NovelToon NovelToon
Tuan Adiwangsa Hanya Bergairah Kepadaku

Tuan Adiwangsa Hanya Bergairah Kepadaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / CEO / Disfungsi Ereksi
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Seluruh Jakarta percaya Narendra Adiwangsa impoten.

Tiga puluh lima tahun hidupnya, pewaris Grup Adiwangsa itu tak pernah menginginkan perempuan. Bahkan dua tahun menikah, ia tak pernah menyentuh istrinya. Setelah perceraian, semua orang yakin satu hal—Narendra memang “tidak bisa”.

Narendra tak pernah repot membantah.

Sampai Sekar Melati Wardani muncul di hadapannya.

Perancang kebaya dari Bekasi itu bukan siapa-siapa. Tak punya nama besar, tak punya harta, bahkan keluarganya sendiri menganggapnya barang tukar demi mahar. Namun saat Narendra melihat Sekar mengenakan kebaya yang membungkus lekuk tubuhnya, sesuatu yang mati selama tiga puluh lima tahun tiba-tiba bangkit.

Untuk pertama kalinya, Narendra menginginkan seorang perempuan.

Bukan sekadar ingin menyentuhnya.

Ia ingin Sekar di rumahnya, di ranjangnya, dan memakai namanya.

Sekar mengira lelaki tampan di seberang apartemennya hanyalah pekerja kantoran biasa. Ia tak tahu Narendra sengaja menyewa tempat itu demi mendekatinya—dan semakin Sekar mencoba menjaga jarak, semakin pria itu kehilangan kendali.

“Katanya kamu tidak bisa?”

Narendra menarik pinggangnya hingga tubuh mereka menempel.

“Coba sendiri. Masih percaya rumor itu?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24

Bunga Kesukaannya

"Kamu yang tentukan. Kamu kan lebih jago pilih tempat."

Narendra menutup pintu penumpang, lalu berjalan mengitari mobil dengan langkah yang lebih ringan daripada pagi tadi.

"Ada tempat kecil di kota utara," katanya setelah duduk di belakang kemudi. "Nggak mewah. Tapi makanannya enak."

"Aku percaya."

Dua kata itu membuat tangan Narendra berhenti sesaat di sabuk pengaman.

Sekar mungkin hanya bicara soal restoran. Tetap saja, setelah semalam dihukum oleh pintu tertutup, kepercayaan kecil itu terasa mahal.

Mereka melewati jalan-jalan sempit di kawasan lama hingga berhenti di depan rumah toko tanpa pelayan valet. Di dalamnya ada halaman tengah dengan pohon delima. Lampion kaca menggantung rendah, memantulkan cahaya hangat pada meja kayu.

"Mas sering ke sini?"

"Dulu sama Eyang. Pemiliknya teman lama beliau."

Narendra memesan sup ikan asam, ayam panggang madu, tumis sayur, dan nasi hangat. Ia tidak membuka menu terlalu lama, tetapi kali ini Sekar tidak merasa tertinggal. Tidak ada sendok yang perlu ditebak atau harga yang membuatnya tegang.

"Tempat ini lebih aku suka," katanya.

"Daripada yang kemarin?"

"Yang kemarin enak. Di sini lebih tenang."

"Aku juga."

Pelayan meletakkan dua cangkir teh melati. Aroma lembutnya naik bersama uap.

"Adik Mas orangnya lucu?" tanya Sekar.

Narendra mengangkat alis. "Kenapa tanya dia?"

"Biar kalau ketemu lagi aku nggak salah paham."

"Jadi memang salah paham?"

Sekar menatapnya tajam.

"Maaf." Narendra mengambil cangkir untuk menyembunyikan senyum. "Kirana banyak bicara. Dia kerja di bidang riset dan merasa semua masalah bisa dibedah seperti data."

"Termasuk masalah cinta kakaknya?"

Narendra hampir tersedak teh.

Sekar tersenyum puas. "Kenapa?"

"Nggak kenapa-kenapa."

"Telinga Mas merah."

"Tehnya panas."

"Padahal belum diminum."

Narendra menyerah dan meletakkan cangkir. Sekar tertawa. Suara itu mengisi halaman kecil tanpa terasa berlebihan.

Makanan datang satu per satu. Sekar bercerita tentang pelanggan yang meminta pola lengan diubah tiga kali, lalu kembali ke rancangan pertama. Narendra menceritakan rapat kantor tanpa menyebut angka atau nama perusahaan. Ia hanya menyebut dua pihak yang bertengkar soal warna kemasan selama empat puluh menit.

"Mas ngapain?"

"Aku biarkan mereka bicara sampai capek. Setelah itu baru aku putuskan."

"Keputusannya?"

"Pakai warna lama."

Sekar tertawa lagi. "Kejam."

"Kamu percaya aku nggak kejam?"

"Belum tahu." Sekar mengambil potongan ayam dari piring tengah. "Harus sering makan bareng dulu untuk penelitian."

"Berapa lama?"

"Tergantung hasilnya."

Narendra menatap jari Sekar yang memegang sendok saji. Sejak melihat perempuan itu berkebaya di kedai kopi, tubuhnya mengenali Sekar lebih cepat daripada pikirannya. Kedekatan kecil bisa membuat napasnya berubah. Ujung rambut yang menyentuh tangannya mampu membangunkan sesuatu yang selama puluhan tahun mati.

Namun malam ini, di bawah pohon delima, ia menyadari hal yang lebih berbahaya.

Sekar tidak hanya membuat tubuhnya bereaksi.

Sekar membuatnya tenang.

Di kantor, Narendra terbiasa mengendalikan percakapan, menghitung risiko, dan memastikan setiap keputusan punya jalan keluar. Bersama Sekar, ia bisa duduk mendengar keluhan tentang benang yang kusut dan merasa satu jam berlalu terlalu cepat.

Ia menginginkan keduanya. Kegairahan yang hanya dibangunkan Sekar dan ketenangan yang hanya muncul di dekatnya.

"Kenapa lihat aku begitu?" tanya Sekar.

"Ada nasi di pipimu."

Sekar buru-buru mengusap sisi yang salah.

Narendra mengambil tisu, tetapi berhenti sebelum menyentuh. "Boleh?"

Sekar mengangguk.

Ia membersihkan sebutir nasi di dekat sudut bibir Sekar. Jarak mereka hanya selebar meja. Napas Sekar tersangkut, sedangkan jari Narendra terasa panas meski terhalang tisu.

"Sudah," katanya pelan.

Sekar menunduk. Hubungan teman makan ini jelas tidak lagi sederhana. Jika Narendra maju satu langkah, ia tidak ingin mundur.

Yang ia tidak tahu hanya satu: apakah pria itu juga sedang menunggu?

***

Dalam perjalanan pulang, mereka berbicara tentang makanan masa kecil. Sekar menyukai nasi hangat dengan telur kecap buatan Bulik Sri. Narendra mengingat bubur gurih Eyang yang hanya dibuat ketika cucunya sakit.

Lift Cempaka kosong. Mereka berdiri berdampingan, bahu hampir bersentuhan.

"Terima kasih sudah memaafkan aku," kata Narendra.

"Jangan bikin aku salah paham lagi."

"Akan aku usahakan."

"Harusnya bilang nggak akan."

"Aku nggak mau menjanjikan hal yang mungkin tanpa sengaja kulakukan. Tapi kalau terjadi, aku akan menjelaskan."

Jawaban itu tidak manis. Justru karena itu Sekar mempercayainya.

Di lantai dua puluh dua, mereka berhenti di antara dua pintu.

"Lain kali mau makan apa, bilang aku saja," ujar Narendra.

"Kalau aku maunya masakan rumah?"

"Aku cuci piring."

"Kesepakatan diterima."

Sekar masuk lebih dulu. Narendra menunggu sampai kunci terdengar, baru membuka pintunya sendiri.

Malam itu, keduanya berdiri di balik pintu masing-masing dengan senyum yang sama-sama disembunyikan.

***

Beberapa hari kemudian, Fikri dipanggil ke ruang kerja Narendra menjelang jam pulang.

Di luar dinding kaca, lantai eksekutif Grup Adiwangsa mulai sepi. Di atas meja, berkas akuisisi bertumpuk rapi. Di sampingnya ada selembar kertas yang jauh lebih membuat Narendra frustrasi.

Sekar, aku suka kamu.

Kalimat itu ditulis tiga kali dengan susunan berbeda. Semuanya terdengar seperti pembukaan rapat.

"Bapak memanggil saya?" Fikri berdiri di depan meja.

Narendra membalik kertas tersebut. "Besok tolong siapkan buket bunga."

Fikri tidak mengubah ekspresi, tetapi matanya berkedip sedikit lebih cepat. "Siap, Pak. Untuk dikirim ke mana?"

"Jangan dikirim. Taruh di mobil."

"Baik. Jenis bunganya?"

Narendra membuka mulut, lalu diam.

Ia pernah melihat aster kecil di apartemen Sekar. Ada sukulen di ambang jendela, bunga lili di Sanggar, dan motif melati pada banyak rancangannya. Namun Sekar tidak pernah mengatakan mana yang paling disukai.

"Mawar?" Fikri menawarkan hati-hati.

"Terlalu umum."

"Lili?"

"Aromanya terlalu kuat."

"Melati?"

Narendra menatap kertas yang disembunyikan di bawah telapak tangannya. Nama itu terasa tepat, tetapi ia ingin tahu kesukaan Sekar, bukan hanya menebak dari namanya.

"Saya bisa tanyakan ke Sanggar secara tidak langsung," ujar Fikri. "Atau cek unggahan lama Mbak Sekar."

"Jangan."

Jawaban Narendra keluar terlalu cepat.

"Siap, Pak."

"Aku nggak mau orang kantor menyelidiki hal pribadi dia hanya karena aku bisa menyuruh." Narendra menyandarkan punggung. "Kalau aku belum tahu, berarti aku memang belum cukup banyak bertanya."

Fikri mengangguk. Selama lima tahun bekerja, ia pernah diminta mengatur pesawat, menutup jadwal mendadak, dan menyelesaikan masalah sebelum sampai ke meja atasannya. Baru kali ini ia diperintahkan untuk tidak mencari jawaban.

"Kalau begitu, mungkin Bapak bisa bertanya langsung."

"Lalu dia tahu aku mau bawa bunga."

"Benar juga, Pak."

Untuk pertama kalinya sore itu, sudut bibir Fikri bergerak. Narendra mengangkat mata. Senyum itu segera hilang.

Fikri menunggu dengan sabar.

Pria yang bisa memutuskan transaksi bernilai triliunan dalam satu rapat kini memegang pena tanpa mampu menulis satu jenis bunga.

"Dia paling suka bunga apa, ya?" gumam Narendra.

1
Siti Kamisah Hasnul
Bagusss sekalii
semoga konsisten bagus sampe tamat 🥰
Qwerty789 10
suka banget pokoknya,,,,lanjut trus kakakkkk💪
Qwerty789 10
sukak banget ma kata-katanya 🫰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!