Pada masa putih abu-abu. Jeviza menjalin cinta dengan Keandra, tetapi baru 1 tahun pacaran, hubungan keduanya harus berakhir karena sebuah kesalah pahaman. Lalu keduanya dipertemukan lagi setelah 2 tahun berpisah, lebih gilanya, Jevi dan Kean berada di satu rumah. Seatap dengan mantan itu lah yang terjadi setelah perpisahan.
Mantan tapi masih cemburu, cinta tapi gengsi menjadi bumbu kehidupan keduanya setelah berada di satu rumah yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Acara Perpisahan
"Je, ayo buru."
Jevi yang diteriaki namanya menoleh, lalu mengangguk dengan mengambil plastik di depannya.
Ia menyamai langkah sahabatnya yang sedari tadi sudah menunggu, lalu tersenyum tipis menatap sekitar.
"Muka gue kucel nggak sih? Nervous gila."
Bela menoleh, mengamati penampilan Jevi lalu menggeleng pelan, disertai dengan senyum tipis. "Aman lah, minyak di muka lo belum bisa buat goreng."
Jevi mendelik, memukul kesal bahu Bila. "Sialan, gue nggak boleh keliatan kusam, bisa gagal rencana gue."
Setelah mengantri panjang diberbagai stand jajanan di sekolah. Jevi dan Bela berjalan untuk mencari seseorang, hari ini acara kelulusan kaka kelasnya. Dan Jevi yang memang mempunyai kekasih yang sudah akan lulus itu berniat memberi kejutan kecil.
Buket bunga dan juga kotak kecil di dalam paper bag ia bawa sebagai hadiah, tidak lupa plastik yang berisi jajanan kini sudah berada di tangan Bela.
"Ampun deh, rempong banget lu." Bela berdecak kesal, tapi tak urung menerima kantong plastik berisi berbagai jajanan yang sudah mereka beli.
"Gimana nggak rempong, Anggi sibuk pacaran jadi gini kan?" tangan Jevi merapihkan sedikit rambutnya lalu menghela napas dalam.
Setahun berpacaran dengan kakak kelasnya masih menyisakan debaran di hatinya setiap kali akan bertemu.
"Kaya yang sendirinya nggak mau pacaran aja, jangan pura-pura lupa ya? Ini lo juga mau nyamperin cowok lo."
Jevi terkikik mendengar celotehan Bela yang protes, ia lalu mengambil parfum di tasnya.
"Ampun deh, kurang mulu perasaan, kak Kean tetep cinta biarpun muka lo penuh ingus sekalipun." Bela tidak habis pikir dengan Jevi yang terus merasa kurang dengan penampilannya ketika akan bertemu dengan Keandra-pacar Jeviza.
Padahal Bela masih sangat ingat beberapa bulan yang lalu, dimana Kean pernah melihat Jevi dengan ingus di hidungnya, Bela melihat dengan jelas bagaimana Kean sangat telaten merawat Jevi ketika gadis itu sedang demam disertai flu. Lalu sekarang tindakan Jevi seperti lupa jika Keandra mencintai Jevi apa adanya.
"Sialan, udah ah, gue mau nyamperin kak pacar dulu, semangati gue dong bel, anjir gue masih yang gugup gini."
Bela mendesah pelan, lalu menatap Jevi lamat-lamat, tatapan Bela kali ini terlihat sangat serius.
"Temui kak Kean sekarang atau gue yang seret?" ancam Bela langsung diangguki patuh Jevi.
"Iya-iya, ini gue ke sana, galak banget. Bye Bela."
Jevi dengan langkah pastinya dan senyum tipis mendekati dimana kerumunan Kean dan teman-temannya berada.
Ada kegugupan dalam hatinya, namun ia menepisnya, benar kata Bela. Kean menerimanya apa adanya, penampilan on point Jevi saat ini sebenarnya tidak begitu diperlukan, tetapi tetap saja, Jevi ingin terlihat menarik di hari bahagia Keandra.
"Eh Je, cari Kean ya?" tanya salah satu teman Kean yang berada di sana.
Jevi mengangguk pelan, matanya mencari-cari keberadaan pacarnya itu.
"Kak Kean, dimana ya kak?" tanyanya tidak menemukan keberadaan Keandra di sana. Di tempat tongkrongan biasanya Keandra dan teman-temannya.
"Dia di kelas, susul aja Je."
"Oh iya kak, makasih kak."
"Itu bunganya mending buat gue aja Je."
Salah satu teman Kean berteriak, tetapi Jevi tidak menanggapi godaan kecil itu, ia tetap langsung pergi menuju kelas Kean, tidak terlalu jauh dari tempat tongkrongan Kean yang tadi memang, dan Jevi hanya butuh waktu beberapa menit untuk bisa sampai di sana.
Semakin langkahnya membawanya mendekati kelas Keandra, jantungnya semakin berdetak begitu cepat, apa lagi saat langkah kakinya berhenti tepat di depan kelas Keandra, perasaannya semakin tidak menentu, antara senang, gugup, dan ada perasaan aneh yang entah kenapa tiba-tiba saja menjalar begitu cepat di hatinya.
Tangannya terangkat untuk membuka pintu yang ternyata tidak ditutup dengan sempurna, senyumnya masih sama seperti tadi, memancarkan kebahagiaan dan juga kegugupan. Tetapi saat ia membuka pintu itu dengan sempurna, senyum itu seketika lenyap, tidak ada drama buket bunga yang dibawa olehnya jatuh memang, tetapi tubuhnya terasa lemas.
Ia mundur dan segera berlari dari sana, masih dengan paper bag berisi hadiah kecil dan juga buket bunga yang dibawanya tadi.
"Je, ko cepet banget? Lo nggak peluk cium dulu sama kak Kean?" tanya Bela melihat kedatangan Jevi baru saja.
"Gue mau pulang."
"Hah? Kenapa? Acaranya belum selesai anjir, lo bahkan belum sempet foto sama kak Kean, lo belum ketemu orang tuanya juga buat kenalan-"
Ucapan Bela menggantung saat mendapati raut wajah Jevi saat ini. Jevi tidak mengatakan apa-apa memang, tetapi dari raut wajah Jevi sekarang juga barang yang dibawa oleh gadis itu sekarang, Bela tahu sesuatu telah terjadi.
"Ah, sial," umpatnya mulai paham situasi.
"Gue yang nyetir, pakai mobil lo," ujar Bela lagi.
Jevi menurut, tidak juga mengatakan apa-apa, gadis itu diam dan segera masuk ke mobilnya.
Buket bunga dan paper bag yang masih di tangannya ia lempar ke belakang kemudi, lalu menyandarkan tubuhnya dengan mata terpejam.
"Bangunin gue kalau udah sampai, Bel."
Sementara di lain tempat. Tepatnya di dalam kelas 12IPA 2. Agnes mengurai pelukannya. Pelukan yang sedari tadi memang tidak dibalas sama sekali oleh Keandra. Gadis itu menatap Kean dengan senyum tipis.
"Setidaknya gue lega udah ungkapi perasaan gue ke lo Ndra, sebelum gue pergi nanti."
Keandra tidak langsung menjawab, ia menatap ke lain arah, bukan pada gadis yang baru saja menyatakan cintanya.
"Tapi nggak harus peluk gue juga Nes, kalau sampai ada yang lihat apa lagi Jevi, mereka dan Jevi bakal salah paham."
"Enggak ada Ndra, nggak akan ada yang lihat, mereka semua, termasuk juga cewek lo nggak di sini, tapi di depan."
"Terserah lo." Keandra menghela napas dalam.
Ia melihat jam di tangannya, lalu tersenyum tipis, sebentar lagi ia akan menemui Jevi dan memperkenalkan pada kedua orang tuanya sebagai kekasihnya.
"Ndra, makasih ya untuk 3 tahunnya, gue jujur seneng banget dapat kesempatan buat ungkapi perasaan gue ke lo, mungkin lo mikir gue terlalu lancang karena lo udah punya cewek tapi kalau gue pendem sampai gue pergi nanti, gue nggak akan lega Ndra, dan gue akan menyesal."
"Maaf juga udah paksa lo buat peluk gue, tapi ini permintaan terakhir gue Ndra sebelum gue ke LA, sekali lagi thank you Keandra Nabastala." Agnes tersenyum manis, senyuman tulus dan ucapan terimakasih.
Keandra mengangguk, menepuk bahu Agnes pelan. "Gue hargai keberanian lo, tapi maaf gue nggak bisa terima perasaan lo, dan lo sendiri udah tahu jawabannya Nes, gue cinta Jevi, dan gue harus temui dia sekarang, gue duluan ya Nes." Kean melangkah pergi meninggalkan Agnes yang masih berdiri di tempatnya menatap kepergian Keandra untuk menemui pacarnya, gadis yang setahun ini menjadi pacarnya.
Lo beruntung banget Jeviza
bomloppp deh😍
tahan ke,,, tahan!!!