NovelToon NovelToon
Aku Bertahan Untuk Membalasmu

Aku Bertahan Untuk Membalasmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mutzaquarius

"Aku bertahan bukan karena masih mencintaimu. Tapi, aku bertahan untuk memastikan kalian menyesal."

Alena selalu berusaha menjadi istri yang sempurna, setia, penurut dan, selalu percaya pada suaminya.

Namun, sejak setahun terakhir, Arsen selalu bersikap dingin padanya. Dia masih bisa berpikir positif, jika semua itu karena pekerjaan. Dan, dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dengan sepenuh hati.

Sampai, ia menemukan ponsel kedua milik Arsen dan mengetahui bahwa pria yang ia cintai selama ini ternyata telah mengkhianatinya.

Lucunya, semua orang tahu tentang perselingkuhan itu, kecuali dirinya.

Dan, sejak saat itu, Alena berubah. Ia menghapus air matanya, berhenti menjadi istri yang bodoh. Dan, mulai membangun hidupnya sendiri.

Dalam hati, ia bersumpah akan membalas suami dan selingkuhannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Ponsel Kedua

Malam sudah hampir melewati pukul sebelas tapi, Alena masih duduk di ruang makan dengan meja yang penuh dengan hidangan yang sejak tadi ia biarkan dingin.

Sup ayam yang ia masak sore tadi sudah tidak lagi mengeluarkan uap. Begitu juga nasi hangat yang kini mulai mengeras di dalam rice cooker.

Namun, seperti malam-malam sebelumnya, Alena tetap menunggu suaminya pulang.

Wanita itu melirik jam dinding untuk kesekian kalinya sebelum menghela napas pelan. Ia lalu meraih ponselnya dan membuka ruang chat suaminya.

"Apa Mas pulang malam lagi?"

Jarinya menggantung di atas layar beberapa detik dan, akhirnya ia menghapus kembali pesan itu.

Sudah terlalu sering ia bertanya seperti itu dan jawabannya selalu sama.

'Aku sibuk.' Atau, lebih buruknya tidak dibalas sama sekali.

Tapi, tidak berapa lama, suara mobil terdengar memasuki halaman rumah, membuat Alena spontan berdiri. Wajah lelahnya sedikit berubah lega. Dengan cepat ia berjalan menuju pintu utama dan membukanya. Ia melihat Arsen baru saja turun dari mobil.

Pria itu tampak lelah dengan setelan jas abu-abu yang sedikit kusut. Tapi, wajah tampannya terlihat dingin seperti biasa.

"Mas udah makan?" Tanya Alena lembut.

Arsen mengangguk singkat sambil melewatinya begitu saja.

"Hm!"

Hanya satu deheman saja. Tidak ada senyuman ataupun tatapan hangat.

Alena menatap punggung suaminya yang berjalan menuju ruang tengah tanpa benar-benar memedulikan dirinya.

Dadanya terasa sesak. Namun seperti biasa, ia mengabaikan perasaan itu dan selalu berpikir, mungkin suaminya memang lelah bekerja.

Alena menutup pintu perlahan sebelum mengikuti langkah pria itu.

"Aku hangatin makanannya ya, Mas. Tadi, aku masak sup favorit Mas."

"Tidak usah," jawab Arsen datar. Ia melonggarkan dasinya lalu, duduk di sofa sambil memijat pelipisnya. "Aku lelah. Mau langsung istirahat."

Alena terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Baik," lirihnya, tanpa ada lagi yang bisa ia katakan.

Satu tahun terakhir, rumah tangga mereka memang terasa berbeda.

Arsen semakin sibuk di perusahaan. Sikapnya semakin dingin dan, terasa jauh darinya. Bahkan, pria itu jarang menyentuhnya lagi. Tapi, Alena terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua baik-baik saja karena, ia percaya pada suaminya.

Arsen lalu berdiri dan berjalan menuju kamar tanpa mengatakan apa pun lagi.

Alena memandangi meja makan yang masih penuh sesaat, sebelum memaksakan senyum kecil.

"Sudahlah," gumamnya lirih.

Setelah membereskan semuanya, Alena menyusul Arsen ke kamar mereka. Ia menoleh ke arah pintu kamar mandi saat suara gemericik air terdengar samar dari dalam sana.

Alena mengambil jas suaminya yang tergeletak di atas sofa lalu, berniat menggantungnya seperti biasa tapi, sesuatu terjatuh dari saku bagian dalam.

Alena mengernyit bingung. "Ponsel?" Ia mengambil benda itu perlahan, mengamatinya dengan tatapan penasaran. "Ini bukan ponsel yang biasa Mas Arsen gunakan," gumamnya.

Ponsel Arsen adalah ponsel keluaran terbaru sedangkan, ponsel itu berwarna hitam polos dengan casing sederhana.

"Mungkin ponsel untuk kerja." Alena ingin meletakkannya kembali. Namun, layar ponsel tiba-tiba menyala saat satu pesan masuk, muncul di sana.

Alena membaca pesan tersebut. Dan, dalam satu detik, dunia Alena terasa berhenti berputar, membaca pesan yang berisi kalimat mesra dengan nama pengirim yang menggunakan emoji love.

'Aku kangen sama kamu, mas.'

Tubuh Alena membeku. Jantungnya mulai berdetak tidak beraturan. Tangannya perlahan gemetar.

"Tidak mungkin," gumam Alena lirih. Ia bahkan tidak bisa berpikir jernih. "Mungkin, ini rekan kerja Mas Arsen. Tapi, kenapa di simpan dengan tanda hati? Atau—"

Belum selesai ia berspekulasi, pesan lain masuk lagi.

'Besok kamu jadi nginap, kan?'

Wajah Alena mendadak pucat.

Suara air dari kamar mandi masih terdengar jelas, menandakan Arsen masih di dalam. Sementara, Alena berdiri membatu di samping sofa dengan napas memburu.

Matanya terus menatap layar ponsel itu seolah berharap semua ini hanya mimpi buruk. Namun, rasa takut perlahan berubah menjadi dorongan besar untuk mengetahui kebenaran.

Dengan tangan dingin, Alena mencoba membuka layar ponsel tersebut.

Arsen yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung membeku saat melihat ponselnya berada di tangan Alena. Jantungnya seolah berhenti berdetak.

Dengan langkah cepat, ia menghampiri Alena dan merebut ponsel itu dari tangan istrinya.

"Mas!" Alena terkejut.

Arsen menatap layar ponselnya. Rahangnya mengeras, sementara telapak tangannya mulai berkeringat.

Alena berdiri, menatap tajam suaminya.

"Siapa itu, Mas?" tanyanya dengan nada curiga. "Kenapa dia mengirim pesan mesra seperti itu?"

"Bukan siapa-siapa," jawab Arsen cepat. "Cuma rekan kerja."

"Rekan kerja?" Alena mengernyit. "Kalau rekan kerja, kenapa namanya disimpan pakai tanda hati?"

Arsen terdiam sesaat. Pertanyaan itu membuatnya kehilangan jawaban. Namun bukannya menjelaskan, ia justru balik menyerang.

"Alena, kamu ini kenapa sih?" bentaknya.

Alena tertegun. "Aku cuma bertanya baik-baik."

"Tapi, kamu sudah membuka ponselku tanpa izin!"

Nada suara Arsen semakin tinggi. Kemarahan yang sebenarnya muncul karena rasa panik kini ia tumpahkan kepada Alena.

"Itu privasi ku! Siapa yang menyuruh kamu mengutak-atik ponselku?"

Alena menggeleng tidak percaya. "Ponsel itu jatuh dari jas kamu, Mas. Dan, itu juga bukan ponsel yang biasa kamu pakai, 'kan?"

"I-ini ponsel untuk urusan kerja," jawabnya sambil memalingkan wajahnya.

Alena menatap suaminya. Dadanya mulai terasa sesak.

Sejak menikah, baru kali ini Arsen terlihat marah hanya karena sebuah pertanyaan sederhana.

"Kalau memang itu ponsel untuk kerja, kenapa Mas marah seperti ini?" tanya Alena pelan.

Pertanyaan itu justru membuat Arsen semakin kesal.

Hari itu ia memang sedang berada dalam kondisi buruk. Seharian penuh ia bekerja menghadapi tekanan dari kantor. Target yang menumpuk, klien yang terus menuntut, dan perjalanan pulang yang melelahkan membuat emosinya sudah berada di ujung tanduk.

Ia ingin pulang untuk beristirahat. Bukan untuk diinterogasi.

"Aku capek, Alena!" serunya. "Seharian aku kerja banting tulang cari uang untuk keluarga ini. Begitu sampai rumah, kamu malah nuduh aku macam-macam."

"Siapa yang menuduh, Mas? Aku hanya bertanya."

"Pertanyaan mu itu sama saja dengan tuduhan!"

Alena menggigit bibir bawahnya. Matanya mulai memanas menahan air mata. Namun, Arsen tidak peduli.

"Kadang aku heran sama kamu," lanjutnya. "Seharian di rumah, tapi pikirannya malah ke mana-mana."

Alena mengangkat kepala perlahan. "Apa maksud Mas?"

Arsen tertawa sinis. "Kamu tidak tahu rasanya bekerja di luar sana. Tidak tahu tekanan pekerjaan. Tidak tahu bagaimana susahnya mencari uang."

Setiap kata yang keluar dari mulut Arsen terasa seperti pisau yang menusuk hati Alena.

"Makanya, jangan sedikit-sedikit curiga. Dunia tidak sesempit dapur dan ruang tamu yang setiap hari kamu lihat."

Wajah Alena langsung memucat. Kalimat itu begitu merendahkan.

Selama ini, ia memang hanya seorang ibu rumah tangga. Meski di rumah ini ada asisten rumah tangga, tapi ia yang mengurus rumah, memasak untuk Arsen dan memastikan kebutuhan pria itu terpenuhi setiap hari.

Mungkin pekerjaannya tidak menghasilkan uang. Namun, bukan berarti tidak berharga.

"Jadi, sekarang pekerjaanku tidak berarti?" tanya Alena lirih.

Arsen berdecak kesal. "Aku tidak bilang begitu."

"Jangan lupa, Mas. Kamu yang dulu memintaku untuk berhenti bekerja dan fokus mengurus rumah. Tapi, sekarang kamu memperlakukanku seperti itu."

Arsen menghela napas kasar. "Aduh, jangan dibesar-besarkan."

Air mata akhirnya jatuh di pipi Alena. Ia tidak menangis karena pesan dari wanita itu tapi, karena sikap suaminya. Karena pria yang dulu selalu menghargainya kini justru meremehkan semua pengorbanannya.

"Aku cuma ingin penjelasan," ucap Alena dengan suara bergetar. "Kalau memang dia hanya rekan kerja, kenapa Mas tidak bisa menjawab dengan jujur?"

Arsen memalingkan wajah.

Sikap itu membuat hati Alena semakin tenggelam. Ia merasakan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia rasakan dalam pernikahan mereka.

Dan yang lebih menyakitkan lagi, ketidakpercayaan.

Alena menatap Arsen yang masih menggenggam erat ponselnya, seolah benda itu jauh lebih penting daripada perasaan istrinya sendiri.

Dalam keheningan yang menyesakkan itu, Alena mulai menyadari, kadang-kadang, seseorang tidak perlu mengaku untuk menunjukkan bahwa ia sedang menyembunyikan sesuatu.

Cara mereka bereaksi saat kebenaran hampir terbongkar sudah menjadi jawaban yang paling jelas.

1
nunik rahyuni
dimulai drama ikan terbang hati suami yg terkuyak karena kesadaran istri🤣🤣🤣
klo istrinya bodoh diem damai hatimu..sekaramg istrimu sudah sadar dia pintar dan berguna bukan orng bodoh yg cima diam tak berdaya di perlakukan semena mena..tunggu langkah selanjutnya
atik
Dasar suami durjana, cuekin aja Alena gk penting juga ngobrol ma Arsen
atik
Kamu pasti bisa Alena mengalahkan suami laknatmu itu
nunik rahyuni
baru sadar klo istrimu itu pinter..biarpun kamu kurung dirumah dg berteman sepi klo pinter ya pinter aja✌️✌️
atik
Rasain kamu Arsen
makin seru thor, lanjut...
Ade Chubi
kasihan istri nya di bohongin
atik
Ayolah kenan turuti ja keinginan kakekmu biar kamu bisa bahagia
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Tidak semudah itu 🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
atik
Kapok, ibu mertua tak tau diri dicuekin menantunya semoga segera setruk gara2 darah tinggi
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Pikiranku berkelana karena setruk. Aq pikir tadi Truk kendaraan. 🙏🤧
total 1 replies
atik
Puas2in senyum kalian para penghianat sebelum perselingkuhan terbongkar
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: /Applaud//Applaud//Applaud/
total 1 replies
Mira Hastati
bagus
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Thankiyu, kak💜
total 1 replies
atik
gak sabar nunggu Arsen hancur
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Hohoho... Pelan-pelan aja, kak. banyakin sabar🤭
total 1 replies
atik
Seru
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: thankiyu, kak 💜
total 1 replies
atik
lanjut thor, semangat 💪
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Siyap
total 1 replies
Ma Em
Alena lbh baik pura2 tdk tau saja , semoga Alena cepat mendapatkan pekerjaan dgn gaji yg besar agar Alena bisa cepat berpisah dgn Arsen .
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Cepet dapat CEO kaya juga,🤭
total 1 replies
Neng Saripah
ikut deg2an Thor 🤭🤭
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Itu tandanya kakak sedang jatuh cinta 🤭
total 1 replies
Nining damayanti
nggk buat CS bru thor
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Maaf, kak. soalnya sekarang cs gak bisa kontrak.
total 3 replies
Neng Saripah
belum apa2 udah nyesek euy...kira2 sanggup lanjut ga ya aku 😱
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Pasti sanggup, kak. Semangat 💪🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!