Di desa terpencil, Zifa hidup bersama Mama Auna dan Uti Yaya, dihantui kerinduan akan ayahnya yang hilang, hingga kebenaran pahit terungkap bahwa ayahnya telah menikah lagi, berbeda dengan cerita Mama Auna tentang ayahnya yang bekerja di luar negeri. Malam-malam misterius dengan hilangnya hewan ternak warga desa menambah teka-teki, sementara takdir mempertemukan Auna dengan cinta pertamanya, Zhafran, yang kini kaya raya. Rahasia masa lalu yang terkubur dalam-dalam muncul ke permukaan: Zifa ternyata bukan anak Fauzan, melainkan darah daging Zhafran! Kini, Auna harus memilih antara mengungkap kebenaran yang mengubah hidup Zifa atau terus memendamnya demi melindungi putrinya dari intrik dunia gemerlap. Mampukah Auna mempertahankan Zifa, ataukah takdir akan memisahkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Foto yang Memudar
😭😭😭😭*****😭😭😭😭
Di kamar kecilnya yang sederhana, Zifa duduk bersila di lantai. Tangannya menggenggam erat sebuah foto usang. Di foto itu, ada seorang pria tersenyum lebar sambil merangkul seorang gadis kecil. Pria itu adalah ayahnya, dan gadis kecil itu adalah dirinya.
"Ayah, Zifa kangen..." bisik Zifa lirih.
Sudah berbulan-bulan sejak ayahnya pergi. Mama Auna selalu bilang kalau ayahnya sedang bekerja di luar negeri. Tapi, Zifa merasa ada yang disembunyikan. Feeling seorang anak memang nggak pernah salah.
Setiap malam, sebelum tidur, Zifa selalu melihat foto itu. Ia membayangkan ayahnya ada di dekatnya, membelai rambutnya, dan membacakan cerita sebelum tidur. Tapi, semua itu hanya ada di dalam khayalannya.
"Zifa, sudah malam. Ayo tidur," suara lembut Mama Auna membuyarkan lamunan Zifa.
"Iya, Ma," jawab Zifa sambil menyeka air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
Mama Auna masuk ke kamar Zifa dan duduk di sampingnya. Ia memeluk Zifa erat-erat. "Sayang, Mama tahu kamu kangen Ayah. Tapi, kamu harus percaya, Ayah pasti akan kembali."
Zifa hanya diam. Ia tahu Mama Auna berbohong. Ia tahu, ayahnya nggak akan pernah kembali.
"Ma, kenapa sih Ayah nggak pernah telepon Zifa? Kenapa Ayah nggak pernah kirim surat?" tanya Zifa dengan suara bergetar ingin menangis.
Mama Auna terdiam sejenak. Ia nggak tahu harus menjawab apa. "Sayang, Ayahmu sibuk sekali. Tapi, Mama janji, nanti Mama akan coba hubungi Ayah."
Zifa mengangguk pelan. Ia tahu, itu hanya janji kosong.
Suatu sore, saat Zifa sedang bermain di depan rumah, ia melihat Bu De-nya datang. Bu De adalah kakak dari ayahnya. Orangnya sombong dan suka sekali pamer. Zifa nggak suka sama Bu De.
"Hai, Zifa," sapa Bu De dengan nada mengejek. "Gimana kabarmu? Masih kangen sama Ayahmu?"
Zifa hanya diam. Ia nggak mau menjawab pertanyaan Bu De.
"Kasihan kamu, ya. Ayahmu sudah nikah lagi. Istrinya cantik dan kaya. Kamu nggak diajak, sih?" kata Bu De sambil tertawa sinis.
Zifa terkejut mendengar ucapan Bu De. Ia nggak percaya ayahnya sudah menikah lagi. "Nggak mungkin! Mama bilang Ayah kerja di luar negeri!"
"Halah, itu cuma alasan Mama-mu saja. Ayahmu sudah nggak peduli sama kamu. Dia sudah punya keluarga baru," jawab Bu De sambil berlalu pergi.
Zifa terdiam membeku. Air matanya mulai menetes. Ia nggak tahu harus percaya sama siapa. Mama Auna atau Bu De?
Malam itu, Zifa nggak bisa tidur. Ia terus memikirkan ucapan Bu De. Ia merasa hatinya hancur berkeping-keping. Ayahnya, orang yang paling ia sayangi, ternyata sudah melupakannya.
"Ayah, kenapa Ayah jahat sama Zifa?" bisik Zifa dalam hati. "Apa Zifa nggak pantas untuk disayangi?"
Di tengah kegelapan malam, Zifa hanya bisa menangis. Ia merasa sendirian dan nggak berdaya. Ia nggak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi, satu hal yang pasti, hidupnya nggak akan pernah sama lagi.
Malam itu, setelah azan Maghrib berkumandang, Zifa bergegas mengambil air wudhu. Di bawah pancuran air yang dingin, ia membayangkan wajah ayahnya. Wajah yang dulu selalu membuatnya tersenyum, kini justru membuatnya menangis.
Selesai berwudhu, Zifa mengenakan mukena putih kesayangannya. Ia lalu berdiri di atas sajadah, menghadap kiblat. Dengan khusyuk, ia mulai melaksanakan salat Maghrib. Setiap gerakan dan bacaan, ia lakukan dengan penuh penghayatan. Setelah selesai salat lalu ia menengadahkan kedua tangannya. Dengan suara lirih, ia mulai berdoa.
"Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan dosa kedua orang tuaku," bisik Zifa dalam hati. "Berikanlah keselamatan dan kesehatan kepada Ayah dan Mama. Lindungilah mereka dari segala mara bahaya."
Setelah selesai, Zifa melipat mukenanya dengan rapi. Ia lalu duduk bersila di atas sajadah, masih dengan suara lirih ia mendoakan ayahnya.
"Ya Allah, hamba mohon, lindungilah Ayah di manapun ia berada. Berikanlah ia kebahagiaan dan kesehatan. Jika Ayah sedang dalam kesulitan, berikanlah ia kekuatan untuk menghadapinya."
Zifa lalu melanjutkan doanya untuk Mama Auna dan Uti Yaya. "Ya Allah, berikanlah kesabaran dan kekuatan kepada Mama untuk membesarkan Zifa. Berikanlah kesehatan kepada Uti Yaya agar ia selalu bisa menemani kami."
Di kursi belajar Zifa, Mama Auna duduk terdiam. Ia memperhatikan Zifa yang sedang berdoa dengan mata berkaca-kaca. Hatinya terenyuh melihat ketulusan doa anaknya. Ia tahu, Zifa sangat merindukan ayahnya.
"Ya Allah, kuatkanlah hati anakku," bisik Mama Auna dalam hati. "Berikanlah ia kebahagiaan yang pantas ia dapatkan."
Selesai berdoa, Zifa menoleh ke arah Mama Auna. Ia tersenyum manis. "Mama, Zifa sudah selesai shalat."
"Iya, Sayang," jawab Mama Auna sambil menghampiri Zifa. Ia lalu memeluk Zifa erat-erat. "Anak Mama memang pintar dan sholehah."
Zifa membalas pelukan Mama Auna. Ia merasa nyaman dan aman dalam pelukan ibunya. "Mama, Zifa sayang banget sama Mama."
"Mama juga sayang banget sama Zifa," jawab Mama Auna sambil mencium kening Zifa.
Malam itu, Zifa tidur dengan nyenyak dalam pelukan Mama Auna. Ia merasa damai dan tenang. Ia tahu, meski ayahnya jauh, ia masih memiliki Mama Auna dan Uti Yaya yang selalu menyayanginya.
*** 🌌🌌🌌***
Malam semakin larut, sunyi senyap menyelimuti rumah Zifa. Di tengah keheningan itu, Mama Auna perlahan membuka matanya. Cahaya lampu dari ruang tengah menyelinap masuk, menerangi wajah polos Zifa yang sedang terlelap.
"Zifa, Sayang, bangun yuk," bisik Mama Auna lembut sambil mengusap rambut Zifa. "Mau sholat Isya, tadi kita kan langsung tidur gak sholat dulu, ya."
Zifa menggeliat pelan, lalu membuka matanya. Ia mengerjap-ngerjapkan mata, berusaha mengumpulkan kesadarannya. "Isya, Ma?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Iya, Sayang. Ayo bangun, kita sholat berjamaah sama Uti," jawab Mama Auna sambil membantu Zifa duduk.
Dengan langkah gontai, Zifa mengikuti Mama Auna menuju mushola kecil di belakang dekat dapur. Di sana, Uti Yaya sudah menunggu dengan sabar. Mushola itu sederhana saja, hanya beralaskan tikar pandan dan berhiaskan kaligrafi ayat-ayat suci Al-Quran.
Mereka bertiga lalu berdiri berdampingan, menghadap kiblat. Mama Auna bertindak sebagai imam, diikuti oleh Zifa dan Uti Yaya di belakangnya. Dengan khusyuk, mereka melaksanakan sholat Isya berjamaah.
Setelah sholat Isya, Mama Auna kembali mengajak Zifa untuk sholat Tahajjud. Meski masih mengantuk, Zifa tetap berusaha bangkit. Ia tahu, sholat Tahajjud adalah waktu yang mustajab untuk berdoa.
Selesai sholat Tahajjud, Zifa tak langsung kembali tidur. Ia masih duduk bersila di atas sajadah, memanjatkan doa-doa kepada Allah SWT. Ia memohon agar ayahnya selalu dilindungi, agar Mama Auna selalu diberi kekuatan, dan agar Uti Yaya selalu diberi kesehatan.
Saat sedang berdoa, mata Zifa tak sengaja melirik ke arah dapur. Dapur mereka memang sederhana, berdinding anyaman bambu yang sudah bolong-bolong. Dari celah-celah bambu itu, Zifa bisa melihat pemandangan di luar.
Tiba-tiba, Zifa melihat ada sosok orang berjalan di belakang rumahnya. Jantungnya berdegup kencang. Ia tak tahu apakah itu hanya orang lewat atau maling yang sedang mengintai.
Di belakang rumah Zifa memang ada jalan kecil, tapi jalan itu hanya bisa dilalui oleh pejalan kaki. Bukan jalan untuk bersepeda atau kendaraan lainnya. Kadang, maling juga suka lewat jalan itu, bahkan tak jarang mereka membawa anjing.
Zifa menelan ludah. Ia merasa takut dan khawatir. Ia lalu menyenggol lengan Mama Auna yang sedang merapikan mukena.
"Ma, itu siapa?" bisik Zifa dengan suara gemetar sambil menunjuk ke arah dapur.
Mama Auna mengikuti arah pandang Zifa. Ia juga melihat sosok orang berjalan di belakang rumahnya. Wajahnya langsung berubah menjadi tegang.
"Uti, coba lihat itu siapa," bisik Mama Auna kepada Uti Yaya.
Uti Yaya mendekati celah di dinding bambu dan mengintip keluar. Setelah beberapa saat, ia kembali menghampiri Mama Auna dan Zifa.
"Sepertinya hanya orang lewat, Nak," kata Uti Yaya dengan nada menenangkan. "Sudah malam, mungkin dia sedang mencari jalan pintas."
Meski Uti Yaya berusaha menenangkan, Zifa tetap merasa was-was. Ia terus memandangi ke arah dapur dengan perasaan cemas. Ia berharap, sosok itu benar-benar hanya orang lewat, bukan maling yang berniat jahat.
Setelah kejadian di dapur, mereka bertiga kembali ke ruang depan. Suasana hening dan tegang masih terasa. Mama Auna berusaha menenangkan diri dengan duduk di depan TV bersama Uti Yaya. Mereka menonton acara berita sambil sesekali berbincang-bincang ringan.
Sementara itu, Zifa berjalan menuju kamarnya dengan perasaan was-was. Ia takut kalau tikus masuk ke kamarnya. Rumah Zifa memang sederhana, tapi dindingnya kokoh. Ayahnya, bersama Kakek Zifa, yang membangun rumah itu dulu. Sayangnya, Kakek Zifa sudah lebih dulu pergi ke surga.
Zifa menutup pintu kamarnya rapat-rapat dan menguncinya dari dalam. Ia lalu naik ke tempat tidur dan berbaring. Pikirannya masih dipenuhi dengan bayangan sosok orang yang dilihatnya di dapur tadi. Ia berharap, orang itu tidak akan kembali lagi.
Sambil memejamkan mata, Zifa mulai mengingat kenangan-kenangan indah bersama ayahnya. Dulu, setiap sore, ayahnya selalu mengajaknya bermain layangan di lapangan dekat rumah. Ayahnya juga sering membelikannya es krim dan membacakan cerita sebelum tidur.
Namun, semua kenangan indah itu kini terasa pahit. Zifa merasa dikhianati oleh ayahnya. Ia tidak mengerti mengapa ayahnya tega meninggalkannya dan Mama Auna.
Sebenarnya, ada rahasia besar yang disembunyikan oleh Mama Auna dari Zifa. Rahasia tentang perselingkuhan ayahnya dengan sahabat Mama Auna sendiri. Ayah Zifa bahkan menikah dengan sahabat Mama Auna itu.
Namun, Mama Auna tak pernah menceritakan semua itu kepada Zifa. Ia merasa Zifa masih terlalu kecil untuk mengetahui kebenaran yang pahit itu. Ia tidak ingin Zifa terluka dan membenci ayahnya.
Mama Auna lebih memilih untuk menyimpan rahasia itu sendiri. Ia berusaha tegar dan kuat demi Zifa. Ia ingin Zifa tumbuh menjadi anak yang bahagia dan sukses, meski tanpa kehadiran seorang ayah.
Di ruang depan, Mama Auna menghela napas panjang. Ia tahu, cepat atau lambat, Zifa akan mengetahui kebenaran tentang ayahnya. Namun, ia berharap Zifa akan bisa menerima kenyataan itu dengan lapang dada.
"Ya Allah, berikanlah kekuatan kepada kami untuk menghadapi semua cobaan ini," bisik Mama Auna dalam hati. "Lindungilah Zifa dari segala keburukan dan berikanlah ia kebahagiaan yang abadi."
🌄🌄🌄🌄
Mentari pagi menyingsing, membawa secercah harapan baru. Mama Auna sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk Zifa dan Uti Yaya. Aroma kopi dan nasi goreng memenuhi seisi rumah.
Saat sedang asyik menggoreng nasi, tiba-tiba Rafka, teman kerja Mama Auna, datang berkunjung. Rafka terlihat lesu dan wajahnya tampak khawatir.
"Assalamualaikum, Auna," sapa Rafka dengan nada prihatin.
"Waalaikumsalam, Rafka. Ada apa? Kok mukamu kusut begitu?" tanya Mama Auna sambil mempersilakan Rafka duduk.
"Ini, Na. Kambingnya Pak Fir hilang semalam. Dibawa maling," jawab Rafka dengan nada sedih.
Mama Auna terkejut mendengar kabar itu. "Ya Allah, kok bisa? Padahal Pak Fir baru saja beli kambing itu."
"Iya, Na. Kasihan Pak Fir. Dia sudah lapor polisi, tapi belum ada titik terang," kata Rafka sambil menghela napas panjang.
Uti Yaya yang mendengar percakapan mereka dari ruang tengah, ikut terkejut. Ia teringat kejadian semalam saat melihat sosok orang berjalan di belakang dapur.
"Astagfirullahaladzim," gumam Uti Yaya. "Jangan-jangan, orang yang lewat semalam itu maling kambingnya Pak Fir."
Zifa yang sedang bermain di kamarnya, juga mendengar percakapan Mama Auna dan Rafka. Ia merasa ketakutan. Bayangan sosok orang yang dilihatnya semalam kembali menghantuinya.
"Mama, Zifa takut," teriak Zifa dari dalam kamar.
Mama Auna segera menghampiri Zifa dan memeluknya erat-erat. "Sayang, nggak apa-apa. Ada Mama di sini. Mama janji, Mama akan jaga Zifa."
"Tapi, Ma, Zifa takut malingnya datang lagi," kata Zifa sambil terisak.
"Sudah, Sayang, jangan takut. Kita berdoa saja semoga Allah melindungi kita semua," jawab Mama Auna sambil mengusap air mata Zifa.
Rafka ikut menenangkan Zifa. "Zifa, jangan khawatir. Nanti Om Rafka bantu jaga rumah Zifa, ya."
"Benar, Om Rafka?" tanya Zifa dengan mata berbinar.
"Iya, Zifa. Om janji," jawab Rafka sambil tersenyum.
Rafka punya perasaan lebih pada mama Auna, padahal Rafka teman kerjanya di pabrik sepatu.
Namun, kabar buruk tak berhenti sampai di situ. Tak lama kemudian, Pak Naiman, tetangga mereka, datang dengan wajah muram.
"Auna, apa kamu lihat ayamku?" tanya Pak Naiman dengan nada putus asa.
"Lho, kenapa, Pak Naiman? Ayamnya hilang?" tanya Mama Auna.
"Iya, Auna. Hilang semua. Padahal, ayam-ayam itu mau saya jual buat biaya sekolah anak saya," jawab Pak Naiman sambil menangis.
Mama Auna merasa iba melihat Pak Naiman. Ia tahu betul betapa sulitnya hidup di desa mereka. Kehilangan kambing atau ayam bisa menjadi pukulan berat bagi perekonomian keluarga.
"Ya Allah, cobaan apa lagi ini," gumam Mama Auna dalam hati.
Kejadian hilangnya kambing dan ayam itu membuat suasana desa menjadi mencekam. Warga mulai waspada dan berjaga-jaga di malam hari. Mereka takut menjadi korban selanjutnya.
-----////----
Kasian ya teman-teman, kampungnya tidak aman...