NovelToon NovelToon
Penyesalan Suami: Mengejar Mantan Terindah

Penyesalan Suami: Mengejar Mantan Terindah

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Berbaikan / Tamat
Popularitas:329.5k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Dalam hidupnya Arkana punya satu rasa penyesalan yang teramat sangat. Bahkan dia tidak tahu ketika berpisah dengan Kanaya, wanita itu sedang dalam keadaan hamil.

Sampai suatu hari Arkana bertemu kembali dengan Kanaya, mantan istrinya. Karena ingin menebus rasa bersalahnya, Arkana ingin rujuk dan membangun pernikahan yang sesungguhnya.

Namun, Kanaya yang masih menyimpan luka, enggan rujuk.

Apakah Arkana berhasil mendapatkan hati Kanaya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

[Peluk orang di samping kiri selama satu menit.]

Kanaya menutup mata sejenak. Lalu, menoleh ke kiri. Tentu saja Arkana ada di sana.

"Bundaaa ...." rengek Anaya sambil menggoyangkan lengannya.

Kanaya menatap putrinya. Lalu menatap Abinaya. Tidak seperti biasanya, kali ini bahkan Abinaya ikut memasang wajah memohon.

"Bunda harus lakukan itu," kata Abinaya pelan.

Kanaya langsung kehilangan kekuatan untuk menolak. Akhirnya ia menghela napas panjang. Lalu berdiri.

Arkana yang melihat itu langsung ikut berdiri. Jantung pria itu berdegup seperti genderang perang.

Kanaya mendekat perlahan. Lalu, dengan kaku melingkarkan kedua tangannya ke tubuh Arkana.

Bagi Arkana, satu menit itu terasa seperti hadiah terbesar yang pernah diterimanya dalam hidup. Ia bisa mencium aroma sabun yang biasa digunakan Kanaya. Bisa merasakan hangat tubuh wanita itu. Dan yang paling menyakitkan sekaligus membahagiakan, ia kembali merasakan sesuatu yang selama lima tahun hanya hidup dalam kenangannya.

Di sisi lain, wajah Kanaya sudah merah. Begitu hitungan satu menit selesai, ia langsung melepaskan pelukan itu dan mundur beberapa langkah.

"Bunda ke kamar." Tanpa menunggu jawaban siapa pun, ia segera berjalan pergi.

"Bunda malu, ya! Karena berpelukan sama Ayah," teriak Anaya.

"Anaya!" seru Kanaya dari kejauhan.

Tawa langsung pecah memenuhi ruang keluarga. Anaya sampai berguling di atas karpet. Abinaya tertawa sambil memegangi perutnya.

Sementara Arkana hanya berdiri mematung sambil menyentuh dadanya sendiri. Jantungnya masih berdetak tidak karuan. Baru saat itulah ia benar-benar memahami sesuatu. Permainan ini bukan hanya main kartu dan hukuman. Ini adalah usaha dua anak kecil yang begitu mencintai kedua orang tuanya. Usaha polos yang mungkin terlihat lucu, tetapi diam-diam membuat hatinya terasa hangat.

Siang itu, Arkana mengajak Anaya dan Abinaya keluar membeli jajanan favorit mereka.

Di dalam mobil, kedua bocah itu sibuk berceloteh dan tertawa bahagia. Arkana menatap mereka melalui kaca spion, lalu tersenyum.

"Terima kasih," ucap Arkana.

"Hm?" Anaya menoleh. "Terima kasih untuk apa, Ayah?"

"Untuk permainan tadi," jawab Arkana tersenyum manis.

Anaya langsung menyeringai. "Ayah tahu, ya?"

"Ayah tidak bodoh."

Abinaya dan Anaya saling pandang. Lalu tertawa bersamaan.

Arkana menggeleng geli melihat tingkah mereka. Setelah beberapa saat, ia sedikit mencondongkan tubuh ke depan dan menurunkan suaranya seperti sedang menyampaikan rahasia besar.

"Ngomong-ngomong..."

Kedua anak itu langsung mendekat. "Apa, Yah?"

Arkana tersenyum tipis. "Ayah punya rencana."

"Misi rahasia?" bisik Anaya antusias.

"Mungkin."

Abinaya langsung ikut mendekat. "Rencana apa?"

Arkana menatap kedua anaknya bergantian.

Lalu berbisik pelan. "Apa kalian mau bantu Ayah membuat Bunda tersenyum lagi?"

Mata Anaya langsung membesar. Sementara Abinaya perlahan tersenyum. Sang ayah yang sedang berjuang merebut kembali hati wanita yang paling dicintainya.

***

Sejak pagi, Kanaya duduk dengan beberapa lembar daftar pesanan di tangannya. Sesekali ia mencoret sesuatu menggunakan pulpen, lalu memeriksa kembali jumlah makanan yang harus dikirim agar tidak ada yang tertukar.

Di tengah kesibukan itu, Arkana justru terlihat aneh. Karena ia beberapa kali keluar masuk rumah sambil membawa berbagai barang. Kadang sebuah kotak besar, kadang kantong belanja, kadang pula ia tiba-tiba menghilang lalu muncul lagi beberapa menit kemudian.

Anaya yang sedari tadi memperhatikan akhirnya tidak tahan untuk bertanya. Gadis kecil itu berdiri di samping Abinaya sambil memicingkan mata curiga ke arah ayahnya.

"Ayah ngapain, sih?" bisiknya pelan.

Arkana yang baru saja masuk sambil membawa sebuah kotak besar langsung menoleh. Ia buru-buru meletakkan kotak itu di ruang tamunya sendiri, lalu menaruh telunjuk di depan bibir. "Rahasia."

Mata Anaya langsung membesar penuh antusias. "Wah, aku suka rahasia!"

Arkana tertawa kecil melihat ekspresi putrinya yang langsung berbinar. "Kalau suka rahasia, berarti harus bisa jaga rahasia."

Anaya spontan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. "Aku enggak akan bilang ke Bunda."

"Bagus."

Abinaya yang berdiri di samping mereka hanya menggeleng pelan. Ia sudah cukup mengenal saudara kembarnya untuk tahu bahwa kemampuan Anaya menyimpan rahasia sebenarnya sangat diragukan.

"Aya biasanya bocor dalam lima menit," komentar Abinaya santai.

"Aku enggak!" protes Anaya cepat.

Arkana terkekeh pelan.

Sudah hampir satu minggu terakhir ia menyiapkan kejutan itu diam-diam. Bahkan beberapa kali ia menghubungi Shaka, Bu Cantika, dan Pak Adjie untuk meminta bantuan. Untungnya semua orang mendukung rencananya. Mereka sepakat merahasiakan semuanya dari Kanaya.

Hari itu bukanlah hari ulang tahun Kanaya yang sebenarnya. Tidak ada seorang pun yang tahu kapan perempuan itu dilahirkan. Tidak ada catatan kelahiran. Tidak ada keluarga yang bisa memberikan tanggal pasti. Yang ada hanyalah sebuah cerita lama yang pernah didengar Arkana langsung dari Pak Soleh.

Puluhan tahun lalu, seorang bayi perempuan ditemukan di depan rumah Pak Soleh dalam keadaan terbungkus selimut tebal. Bayi itu menangis pelan di tengah dinginnya malam. Tidak ada surat. Tidak ada petunjuk siapa orang tuanya. Bayi perempuan itulah Kanaya.

Karena tidak mengetahui tanggal lahirnya, Pak Soleh akhirnya memilih tanggal ketika ia menemukan Kanaya sebagai hari ulang tahunnya. Meski sudah bertahun-tahun berlalu, Arkana masih mengingat tanggal itu dengan sangat jelas.

Menjelang sore, Kanaya akhirnya pulang dari tempat produksi katering. Hari itu cukup melelahkan karena beberapa pesanan datang bersamaan. Bahunya terasa pegal dan kakinya sedikit nyeri karena sejak pagi hampir tidak sempat duduk.

Kanaya membuka pintu rumah sambil menghela napas panjang. Baru beberapa langkah masuk, dahinya langsung berkerut. Rumah terasa terlalu sepi.

"Tumben sepi. Pada ke mana anak-anak?" batin Kanaya sambil mengedarkan pandangannya.

Biasanya pada jam seperti itu Anaya sudah berlarian ke sana kemari. Abinaya sering duduk di ruang keluarga sambil membaca atau bermain. Sedangkan Arkana hampir selalu terlihat membantu sesuatu di rumah, namun sekarang tidak ada siapa-siapa.

"Aya ... Abi!" panggil Kanaya. Tidak ada jawaban.

"Anak-anak, kalian di mana?" Suasana tetap sunyi.

Kanaya mulai melepas cadarnya sambil berjalan ke kamar anak-anaknya. Ia mengernyit bingung.

"Apa mereka lagi main di belakang, ya?"

Baru saja hendak menuju dapur ketika tiba-tiba seluruh lampu ruang tamu padam. Kanaya refleks berhenti melangkah.

Belum sempat ia memahami apa yang terjadi, suara musik tiba-tiba terdengar dari arah ruang keluarga.

Lalu, tiga sosok beruang dengan satu ukuran besar dan dua ukuran kecil, muncul dari balik pintu dapur.

Kanaya langsung membelalak. "Astaghfirullah!"

Tiga beruang berbulu cokelat itu berjalan ke arahnya dengan gaya yang sangat aneh. Salah satunya bahkan hampir tersandung ujung karpet.

"Eh! Eh!"

"Pelan-pelan, Ayah!" terdengar suara Anaya dari balik kostum.

Kanaya spontan menutup mulutnya. Matanya semakin membesar. "Anaya?"

Tiga beruang itu kemudian berdiri berjajar di hadapannya. Lalu mulai bernyanyi bersama.

"Selamat ulang tahun."

"Selamat ulang tahun."

"Selamat ulang tahun Bundaaaa ...."

Suara Anaya terdengar paling keras dan paling semangat. Sementara Abinaya, beberapa kali salah lirik, lalu buru-buru mengikuti saudara kembarnya. Arkana sendiri bernyanyi sambil tertawa karena kepala kostum beruang yang dipakainya terus bergeser menutupi matanya.

Pemandangan itu begitu lucu hingga Kanaya tidak tahu harus tertawa atau menangis. Ia hanya berdiri mematung sambil menatap ketiganya.

Perlahan-lahan senyum muncul di wajah Kanaya. Senyum yang selama ini jarang terlihat. Senyum hangat yang membuat kedua matanya ikut tersenyum.

"Bunda suka enggak?" tanya Anaya setelah membuka kepala kostumnya. Rambut gadis kecil itu sudah berantakan karena terlalu lama berada di dalam kostum.

Kanaya masih memandangi mereka satu per satu. "Astaghfirullah ... bisa-bisanya kalian melakukan ini semua."

Anaya langsung berlari dan memeluk pinggang bundanya erat-erat. "Selamat ulang tahun, Bunda!"

Abinaya ikut mendekat lalu memeluk lengan Kanaya. "Selamat ulang tahun, Bunda."

Hati Kanaya mendadak terasa penuh. Ia menatap kedua anaknya bergantian. Ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan hanya karena melihat wajah-wajah kecil yang begitu bersemangat membuatnya tersenyum.

"Tapi ... hari ini bukan ulang tahun Bunda."

***

Sambil menunggu update bab berikutnya, yuk baca juga karya temanku ini.

1
≼⊱ ƈ̤h͜͡ᵢ๓𐔤² ⊰≽
Ya elahh kelamaan daripada nunggu kabar dari mamahmu mending samperin gihh trs cari informasi disana soal Kanaya ntar pergi jauh lagi Kanaya nya
≼⊱ ƈ̤h͜͡ᵢ๓𐔤² ⊰≽
wahh Oma nya yang nganterin ternyata tapi koq Kanaya gak kenal sama mertuanya apa dulu nikahnya juga sembunyi2 jadi orangtua Arkana gak tau kalo anaknya udah nikah
≼⊱ ƈ̤h͜͡ᵢ๓𐔤² ⊰≽
Kayana sekarang jadi pengusaha sukses ya tapi gak mungkin dech dia memberikan anaknya kartu hitam yang isinya milyaran kira2 dapat darimana tuch kartu🤔
≼⊱ ƈ̤h͜͡ᵢ๓𐔤² ⊰≽
Oalahh kanaya ternyata punya anak kembar ya😲
Muajidah Firdausi
Black Card si Kembar. blm dijelaskan drmana
Muajidah Firdausi
black card kan ada Jo PINnya ya

kok karyawan itu bs tahu isi saldo nya
Muajidah Firdausi
mama atau Bunda
Darti abdullah
luar biasa
v_cupid
penyesalan mmg sll dtg terlambat
🌸🍣わたなべ_Ryuzu👘🌸
👍💪
LibraGirls
Makasih Thor 👍🏻🙏
ayu cantik
bagus
Ummee
waahhh... gk kerasa uda tamat aja, Alhamdulillah... makasih kak author, sehat selalu...
≼⊱ ƈ̤h͜͡ᵢ๓𐔤² ⊰≽
Nikmati penyesalan Arkana sampai 5 tahun pun kamu masih terus dibayangi rasa bersalah tak sebanding dengan luka yang didapat Kanaya karena kebohonganmu
≼⊱ ƈ̤h͜͡ᵢ๓𐔤² ⊰≽
hancur banget hati Kanaya mendengar kenyataan bahwa cuma dijadikan taruhan 😢😢
≼⊱ ƈ̤h͜͡ᵢ๓𐔤² ⊰≽
pertemanan sesat bukannya ngajak kebaikan malah ngajak taruhan😠
≼⊱ ƈ̤h͜͡ᵢ๓𐔤² ⊰≽
mampir thor🙋‍♀️
itin
happy happy happy
v_cupid
👍
Naya En-lish
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!