Kapten paling angkuh di Angkasa Nusantara.
Pengatur langit bersuara paling manis.
Semua mengira Laras yang beruntung menikahinya—
tak ada yang tahu, belasan tahun lalu, gadis itu sudah lebih dulu jatuh cinta diam‑diam.
Dan sang kapten dingin itu?
Di depan orang cuek, di depan istrinya… paling tak berdaya.
Sampai di udara, mesin mati,
dan cuma satu suara yang bisa membawanya pulang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33: "Dia Nggak Dapat Perlakuan Itu"
"Aku nggak tiba-tiba ingin menikah," jawab Laras.
Reyhan menunggu penjelasan.
"Mama dan Bu Ratna memperkenalkan kami. Arkan bicara jujur soal alasannya, aku juga punya pilihan untuk menolak. Tapi kami sama-sama ingin mencoba."
"Hanya karena cocok secara logika?"
Pertanyaan itu hampir menyentuh rahasia yang disimpan Laras. Ia menatap cincin akad di jarinya.
"Aku percaya sama dia," katanya. "Dan aku memang mau menikah dengannya."
Wulan tersenyum. "Mereka dulu satu sekolah, lho. Bertemu lagi setelah sekian lama. Mungkin memang ada jalannya."
Reyhan memaksakan senyum kecil. "Kalau kamu bahagia, aku ikut senang."
Cangkir di depannya sudah kosong sejak beberapa menit lalu, tetapi ia tetap memegang gagangnya. Laras tidak melihat betapa erat jemarinya mencengkeram porselen.
"Aku ingin kenal suamimu," lanjut Reyhan. "Kalau jadwal kita cocok, ajak makan bersama."
"Boleh. Arkan juga sudah dengar namamu dari Mama."
"Semoga bukan cerita buruk."
"Mama cerita kamu pulang ke Jakarta. Itu saja."
Reyhan mengangguk, lalu mengubah topik ke sebuah film dokumenter penerbangan yang pernah disebut Laras beberapa bulan lalu.
"Masih mau nonton? Minggu depan ada pemutaran terbatas. Aku dapat dua undangan dari komunitas pilot."
"Kalau Arkan sedang nggak terbang, kita ajak dia. Kalau cuma dua undangan, aku bisa beli tiket tambahan atau kita ajak teman-teman sekalian."
Jawaban Laras tidak memberi ruang untuk pertemuan berdua. Reyhan memahami batas itu dan tidak mendorong.
"Aku cek apakah bisa tambah undangan," katanya.
"Sekalian cari kenalan baru, Mas. Siapa tahu ketemu calon pasangan."
"Belum ada rencana ke situ."
"Katanya semua pilot bilang begitu sebelum ketemu orang yang tepat."
Reyhan tersenyum tipis. Orang yang ia anggap tepat justru baru saja mengatakan akan membawa suaminya ke undangan mereka.
Setelah makan, Wulan meminta turun lebih dulu di Kopi Wulan karena ada kiriman biji kopi yang harus diterima. Reyhan lalu mengantar Laras ke Alam Sutera. Sepanjang perjalanan, mereka membicarakan konversi B777, jadwal Laras, dan kondisi Wulan. Tidak ada pembicaraan tentang perasaan atau penyesalan.
"Terima kasih sudah antar," kata Laras ketika mobil memasuki garasi kompleks.
"Sama-sama. Kalau Mama Wulan butuh bantuan dan kamu sedang sif, kabari."
"Iya, Mas Rey."
Pada saat yang sama, Land Rover hitam berbelok dari jalur berlawanan.
Arkan langsung mengenali Laras di kursi penumpang mobil lain. Ia baru kembali dari rangkaian tugas yang tertunda dan masih mengenakan seragam. Begitu mobil Reyhan berhenti di dekat akses lift, Arkan menekan klakson pendek.
Laras menoleh. Wajahnya langsung terang.
"Arkan sudah pulang."
Nada gembira itu tidak luput dari Reyhan. Ia mengikuti arah pandang Laras dan melihat laki-laki berseragam kapten keluar dari Land Rover.
"Itu suamimu?"
"Iya. Aku kenalkan."
Namun, Reyhan melihat jam dan memilih tidak memperpanjang pertemuan pertama di garasi.
"Lain kali saja. Aku harus ke basis untuk ambil dokumen."
Laras mengangguk. "Hati-hati, Mas."
Ia turun dan berdiri sampai mobil Reyhan bergerak pergi. Land Rover Arkan sudah terparkir rapi. Arkan membuka bagasi, mengangkat flight bag, lalu berjalan mendekat dengan langkah panjang.
Dari kaca spion, Reyhan sempat melihat Laras bergerak menuju Arkan tanpa ragu. Bahunya yang sejak siang tampak sedikit tegang langsung rileks. Ia bahkan mengangkat tangan lebih dulu, seolah kepulangan laki-laki itu adalah bagian hari yang benar-benar ditunggunya.
Reyhan mengalihkan pandangan ke jalan. Selama bertahun-tahun, ia mengira sikap hati-hatinya memberi Laras ruang dan waktu. Baru hari ini ia memahami bahwa waktu juga bisa memberi ruang kepada orang lain untuk datang lebih dulu.
Ia tidak berbalik. Janji untuk menghormati batas Laras jauh lebih penting daripada dorongan menunda perpisahan beberapa menit.
Tatapannya menyapu Laras dari kepala sampai kaki, memastikan tidak ada yang salah sebelum berhenti pada mobil yang menjauh.
"Tadi siapa?" tanyanya. "Temanmu?"
"Mas Rey. Yang diceritakan Mama kemarin."
"Reyhan."
"Iya. Kami makan siang sama Mama. Dia antar karena Kopi Wulan lebih dekat dari restoran."
Semua penjelasan itu masuk akal. Wulan hadir. Reyhan hanya mengantar. Laras bahkan tampak jauh lebih senang melihat Arkan pulang daripada ketika turun dari mobil tadi.
Rasa tidak nyaman di dada Arkan tetap tidak hilang.
"Kenapa klakson?" tanya Laras saat mereka masuk lift.
"Supaya kamu lihat."
"Aku pasti lihat waktu kamu turun."
"Terlalu lama."
Laras menahan senyum. "Kamu cemburu lagi?"
"Nggak."
Jawaban itu sama sekali tidak meyakinkan.
Sesampainya di rumah, Arkan meletakkan flight bag di rak bawah lemari utama, tempat yang mereka tentukan malam sebelumnya. Laras membawakan air dan duduk di sisi meja makan.
"Kamu sudah makan?" tanyanya.
"Di pesawat."
"Itu biasanya jawaban orang yang cuma makan dua suap."
Arkan tidak menyangkal. Laras membuka kulkas dan memanaskan sup jamur. Ketika mangkuk diletakkan di depannya, Arkan langsung makan tanpa protes. Rasa lelah dari perubahan rute dan menginap mendadak terlihat pada cara bahunya akhirnya turun.
"Sektor ketiga jadi terbang?" tanya Laras.
"Nggak. Operasi ganti kru sebelum lewat batas duty. Kami pulang setelah rest."
"Bagus."
Arkan menatapnya. "Kamu bilang bagus karena aku patuh aturan atau karena aku pulang?"
"Dua-duanya."
Jawaban itu menenangkan sesuatu dalam dirinya, meski nama Reyhan masih mengganjal.
"Mas Rey itu anak almarhum Om Handoko," jelasnya lagi. "Kami memang hampir jadi keluarga kalau dulu Om Handoko dan Mama menikah, tapi nggak pernah terjadi. Aku menganggap dia seperti kakak."
"Aku sudah ingat."
"Lalu kenapa wajahmu begitu?"
"Wajahku biasa."
"Kamu bertanya tiga kali dalam lima menit."
Arkan minum air tanpa menjawab. Ia teringat cara Laras menjawab telepon, cara namanya disebut di meja kemarin, dan sapaan yang keluar begitu alami.
"Kamu selalu panggil dia Mas Rey?"
"Sejak dulu. Kenapa?"
"Nggak ada."
Laras kemudian teringat sesuatu. "Dia dapat dua undangan pemutaran dokumenter yang dulu ingin kutonton. Aku bilang kalau jadi pergi, kita ajak kamu dan teman-teman juga."
Sendok Arkan berhenti sebentar. "Dia mengajakmu berdua?"
"Awalnya dia bilang punya dua undangan. Aku langsung bilang cari tambahan supaya ramai."
"Dan kalau undangannya nggak bisa ditambah?"
"Aku nggak pergi. Sesederhana itu."
Arkan melanjutkan makan. Wajahnya tetap sulit dibaca, tetapi gerak sendoknya menjadi lebih santai.
"Kamu boleh bertemu temanmu," katanya.
"Aku tahu. Tapi aku juga boleh memilih batas yang bikin pernikahan kita nyaman."
Kalimat itu membuat Arkan kehilangan alasan untuk bertanya lebih jauh, selain satu hal kecil yang tetap mengusiknya.
Laras memiringkan kepala. "Aku juga kadang memanggilmu Kapten."
"Itu beda."
"Bedanya apa?"
Arkan tidak punya jawaban yang terdengar masuk akal. `Kapten` adalah godaan yang juga bisa dipakai siapa pun di tempat kerja. `Mas Rey` terdengar seperti tempat khusus yang dibangun bertahun-tahun.
Reyhan mendapatkan kelembutan dalam satu panggilan tanpa harus melakukan apa pun hari ini.
Arkan sendiri tidak mendapat perlakuan itu.