Liburan keluarga Pak Gunawan dan Bu Sri yang sedang hamil tua berakhir tragis ketika mereka, bersama dua pelayan dan seorang tukang kebun, ditemukan tewas mengenaskan di vila mereka.
Penyelidikan mengungkap bahwa pembantaian tersebut dipicu oleh aksi perampokan yang berubah menjadi pembunuhan brutal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tersesat!
Sri menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. Napasnya tertahan di tenggorokan. Di sekelilingnya, kegelapan hutan seolah perlahan-lahan bergerak mendekat, mengimpit ruang gerak mereka. Pak Basri, Tedi, dan Kang Tono serentak menghentikan kaki mereka.
"Seperti ada yang memanggilku, Gas."
Bagas yang berjalan persis di samping Sri langsung mengernyitkan dahi. Ia mengarahkan sorot senternya ke sekeliling, tetapi hanya mendapati jajaran pohon dan belukar yang rapat.
"Memanggil kamu? Jangan ngaco, Sri. Ini hutan. Tidak ada orang lain lagi di tempat ini selain kita berlima," sahut Bagas, mencoba menyuntikkan logika ke dalam situasi yang mulai terasa ganjil.
Namun, Sri tidak bergeming. Pandangannya masih tertuju lurus ke arah jalur gelap yang baru saja mereka lalui. Suara itu terasa begitu nyata di telinganya, seolah-olah sang pemilik suara berdiri tepat di belakang punggungnya. Anehnya, sejauh mata memandang, tidak ada siapa pun di sana.
"Mungkin cuma suara binatang," lanjut Bagas lagi. Kali ini suaranya agak ditinggikan, seolah-olah ia sedang meyakinkan dirinya sendiri daripada menenangkan Sri.
"Iya, betul itu," sahut Tedi menimpali. Ia mengangkat parang panjang di tangan kanannya.
"Paling-paling suara monyet atau burung. Di hutan seperti ini, banyak hewan yang suaranya mirip seperti manusia."
Berbeda dengan anak-anak muda itu, Pak Basri justru memasang wajah yang amat serius. Kerutan di dahinya semakin mendalam. Lelaki tua yang bertindak sebagai pemandu mereka itu melangkah mendekati Sri. Tatapannya lurus dan tajam, lalu ia berkata dengan suara yang sangat pelan namun sarat akan ketegasan.
"Sri, dengarkan. Kalau kamu mendengar suara seperti itu lagi, jangan pernah dihiraukan. Dan jangan sekali-kali kamu berani menyahutinya."
Sri menatap lelaki tua itu dengan dahi berkerut, diliputi rasa bingung sekaligus cemas yang kian memuncak.
"Memangnya kenapa, Pak? Siapa tahu itu warga yang ikut mencari Pak Rasman atau mungkin Pak Rasman." Kata Sri.
"Di hutan ini, banyak hal yang tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat kita," potong Pak Basri cepat, memangkas kalimat Sri.
"Kadang-kadang, penghuni tempat ini sengaja memanggil menggunakan suara orang yang paling kita kenal untuk menjebak."
Pak Basri menghentikan kalimatnya sejenak, lalu mengembuskan napas berat. Sorot senternya diarahkan ke pohon besar berlumut di dekat mereka.
"Apalagi, sadar atau tidak, kita sudah melewati pohon besar ini. Kita berputar-putar di tempat yang sama. Kita tersesat."
"Sudah, jangan dibahas lagi. Kita harus tetap bergerak dan menjaga pikiran tetap bersih. Ayo lanjut," perintah Pak Basri sambil mengangkat kembali senternya ke arah depan. Langkahnya dipercepat, karena ia tahu betul, hari sepertinya semakin gelap dan malam di hutan ini tidak pernah ramah pada orang asing.
Baru beberapa langkah mereka berjalan kembali, hawa dingin yang tidak wajar tiba-tiba berembus menusuk tulang.
Namun, setelah berjalan, langkah kaki kelima orang itu kembali melambat, lalu benar-benar terhenti secara serentak.
Di depan mereka, berdiri sebuah pohon tua raksasa dengan batang yang diselimuti lumut tebal, pohon yang sama yang sudah mereka lewati beberapa kali sebelumnya.
Kenyataan pahit itu seolah menampar kesadaran mereka secara paksa. Mereka tidak kemana-mana, mereka hanya berjalan, lalu kembali ke tempat yang sama lagi.
Kang Tono yang sejak tadi lebih banyak diam dan berjalan di barisan paling belakang, akhirnya tidak bisa lagi menahan kecemasannya. Ia menyarungkan parangnya dengan kasar.
"Pak, tidak bisa seperti ini terus. Kita kembali lagi di sini," katanya dengan nada suara yang mulai diselimuti kepanikan.
"Sudah empat kali kita melewati pohon ini. Kalau kita terus memaksakan berjalan tanpa arah, kita hanya akan kehabisan tenaga di tengah kegelapan."
Mendengar ucapan Kang Tono, Bagas dan Tedi langsung terduduk lemas di atas akar-akar pohon yang menyembul dari tanah. Sementara Sri hanya bisa berdiri mematung, merapatkan jaketnya karena hawa dingin yang semakin menusuk tulang.
Pak Basri tidak langsung menjawab. Ia tampak berpikir sejenak, menyorotkan senternya ke arah hutan yang semakin gelap gulita, lalu beralih menatap tanah yang mereka pijak.
Wajah tuanya yang dipenuhi kerutan terlihat sangat tegang di bawah temaram cahaya senter. Ia tahu, dalam kondisi seperti ini, melangkah lebih jauh hanya akan membuat mereka semakin masuk ke dalam jebakan hutan.
Setelah menimbang situasi dengan saksama, Pak Basri akhirnya mengembuskan napas panjang. Ia menurunkan senternya, lalu menatap satu per satu anggota rombongan.
"Ayo kita istirahat dulu sebentar di sini," kata Pak Basri dengan suara yang diusahakan sepadat dan setenang mungkin, mencoba meredam riak kepanikan yang mulai menjalar di antara mereka.
"Tapi Pak, apa aman kita diam di dekat pohon ini?" tanya Tedi dengan suara bergetar, matanya melirik waspada ke arah kegelapan di balik batang pohon raksasa tersebut.
"Untuk saat ini, ini pilihan terbaik," jawab Pak Basri sambil duduk bersila di atas tanah, tak jauh dari akar pohon.
"Kita tenangkan hati dulu, kumpulkan tenaga, baru setelah itu kita cari jalan keluar bersama-sama."
Mereka pun akhirnya mengikuti perintah Pak Basri. Untuk beristirahat, semoga saja nanti mereka bisa menemukan jalan.