NovelToon NovelToon
Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Anak Genius / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Finus Ina

"Tandatangani ini dan pergilah dari rumahku! Anak haram di rahimmu itu bukan darah dagingku!"Devan Mahendra, CEO dingin penguasa bisnis kota, melempar surat cerai tepat di wajah Anya. Terhasut oleh fitnah kejam, Devan mengusir Anya yang sedang hamil tua di tengah badai malam. Anya pergi membawa luka sedalam lautan dan dianggap tewas dalam kecelakaan tragis

Lima tahun berlalu. Devan hidup dalam penyesalan setelah kebenaran terungkap. Namun, dalam sebuah perjamuan bisnis kelas atas, sosok wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya muncul. Dia bukan lagi Anya yang miskin dan penurut, melainkan Anastasia Wijaya, putri tunggal pewaris takhta keluarga terkaya nomor satu, didampingi sepasang anak kembar yang berwajah sangat mirip dengan Devan

Saat Devan berlutut memohon ampun, Anya hanya tersenyum dingin, "Maaf, Tuan Mahendra. Anda salah orang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 2

Bab 2: Kematian Anya dan Kelahiran Anastasia

Lampu merah di atas pintu ruang operasi ICU Rumah Sakit Pusat Wijaya masih menyala terang, memotong kegelapan malam badai yang mencekam.

Di lorong yang sepi itu, derap langkah kaki yang terburu-buru memecah keheningan.

Seorang pria tua berwibawa dengan rambut yang sebagian besar sudah memutih, melangkah dengan tatapan mata yang dipenuhi kecemasan luar biasa.

Di belakangnya, belasan pria berjas hitam menjaga koridor dengan ketat.

Dia adalah Angga Wijaya, kepala keluarga konglomerat nomor satu di negeri ini.

Bagaimana keadaan wanita yang kalian selamatkan di jalan tadi?!"

suara Angga bergetar, menahan emosi yang meluap-luap saat menanyai dokter kepala yang baru saja keluar dari ruang operasi.

"Kondisinya sangat kritis, Tuan Besar. Pasien mengalami syok berat, hipotermia, dan pendarahan hebat akibat trauma psikis. Kami terpaksa melakukan operasi caesar darurat untuk menyelamatkan bayinya yang baru berusia delapan bulan," jelas dokter itu sambil menyeka keringat di dahinya.

"Peluang hidup ibunya sangat tipis. Dia seolah tidak memiliki keinginan untuk bertahan hidup."

Angga mengepalkan tangannya kuat-kuat.

Beberapa jam yang lalu, tim pelacaknya berhasil menemukan sinyal dari ponsel lama milik cucu tunggalnya yang hilang lima tahun lalu akibat penculikan dan konspirasi keluarga.

Sinyal itu menuntun mereka ke depan gerbang kedatangan Mahendra Group, di mana mereka menemukan seorang wanita hamil tua pingsan di atas aspal dingin di bawah guyuran hujan badai.

"Tuan Besar, hasil tes DNA darurat sudah keluar,"

Sekretaris Wijaya berlari mendekat sambil membawa selembar kertas dengan tangan gemetar.

"Kecocokan sampel darah pasien di dalam dengan darah Anda adalah 99,9%. Dia... dia benar-benar Nona Anastasia Wijaya. Cucu tunggal Anda yang kita cari selama ini."

Mendengar hal itu, air mata Angga langsung luruh.

Jantungnya berdenyut menyakitkan.

Cucunya yang berharga, yang seharusnya hidup bergelimang kemewahan, justru ditemukan dalam kondisi mengenaskan seolah habis dibuang seperti sampah.

"Siapa... SIAPA YANG MELAKUKAN INI PADA CUCUKU?!" raung Angga,suaranya menggelegar memenuhi lorong rumah sakit, memancarkan aura membunuh yang sangat pekat.

"Dari laporan pengawal, Nona Anya—maksud saya Nona Anastasia—menikah kontrak dengan Devan Mahendra selama dua tahun ini. Malam ini, Devan mengusirnya setelah terhasut fitnah perselingkuhan dari cinta pertamanya, Siska," lapor sang sekretaris dengan kepala tertunduk.

Angga tertawa getir, tawa yang penuh dengan kebencian.

"Keluarga Mahendra... berani-beraninya mereka menginjak-injak darah dagingku! Hendra, dengarkan perintahku. Palsukan seluruh data medis malam ini. Di malam badai ini, sebuah bus kota mengalami kecelakaan dan masuk ke jurang di dekat sini, bukan? Masukkan nama Anya ke dalam daftar korban tewas yang tubuhnya hancur terbakar!"

"Maksud Anda, Tuan Besar...?"

"Biarkan si bajingan Devan itu mengira Anya sudah mati! Biarkan dia hidup dalam neraka penyesalan seumur hidupnya! Sementara cucuku... akan kubawa ke Singapura. Aku sendiri yang akan membentuknya menjadi penguasa baru yang akan menghancurkan Mahendra Group sampai ke akar-akarnya!"

Tepat setelah keputusan itu diambil, dari dalam ruang operasi terdengar suara tangisan bayi yang sangat lemah namun saling bersahutan.

Dua bayi laki-laki kembar lahir prematur ke dunia.

Di saat yang sama, di dalam alam bawah sadarnya, Anya yang sedang sekarat mendengar tangisan itu.

Setitik kekuatan baru mendadak muncul di hatinya.

'Aku tidak boleh mati... anak-anakku butuh aku,’ batin Anya menjerit.

‘Anya yang lemah dan bodoh sudah mati malam ini di atas aspal jalanan. Mulai detik ini, aku adalah Anastasia Wijaya. Aku akan bangkit demi anak-anakku, dan membuat mereka yang membuangku membayar harganya!’

Proses Transformasi :Lima Tahun yang Berdarah-darah.

Mengubah diri dari seorang ibu rumah tangga yang penurut menjadi seorang wanita besi penguasa bisnis ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Di sebuah mansion mewah yang terisolasi di Singapura, Anastasia melewati lima tahun pertamanya dengan air mata dan peluh, bukan dengan bersantai menikmati kekayaan kakeknya.

Tahun pertama adalah tahun yang paling berat.

Anastasia harus berjuang menyembuhkan trauma psikisnya sekaligus merawat sepasang bayi kembarnya, Arka dan Alta, yang harus menghabiskan waktu berbulan-bulan di dalam inkubator karena lahir prematur.

Setiap kali Anastasia merasa lelah melihat tumpukan buku materi bisnis, dia hanya perlu menyentuh bekas luka operasi di perutnya untuk membakar kembali semangatnya.

Masuk tahun kedua hingga keempat, kakeknya mendatangkan belasan mentor terbaik di dunia.

Dari jam lima pagi setelah menyusui anak-anaknya, Anastasia sudah harus belajar analisis pasar saham, hukum bisnis internasional, manajemen konflik, hingga latihan fisik dan etiket kelas atas.

Dia dipaksa membaca ratusan lembar laporan keuangan setiap hari.

Jika dia membuat satu kesalahan kecil dalam analisis modal, kakeknya tidak akan segan-segan merobek laporannya dan menyuruhnya mengulang dari awal.

Kulit tangannya yang dulu kasar karena sering mencuci piring dan memasak untuk Devan, kini berubah menjadi halus dan terawat.

Tatapan matanya yang dulu selalu penuh ketakutan dan keraguan, kini berganti menjadi sorot mata yang tajam, dingin, dan penuh kalkulasi.

Dia telah bertransformasi total menjadi seorang "Ratu" bisnis yang siap memimpin Wijaya Corps.

Bukan hanya Anastasia yang berkembang, anak kembarnya pun tumbuh dengan luar biasa.

Karena mewarisi gen superior dari sang ibu (Keluarga Wijaya) dan sang ayah (Devan Mahendra yang jenius dalam bisnis), si kembar menunjukkan kecerdasan di atas rata-rata anak seusianya.

Terutama si sulung, Alta.

Di usianya yang baru menginjak empat tahun, Alta memiliki kondisi gifted—kemampuan analisis visual yang sangat tajam.

Dia tidak meretas komputer seperti di film agen rahasia, melainkan memiliki daya ingat fotografis.

Suatu hari, saat menyelinap ke ruang kerja kakeknya, Alta tidak sengaja melihat sebuah kliping koran bisnis lama yang disimpan di laci terdalam milik maminya.

Di koran itu ada foto Devan Mahendra dengan tajuk utama:

“Tragedi Kematian Istri CEO Mahendra Group dalam Kecelakaan Bus Lima Tahun Lalu”.

Alta kemudian menatap pantulan wajahnya sendiri di cermin.

Struktur rahang, bentuk mata elang, hingga cara tersenyum dingin... semuanya mirip 100% dengan pria di koran itu.

Otak kecil Alta yang genius langsung menghubungkan semua benang merah.

Pria di foto ini adalah alasan mengapa maminya sering melamun sedih di malam hari, dan pria ini mengira mereka semua sudah mati.

Hari Kepulangan ke Indonesia.

Kini, lima tahun telah berlalu,Di koridor VIP Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, Anastasia Wijaya melangkah dengan anggun menembus kerumunan.

Setelan blazer putih formalnya tampak melekat sempurna di tubuhnya yang proporsional.

Langkah kakinya yang menggunakan sepatu hak tinggi terdengar tegas di atas lantai marmer, menarik perhatian hampir semua orang di bandara.

"Mami, Arka mau es krim rasa cokelat yang ada stroberinya di atasnya!"

rengek Arka, si bungsu yang memiliki sifat lebih ceria dan aktif, sambil menggelayut di tangan kiri Anastasia.

"Iya, sayang. Nanti setelah kita sampai di hotel, Mami pesankan yang paling besar untuk Arka," jawab Anastasia.

dengan suara yang seketika melembut, kontras dengan ekspresi dinginnya tadi.

Di sisi kanannya, Alta berjalan dengan tenang, tangan kecilnya dimasukkan ke dalam saku celana denimnya dengan gaya yang sangat keren.

Sorot mata bocah kecil itu terus mengamati sekeliling bandara dengan waspada, seolah sedang menganalisis situasi.

"Nona Anastasia, selamat datang kembali,"

Sekretaris Utama Wijaya Corps di Indonesia maju dan membungkuk hormat, diikuti oleh enam pengawal berbadan tegap yang langsung membuat barisan barikade untuk mengamankan Anastasia dan si kembar.

"Bagaimana situasi di Mahendra Group?"

tanya Anastasia tanpa basa-basi, suaranya terdengar datar namun penuh penekanan saat melangkah menuju mobil Limosin hitam yang sudah menunggu di lobi VIP.

"Semua berjalan sesuai rencana Anda, Nona. Selama lima tahun ini, Devan Mahendra hidup seperti mayat hidup. Dia gila kerja untuk melupakan rasa bersalahnya, dan Mahendra Group saat ini sedang mengalami krisis modal untuk proyek pembangunan pelabuhan baru mereka. Mereka sangat bergantung pada investasi sebesar dua triliun dari Wijaya Corps yang akan Anda putuskan dalam rapat besok pagi," jelas sang sekretaris secara detail.

Anastasia menghentikan langkahnya tepat di depan pintu mobil.

Dia menurunkan sedikit kacamata hitamnya, menatap gedung-gedung pencakar langit Kota Jakarta yang menjulang tinggi di kejauhan.

Sebuah senyuman tipis yang dingin dan sarat akan intrik terukir di bibirnya yang merah merona.

"Dua triliun... Nilai yang cukup murah untuk membeli harga diri yang pernah dia injak-injak dulu," bisik Anastasia dengan suara yang sangat rendah.

"Mari kita lihat, seberapa rendah seorang Devan Mahendra bisa berlutut di hadapanku besok pagi."

Anastasia kemudian masuk ke dalam mobil, diikuti oleh Arka dan Alta.

Pintu mobil tertutup rapat, dan limosin mewah itu perlahan membelah jalanan ibu kota.

Benang takdir yang sempat terputus di malam badai lima tahun lalu, kini mulai terajut kembali.

Namun kali ini, Anastasia-lah yang memegang guntingnya.

__________Bersambung......

heemmmm kira kira ada apa yaaaa dibab 3 nantiii? apakah Devan akan berlutut dihadapan Anastasia?atau ada hal lain yang akan terjadi? pantengin terus supaya kalian ngga penasaran.jangan lupa like and komen supaya aku nambah semangat nulis nyaaa!!!!

1
Ifana
padahal kk nya dipenjara, siapa orang dibalik menghilang nya Siska 🤔
Anonim
AWOKAWOK CERITA BALIKAN LAGI AWOKAWOK LAWAK
Finus Ina
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!