Lima tahun lalu, Adeline Wijaya dijebak oleh adik tirinya sendiri hingga keguguran dan diusir oleh suaminya, Bramantara, dalam kondisi sekarat. Semua orang mengira Adeline telah tewas di dasar jurang.Lima tahun kemudian, ia kembali ke Kota Jakarta dengan identitas baru sebagai Elena Vance, seorang desainer perhiasan kelas dunia yang genius dan kejam. Tujuannya hanya satu: menghancurkan mereka yang telah merebut kebahagiaannya.Demi melancarkan aksinya, Elena mendekati Nicholas Syailendra, CEO tertinggi di balik konglomerat nomor satu sekaligus musuh bebuyutan mantan suaminya.
Nicholas menawarkan kesepakatan: "Jadilah istriku, dan aku akan memberikan dunia untukmu membalas dendam." Namun, Elena tidak tahu bahwa di balik pernikahan kontrak itu, ada rahasia masa lalu yang jauh lebih besar yang siap menguji hatinya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28
------------------------------
## BAB 28: Kepingan Es di Tengah Kabut
Iring-iringan mobil SUV hitam mewah milik Syailendra Group membelah kabut tebal yang menyelimuti jalur perbukitan Puncak malam itu. Di dalam kabin mobil limosin utama yang bergerak paling depan, Elena Vance menatap ke luar jendela yang buram oleh embun dingin. Di sampingnya, Nicholas Syailendra duduk bersandar tegap dengan tangan kanan yang tak pernah lepas menggenggam jemari mungil Elena secara posesif.
Cklek.
Gerbang besi raksasa Vila Puncak Syailendra terbuka perlahan, menampakkan sebuah bangunan kastil batu tua megah bergaya arsitektur Gotik yang dikelilingi oleh barisan pohon pinus yang menjulang tinggi. Suasana di sekitar tempat terisolasi ini terasa begitu sunyi, hanya diinterupsi oleh deru angin malam yang menusuk tulang.
Begitu melangkah masuk ke dalam aula utama vila, atmosfer kehangatan dari perapian kayu bakar sama sekali tidak mampu mencairkan dinginnya tatapan mata dari para anggota keluarga besar yang sudah menunggu. Nenek Syailendra duduk tenang di kursi kebesarannya di dekat perapian, sementara di sudut ruangan, Clarissa Utama berdiri bersanding bersama Sarah Syailendra yang malam ini dibebaskan sementara dengan jaminan hukum tingkat tinggi demi menghadiri acara tradisi keluarga ini.
"Selamat datang, pengantin baru kita," sapa Sarah dengan suara yang sengaja dilembutkan, namun senyuman miring di bibirnya yang pucat memancarkan kilat kebencian yang amat mendalam. "Aku harap perjalanan menembus kabut tadi tidak membuat draf kandungan di dalam perut Elena terganggu."
Elena tidak membalas provokasi murahan itu dengan kemarahan yang liar. Ia menegakkan kepalanya dengan keanggunan seorang ratu, membiarkan cincin berlian hitam di jarinya berkilat tegas di bawah temaram lampu gantung kuno. "Terima kasih atas kekhawatiran Anda, Bibi Sarah. Saya rasa draf kandungan saya jauh lebih kuat daripada sisa-sisa pertahanan saham Utama Group di pasar bursa sore tadi."
Deg!
Wajah Clarissa Utama seketika menegang, tangannya mencengkeram gelas kristalnya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih menahan malu. Kata-kata Elena laksana hantaman palu gada yang langsung menguliti harga diri keluarganya di depan seluruh dewan komisaris keluarga Syailendra yang hadir.
Nicholas tidak memberikan kesempatan bagi para ular di ruangan itu untuk melawan balik. Ia merangkul pinggang ramping Elena dengan lengan kekarnya, menarik tubuh wanita itu merapat sempurna ke dada bidangnya. "Kakek masih beristirahat di lantai atas, Nenek. Saya akan membawa Elena ke kamar paviliun belakang sekarang untuk beristirahat," ucap Nicholas tegas tanpa bantahan, lalu membimbing Elena berjalan membelah aula utama dengan wibawa tirani seorang penguasa tertinggi.
------------------------------
Satu jam kemudian, tengah malam tiba membawa serta deru suara guntur yang bersahut-sahutan di langit Puncak. Badai hujan lebat mulai turun mengguyur lereng pegunungan, menciptakan kesunyian yang mencekam di dalam paviliun belakang.
Nicholas mendadak dipanggil oleh kepala pelayan pribadi Kakek Agung untuk menuju ke ruang kerja utama di bangunan depan guna menandatangani draf dokumen darurat korporasi. "Aku tidak akan lama, Elena. Tetaplah di dalam kamar dan jangan buka pintu untuk siapa pun," bisik Nicholas lirih sebelum mengecup kening Elena dengan begitu dalam dan posesif, lalu melangkah pergi menembus koridor luar yang remang-remang.
Elena duduk sendirian di tepi ranjang kelambu, mencoba membaca sketsa pola desain terbarunya untuk mengalihkan debaran jantungnya yang mendadak berdegup kencang secara tidak teratur. Insting tajamnya menangkap ada kejanggalan dalam panggilan mendadak Nicholas malam-malam begini.
Petir menyambar menggelegar! Duar!
Seketika itu juga, seluruh lampu di dalam paviliun belakang mendadak padam total, melemparkan seluruh ruangan ke dalam kegelapan pekat yang gulita. Aliran listrik vila sengaja diputus dari panel pusat oleh kaki tangan Sarah Syailendra.
Cklek.
Pintu kamar Elena mendadak terbuka sedikit di tengah kegelapan, dan sesosok pelayan wanita muda berlari masuk dengan napas terengah-engah karena ketakutan. "Nyonya Muda Elena! Tolong... Tuan Besar Nicholas... Tuan Nicholas terjatuh di tangga basemen gudang penyimpanan belakang saat memeriksa generator listrik yang rusak! Kepala beliau berdarah!" jerit pelayan itu dengan suara bergetar hebat.
Boom!
Mendengar nama Nicholas dalam bahaya, seluruh pertahanan logika Elena seketika runtuh digulung rasa panik yang luar biasa masif. Tanpa berpikir panjang mengenai jebakan kotor, Elena langsung bangkit dari ranjang dan berlari cepat membuntuti langkah pelayan itu menembus lorong-lorong bawah tanah paviliun yang dingin dan gelap, hanya bermodalkan cahaya lampu senter gawai pintarnya.
Mereka menuruni anak tangga semen yang curam menuju ke arah gudang penyimpanan logistik tua bawah tanah yang terletak di bagian paling belakang kompleks vila. Begitu Elena melangkah masuk ke dalam ruangan pengap berbau debu dan kayu lapuk tersebut, sepasang mata indahnya menyapu ruangan, namun tidak menemukan sosok tegap Nicholas di sana.
"Di mana Nicholas?!" Elena berbalik dengan cepat, namun pelayan wanita yang mengantarnya tadi sudah menghilang dari balik pintu besi tebal gudang.
Brak!
Pintu besi raksasa itu dibanting menutup dengan kekuatan penuh dari arah luar. Suara putaran kunci dan rantai besi yang bergemerincing terdengar dikunci rapat-rapat, mengisolasi Elena di dalam ruang bawah tanah yang gelap gulita tanpa celah udara.
Klik. Klik.
Dari balik celah kecil jeruji pintu besi, sosok Clarissa Utama melangkah maju bersama Sarah Syailendra dengan senter besar di tangan mereka. Sepasang mata kedua wanita ular itu berkilat memancarkan kegilaan kepuasan dendam yang menjijikkan laksana iblis.
"Selamat menikmati malam pertamamu di dalam kuburan bawah tanah ini, Adeline Wijaya!" jerit Clarissa dengan tawa melengking yang mengerikan, suaranya bergaung kejam di sepanjang koridor basemen yang sepi. "Nicholas sedang ditahan oleh Kakek di bangunan depan! Tidak akan ada yang tahu kamu terkunci di sini sampai badai hujan ini selesai meruntuhkan seluruh sisa kandungan palsumu esok pagi!"
Elena menerjang maju, memukul pintu besi itu dengan kedua telapak tangannya hingga menimbulkan suara hantaman yang keras. "Buka! Clarissa! Sarah! Buka pintu ini!"
Namun, kedua wanita itu tidak memedulikan teriakan Elena. Mereka melangkah pergi sembari mematikan seluruh akses komunikasi penguat sinyal (jammer) di area basemen bawah tanah, membuat layar gawai pintar di tangan Elena mendadak kehilangan seluruh sinyal jaringan pertahanannya secara total.
Elena Vance terengah-engah, tubuhnya mendadak gemetar hebat laksana tersengat kepingan es yang sedingin kutub utara. Suara gemuruh air hujan yang merembes menembus celah dinding batu gudang tua itu seketika memicu memori trauma keguguran di malam badai satu bulan lalu untuk kembali bangkit menyerang isi otaknya secara brutal. Rasa dingin yang menusuk tulang dikombinasikan dengan kegelapan pekat membuat seluruh urat saraf tubuh Elena melemas hingga ia terpaksa jatuh terduduk lemas di atas lantai semen yang dingin, meringkuk memeluk kedua lututnya sendiri dengan pandangan mata yang mulai mengabur diserang oleh horor ketakutan yang teramat sangat. Babak baru dari kepunahan total sandiwara di atas draf kertas emas kini telah resmi mengunci Elena di dalam cengkeraman maut yang paling mematikan.
------------------------------