NovelToon NovelToon
Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Fantasi
Popularitas:401
Nilai: 5
Nama Author: Denny Priyanto

Viona tumbuh di Candisari Semarang dengan selalu merasa terlindungi oleh Zidan– kakak tirinya yang sepuluh tahun lebih tua. Sejak ayahnya tiada, Zidan selalu ada buat dia.
pelindung, guru, bahkan tempat curhat setiap kali dia punya masalah. Perlahan, rasa kagum yang dulu ada berubah jadi sesuatu yang lebih dalam. Viona tahu bahwa cinta pada kakak tiri itu tidak boleh ada, tapi perasaan itu seperti akar yang tumbuh dalam hati, sulit untuk dihilangkan.
Sampai hari itu datang, saat Zidan dengan bangga memperkenalkan Gina sebagai calon istri di ulang tahunnya yang ke-30. Dunia Viona seolah runtuh. Akhirnya dia berani mengungkapkan semua yang ada di dalam hati, tapi Zidan menolaknya dengan lembut tapi tegas:

"Aku hanya bisa melihat kamu sebagai adik perempuanku, sebagai mana cinta dan kasih sayang antara Kaka & Adik. Tidak lebih dari itu."

Untuk menyembuhkan luka dan menempatkan Cinta yang salah, Cara apa yang harus Viona lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan Masa Lalu dan Janji di Hujan

Siang hari berlalu dengan tenang, namun ketenangan itu terasa rapuh bagi Viona. Setelah memastikan ibunya tertidur nyenyak didampingi perawat, Viona memutuskan untuk membersihkan ruang kerja ayahnya yang berantakan karena persiapan kepulangan Rani minggu lalu. Ruang kerja Pak Wahyu terletak di sudut belakang rumah, sebuah ruangan yang selalu beraroma kayu mahoni tua dan buku-buku hukum.

Saat Viona merapikan tumpukan dokumen di atas meja, sebuah amplop cokelat tebal terjatuh dari sela-sela rak buku bagian atas. Amplop itu tidak berlabel nama, hanya bertuliskan tanggal lama: 12 Agustus 2018. Tanggal itu membuat dada Viona sesak. Itu adalah tahun ketika ayah kandungnya meninggal, dan setahun sebelum Rani menikah dengan Pak Wahyu.

Dengan tangan gemetar, Viona membuka amplop tersebut. Isinya bukan dokumen legal, melainkan kumpulan foto hitam-putih dan surat tulisan tangan yang sudah menguning. Foto-foto itu menampilkan seorang pria muda yang sangat mirip dengan Zidan, sedang tertawa lepas bersama seorang wanita yang wajahnya tertutup bayangan. Di balik foto, terdapat catatan kecil: "Zidan kecil, sebelum dunia menjadi terlalu serius."

Viona terkejut. Ia jarang melihat Zidan tersenyum selebar itu. Senyum Zidan sekarang selalu tipis, terkendali, dan penuh perhitungan. Foto ini menunjukkan sisi lain Zidan yang hilang—sisi yang mungkin terkubur bersama trauma masa kecilnya atau tekanan ekspektasi sebagai anak tunggal Pak Wahyu.

Di antara foto-foto itu, ada sebuah surat dari Rani kepada Pak Wahyu, ditulis jauh sebelum mereka resmi menikah. Viona ragu sejenak, merasa seperti melanggar privasi, tapi rasa ingin tahu tentang dinamika keluarga mereka lebih kuat. Ia mulai membaca.

"Wahyu, aku tahu Zidan masih membenciku. Dia menganggap aku merebut tempat ibu kandungnya. Aku tidak menyalahkannya. Anak itu terluka, dan lukanya dalam. Tapi aku berjanji, aku akan mencoba menjadi sosok yang bisa iaandalkan, bukan sebagai pengganti ibunya, tapi sebagai teman yang tidak akan pergi. Tolong bantu aku mendekatinya pelan-pelan. Jangan paksa dia menerima aku. Biarkan waktu yang berbicara."

Air mata Viona menetes jatuh ke kertas surat itu. Selama ini, ia mengira hubungan dingin Zidan dan Rani hanyalah karena perbedaan kepribadian. Ternyata, ada usaha sadar dari ibunya untuk membangun jembatan, dan ada penolakan diam-diam dari Zidan yang berasal dari rasa sakit ditinggalkan. Zidan tidak dingin karena sifat aslinya; dia dingin karena mekanisme pertahanan diri. Dia membangun tembok tinggi agar tidak pernah lagi disakiti oleh kehilangan.

Dan kini, tembok itu mulai retak. Bukan karena Rani, tapi karena Viona.

Viona menyadari bahwa perannya dalam kehidupan Zidan bukan sekadar adik tiri yang merepotkan. Dia adalah kunci yang secara tidak sengaja membuka pintu hati Zidan yang telah terkunci rapat selama bertahun-tahun. Pemikiran itu membuatnya takut sekaligus berharap. Jika dia adalah kuncinya, apakah dia punya tanggung jawab untuk tetap berada di sana? Atau apakah dia akan pergi seperti orang-orang lain sebelumnya?

Suara hujan deras tiba-tiba memecah lamunannya. Langit sore berubah menjadi abu-abu gelap dengan cepat. Angin kencang menggoyangkan jendela ruang kerja, membawa serta daun-daun kering yang menempel di kaca.

Viona segera membereskan surat-surat itu kembali ke dalam amplop dan menyimpannya di tempat semula. Ia harus merahasiakan ini. Ini adalah rahasia Zidan, dan membukanya tanpa izin terasa seperti pengkhianatan. Namun, pengetahuan ini mengubah cara pandang Viona terhadap Zidan. Rasa kasihan bercampur dengan kekaguman. Pria itu telah bertahan sendirian begitu lama, dan kini dia memilih untuk berbagi bebannya dengan Viona.

Tiba-tiba, lampu rumah padam. Gelap gulita menyelimuti ruangan. Viona tersentak, jantungnya berdebar kencang. Kebetulan sekali, Pak Wahyu sedang di luar kota untuk urusan mendadak, dan perawat Rani sedang istirahat di kamar belakang. Viona sendirian di lantai dasar.

"Bu?" panggil Viona, suaranya bergetar. Tidak ada jawaban selain suara hujan yang semakin keras.

Ia mengambil senter dari laci meja, lalu bergegas menuju tangga untuk memeriksa kondisi ibunya. Saat kakinya menginjak anak tangga pertama, pintu depan rumah terbuka dengan kasar akibat hembusan angin. Sosok tinggi besar berdiri di ambang pintu, basah kuyup oleh hujan, memegang payung hitam yang hampir rusak diterjang angin.

"Zidan?" seru Viona, lega sekaligus kaget. "Kakak pulang? Kenapa nggak telepon dulu?"

Zidan masuk dengan langkah cepat, menutup pintu rapat-rapat untuk menahan angin. Wajahnya pucat, napasnya agak tersengal. Kemeja putihnya kini transparan karena basah, menempel pada otot dadanya yang bidang. Air hujan menetes dari ujung rambutnya yang acak-acakan, sesuatu yang sangat tidak biasa bagi Zidan yang selalu rapi.

"Listrik mati di seluruh kawasan," ucap Zidan singkat, meletakkan tas kerjanya di lantai. Suaranya terdengar tegang, berbeda dari biasanya. "Aku khawatir. Aku tinggalkan meeting di tengah jalan."

Viona turun dari tangga, mendekati Zidan. "Kakak... Kakak kehujanan demi pulang cepat?"

Zidan tidak menjawab. Ia langsung menyalakan senter ponselnya, mengarahkan cahayanya ke arah tangga. "Bagaimana kondisi Ibu? Apakah alat bantu napas darurat berfungsi? Generator cadangan seharusnya otomatis menyala dalam lima menit, tapi jika tidak..."

"Kakak," potong Viona lembut, memegang lengan Zidan yang dingin. "Ibu baik-baik saja. Perawatnya ada di kamar belakang. Dan generator sudah menyala sejak sepuluh menit lalu, cuma lampu utama yang kena imbas petir dekat tiang listrik."

Zidan berhenti bergerak. Dadanya naik turun, mengatur napasnya. Ia menatap Viona, matanya melebar seolah baru menyadari betapa paniknya ia tadi. Rasionalitasnya sempat lumpuh oleh kecemasan murni.

"Aku..." Zidan terdiam, menelan ludah. "Aku pikir aku terlambat. Aku pikir sesuatu terjadi pada kalian."

Viona merasakan getaran di tangan Zidan. Pria itu gemetar. Bukan karena kedinginan, tapi karena adrenalin yang baru saja surut. Tanpa berpikir panjang, Viona menarik Zidan ke arah sofa ruang tamu.

"Duduk dulu, Kak. Kakak kedinginan," perintah Viona tegas.

Zidan menurut, duduk dengan tubuh yang masih kaku. Viona lari ke dapur, mengambil handuk besar dan selimut tebal. Kembali ke ruang tamu, ia mengeringkan rambut Zidan dengan handuk, gerakan tangannya lembut namun pasti. Zidan membiarkannya, matanya terpejam, menikmati sentuhan hangat itu di tengah dinginnya hujan di luar.

"Maaf," bisik Zidan tiba-tiba.

Viona berhenti mengeringkan rambutnya. "Untuk apa?"

"Karena panik. Karena tidak logis. Seorang arsitek tidak boleh kehilangan kendali seperti ini."

Viona tersenyum sedih. Ia duduk di samping Zidan, menyelimuti bahu pria itu dengan selimut wol. "Manusia boleh panik, Kak. Apalagi kalau yang dipentingkan sedang dalam bahaya. Itu bukan kelemahan. Itu bukti kalau Kakak peduli."

Zidan membuka matanya, menatap Viona lekat-lekat. Cahaya senter dari ponsel yang tergeletak di meja menciptakan bayangan dramatis di wajah mereka. Dalam kegelapan itu, batas-batas sosial seolah runtuh.

"Vion," panggil Zidan, suaranya parau. "Jika suatu hari nanti... jika aku harus memilih antara karirku dan keselamatanmu, apa yang akan kamu lakukan?"

Pertanyaan itu aneh, tiba-tiba, dan mendalam. Viona menatap mata Zidan yang terlihat rapuh di balik ketegasannya.

"Aku akan memilih kamu tetap hidup, Kak. Karena tanpa kamu, karirku, rumah ini, bahkan kebahagiaanku tidak akan berarti apa-apa," jawab Viona jujur, air matanya mulai menggenang.

Zidan menghela napas panjang, lalu menarik Viona ke dalam pelukannya. Pelukan itu erat, posesif, dan penuh keputusasaan yang tertahan. Viona membalas pelukan itu, membenamkan wajahnya di dada Zidan yang masih berbau hujan dan sabun maskulin.

Di luar, badai terus mengamuk. Petir menyambar, menerangi langit sesaat. Namun di dalam ruangan yang gelap itu, dua jiwa yang terluka menemukan kehangatan satu sama lain. Zidan tidak lagi sendirian melawan kenangan masa lalunya. Dan Viona tidak lagi merasa sendiri menghadapi ketidakpastian masa depan.

Mereka berdua tahu, setelah malam ini, tidak ada jalan untuk kembali ke hubungan biasa-biasa saja. Sesuatu telah berubah. Sesuatu yang lebih dalam, lebih gelap, namun juga lebih terang daripada cinta biasa.

"Jangan pergi," gumam Zidan di telinga Viona, hampir tak terdengar di antara deru hujan.

"Aku di sini," jawab Viona, mencium pipi Zidan sekilas. "Selamanya."

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Zidan percaya pada kata "selamanya".

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!