NovelToon NovelToon
MATA TEMBUSH PANDANG

MATA TEMBUSH PANDANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dunia Masa Depan / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Melalui dinding yang seolah lenyap itu, Chen bisa melihat dengan sangat jelas interior kamar Mei. Dan yang membuat jantungnya hampir melompat keluar dari dada adalah, ia bisa melihat area kamar mandi kecil di dalam sana. Pintu kamar mandinya pun tembus pandang.
Di dalam sana, Mei sedang berdiri di bawah kucuran air shower. Tanpa sehelai pakaian pun.
Chen terpaku di tempatnya, tenggorokannya mendadak kering. Setiap lekuk tubuh tetangganya itu, bulir-bulir air yang mengalir di kulitnya, bahkan warna rambutnya yang basah terlihat dengan detail yang luar biasa jernih. Kemampuan matanya seolah menembus batas ruang dan privasi yang ada.
Chen buru-buru menutup kedua matanya dengan telapak tangan, napasnya memburu, dan wajahnya memerah padam sampai ke telinga.
“A-apa yang terjadi dengan mataku?!” batin Chen menjerit panik sekaligus tidak percaya. “Apakah kakek semalam… benar-benar nyata?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8:Tuan Feng

Pria tua beruban yang mengawasi Chen dari lantai dua lantai VIP itu ternyata bukan orang sembarangan. Ia adalah Tuan Feng, paman kandung dari Liu sekaligus seorang Master Giok legendaris yang sangat disegani di seluruh negeri. Reputasinya dalam menilai batu mistis belum tertandingi selama tiga dekade.

Tatapan tajam Tuan Feng malam itu menandakan bahwa ketenangan hidup Chen tidak akan lama lagi, karena radar sang master kini telah mengunci sosoknya.

Namun, Chen belum mengetahui hal itu. Setelah pulang dari tempat jasa pemotongan batu, Chen kembali ke kamar kosnya untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.

Malam semakin larut, dan suasana kos-kosan berubah sunyi.

Saat Chen sedang berbaring, telinganya yang kini menjadi lebih peka tiba-tiba menangkap suara isak tangis yang tertahan dari balik dinding kamarnya. Itu suara Mei.

Chen terdiam, mencoba mendengarkan lebih saksama. Di sela-sela tangisnya, Mei tampaknya sedang menerima telepon dengan suara bergetar.

"Tolong... beri kami waktu lagi. Adikku tidak sengaja... Rentenir sialan, jangan sentuh ibuku!" ratap Mei dengan suara parau yang diselimuti ketakutan luar biasa.

Dari potongan kalimat yang terdengar, Chen langsung paham situasi yang sedang terjadi. Keluarga Mei di kampung halaman sedang diancam oleh sekelompok rentenir kejam karena utang besar yang menumpuk akibat ulah adiknya yang kecanduan berjudi.

Chen mengepalkan tangannya, merasa iba sekaligus marah.

Namun, selang beberapa menit kemudian, suara telepon ditutup.

Lorong kamar kos kembali sunyi senyap. Tidak ada lagi suara tangisan, bahkan tidak ada suara langkah kaki atau gesekan barang dari kamar Mei. Keheningan yang mendadak ini justru terasa sangat mencekam bagi Chen.

Perasaan tidak enak langsung menghantam dadanya. Chen seketika bangkit dari ranjang dan berlari keluar menuju pintu kamar Mei.

Tok! Tok!

"Mei... apa kau ada di dalam?" panggil Chen dengan nada cemas.

Hening. Tidak ada jawaban sama sekali dari dalam.

"Mei... Mei... Meii!" Chen menggedor pintu lebih keras, namun ruangan itu tetap terasa mati.

Ketakutan mendalam menjalar di kepala Chen. Ia takut jika Mei yang sedang putus asa dan tertekan berpikir pendek untuk mengakhiri hidupnya atau melakukan hal-hal nekat lainnya.

Tanpa berpikir panjang lagi, Chen mundur satu langkah, memusatkan tenaganya ke kaki kanan, dan...

Brakkk!

Pintu kayu kamar kos itu didobrak paksa hingga engselnya jeblok.

Chen langsung merangsek masuk ke dalam. Di sudut ruangan yang temaram, ia melihat Mei sedang terduduk lemas di lantai dengan tatapan mata kosong yang sembap, memegang sebotol obat penenang dosis tinggi yang tutupnya sudah terbuka.

Chen yang panik langsung menerjang maju dan menepis botol itu hingga obat-obatan di dalamnya berserakan di lantai. Ia mencengkeram kedua pundak Mei dengan napas memburu.

"Mei... apa kau gila?!" bentak Chen, suaranya bergetar antara marah dan takut kehilangan. "Kenapa kau berbuat seperti ini?! Apapun masalah yang sedang kau alami, hadapi saja! Kau tidak sendiri, Mei!"

Mei hanya diam terpaku. Tatapan matanya yang semula kosong perlahan mulai fokus menatap wajah Chen yang dipenuhi kekhawatiran yang tulus. Air matanya kembali menetes deras, namun bibirnya terkunci rapuh, tak mampu berkata apa-apa di hadapan pemuda yang baru saja menyelamatkannya dari kegelapan.

Terimakasih untuk semua,yang mau mampir ke karya baru ku ini.

Tetap dukung aku dengan like,komen dan juga vote😁🙏

1
Agus Suciyadi
lumayan bagus sih thor...ceritanya nyambung terus, Mcnya bagus dlm sifat dan sikapnya tidak menye2 yg nafsuan. semangat thor lanjut terus/Good//Good//Good/
Markario Putra: Bantu share yah gan 👍
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!