"Mulai sekarang, setiap satu jam sekali, kamu harus mencium bibirku! Aku tidak akan menerima penolakan," tegas Nathan lagi. "Kamu wajib menciumku di mana pun kita berada, bahkan di dalam kelas atau di tempat umum."
Jenny mulai merasa panik, "Tu - tuan, tapi itu sungguh tidak masuk akal!"
"Jenny, jika ingin ibumu selamat dan semua alat medis tetap terpasang di tubuhnya yang lemah itu, turutilah apa mauku!" ujar Nathan dengan nada mengancam. Ancaman tersebut membuat lamunan Jenny terhenti seketika.
****
Jenny terkejut saat mendengar apa yang baru saja diucapkan Nathan, tuan muda culun yang menjadi murid terbodoh di antara 450 siswa di SMA Taruna. "Jadi, jika kamu ingin aku sembuh dari semua luka trauma yang ditimbulkan oleh ayahmu, mulai sekarang kamu harus menciumku setiap satu jam sekali," ucap Nathan tegas.
****
Jenny adalah seorang perempuan yang sedari kecil hidup penuh kebahagiaan, bahkan hidupnya nyaris sempurna.
Ia terlahir dengan paras yang cantik, hidup penuh kebahagia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13.
Dengan tubuh yang mematung, Zionathan Vector terus menatap ke arah Jenny namun pandangannya itu seolah terfokus pada bibir Jenny yang terlihat begitu manis.
"Kenapa Tuan muda malah menatap ku dengan tatapan seperti itu? Bukankah harusnya dia itu segera buang air kecil? Jangan bilang kalau aku di suruh untuk membantu melepas celana yang menempel di tubuh nya." gerutu Jenny dalam hatinya.
2 menit Jenny menunggu dengan sabar, bahkan suara pintu kamar mandi di samping nya juga terdengar di buka tutup. Berarti sudhay banyak murid yang lalu lalang di dalam kamar mandi laki laki ini.
"Tu - tuan, bukankah tadi anda mengatakan jika anda itu kebelet buang air kecil? Dan anda juga mengatakan kalau sudah tidak kuat lagi menahannya, tapi kenapa sekarang anda malah diam mematung seperti ini?" tanya Jenny sembari memegang pundak Tuannya.
Nathan sendiri yang sedang melamun benar benar di buat terkejut, apalagi saat tangan Jenny memegang pundaknya memberikan sebuah efek getaran yang sungguh tidak tertahankan.
"I - iya Jenny. Maaf, aku akan buang air kecil sekarang! Terima kasih banyak kamu itu mau menemani ku untuk masuk ke dalam kamar mandi,' sahut Nathan tulus sembari berusaha untuk melepas celana miliknya.
"I - iya Tuan." Jenny terlihat memalingkan pandangannya itu ke arah lain, walau pun tadi pagi ia sudah memandikan Tuannya. Namun sampai sekarang Jenny benar benar masih merasa sangat malu. Bahkan semburat merah sekarang ini benar benar tercetak dengan jelas dari ke dua pipinya.
Jenny terlihat menunggu beberapa puluh detik, namun ntah kenapa ia tidak mendengar suara air. Lantas ia pun terlihat untuk memberanikan diri untuk menoleh ke arah Tuannya.
"Astaga, ku kira dia itu sudah selesai buang air kecil sejak tadi, tapi ternyata --" kata Jenny dalam hatinya sembari terus memperhatikan Tuannya yang sangat kesulitan untuk membuka celananya.
"Tuan, biar saya bantu bukakan celananya. Karena sekarang kita sudah terlalu lama berada di dalam kamar mandi, takutnya kalau sampai kita itu ketinggalan pelajaran!" tegur Jenny.
Nathan malah diam mematung, tanpa permisi dan menunggu persetujuan tuannya. Lantas Jenny pun membuka paksa celana milik Tuannya.
"Sttt, Jenny coba kau dengarkan suara orang yang sedang berbicara sekarang ini!"
"Hah." Lagi lagi Jenny hanya bisa melongo.
"Dengarlah sebentar, seperti nya suara itu benar benar tidak asing."
**
"Astaga Boss! Mau ke kamar mandi saja minta tolong gue buat anterin! Seperti si culun itu saja, mau ke kamar mandi minta jalan barengan sama si primadona sekolah."
"Diam lo Richard, ada hal yang mau gue bicarakan sama lo! Jadi jangan berpikiran kalau gue itu minta lo, buat anterin gue ke kamar mandi," sahut Galen.
"Lah terus boss ngajak gue kesini buat apa? Palingan juga sekarang si anak culun itu pergi ke kantor kepala sekolah buat nemuin ibunya. Pasti si anak culun itu minta popok bayi, karena kencing di celana. Ketakutan gak ada yang nemenin! Ha ha ha." Richard terdengar mengeluarkan tawa yang terdengar begitu renyah.
"Sudah, gue gak mau bahas si anak culun itu lagi! Yang mau gue bahas di sini adalah Jenny. Gue benar benar penasaran, sejak pagi berangkat sekolah. Kenapa Jenny itu selalu bareng sama si anak culun? Gue ingin tahu, apa yang terjadi pada Jenny? Terus kenapa si anak culun itu menghilang, Jenny juga ikutan menghilang." Galen nampak mengerenyitkan dahinya.
"Bisa jadi Jenny ikut si anak culun ke ruang kepala sekolah!"
"Iya mungkin saja Jenny itu mengikuti si anak culun itu pergi ke ruang kepala sekolah! Tapi alasannya apa? Kenapa Jenny selalu mengikuti kemanapun anak culun itu pergi! Gue benar benar penasaran ingin tahu alasan Jenny yang sebenarnya. Gue mau minta bantuan lo!" titah Galen dengan tatapan elang yang menakutkan.
"Ya kalau minta bantuan itu, jangan menatap gue dengan tatapan seperti itu lah bos! Jadinya kan gue takut."
"Gue mau sepulang sekolah lo itu bawa Jenny ke gudang kosong!"
"Terus gimana caranya bos?" tanya Richard bingung.
"Kerahkan semua anggota geng kita, gue mau bicara empat mata dengan Jenny di dalam gudang kosong itu! Gue juga mau buat perhitungan pada Jenny, berani beraninya dia itu dekat dengan laki laki lain selain gue!" Galen terlihat menggertakkan gigi giginya. Bahkan urat nadinya juga terlihat menonjol keluar.
kalo berkenan mampir juga ya😉