru mulai menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat? Apakah Hazel masih bersedia kembali pada pria yang pernah menghancurkan hatinya? Atau justru Mason Roux yang akan menyesal seumur hidup karena kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1
Untuk beberapa detik yang terasa lebih lama dari seharusnya, aku hanya berdiri di depan cermin.
Ruangan bridal itu tampak tenang, bahkan terlalu tenang untuk hari sebesar ini. Cahaya pagi masuk melalui jendela besar di sisi ruangan, lalu jatuh dengan lembut di lantai kayu dan memantul pada permukaan meja rias yang dipenuhi alat make up. Aroma hairspray bercampur dengan wangi bunga putih yang ditata begitu indah di sudut ruangan. Segalanya tampak begitu sempurna.
Namun yang paling membuatku sulit percaya adalah pantulan bayangan di depan cermin itu. Bayanganku. Gaun pengantin putih membungkus tubuhku dengan anggun. Bahannya lembut, menyentuh kulit seperti bisikan yang halus. Rambutku ditata sederhana namun tampak elegan, disanggul rendah dengan beberapa helai yang dibiarkan jatuh di sisi wajah. Juga make up tipis yang membuat wajahku tampak lebih dewasa dari biasanya.
Rasanya, aku hampir tidak mengenali diriku sendiri. Perlahan aku mengangkat tangan dan menyentuh pipiku, seolah ingin memastikan bahwa bayangan itu benar-benar nyata.
Hari ini aku akan menikah. Dan pria yang akan menjadi suamiku adalah Mason. Nama itu saja sudah cukup membuat dadaku dipenuhi getaran halus yang sulit dijelaskan.
Aku masih ingat dengan jelas pertama kali melihatnya. Ingatan itu datang begitu saja, seperti potongan film yang diputar ulang tanpa diminta. Hari itu memang sederhana, tanpa sesuatu yang istimewa. Namun sejak saat itu, perasaanku tidak pernah benar-benar sama lagi. Aku tidak tahu kapan tepatnya perasaan itu tumbuh. Yang aku tahu, sejak hari itu, setiap kali aku memikirkan masa depan, sosok Mason selalu ada di dalamnya.
Tanganku bergerak perlahan ke arah cincin kecil yang melingkar di jariku. Cincin pertunangan itu terlihat sederhana, namun bagiku terasa sangat berarti. Aku mengusap permukaannya dengan ibu jari, merasakan dingin logamnya diikuti potongan kenangan yang terus membayangiku tentang betapa indahnya hari itu.
Aku masih tidak percaya pria seperti Mason memilihku. Kini, jantungku berdetak sedikit lebih cepat. Gugup. Bahagia. Takut. Semua bercampur menjadi satu perasaan yang sulit dijelaskan. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.
Hari ini semuanya akan dimulai. Hari ini aku akan menjadi istrinya. Lalu, suara ketukan pelan di pintu akhirnya membuatku tersentak dari pikiranku. Aku pun sontak menoleh.
“Masuk,” kataku.
Pintu terbuka perlahan. Ayah berdiri di ambang pintu. Ia mengenakan setelan formal berwarna gelap yang membuatnya terlihat lebih rapi dan gagah dari biasanya. Rambutnya disisir ke belakang dengan rapi, dan untuk sesaat ia hanya berdiri di sana, menatapku tanpa berkata apa-apa. Ekspresi di wajahnya membuat dadaku terasa hangat—ia tampak terharu.
Ayah lalu melangkah masuk ke dalam ruangan. Langkahnya pelan, seolah tidak ingin merusak suasana yang sedang terjadi. Ia berhenti beberapa langkah dariku, memandangku dari ujung kepala sampai kaki. Lalu ia tersenyum.
“Kau terlihat sangat cantik.”
Aku tidak bisa menahan senyum kecil yang muncul di bibirku. “Terima kasih, Ayah.”
Aku menatap diriku lagi di cermin, lalu menatapnya melalui pantulan itu. “Sejujurnya aku merasa begitu gugup. Aku takut tersandung di tengah jalan menuju altar.”
Ayah pun tertawa pelan. Bukan tawa keras yang menggetarkan ruangan, melainkan tawa lembut yang penuh kehangatan. “Kalau itu terjadi,” katanya ringan, “Mason akan menangkapmu.”
Pipiku langsung terasa hangat, begitu mendengar nama Mason disebut. Bayangan sosoknya yang tampan dan menawan, tengah menungguku di altar langsung memenuhi benakku, memporak-porandakan hatiku. Aku pun menunduk sedikit, menyembunyikan rasa malu yang tiba-tiba muncul.
Ayah berjalan mendekat dan berdiri di sampingku. Dari cermin aku bisa melihat matanya yang sedikit berkaca. Ia tidak mengatakan apa-apa selama beberapa detik, melainkan hanya menatapku.
Lalu akhirnya ia berkata dengan suara lembut, “Sudah waktunya.”
Dan pada detik itu, dadaku mendadak terasa seperti ditekan oleh sesuatu yang tidak terlihat. Ini sudah waktunya. Hari ini benar-benar terjadi.
Aku menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian yang tiba-tiba terasa menipis. Hingga akhirnya, Ayah mengulurkan lengannya padaku. “Siap?”
Aku menatap lengannya beberapa detik, lalu mengangguk. “Ya.” jawabku, mantap. Meskipun jantungku berdebar begitu keras hingga rasanya bisa didengar oleh siapa pun di ruangan ini.
Aku menyelipkan tanganku di lengannya. Lalu, kami berjalan menuju pintu. Begitu pintu besar itu terbuka, dunia seolah berubah. Musik pernikahan mulai terdengar dari dalam gereja.
Suara musik itu mengalun dengan lembut dan perlahan memenuhi udara. Para tamu yang duduk di bangku panjang pun berdiri satu per satu. Cahaya dari jendela-jendela tinggi gereja membuat ruangan itu terasa hangat dan sakral.
Aku melangkah masuk bersama ayahku, dengan perlahan dan perasaan gugup yang masih menyertaiku. Gaun pengantin panjang yang kukenakan bergesekan lembut dengan lantai marmer. Setiap langkah terasa begitu nyata, begitu berat sekaligus ringan.
Aku mencoba untuk tidak melihat siapa pun dulu. Di dalam gereja itu terlalu banyak wajah, juga rasanya terlalu banyak mata yang memperhatikan.
Aku hanya menatap lurus ke depan. Hingga akhirnya setelah kami semakin dekat ke arah altar, aku mengangkat pandanganku. Di ujung altar di depanku sana, aku melihatnya. Mason.
Ia berdiri tegak di sana, mengenakan setelan jas pengantin yang tampak sempurna di tubuhnya yang tinggi dan kekar. Warna gelap jas itu membuat kulitnya tampak lebih tegas, sementara kemeja putih di dalamnya memberi kesan rapi dan elegan. Ia terlihat begitu menawan.
Untuk sesaat jantungku seperti berhenti berdetak. Aku memang sudah sering melihatnya sebelumnya. Namun hari ini, ada sesuatu yang terasa berbeda. Mungkin karena hari ini ia berdiri di sana untukku. Sebagai seoarang pria yang akan menjadi suamiku. Rasanya, sungguh sulit dipercaya.
Namun saat aku terus berjalan mendekat, aku mulai memperhatikan sesuatu, ekspresinya. Mason tampak terlalu tenang. Tidak ada kegugupan yang biasanya terlihat pada seorang pria yang akan menikah. Tidak ada senyum gugup, juga tidak ada gerakan yang terlihat canggung. Wajahnya tampak datar dan tenang. Seolah ini hanyalah satu dari sekian banyak hal yang harus ia jalani.
Perasaan aneh melintas sebentar di hatiku. Namun aku segera menepisnya. Mungkin dia juga gugup, hanya saja dia terlalu pandai menyembunyikan perasaannya.
Kami akhirnya sampai di depan altar. Ayah berhenti berjalan, dan aku menoleh padanya. Matanya tampak benar-benar berkaca sekarang. Ia memegang tanganku sejenak, lalu berkata. “Jaga dirimu baik-baik,” katanya pelan.
Aku pun mengangguk dengan yakin. “Ya, Ayah.” jawabku, sambil tersenyum simpul.
Ayah tampak menarik napas perlahan, lalu meletakkan tanganku di atas tangan Mason. Sentuhan kami hanya berlangsung sebentar. Namun aku langsung merasakannya. Tangan Mason terasa dingin. Aku menatapnya sebentar. Dan, ia hanya mengangguk kecil, tanpa senyum.
Tidak lama setelah itu, pendeta pun mulai berbicara. Suara pendeta itu terdengar tenang dan dalam, mengisi ruang gereja yang sebelumnya dipenuhi keheningan. Ia berbicara tentang pernikahan, tentang komitmen, dan tentang dua orang yang memilih untuk berjalan bersama dalam hidup, saling menjaga, dan saling menguatkan.
Namun aku hampir tidak benar-benar mendengar semua kata-katanya. Perhatianku terlalu terfokus pada pria di depanku. Beberapa bulan yang lalu aku bahkan tidak mengenal pria ini. Tapi, sekarang aku berdiri di hadapannya, dan bersiap menjadi istrinya.
Pendeta akhirnya menoleh padaku. “Hazel, silakan ucapkan janji pernikahanmu.”
Aku menarik napas pelan. Tanganku sedikit gemetar saat memegang kertas kecil yang berisi janji yang telah kusiapkan. Dengan segenap keberanian yang kupaksakan, aku menatap Mason. “Aku berjanji akan berdiri di sampingmu,” kataku perlahan.
Suaraku sedikit bergetar, tapi aku terus melanjutkan. “Dalam setiap keadaan. Dalam hari-hari yang mudah maupun yang sulit.”
Aku menelan ludah, mencoba menenangkan diri. “Aku akan menjaga rumah yang kita bangun bersama... dan tetap berada di sisimu, apa pun yang terjadi.”
Aku menatap matanya, dengan tulus, dan dengan seluruh perasaan yang kumiliki. Hingga akhirnya, pendeta kemudian menoleh pada Mason. Kini gilirannya. Mason mengucapkan janjinya dengan suara yang tenang, stabil, dan tidak dingin. Namun juga tidak penuh emosi. Seolah ia hanya membaca sesuatu yang sudah dituliskan untuknya.
Setelah itu pendeta memberi isyarat untuk pertukaran cincin. Mason mengambil cincin pernikahan yang akan dipasangkan ke jariku, dengan gerakan yang terlihat tenang.
Saat cincin itu meluncur masuk ke jariku, ia berkata pelan, “Dengan ini aku menikahimu.” Tidak ada tambahan kata. Tidak ada kalimat lain setelahnya.
Aku pun kemudian mengambil cincin untuknya. Tanganku sedikit gemetar saat memasangkannya ke jarinya. Hingga akhirnya, pendeta itu tersenyum lembut. “Sekarang, Anda boleh mencium pengantin wanita.”
Beberapa tamu terdengar terkekeh pelan. Sementara aku menahan napas. Pada detik berikutnya, Mason melangkah mendekat. Ia menunduk sedikit, lalu menciumku. Ciumannya singkat, bahkan sangat singkat. Hampir seperti formalitas yang harus dilakukan agar prosesi ini dianggap selesai.
Namun bagi diriku, detik itu terasa seperti dunia berhenti berputar. Hingga akhirnya suara tepuk tangan memenuhi gereja. Suara orang-orang yang bersorak bahagia membuat ruangan itu terasa hidup.
Aku melihat ibuku di barisan depan, bersama ayah dan kakakku, Jake. Ia tampak menyeka air mata dengan sapu tangan yang digenggamnya. Orang tua Mason juga tampak sama bahagianya. Mereka berpelukan singkat, lalu menatapku dengan tatapan penuh haru dan senyuman yang lebar.
Lalu, pendeta mengangkat suaranya. “Saya persembahkan kepada Anda semua… Tuan dan Nyonya Roux,”
Aku berdiri di samping Mason, dengan tangan kami yang saling menggenggam. Lalu, aku menunduk sebentar, menatap cincin pernikahan di jariku. Kilau kecil itu tampak begitu indah di bawah cahaya gereja.
Hari itu adalah hari paling membahagiakan dalam hidupku. Aku akhirnya menikahi pria yang kucintai. Aku percaya semua yang indah baru saja dimulai. Tanpa aku tahu, bahwa pernikahan ini akan menjadi awal dari luka yang belum pernah kubayangkan sebelumnya.