Amira hanyalah perempuan biasa dari kampung kecil.
Istri sederhana. Ibu dari dua anak. Hidup menumpang di rumah orang tua, bertahan bersama suami yang bekerja serabutan, sambil diam-diam memendam satu mimpi kecil:
punya rumah sendiri.
Namun kemiskinan perlahan mengikis segalanya.
Harga diri. Ketenangan. Bahkan kebahagiaan rumah tangga.
Sampai akhirnya sebuah tawaran dari Jakarta datang.
Pekerjaan ringan. Gaji besar. Dan harapan baru bagi keluarganya.
Amira pun merantau ke sebuah ruko tua di ujung gang sempit Jakarta, tempat para perempuan malam tinggal dan bekerja.
Awalnya semua biasa saja, amira dengan rutinitas minyapu, mengepel dan pekerjaan domestik lainnya. sampai suatu ketika, amira menjadi saksi kunci dari sebuah tragedi pembunuhan di ruko lantai 3. dan sejak saat itulah semuanya berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MasYB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah yang Diburu
Katanya, rahasia yang paling aman adalah rahasia yang dikubur dalam tanah.
Menurut Author, ada yang lebih aman lagi.
Rahasia yang ikut dikubur bersama orang-orang yang mengetahuinya.
Masalahnya...
kalau suatu hari kuburan itu terbuka...
biasanya bukan cuma rahasianya yang keluar.
😌
----
Aku tidak tahu sejak kapan jemariku mulai gemetar.
Mungkin sejak membaca surat peninggalan Mbok Diyah.
Mungkin juga sejak melihat foto lusuh itu.
Atau...
mungkin sejak kalimat terakhir yang ditulis perempuan tua itu terus berputar di kepalaku.
"Lindungi Amira."
"Karena ada sesuatu di dalam darahnya... yang sedang diburu sejak lama."
Aku menatap foto yang mulai menguning dimakan usia.
Empat orang berdiri sejajar sambil tersenyum ke arah kamera.
Mbok Diyah masih tampak muda.
Di sampingnya berdiri seorang lelaki tua berjubah putih.
Di sisi lain, seorang pria berkulit gelap dengan tato khas Dayak memenuhi kedua lengannya.
Seorang kiai berjanggut putih berdiri di ujung.
Lalu...
lelaki terakhir.
Wajahnya sengaja disobek menggunakan benda tajam hingga tak lagi bisa dikenali.
Entah siapa yang melakukannya.
Tapi orang itu jelas tidak ingin identitas lelaki tersebut diketahui siapa pun.
Aku membalik foto itu sekali lagi.
Tulisan di belakangnya masih sama.
"Empat orang pulang... satu memilih jalan yang gelap."
Aku mengembuskan napas panjang.
"Man..."
Lukman menoleh.
"Menurutmu..."
"Kenapa Mbok Diyah nyimpen foto beginian?"
Lukman mengusap dagunya pelan.
"Aku malah mikir sebaliknya."
"Apa?"
"Kenapa baru sekarang beliau ngasih lihat."
Aku terdiam.
Benar juga.
Kalau foto ini memang penting...
kenapa selama ini disembunyikan?
Kenapa harus menunggu sampai Sagim mati?
Atau...
jangan-jangan...
Mbok Diyah memang sudah memperkirakan semuanya.
Seolah beliau tahu kalau suatu hari kami pasti akan datang ke rumah ini.
Pasti menemukan surat itu.
Dan pasti membaca foto ini.
Pikiran itu membuat tengkukku meremang.
Perempuan tua itu seperti sudah melihat beberapa langkah ke depan, jauh sebelum semuanya benar-benar terjadi.
Brak!
Suara pintu belakang yang membanting membuatku dan Lukman sama-sama menoleh.
Kami saling berpandangan.
Tak ada angin.
Daun-daun pisang di luar bahkan nyaris tidak bergerak.
Namun pintu bambu itu bergoyang pelan.
Kreeeek...
Kreeeek...
Seolah baru saja didorong seseorang.
Aku menggenggam parang yang sejak tadi kusandarkan di dinding.
"Diem di sini."
Lukman menggeleng.
"Gak usah sok jago, Kang."
"Kita lihat bareng."
Kami berjalan perlahan menuju dapur.
Setiap langkah terasa begitu berat.
Lantai bambu tua berderit pelan di bawah pijakan kaki kami.
Bau kayu lapuk bercampur aroma daun sirih memenuhi ruangan sempit itu.
Begitu sampai di pintu belakang...
tak ada siapa-siapa.
Hanya halaman kecil yang ditumbuhi pohon pisang dan rumpun bambu.
Sunyi.
Terlalu sunyi.
Aku menghela napas lega.
"Mungkin tadi angin."
Belum sempat Lukman menjawab...
mataku menangkap sesuatu.
Ada jejak kaki.
Masih basah.
Berwarna hitam pekat.
Jejak itu berasal dari luar pagar bambu.
Masuk ke halaman.
Lalu...
berhenti tepat di depan pintu dapur.
Aneh.
Karena setelah itu...
jejaknya menghilang begitu saja.
Seolah orang yang membuatnya lenyap di tempat.
Aku jongkok.
Menyentuh bekas telapak kaki itu menggunakan ujung jari.
Lengket.
Dan berbau amis.
Bukan lumpur.
Bukan tanah.
Melainkan cairan hitam yang mengingatkanku pada darah milik Sagim.
"Man..."
Lukman ikut berjongkok.
Wajahnya langsung berubah tegang.
"Jangan disentuh."
"Terlambat."
Dia buru-buru meraih tanganku.
Lalu mengusapnya menggunakan kain mori yang selalu dibawanya.
Untungnya...
tak terjadi apa-apa.
Namun sorot mata Lukman justru semakin gelisah.
"Kita gak sendirian."
Aku menelan ludah.
"Maksudmu?"
"Dia ngikutin."
"Siapa?"
Lukman tidak menjawab.
Tatapannya lurus mengarah ke rumpun bambu di belakang rumah.
Aku mengikuti arah pandangnya.
Awalnya tak ada apa-apa.
Sampai...
rumpun bambu itu bergerak pelan.
Bukan karena angin.
Melainkan...
karena ada sesuatu yang sedang berjalan di baliknya.
Krek...
Krek...
Batang-batang bambu bergesekan perlahan.
Aku mengangkat parang.
Jantungku berdetak semakin cepat.
"Siapa di sana?!"
Tak ada jawaban.
Suara itu berhenti.
Sunyi.
Hanya terdengar napas kami berdua.
Beberapa detik kemudian...
seekor burung gagak tiba-tiba terbang keluar dari balik rumpun bambu sambil memekik nyaring.
"Kraaakkk!"
Aku refleks mengayunkan parang.
Burung itu melintas tepat di atas kepala kami.
Lalu menghilang ke balik langit yang mulai mendung.
Aku mengembuskan napas panjang.
"Hampir aja..."
Belum selesai kalimatku...
Lukman menunjuk ke arah batang bambu paling belakang.
"Kang..."
"Noleh pelan-pelan."
Aku mengikuti arah telunjuknya.
Di sana...
pada salah satu batang bambu...
terlihat sebuah goresan baru.
Masih segar.
Seolah baru saja dibuat beberapa menit lalu menggunakan benda tajam.
Goresan itu membentuk satu lambang yang membuat wajah Lukman langsung kehilangan warna.
Bukan huruf.
Bukan angka.
Melainkan simbol yang sama persis...
dengan simbol yang dulu digambar Sagim menggunakan arang hitam di lantai aula Desa Mati.
Lukman mundur selangkah.
Bibirnya bergetar.
"Demi Allah..."
"...dia benar-benar ikut keluar dari Desa Mati."
----
"Demi Allah..."
"...dia benar-benar ikut keluar dari Desa Mati."
Suara Lukman terdengar lirih, nyaris seperti bisikan.
Matanya tidak berkedip menatap simbol hitam yang tergores pada batang bambu.
Aku ikut mendekat.
Goresan itu masih tampak baru. Serat bambu yang terbelah bahkan masih mengeluarkan cairan bening.
Artinya...
lambang itu dibuat belum lama ini.
Aku mengusap perlahan permukaannya menggunakan ujung parang.
Belum sempat menyentuh sempurna...
"Hentikan!"
Bentakan Lukman membuat tanganku refleks berhenti.
"Kenapa?"
"Itu bukan sekadar tanda."
"Lalu?"
"Itu semacam... penanda."
"Penanda apa?"
Lukman menarik napas panjang.
"Waktu kecil aku pernah lihat Mbok Diyah menghapus simbol seperti itu."
"Beliau bilang..."
"...kalau lambang itu muncul..."
"...berarti ada sesuatu yang sudah menemukan jejak kita."
Dadaku langsung terasa dingin.
"Jadi..."
"...kita sedang ditandai?"
Lukman mengangguk pelan.
"Kalau dugaanku benar..."
"...dia sekarang tahu kita pernah berada di rumah ini."
Aku menoleh ke sekeliling halaman.
Sunyi.
Pohon pisang bergoyang pelan.
Ayam-ayam kampung masih sibuk mematuk tanah.
Semua terlihat biasa.
Terlalu biasa.
Justru itu yang membuat bulu kudukku semakin berdiri.
Musuh yang terlihat masih bisa dilawan.
Musuh yang tidak terlihat...
selalu jauh lebih menakutkan.
"Ayo masuk."
Lukman lebih dulu melangkah kembali ke dalam rumah.
Aku mengikuti dari belakang.
Begitu melewati ambang pintu, pandanganku kembali tertuju pada altar kecil milik Mbok Diyah.
Beberapa batang dupa yang tadi padam...
kini mengeluarkan asap tipis.
Aku mengernyit.
"Man..."
"Tadi dupa itu nyala?"
Lukman langsung menoleh.
Wajahnya berubah.
"Tidak."
Kami saling berpandangan.
Tak ada seorang pun di rumah ini.
Lalu...
siapa yang menyalakannya?
Pelan-pelan kami mendekati altar.
Api kecil itu menyala tenang.
Seolah baru saja dinyalakan beberapa detik lalu.
Di belakang dupa...
terdapat sebuah kendi tanah yang sebelumnya tidak menarik perhatianku.
Namun kini...
posisinya bergeser.
Sedikit.
Hanya beberapa sentimeter.
Kalau tidak benar-benar diperhatikan...
mustahil terlihat.
"Lihat."
Bisik Lukman.
"Ada bekas geseran."
Aku mengangguk.
Kami sama-sama berjongkok.
Dengan hati-hati, Lukman mengangkat kendi itu.
Bruk...
Debu tipis beterbangan.
Di bawahnya...
ternyata terdapat papan kayu kecil berbentuk persegi.
Lengkap dengan lubang pegangan di bagian tengah.
Aku menatap Lukman.
"Ruang bawah?"
Dia mengangguk pelan.
"Sepertinya."
Jantungku mulai berdetak lebih cepat.
Selama ini...
di bawah altar ini ternyata ada sesuatu yang disembunyikan.
Aku menyelipkan jari ke lubang pegangan.
Lalu mengangkat papan itu perlahan.
Kreeeek...
Suara kayu tua berderit memecah kesunyian.
Begitu terbuka...
hembusan udara dingin langsung menerpa wajah kami.
Bau tanah lembap bercampur aroma minyak cendana keluar dari bawah.
Sebuah tangga bambu tampak menurun ke ruang gelap.
Aku spontan menyalakan senter kecil yang sejak tadi kusimpan di saku jaket.
Sorot cahayanya menembus kegelapan.
Ruangan itu tidak besar.
Mungkin hanya tiga kali tiga meter.
Namun...
seluruh dindingnya dipenuhi rak kayu.
Dan di atas rak-rak itu...
tersusun rapi puluhan gulungan naskah tua.
Kitab.
Jimat.
Bungkusan kain mori.
Botol-botol kecil berisi cairan berwarna merah, kuning, dan hitam.
Aku menelan ludah.
"Ya Allah..."
Lukman turun lebih dulu.
Begitu kedua kakinya menyentuh lantai tanah...
dia langsung beristighfar pelan.
"Astaghfirullah..."
"Aku baru tahu..."
"...Mbok punya tempat seperti ini."
Aku ikut turun.
Udara di bawah jauh lebih dingin.
Namun berbeda dengan aula milik Sagim.
Di sini...
tidak ada hawa jahat.
Yang terasa justru...
damai.
Seolah ruangan ini dipenuhi doa-doa yang dipanjatkan selama puluhan tahun.
Di sudut ruangan terdapat sebuah meja kayu tua.
Di atasnya...
terbuka sebuah kitab yang sudah menguning.
Aku mendekat.
Tulisan di dalamnya bukan huruf Latin.
Bukan pula Arab biasa.
Melainkan campuran Arab Pegon, aksara Jawa kuno...
dan beberapa simbol yang sama sekali tidak kukenal.
"Man..."
"Kamu bisa baca?"
Lukman menggeleng.
"Sedikit."
Dia memperhatikan salah satu halaman.
Lalu wajahnya berubah tegang.
"Ada nama."
"Nama siapa?"
Lukman menunjuk sebuah tulisan yang diberi lingkaran tinta merah.
Aku mengeja perlahan.
Sulit.
Namun akhirnya bisa kubaca.
RANGGA BRAHMANTYA.
"Itu siapa?"
Lukman tidak menjawab.
Tangannya justru gemetar.
"Aku pernah dengar nama ini..."
"Dari siapa?"
"Mbok Diyah."
"Beliau pernah bilang..."
"...kalau ada satu murid yang paling pintar."
"Dia menguasai hampir semua ilmu."
"Pengobatan."
"Kanuragan."
"Ilmu hikmah."
"Sampai ilmu hitam."
Aku merasakan tenggorokanku mengering.
"Lalu?"
"Dia menghilang."
"Tidak pernah pulang."
Aku menatap kembali nama itu.
Rangga Brahmantya.
Apakah...
ini nama asli guru Sagim?
Belum sempat pertanyaan itu terjawab...
tiba-tiba terdengar suara...
Tok...
Tok...
Tok...
Pelan.
Berasal dari atas rumah.
Aku dan Lukman sama-sama mendongak.
Langkah kaki.
Ada seseorang...
sedang berjalan di ruang utama rumah Mbok Diyah.
Padahal...
kami yakin...
tidak ada siapa-siapa ketika masuk tadi.
Tok...
Tok...
Tok...
Langkah itu berhenti.
Lalu...
terdengar suara pintu depan...
berderit pelan.
Seolah...
ada tamu yang baru saja masuk.
----
Aku masih memandangi foto tua itu ketika terdengar suara langkah kaki tergesa dari luar rumah.
"Assalamu'alaikum...!"
Suara laki-laki tua.
Aku dan Lukman spontan menoleh.
Seorang lelaki renta berdiri di depan halaman rumah Mbok Diyah. Tubuhnya kurus, mengenakan caping bambu yang sudah kusam. Di pundaknya tergantung keranjang rotan berisi daun-daunan hutan.
Tatapannya langsung tertuju pada kami.
"Lho..."
"Kalian siapa?"
Lukman buru-buru berdiri.
"Wa'alaikumussalam."
"Saya Lukman, Mbah."
"Saya anaknya Mbok Diyah."
Mata lelaki tua itu langsung melebar.
"Lukman?"
"Iya."
"Kamu sudah sebesar ini..."
Lelaki itu tersenyum tipis.
Lalu senyumnya perlahan menghilang saat melihat keadaan rumah.
"Mana ibumu?"
Lukman menggeleng pelan.
"Kami juga sedang mencarinya."
Pria tua itu menghela napas panjang.
"Berarti firasatnya benar..."
Aku saling pandang dengan Lukman.
"Apa maksudnya, Mbah?"
Beliau melangkah masuk tanpa dipersilakan.
Tatapannya menyapu seluruh isi rumah.
Kemudian berhenti tepat pada foto tua yang masih berada di tanganku.
Raut wajahnya langsung berubah.
"Kalian sudah menemukannya..."
Suara itu terdengar pelan.
Seolah sedang berbicara kepada dirinya sendiri.
"Mbah kenal foto ini?"
Orang tua itu mengangguk.
"Kenal."
"Sangat kenal."
Tangannya yang keriput menunjuk satu per satu wajah di foto itu.
"Itu ibumu."
"Itu Kiai Harun."
"Itu Panglima Jaya."
"Itu..."
Jarinya berhenti pada sosok lelaki yang wajahnya disobek.
Beliau terdiam cukup lama.
Lalu menarik napas berat.
"Itu namanya Banyu."
Jantungku berdetak lebih cepat.
"Banyu?"
"Iya."
"Orang Kalimantan."
"Guru Sagim."
Ruangan itu kembali sunyi.
Aku bisa mendengar suara napasku sendiri.
"Jadi benar..."
gumam Lukman.
Orang tua itu mengangguk pelan.
"Sayangnya..."
"Kalian belum tahu siapa sebenarnya Banyu."
----
Beliau duduk di atas tikar.
Aku segera menuangkan air minum dari kendi tanah.
Tangannya menerima gelas itu dengan gemetar.
Setelah meneguk beberapa kali, barulah ia mulai bercerita.
"Dulu..."
"Kami berlima pernah belajar bersama."
"Belajar apa?"
"Bukan santet."
"Bukan juga ilmu hitam."
"Tapi ilmu menjaga."
Aku mengernyit.
"Menjaga apa?"
"Menjaga keseimbangan."
Beliau menatap ke arah jendela.
"Dulu masih banyak tempat yang tidak boleh diganggu manusia."
"Hutan."
"Goa."
"Rawa."
"Gunung."
"Ada batas antara alam manusia dan alam yang lain."
"Kami diajari menjaga batas itu."
Aku mulai memahami arah pembicaraan beliau.
"Terus..."
"Kenapa akhirnya terpecah?"
Lelaki tua itu memejamkan mata.
"Karena keserakahan."
----
"Banyu paling berbakat."
"Dia belajar paling cepat."
"Semua guru menyayanginya."
"Tapi..."
"Dia tidak pernah puas."
"Dia ingin hidup selamanya."
Aku menelan ludah.
"Hidup selamanya?"
"Iya."
"Dia percaya..."
"...kalau manusia bisa memperpanjang umur dengan membuat perjanjian."
"Dengan siapa?"
Beliau tidak langsung menjawab.
Sebaliknya...
ia membaca istighfar pelan.
Barulah kemudian berkata lirih.
"Dengan makhluk yang tidak pernah seharusnya dipanggil."
Suasana rumah mendadak terasa lebih dingin.
"Guru kami melarang."
"Tapi Banyu tetap melakukannya."
"Malam itu..."
"...dia menghilang."
"Dan beberapa bulan kemudian..."
"...dia kembali."
Aku memajukan badan.
"Kembali bagaimana?"
"Tidak lagi sama."
"Mukanya memang masih manusia."
"Tapi..."
"Matanya berbeda."
"Bayangannya berbeda."
"Bahkan suaranya..."
"...kadang terdengar seperti dua orang berbicara bersamaan."
Bulu kudukku berdiri.
----
"Sejak saat itu..."
"Banyu mulai mengajak murid-murid lain."
"Menawarkan kekuatan."
"Menawarkan umur."
"Menawarkan kekayaan."
"Menawarkan balas dendam."
"Banyak yang ikut?"
"Tidak."
"Hanya sedikit."
"Salah satunya..."
Beliau menatap langsung ke arah Lukman.
"...adalah Sagim."
Lukman mengepalkan tangan.
"Ayah Sagim sebenarnya orang baik."
"Tapi Sagim..."
"...lebih memilih mengikuti Banyu."
Aku teringat seluruh kejadian di Desa Mati.
Korban-korban.
Santet.
Teluh.
Tumbal.
Semuanya ternyata berasal dari satu orang.
Satu guru.
----
"Tapi..."
aku kembali bertanya.
"Kalau memang begitu..."
"Kenapa Mbok Diyah tidak pernah menceritakan semuanya?"
Pria tua itu tersenyum pahit.
"Karena ibumu sudah bersumpah."
"Sumpah?"
"Iya."
"Selama Banyu tidak kembali..."
"...nama itu tidak boleh diucapkan."
Aku menoleh kepada Lukman.
Berarti...
surat Mbok Diyah benar.
Nama itu memang sengaja disembunyikan.
----
Beliau kemudian menunjuk surat peninggalan Mbok Diyah.
"Ibumu benar."
"Kalian memang harus ke Kalimantan."
"Kalau tidak..."
"Makhluk itu akan terus mencari wadah baru."
Aku menggenggam foto tua itu semakin erat.
"Kalau kami ke sana..."
"Masih adakah orang yang bisa membantu?"
Beliau terdiam cukup lama.
"Lima puluh tahun lalu..."
"Masih ada."
"Sekarang..."
"Aku tidak tahu."
Kalimat itu membuat dadaku semakin sesak.
Perjalanan yang akan kami tempuh ternyata jauh lebih berbahaya daripada yang kubayangkan.
----
Tiba-tiba...
Krek...
Suara ranting patah terdengar dari luar rumah.
Kami bertiga langsung menoleh ke arah pintu.
Lelaki tua itu seketika berdiri.
Wajahnya berubah tegang.
"Jangan bergerak."
bisiknya.
"Ada orang di luar."
Aku perlahan meraih parang.
Lukman mengambil golok pendek yang tergantung di dinding.
Suasana kembali sunyi.
Lalu...
terdengar suara langkah kaki mengitari rumah.
Pelan.
Sengaja diperlambat.
Krek...
Krek...
Bayangan seseorang melintas di balik dinding anyaman bambu.
Hanya sesaat.
Lalu menghilang lagi.
Aku memberi isyarat kepada Lukman.
Kami bergerak perlahan menuju pintu.
Begitu kubuka...
tak ada siapa-siapa.
Halaman kosong.
Hanya angin sore yang menggoyangkan rumpun bambu.
Namun...
di tanah yang masih basah oleh hujan semalam...
terlihat jejak kaki.
Bukan jejak manusia biasa.
Jejak itu hanya memiliki tiga jari.
Dan mengarah lurus...
ke jalan keluar desa.
Aku menelan ludah.
Makhluk itu...
ternyata tidak menunggu kami di Kalimantan.
Ia sudah lebih dulu mulai mengikuti kami.
(Bersambung)