Bagi orang lain, mendapat warisan adalah jalur cepat menjadi kaya. Namun, berbeda dengan Budiman. Warisan yang ia dapat, malah membuat hidupnya nelangsa karena mendapat warisan toko kelontong yang mau bangkrut karena hutang warga yang tak kunjung dibayar.
Lelah menagih dan kesal setiap hari ditipu janji manis, Budiman justru berharap warung itu bangkrut saja. Ia ingin menutupnya dan bekerja sebagai karyawan biasa, hidup tanpa pusing memikirkan hutang orang lain.
Namun, takdir berkata lain.
Saat ia benar-benar mencoba menghancurkan warung peninggalan orang tuanya dengan menjual murah semua, menolak pembeli, bahkan membiarkan stok habis, sebuah suara aneh tiba-tiba muncul di kepalanya:
[ Sistem Kompensasi Finansial 'Makin Bangkrut Makin Kaya' Resmi Diaktifkan! ]
Bagaimanakah kisah Budiman yang berusaha bangkrut tetapi tak kunjung sukses? Ikuti alur cerita ini yah ....
#kehidupandidesa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Pengawal Sembako
Di ruas jalan lintas yang baru saja lepas dari kemacetan yang panjang akibat iring-iringan 20 truk tronton dari Jakarta.
Saat ini terdengar suara yang sangat nyaring dari raungan sirine yang melengking memasuki pelataran parkir Budiman Mart cabang utama. Tiga mobil patroli jenis sedan dan satu mobil taktis bertuliskan Korps Sabhara menghentikan kendaraannya yang telah lepas pula dari etek-etek penasaran.
Kedutan halus di mata Budiman, belum juga terhenti karena frustrasi. Belum memilih siapa pun di antara mereka, tetapi dana hibah turun tanpa bisa dihentikan. Bagaimana kalau Budiman telah menentukan pilihannya? Mungkin saja nanti membuat Budiman akan semakin jauh dari kemiskinan.
Mendengar suara sirine itu, membuat Budiman kembali bangkit dengan secercah harapan yang amat terang. Alisnya yang tadi bertaut rapat, langsung terlepas kembali. Senyuman licik kembali muncul di sudut bibirnya.
‘Ya Allah ... Ternyata Engkau mendengar doa hamba yang begitu ingin kembali jadi miskin ini!’ jerit Budiman girang dalam hati.
Logika Budiman langsung bermain kembali berputar cepat dalam kepala.
'Polisi datang dengan formasi lengkap seperti ini pasti karena mencium adanya aktivitas mencurigakan,' batinnya dengan bibir tersenyum lebar.
Kepala terus memikirkan hal yang terasa indah olehnya. Bisa jadi karena manipulasi pajak abnormal yang dia lakukan yang melakukan segala upaya agar tokonya menjadi rugi!
Atau bisa jadi karena pihak retail raksasa di Padang yang mulai terusik karena Budiman Mart menjual barang jauh di bawah harga modal hingga merusak ekosistem pasar.
Apapun alasannya, ditangkap polisi dan garis polisi (police line) melintang di depan rukonya adalah skenario terbaik. Jika tokonya disegel, dia tidak perlu memikirkan cara membakar uang hibah kementerian. Rekeningnya akan dibekukan, dia bebas dari Sistem aneh, dan dia bisa tetap menjadi jomblo miskin dengan tenang!
"Uda Diman ... polisi, Da! Waduh, apakah rahasia impor mi instan jalur gaib kita ketahuan?!" bisik Anto dengan wajah pucat pasi, langsung bersembunyi di balik punggung Budiman sambil memegangi mikrofonnya erat-erat.
"Tenang, Anto. Biar Ambo yang menghadapi hukum ini dengan jantan," jawab Budiman dengan suara yang sengaja dibuat berat dan berwibawa, bersiap menjadi martir yang akan dikorbankan. Budiman melangkah maju dengan dada membusung, menyambut para aparat yang mulai turun dari mobil.
Seorang perwira polisi berpangkat Komisaris Polisi (Kompol) dengan seragam necis dan tongkat komando di ketiaknya melangkah tegap memimpin barisan. Di belakangnya, delapan personel bersenjata laras panjang berbaris rapi. Suasana pelataran toko seketika mencekam.
Budiman menghentikan langkahnya tepat tiga meter di depan sang Kompol. Dia sudah bersiap mengulurkan kedua pergelangan tangannya untuk diborgol.
"Selamat siang, Pak. Ambo Budiman, pemilik tunggal Budiman Mart. Kalau Bapak mencari orang yang bertanggung jawab atas kacaunya laporan keuangan, pembukuan minus, dan manipulasi omzet toko ko ... itu semua ulah Ambo. Silakan bawa Ambo ke markas sekarang," ujar Budiman pasrah, bahkan terkesan sangat menuntut untuk segera ditahan.
Sang Kompol sempat tertegun mendengar sambutan Budiman. Namun, sedetik kemudian, wajah tegas sang perwira langsung mencair menjadi senyuman hangat yang luar biasa ramah. Dia malah memberikan hormat tegak lurus kepada Budiman.
"Selamat siang, Pak Budiman yang budiman! Luar biasa sekali, baru pertama kali ini saya melihat seorang pengusaha yang begitu berjiwa ksatria dan rendah hati!" seru Kompol tersebut dengan suara menggelegar, lalu menjabat tangan Budiman dengan cengkeraman yang sangat erat.
Budiman melongo. Tangannya yang sudah bersiap diborgol malah diguncang-guncang penuh keakraban. "Hah? Maksud Bapak?"
Kompol tersebut terkekeh, lalu menepuk pundak Budiman dengan bangga. "Pak Budiman tidak perlu berpura-pura lagi. Kami ke sini bukan untuk menangkap Anda. Justru saya membawa perintah langsung dan nota dinas rahasia dari Bapak Kapolda Sumatera Barat atas instruksi khusus dari Kementerian Koordinator Perekonomian di Jakarta!"
Mendengar kata "Jakarta", Vilmey b
berdiri agak jauh di belakang Budiman langsung mempertajam pendengarannya.
"Nota dinas apa, Pak?" tanya Budiman, mendadak merasakan firasat buruk kembali merayap.
Sang Kompol membuka map logo Kepolisian RI yang dibawa oleh ajudannya.
"Berdasarkan data pemantauan inflasi daerah, Budiman Mart dinilai telah melakukan mukjizat ekonomi di Pesisir Selatan. Di saat daerah lain bergejolak karena harga sembako melambung, jaringan distribusi tronton Budiman Mart justru berhasil menstabilkan harga pangan secara mandiri tanpa membebani APBD! Oleh karena itu, Pemerintah Pusat menetapkan Budiman Mart sebagai Aset Vital Penyelamat Pangan Daerah!"
DEG!
Sebuah pujian bagai ujian baru yang terasa berat untuk dia emban.
"Mulai hari ini," lanjut sang Kompol dengan nada bersemangat, "Kapolda memerintahkan seluruh jajaran Polres hingga Polsek untuk melakukan Pengawalan Ketat 24 Jam terhadap setiap armada truk tronton Budiman Mart yang masuk dari Jakarta maupun yang menuju ke 19 cabang pelosok Siberut Mentawai!" ucapnya dengan semangat kemerdekaan.
"Tidak boleh ada pungli, tidak boleh ada keterlambatan di jalan! Setiap tronton sembako Anda akan dikawal mobil patroli dengan sirine menyala agar mendapatkan jalur prioritas utama bebas hambatan di seluruh jalan raya Sumatera Barat!" tambahnya lagi.
"Allahu Akbar! Merdeka!" teriak Anto spontan dari balik punggung Budiman, langsung mengangkat mikrofonnya tinggi-tinggi ke udara.
"Assssiik! Toko kita sekarang dikawal polisi! Nanti, kalau ada Supir truk dan kita tak perlu takut dicegat preman persimpangan lagi!"
Sementara itu, Budiman berdiri mematung di tengah pelataran parkir yang hampir turun dari singgasananya. Pandangannya kosong menatap lampu rotator biru mobil polisi yang berputar-putar.
Skenario masuk penjara karena manipulasi pajak ternyata hanya sebuah angan. Bagaimana bisa dia ditangkap karena manipulasi pajak, kalau status tokonya sekarang sudah dinaikkan menjadi Objek Vital Nasional yang dilindungi negara?!
Belum sempat Budiman mengontrol denyut jantungnya yang kian tak beraturan, layar hologram biru yang hanya bisa dilihat olehnya, kembali memancarkan warna keemasan. Sebuah notifikasi dengan pendar cahaya biru keemasan yang terasa kejam olehnya muncul di pelupuk matanya.
[ DING! ]
[ Selamat! Perlindungan Hukum Tingkat Tinggi Berhasil Diaktifkan secara Organik! ]
[ Dampak: Karena seluruh armada logistik Anda sekarang mendapatkan fasilitas jalur hijau bebas hambatan dari kepolisian, biaya operasional dan risiko penyusutan barang Budiman Mart turun sebesar 0%. Efisiensi pengiriman meningkat 400%! ]
[ Proyeksi Keuntungan: Efisiensi jalur hijau ini akan otomatis mengonversi potensi kerugian 19 cabang pelosok Anda menjadi keuntungan bersih berlipat ganda dalam waktu 6 jam ke depan! ]
Budiman mencengkeram dadanya yang mendadak terasa ngilu luar biasa. Oksigen di sekitar Tarusan serasa menguap habis. Dia memandang langit dengan mata berkedut hebat menahan tangis keputusasaan paling murni yang pernah ada.
‘Jalur hijau kepalamu botak?! Awak nyari rugi, Sistem gilo! Kalau dikawal polisi gratis begini, kapan modal awak bisa habis?!’ jerit Budiman dalam hati, menatap nanar ke arah tiga mobil polisi yang siap siaga menjaga pundi-pundi kekayaannya agar tidak bisa berkurang sepeser pun.
"Selamat tinggal harapan penuh kemiskinan!" gumamnya.
[ bersambung ]