NovelToon NovelToon
Maharaja Harem: Sistem Penguasa Jagat

Maharaja Harem: Sistem Penguasa Jagat

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: RIOR

Dibuang dan dibiarkan mati di kegelapan Alas Purwo, Satria Pamungkas justru membangkitkan "Sistem Penguasa Jagat". Di dunia Nusantara Kuno yang kejam, kesaktian adalah segalanya. Satria tidak peduli pada moralitas; ia menghancurkan musuh hingga ke akar-akarnya dan melipatgandakan energinya setiap kali menaklukkan wanita-wanita paling berpengaruh di jagat raya. Dari seorang buangan, sang anti-hero bangkit menembus ranah dewa, membangun imperium harem tak terbatas, dan memaksa seluruh Dwipantara bertekuk lutut!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIOR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Racun Warangan dan Ikatan Pertama

Dyah Sekar Ayu membelalakkan matanya yang sedingin es. Sentuhan tangan Satria di dagunya terasa dingin, namun menyalurkan sejenis getaran aneh yang membuat bulu kuduknya meremang.

Seumur hidupnya sebagai Putri Mahkota Kerajaan Kadiri, semua pria—mulai dari ksatria terkaya hingga pangeran dari kerajaan tetangga—selalu bersimpuh di kakinya dengan penuh hormat.

Tidak ada yang berani menatap matanya secara langsung, apalagi mencengkeram dagunya dengan begitu kasar dan penuh dominasi seperti ini.

"Kau... berani sekali..." bisik Dyah Sekar Ayu, mencoba melepaskan diri.

Namun, cengkeraman Satria sekeras jepitan besi. Setiap kali ia mencoba mengerahkan Prana untuk melawan, racun warangan di dalam dadanya bergolak, memicu rasa sakit yang menusuk hingga ke hulu hati.

"Uhuk!" Sang putri terbatuk kecil, memuntahkan setetes darah kehitaman yang langsung menodai kemben sutra hijaunya. Wajahnya yang seputih pualam kini kian memucat, dan kesadarannya perlahan-lahan mulai meredup.

Satria melepaskan cengkeramannya secara perlahan. Ia menatap tetesan darah hitam di tanah dengan tatapan dingin tanpa riak emosi. Sifat anti-heronya membuatnya tidak tergerak oleh air mata atau kecantikan seorang wanita.

Baginya, Dyah Sekar Ayu adalah aset terbaik yang disediakan takdir untuk mempercepat kebangkitannya. Menyelamatkannya berarti mengunci kesetiaan Kerajaan Kadiri sekaligus membuka fungsi Asmaragama Siphoning.

"Racun panah itu bernama Warangan Ghaib, hasil rendaman darah kalajengking Alas Purwo dan bisa menyumbat pembuluh Prana dalam waktu kurang dari satu jam," ucap Satria datar sembari berdiri tegak. "Tanpa bantuan dariku, sebelum matahari mencapai puncaknya, jiwamu akan tersedot ke alam baka."

Dyah Sekar Ayu menggigit bibir bawahnya yang mulai membiru. Otaknya yang jenius taktis langsung berputar cepat tengah menimbang situasi.

Pemuda di depannya ini baru saja membantai tiga puluh pembunuh bayaran tanpa mengedipkan mata. Dia kejam, dingin, dan penuh misteri, namun dia adalah satu-satunya pelampung penyelamat yang tersisa di tengah lautan kematian ini.

"Apa... apa yang kau inginkan dariku sebagai imbalan?" tanya Dyah Sekar Ayu dengan suara yang bergetar menahan sakit.

"Sudah kukatakan tadi. Hidupmu dan seluruh kesaktianmu adalah milikku," jawab Satria tanpa tedeng aling-aling. "Aku tidak butuh emas atau janji manis keratonmu. Aku butuh kepatuhan mutlakmu."

Melihat sang putri yang terdiam karena syok, Satria tidak membuang waktu lagi. Ia memanggil antarmuka sistem di dalam benaknya. “Sistem, buka Toko Pawon Pusaka. Cari obat penawar racun terbaik untuk kondisinya.”

[Bip! Menampilkan Kategori 3 Toko Sistem (Pil & Ramuan Pengubah Takdir):]

• Pil Penawar Ghaib Panca Indera - Harga: 3.000 Poin. (Membersihkan segala jenis racun fana dan ghaib).

• Cairan Pemurni Darah Tirta Suci - Harga: 7.000 Poin. (Membersihkan racun sekaligus meningkatkan kapasitas pembuluh Prana).

Satria melihat saldo poinnya yang berada di angka 17.500. Tanpa ragu, ia memilih opsi kedua. "Beli Cairan Pemurni Darah Tirta Suci."

[Bip! Memotong 7.000 Poin Sistem. Manifestasi objek fisik berhasil.]

Seketika, sebuah botol kecil yang terbuat dari kristal bening muncul di dalam genggaman tangan Satria.

Di dalamnya, mengalir cairan berwarna biru langit yang memancarkan aroma wangi bunga kenanga yang sangat menenangkan.

Aroma itu sendiri bahkan langsung menetralkan bau anyir darah yang menyengat di sekitar kedai bambu.

Satria kembali berlutut di depan Dyah Sekar Ayu. Tanpa meminta izin, ia merengkuh pundak lemas sang putri dengan tangan kirinya, lalu mengarahkan botol kristal itu ke bibir merah yang mulai pucat tersebut.

"Minum ini," perintah Satria tegas.

Dyah Sekar Ayu sempat ragu, namun aroma spiritual yang menguar dari cairan itu membuat insting tubuhnya mendambakannya.

Begitu cairan hangat itu melewati tenggorokannya, sang putri langsung merasakan sensasi luar biasa.

Rasa terbakar di dadanya lenyap seketika, digantikan oleh aliran energi murni yang sejuk yang menyapu bersih seluruh noda hitam racun di dalam pembuluh darahnya.

Lebih mengejutkan lagi, aliran Prana milik Dyah Sekar Ayu yang tadinya tersumbat, kini justru mengalir dua kali lipat lebih deras dari biasanya.

Hambatan kultivasi yang selama ini ia rasakan di Ranah Satria Tahap 1 mendadak retak, memungkinkannya untuk menyentuh ambang pintu Tahap 2 hanya dalam hitungan detik!

"Obat apa ini...?" Dyah Sekar Ayu terbelalak, menatap botol kosong di tangan Satria dengan tatapan tidak percaya. Ramuan sekualitas ini bahkan tidak dimiliki oleh Resi Agung di Istana Kadiri.

[Bip! Selamat! Tingkat kepatuhan dan rasa kagum Heroine Dyah Sekar Ayu telah mencapai batas minimum 40%.]

[Memicu fungsi utama: Asmaragama Siphoning (Fase Awal)!]

[Memulai penyalinan bakat murni dan garis keturunan dari Dyah Sekar Ayu...]

Boom!

Satria merasakan seluruh tubuhnya bergetar hebat. Di dalam sukmanya, sebuah rantai tak kasat mata tercipta, menghubungkan jiwanya dengan jiwa Dyah Sekar Ayu.

Sebuah informasi raksasa mengalir masuk ke dalam otak Satria. Itu adalah Garis Keturunan Darah Suci Dewi Sri yang dimiliki oleh keluarga kerajaan Kadiri—sebuah bakat bawaan yang membuat pemiliknya mampu memulihkan Prana dengan kecepatan luar biasa serta memiliki intuisi taktik pertempuran yang tajam.

[Bip! Penyalinan berhasil! Anda telah mendapatkan bakat bawaan: 'Intuisi Dewi Sri'.]

[Memicu Harem Share & Feedback Loop: Sebagian energi spiritual dari terobosannya disalurkan kembali kepada Inang!]

[Selamat! Ranah kekuatan Anda naik: Ranah Wira (Tahap 4) menjadi Ranah Wira (Tahap 5)!]

Satria mengembuskan napas panjang, membiarkan aura Prana biru keemasannya meledak sesaat sebelum menyusut kembali ke dalam tubuhnya. Kulitnya kini tampak semakin kokoh, berkilau samar seperti perunggu yang ditempa berulang kali.

Hanya dengan menyelamatkan satu wanita, dia mendapatkan bakat tingkat tinggi dan kenaikan dua tahapan ranah sekaligus tanpa perlu bersusah payah bertapa. Ini adalah esensi sejati dari Overlord System yang mengerikan.

Dyah Sekar Ayu yang berada di dekatnya bisa merasakan perubahan aura Satria yang melonjak drastis dalam sekejap. Rasa kagum dan ngeri bercampur aduk di dalam hatinya.

Pemuda di depannya ini memperlakukannya bagai peliharaan, namun di sisi lain, pemuda ini adalah sosok yang bisa memberikan keajaiban yang melampaui logika dunia fana.

Satria bangkit berdiri, membersihkan debu dari jubah hitamnya. Ia menatap ke arah Dyah Sekar Ayu yang kini sudah bisa berdiri tegak kembali dengan anggun, meskipun tatapan matanya tidak lagi sedingin dan seangkuh sebelumnya.

"Kau sudah sembuh, Gusti Ayu. Dan sesuai kesepakatan tak tertulis kita, mulai detik ini, kau adalah bidak pertama di dalam papanku," ucap Satria sambil membelakangi sang putri, menatap lurus ke arah jalan setapak yang menuju ke pusat Kadipaten Blambangan.

Dyah Sekar Ayu mengepalkan tangannya yang halus, lalu mengembuskan napas pasrah. Kejeniusan taktisnya mengatakan bahwa mengikuti pemuda misterius ini jauh lebih menguntungkan daripada kembali ke keraton dalam kondisi politik yang sedang tidak stabil.

"Baiklah... aku akan memegang kataku," ujar Dyah Sekar Ayu dengan nada suara yang melembut, namun tetap menjaga wibawanya. "Nama lengkapku adalah Dyah Sekar Ayu. Siapa namamu, ksatria misterius?"

Satria sedikit menoleh, memperlihatkan separuh wajahnya yang tampan namun bergaris dingin di balik bayangan caping bambu.

"Satria. Satria Pamungkas," jawabnya pendek. "Bersiaplah, kita akan melakukan perjalanan sedikit berdarah ke ibu kota Blambangan. Ada beberapa kepala bangsawan yang perlu kupenggal sebelum bulan purnama tiba."

Mendengar nama Satria Pamungkas, Dyah Sekar Ayu sedikit tertegun.

Nama itu terdengar familier di telinganya—bukankah itu nama pemuda kasta rendah berbakat yang beberapa hari lalu dikabarkan tewas mengenaskan karena memberontak di Blambangan? Sang putri menatap punggung tegap Satria yang mulai melangkah pergi dengan senyum tipis yang penuh arti.

Cerita tentang kematian pemuda ini jelas merupakan kebohongan besar yang dibuat oleh para penguasa korup Blambangan, dan sekarang, sang hantu telah kembali dari Alas Purwo untuk menuntut balas.

1
Anata diya
/Smile//Smile//Smile/
Ranah Pengangguran Bintang 5
Semangat Thor!!! Jangan Sampai Putus Ditengah Jalan....
Tante Mimi
Bagus.. ceritanya seru, tapi sayang bab-nya masih sedikit /Sob/ semangat, jangan lupa update yang banyak/Chuckle/
RIOR'CC
Jangan Lupa Follow & Like Guys 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!