NovelToon NovelToon
Overtime With My Enemy

Overtime With My Enemy

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:439
Nilai: 5
Nama Author: Satisuci Ituaku

Aku membenci Damar Wijaya sejak hari pertama bekerja. Bagiku, dia adalah atasan paling menyebalkan yang pernah ada—dingin, arogan, dan selalu mengkritik setiap pekerjaanku.
Sayangnya, sebuah proyek besar memaksa kami lembur bersama setiap malam.
Semakin sering kami bertemu, semakin sulit bagiku mempertahankan kebencian itu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, ada sisi Damar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Namun saat aku mulai membuka hati, sebuah rahasia besar terungkap dan mengubah segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling kubenci justru menjadi orang yang paling kucintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 : Saksi Terakhir

Panggilan telepon itu terus terngiang di kepala Nara.

> "Kalau tidak, kau akan bernasib sama seperti ayahmu."

Sepanjang pagi, ia berusaha terlihat normal.

Namun tangannya beberapa kali gemetar saat mengetik laporan.

Bahkan Siska yang biasanya ceroboh mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres.

---

"Nara."

---

"Hm?"

---

"Kamu pucat."

---

"Aku baik-baik saja."

---

"Kamu selalu bilang begitu."

Siska meletakkan secangkir kopi di meja Nara.

"Kapan terakhir kali kamu benar-benar baik-baik saja?"

---

Nara terdiam.

Ia bahkan tidak tahu jawabannya.

---

Sementara itu.

Di lantai atas.

Damar baru saja menerima pesan dari Adrian.

---

> Kita bertemu pukul tujuh malam.

Jangan bawa siapa pun.

---

Tatapannya berubah serius.

---

Jika Adrian sampai mengirim pesan seperti itu, berarti informasi yang ditemukan memang sangat penting.

---

Malam harinya.

Damar dan Nara datang secara terpisah ke sebuah rumah tua di pinggiran kota.

Lokasinya jauh dari pusat bisnis.

Jauh dari keramaian.

Dan terlihat seperti tempat yang sudah lama tidak dihuni.

---

"Apa Adrian serius?"

gumam Nara sambil melihat bangunan tua di depannya.

---

Sebuah lampu menyala di teras.

Pintu perlahan terbuka.

Dan Adrian muncul.

---

"Masuklah."

ucapnya.

---

Mereka mengikuti pria itu ke dalam.

---

Di ruang tamu sederhana, sudah ada seorang wanita tua yang duduk di kursi kayu.

Usianya mungkin mendekati tujuh puluh tahun.

Namun tatapannya masih tajam.

---

"Ini mereka?"

tanya wanita itu.

---

Adrian mengangguk.

---

"Ya."

---

Wanita tua itu memperhatikan Nara.

Lalu Damar.

---

Dan untuk sesaat matanya tampak berkaca-kaca.

---

"Kalian sangat mirip ayah kalian."

ucapnya lirih.

---

Nara dan Damar saling berpandangan.

---

"Siapa beliau?"

tanya Nara.

---

Adrian menarik napas panjang.

---

"Beliau adalah Bu Ratna."

---

"Dan beliau orang terakhir yang bertemu ayah kalian sebelum semuanya berubah."

---

Ruangan langsung sunyi.

---

Jantung Nara berdetak keras.

---

Inilah yang mereka cari selama ini.

---

Seorang saksi.

---

Seseorang yang benar-benar berada di sana.

---

Bu Ratna menggenggam cangkir tehnya.

Tangannya sedikit bergetar.

---

"Aku tidak pernah ingin terlibat lagi."

ucapnya.

---

"Tapi setelah mendengar kalian mulai mencari kebenaran, aku tidak bisa diam."

---

Nara menelan ludah.

---

"Apa yang sebenarnya terjadi?"

---

Wanita itu menatap foto lama yang diletakkan Adrian di atas meja.

Foto empat sahabat.

Arman.

Nugroho.

Adrian.

Dan Surya.

---

"Dulu mereka seperti keluarga."

ucap Bu Ratna.

---

"Tidak ada yang menyangka semuanya akan berakhir seperti itu."

---

Keheningan menyelimuti ruangan.

---

"Lalu?"

tanya Damar.

---

Bu Ratna menarik napas panjang.

---

"Masalah dimulai ketika perusahaan mereka berkembang sangat cepat."

---

"Uang mulai masuk dalam jumlah besar."

---

"Dan seseorang mulai serakah."

---

Nara langsung menegang.

---

"Surya?"

---

Wanita itu mengangguk pelan.

---

"Awalnya hanya manipulasi kecil."

---

"Tidak ada yang menyadari."

---

"Tapi ayahmu..." katanya sambil menatap Nara, "...mulai menemukan kejanggalan."

---

Nara merasakan dadanya sesak.

---

"Arman tidak pernah bisa diam kalau melihat ketidakadilan."

lanjut Bu Ratna.

---

"Itulah yang membuatnya berbahaya."

---

Damar mengerutkan kening.

---

"Lalu ayah saya?"

---

Bu Ratna menoleh ke arahnya.

---

"Nugroho mencoba menghentikan konflik."

---

"Dia tidak ingin perusahaan hancur."

---

"Dia juga tidak ingin persahabatan mereka berakhir."

---

Damar mengembuskan napas pelan.

---

Setidaknya untuk saat ini, ayahnya belum terdengar seperti pelaku utama.

---

Namun cerita Bu Ratna belum selesai.

---

"Beberapa minggu sebelum kasus itu meledak..."

---

Wanita tua itu terdiam.

---

Matanya terlihat sedih.

---

"Ayah kalian bertengkar hebat dengan Surya."

---

Nara langsung menegakkan tubuh.

---

"Karena apa?"

---

"Karena bukti."

---

Ruangan kembali sunyi.

---

"Arman menemukan bukti penggelapan dana."

---

"Jumlahnya sangat besar."

---

Nara mengepalkan tangan.

---

Jadi ayahnya benar-benar dijebak.

---

Selama bertahun-tahun orang-orang menganggap Arman pelaku.

Padahal kenyataannya berbeda.

---

"Apakah bukti itu masih ada?"

tanya Damar.

---

Bu Ratna menggeleng.

---

"Seharusnya ada."

---

"Namun setelah Arman ditangkap, semuanya menghilang."

---

Adrian langsung menyela.

---

"Itulah yang selama ini kucari."

---

Nara menunduk.

---

Kemarahan mulai memenuhi dadanya.

---

Ayahnya kehilangan nama baik.

Keluarganya hancur.

Dan semua itu mungkin karena seseorang ingin melindungi kejahatannya.

---

Namun kemudian Bu Ratna mengucapkan sesuatu yang membuat semua orang membeku.

---

"Surya bukan satu-satunya orang yang terlibat."

---

Jantung Nara langsung berdebar.

---

"Apa maksud Ibu?"

---

Wanita itu menatap mereka satu per satu.

---

Lalu berkata pelan.

---

"Dia memiliki partner."

---

Damar dan Nara saling berpandangan.

---

"Siapa?"

tanya mereka hampir bersamaan.

---

Bu Ratna menutup mata sesaat.

---

Seolah mengumpulkan keberanian.

---

"Aku tidak pernah melihat wajahnya."

---

"Tapi aku mendengar namanya."

---

Nara menahan napas.

---

"Namanya..."

---

Tiba-tiba.

---

BRAK!

---

Suara keras terdengar dari luar rumah.

---

Semua orang langsung terkejut.

---

Adrian berdiri.

---

"Apa itu?"

---

Beberapa detik kemudian terdengar suara kaca pecah.

---

Bu Ratna langsung pucat.

---

"Mereka menemukan kita."

bisiknya.

---

Damar bergerak cepat menuju jendela.

---

Sebuah batu besar tergeletak di lantai.

Kaca depan rumah pecah.

---

Dan di luar sana...

Tidak ada siapa-siapa.

---

Namun sebuah amplop terikat pada batu tersebut.

---

Damar mengambilnya.

---

Lalu membuka isinya.

---

Wajahnya langsung mengeras.

---

"Apa isinya?"

tanya Nara.

---

Damar menyerahkan secarik kertas itu.

---

Nara membacanya.

---

Dan darahnya langsung terasa dingin.

---

Di atas kertas hanya ada satu kalimat.

---

> Berhenti sekarang, atau saksi berikutnya akan mati.

---

Ruangan mendadak sunyi.

---

Bu Ratna terlihat gemetar.

---

Adrian mengepalkan rahangnya.

---

Sementara Damar menatap ke arah luar rumah dengan sorot mata dingin.

---

Untuk pertama kalinya, ancaman itu tidak lagi bersifat sembunyi-sembunyi.

---

Seseorang secara terang-terangan memperingatkan mereka.

---

Dan itu berarti satu hal.

---

Mereka semakin dekat dengan kebenaran.

---

Namun semakin dekat mereka melangkah...

Semakin berbahaya permainan ini.

---

Saat mereka hendak meninggalkan rumah itu, Bu Ratna tiba-tiba memanggil Nara.

---

"Nak."

---

Nara menoleh.

---

Wanita tua itu menggenggam tangannya.

---

"Lindungi dirimu."

---

Tatapannya dipenuhi kekhawatiran.

---

"Karena aku merasa mereka lebih takut padamu daripada siapa pun."

---

Nara mengernyit.

---

"Kenapa?"

---

Bu Ratna terdiam.

---

Lalu menjawab pelan.

---

"Karena kau mewarisi sifat ayahmu."

---

"Kau tidak akan berhenti sampai menemukan kebenaran."

---

Malam itu.

Saat mobil Damar membawa mereka kembali ke kota...

Tak seorang pun menyadari bahwa sebuah mobil hitam mengikuti dari kejauhan.

---

Lampunya redup.

Jaraknya aman.

Namun tetap membuntuti mereka.

---

Dan di dalam mobil itu...

Seorang pria sedang tersenyum tipis.

---

"Sudah waktunya."

gumamnya.

---

Tangannya membuka sebuah map tua.

---

Di halaman pertama terdapat foto Arman.

Nugroho.

Surya.

Dan Adrian.

---

Sementara di halaman terakhir...

Terdapat sebuah nama yang selama ini belum pernah disebut.

Nama yang akan mengubah segalanya.

---

Bersambung ke Bab 29

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Satisuci Ituaku: mksih kk sudah mampir🙏🙏🙏
total 1 replies
Tys Azka
kok selalu hujan sih
Satisuci Ituaku: iy kak biar romantis ala2
mksih kk udh mampir 🙏🙏
total 1 replies
anggita
like👍iklan☝, Nara.. Damar.
Satisuci Ituaku: Terima kasih sudah mampir kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!