Menjadi sekretaris di KALUMPERRI CORP seharusnya menjadi puncak karier Aulia Putri yang elegan. Namun, realitanya jauh dari ekspektasi. Alih-alih mengurus agenda bisnis bernilai triliunan, pekerjaan Aulia lebih mirip seorang peternak: menggembala Khatyr Ali Fatih, sang CEO super malas!
Khatyr itu jenius, tapi moto hidupnya adalah rebahan. Ia hobi bolos rapat, sembunyi di bawah meja, dan tidur di gudang arsip. Saat dewan direksi mulai gerah dan mengancam posisi Khatyr, sebuah kesepakatan rahasia terjalin. Aulia menjadi "otak" di balik layar, sementara Khatyr menjadi tameng korporatnya.
Di antara kejar-kejaran kocak di lorong kantor dan intrik politik perusahaan, Aulia sadar bahwa di balik kemalasan Khatyr, ada kejeniusan berbahaya yang siap melindungi dirinya. Mampukah Aulia menjinakkan bos ajaib ini, atau justru ia yang ikut terperangkap dalam pesona santainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketahuan Sejak Awal
Ibu Rahayu melangkah mendekati meja makan marmer, tatapan matanya yang sangat tajam, terlatih, dan jeli langsung menyapu sekeliling meja.
Di atas meja marmer tersebut, terdapat dua piring keramik putih berisi pasta carbonara yang masih mengepulkan uap tipis, berdampingan dengan dua gelas air putih dingin yang hampir habis, dan dua set sendok-garpu perak yang diletakkan berseberangan.
Sebuah makan malam romantis untuk dua orang.
Ibu Rahayu menyipitkan sepasang matanya yang indah, seulas senyuman misterius yang sarat akan makna tersirat langsung terukir di bibirnya yang dilapisi lipstik merah anggur premium.
Sebagai seorang wanita yang telah puluhan tahun mendampingi Arthur Fatih di dunia bisnis dan sosial, ia memiliki intuisi maternal yang sangat tajam.
"Makan malam untuk dua orang, Khatyr?" tanya Ibu Rahayu lembut, suaranya terdengar begitu tenang namun sanggup membuat Khatyr menelan ludahnya dengan susah payah.
"Apakah putra bungsuku ini sedang menjamu tamu istimewa malam ini?"
"A-ah... ini..." Khatyr memutar otak jeniusnya dengan kecepatan maksimal untuk mencari alasan logis yang paling aman.
"Aku... aku sedang mengundang supir pribadiku, Pak Ujang, untuk makan malam bersama di sini, Ibu. Ya, Pak Ujang tadi baru saja membantuku mengantarkan beberapa dokumen audit penting dari kantor, jadi aku merasa tidak enak jika membiarkannya pulang dalam keadaan lapar."
Tiffany melirik dua piring pasta tersebut dengan dahi berkerut, tampak sangat skeptis dengan alasan Khatyr.
"Pak Ujang? Makan pasta carbonara dengan hiasan daun peterseli rapi seperti ini? Bukankah Pak Ujang biasanya hanya makan nasi padang atau martabak manis di pinggir jalan?"
"Pak Ujang sekarang sedang mencoba menjalani diet sehat herba atas saranku, Tiffany," bantah Khatyr cepat, mencoba mempertahankan ketenangan wajah tampannya meskipun batinnya sedang berdoa agar Pak Ujang di rumahnya tidak tiba-tiba bersin karena namanya disebut-sebut.
"Lagi pula, masakan ini sangat mudah dibuat."
Ibu Rahayu berjalan perlahan mengitari ruang tamu, jemari tangannya yang dihiasi cincin berlian minimalis menyentuh permukaan sofa kulit abu-abu dengan gerakan yang sangat anggun.
Langkah kakinya perlahan-lahan bergerak menuju koridor sebelah kanan, koridor yang menuju langsung ke arah kamar tidur utama tempat Aulia sedang bersembunyi.
Khatyr merasa seluruh sendi lututnya mendadak lemas melihat arah langkah kaki ibunya.
Ia segera berjalan cepat mendahului ibunya, menghalangi koridor tersebut dengan tubuh tingginya.
"Ibu... apakah ada hal penting yang ingin Ibu bicarakan denganku?" tanya Khatyr cepat, mencoba mengalihkan perhatian ibunya.
"Jika tidak, aku merasa sedikit lelah dan ingin segera beristirahat."
Ibu Rahayu menghentikan langkahnya tepat di depan Khatyr.
Ia menatap putranya dari jarak dekat dengan pandangan mata hangat yang penuh dengan kasih sayang, namun juga sarat akan peringatan tersembunyi yang sangat mendalam.
"Ibu hanya ingin mengantarkan beberapa dokumen polis asuransi keluarga yang baru disahkan oleh pamanmu, Khatyr," ujar Ibu Rahayu lembut.
Ia merogoh tas tangan desainer miliknya, mengeluarkan sebuah map kulit hitam kecil, lalu meletakkannya di tangan Khatyr.
"Dan Ibu juga ingin memastikan... bahwa putra bungsuku ini dijaga dengan baik oleh 'gembala' pilihan terbaiknya."
Ibu Rahayu menepuk bahu tegap Khatyr dengan sangat lembut, lalu pandangan matanya melirik sekilas ke arah pintu kamar tidur utama di ujung koridor yang terkunci rapat.
"Ibu tahu kamu sudah dewasa, Khatyr. Dan Ibu sangat mempercayai pilihanmu... baik untuk urusan Kalumperri, maupun untuk urusan... masa depan hatimu. Pastikan saja kamu tidak melakukan kecerobohan yang bisa merusak reputasi wanita yang berharga di sisimu itu," bisik Ibu Rahayu dengan nada suara yang sangat lirih, hanya bisa didengar oleh Khatyr.
Khatyr tertegun diam dengan mata melebar karena terkejut yang luar biasa.
Detik itu juga, ia menyadari dengan kepastian mutlak, Ibunya sudah tahu.
Ibu Rahayu yang sangat cerdas telah mengendus hubungan asmara rahasia mereka sejak hari pertama, namun memilih untuk membiarkannya dan melindunginya dari kejaran Tiffany dengan caranya sendiri yang sangat berkelas.
"Terima kasih, Ibu..." bisik Khatyr tulus dengan nada suara yang bergetar karena rasa haru yang mendalam.
Tiffany, di sisi lain, yang tidak mendengar bisikan Ibu Rahayu, tampak cemberut kesal karena merasa diabaikan.
"Tante Rahayu! Kenapa kita tidak jadi makan malam di luar? Aku bosan sekali berada di apartemen sepi ini!"
"Sudahlah, Tiffany. Khatyr tampak sangat lelah hari ini karena mengurusi proyeksi risiko kita di bursa," potong Ibu Rahayu dengan nada tegas yang elegan.
"Mari kita pulang sekarang dan biarkan putraku menikmati makan malamnya dengan tenang."
"Tapi, Tante—"
"Ayo, Tiffany," sela Ibu Rahayu tanpa kompromi, melangkah kembali masuk ke dalam lift privat dengan keanggunan mutlaknya.
Tiffany terpaksa berbalik dengan wajah cemberut kemerahan menahan kesal, menghentakkan kaki indahnya yang dibalut sepatu desainer, lalu menyusul Ibu Rahayu masuk ke dalam lift.
Sebelum pintu lift tertutup rapat, ia sempat melemparkan tatapan mata curiga yang tajam ke sekeliling penthouse Khatyr.
Denting.
Pintu lift privat tertutup rapat membawa kedua wanita sosialita itu pergi, meninggalkan keheningan yang sangat lega sekaligus menegangkan di dalam penthouse.
Khatyr langsung berlari cepat menyusuri koridor berlantai kayu menuju kamar tidur utamanya.
Ia mengetuk pintu kamar dengan tergesa-gesa.
Tok. Tok. Tok.
"Aulia! Mereka sudah pergi! Kamu aman!" panggil Khatyr cepat.
Pintu kamar terbuka perlahan, menampilkan sosok Aulia Putri yang berdiri dengan wajah pucat, napas yang masih sedikit memburu, dan kacamata bacanya yang sudah diletakkan di atas dahi cantiknya.
Ia menatap Khatyr dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh kelegaan luar biasa sekaligus kecemasan yang mendalam.
"Khatyr... apakah ibumu curiga?" tanya Aulia cemas saat melangkah keluar kamar.
"Bagaimana dengan dua piring pasta di meja makan tadi? Apakah kamu bisa menjelaskannya dengan logis?"
Khatyr menatap wajah cemas sekretarisnya selama beberapa detik, sebelum akhirnya sebuah senyuman hangat yang luar biasa tulus terukir di wajah tampannya.
Ia melangkah mendekat, merengkuh tubuh mungil Aulia ke dalam pelukan hangatnya yang sangat erat, mendekapnya seolah-olah ingin melindunginya dari seluruh ketakutan di dunia ini.
"Ibuku tidak hanya curiga, Aulia..." bisik Khatyr lembut di sela-sela pelukan, mengusap pelan punggung wanita yang dicintainya tersebut.
"Ibuku... sudah tahu tentang kita sejak awal."
Aulia tersentak kecil di dalam pelukan, matanya membelalak lebar.
"Apa?! Ibumu sudah tahu?! Lalu... mengapa beliau tidak langsung memarahiku atau memecatku?!"
"Karena ibuku sangat menyukaimu, Partner," jawab Khatyr dengan tawa renyah yang bahagia.
"Beliau bahkan berbisik padaku agar aku menjagamu dengan baik dan tidak melakukan kecerobohan yang bisa merusak reputasi profesionalmu di kantor. Beliau melidungi kita dengan caranya sendiri."
Mendengar penjelasan Khatyr, seluruh ketakutan, ketegangan, dan kepanikan di dalam dada Aulia Putri seketika mencair sepenuhnya, digantikan oleh kehangatan dan rasa syukur yang luar biasa murni yang memenuhi seluruh rongga dadanya.
Air mata lega perlahan menetes membasahi kaus putih Khatyr yang ia dekap erat.
"Keluargamu... benar-benar dipenuhi oleh orang-orang jenius yang ajaib ya, Khatyr," bisik Aulia dengan tawa kecilnya yang merdu di balik pelukan hangat pria itu.
Khatyr terkekeh geli, melonggarkan pelukannya sedikit, lalu menatap wajah cantik Aulia dengan binar mata yang dipenuhi oleh cinta yang kian tumbuh dengan kokoh dan matang.
Ia menunduk perlahan, memotong jarak di antara wajah mereka, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat yang sangat lembut di atas kening Aulia.
"Dan gembalaku yang galak ini adalah orang paling jenius yang berhasil menaklukkan seluruh keajaiban itu," bisik Khatyr lembut dengan senyum tampannya yang paling menawan.
"Sekarang, mari kita selesaikan makan malam pasta kita yang mendingin... sebelum jadwal tidur siangku besok pagi di kantor kembali diatur ketat olehmu."
Aulia tertawa kecil, membiarkan tangannya tetap berada di dalam genggaman hangat Khatyr saat mereka berjalan kembali menuju meja makan di bawah temaram lampu penthouse yang indah, siap menghadapi seluruh tantangan hidup dan asmara rahasia mereka di KALUMPERRI CORP, bersama-sama, selamanya.