Kenzo yang keras dan Anisa yang berani selalu tak akur, saling berselisih setiap hari. Namun saat terpaksa bekerja sama, benci perlahan berubah menjadi cinta manis yang tak disadari keduanya. Dari yang saling menentang, kini berubah menjadi tak bisa berpaling satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16.Kesalahan yang Menyadarkan
Segalanya bermula dari satu kesalahan kecil yang justru menjadi titik balik bagi perasaan mereka berdua. Saat itu tugas kelompok mereka sudah hampir rampung, tinggal menyusun bagian akhir dan merapikannya menjadi satu kesatuan. Anisa bertugas membawa draf lengkap keesokan harinya, namun di tengah perjalanan pulang tadi sore, hujan turun deras membasahi tasnya hingga sebagian lembaran kertas itu lembap dan tak terbaca lagi. Karena takut Kenzo marah dan kecewa, malam itu Anisa menyempatkan diri menyalin ulang seluruh bagian yang rusak hingga larut malam, berharap pagi harinya semuanya akan kembali baik-baik saja. Namun kelelahan yang menumpuk membuatnya tak sengaja tertukar menyisipkan lembar catatan miliknya ke dalam tumpukan tugas itu—lembaran yang berisi tulisan-tulisan jujur yang tak pernah ia sampaikan kepada siapa pun, bahkan kepada dirinya sendiri.
Pagi itu, Anisa datang tepat waktu dan menyerahkan tumpukan berkas itu kepada Kenzo dengan napas yang sedikit terengah dan wajah yang tampak pucat karena kurang tidur. Kenzo menerimanya sambil mengangguk pelan, tak menyadari apa pun. Ia pun segera membuka lembaran demi lembaran di saat Anisa sedang berpamitan mengambil air minum. Namun saat tangannya menyentuh selembar kertas yang tak bernama itu, matanya tiba-tiba terpaku membaca tulisan tangan yang dikenalnya betul.
Di sana tertulis baris demi baris kalimat yang begitu tulus, seakan Anisa sedang berbicara langsung kepada dirinya sendiri dalam sepi: “Dulu aku membencinya. Menganggapnya sombong, kaku, dan tak pernah peduli pada perasaan orang lain. Namun semakin aku mengenalnya, semakin aku menyadari betapa kelirunya pandanganku selama ini. Di balik wajah dinginnya, ternyata hatinya begitu lembut. Di balik ketegasannya, ternyata tersembunyi perhatian yang tak pernah ia suarakan. Dan kini... aku tak lagi tahu apa yang kurasakan padanya. Yang kutahu, benci itu perlahan lenyap, berganti rasa yang membuat hatiku berdebar setiap kali berada di dekatnya. Namun tak mungkin ia mengetahuinya. Biarlah tetap menjadi rahasiaku sendiri.”
Tangan Kenzo perlahan menahan getar. Ia membaca tulisan itu berulang kali, seakan tak percaya pada apa yang tertulis di atas kertas. Dadanya terasa sesak namun hangat, seketika jantungnya berdetak kencang tak menentu. Selama ini ia mengira hanya dirinyalah yang diam-diam menyimpan perasaan yang berubah. Selama ini ia berpandangan Anisa masih bersikap demikian hanya karena terpaksa bekerja sama dan tak lebih dari sekadar teman sebangku. Namun membaca tulisan itu... Kenzo menyadari satu hal yang jauh lebih besar dari segalanya: selama ini keduanya sama-sama menyimpan perasaan yang sama, namun sama-sama tak berani mengungkapkannya. Dan kesalahan kecil ini—terselipkannya lembaran rahasia itu—justru menjadi cermin yang menyadarkan keduanya betapa berartinya keberadaan satu sama lain.
Saat Anisa kembali masuk ke ruangan dan melihat kertas itu berada di tangan Kenzo dengan raut wajah yang tak dapat dibaca, seketika wajahnya memucat. Ia berlari mendekat hendak merebutnya kembali, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara Kenzo bergetar pelan namun tegas.
"Jangan... biarkan aku selesai membacanya," ucap Kenzo menatapnya lekat-lekat, matanya memancarkan cahaya yang berbeda dari biasanya—bukan kemarahan, melainkan sesuatu yang dalam dan penuh makna. "Jadi... apa yang tertulis di sini... semuanya benar adanya?"
Anisa menahan napas, menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Tak ada jalan untuk menyangkal lagi. Ia menunduk pelan, merasakan panas menjalar ke pipinya, namun suaranya terdengar teguh meski sedikit bergetar. "Ya... benar adanya. Maafkan aku. Tak sengaja terselip. Tapi isinya... memang apa yang kurasakan."
Kenzo terdiam sejenak. Napasnya diembuskan perlahan, seakan beban berat yang selama ini dipikulnya perlahan luruh berganti kelegaan yang tak terlukiskan. Ia melipat lembaran itu dengan hati-hati, menyimpannya rapi di dalam saku bajunya, lalu kembali menatap Anisa dengan sorot mata yang kini tampak begitu lembut dan penuh kehangatan yang tak pernah ditampakkannya sebelumnya.
"Terima kasih," ucap Kenzo tiba-tiba, membuat Anisa mendongak tak paham. "Kesalahan kecilmu ini justru menyadarkanku satu hal yang tak pernah kuberani yakini sepenuhnya. Bahwa perasaan yang tumbuh di hatiku ternyata tak bertepuk sebelah tangan. Bahwa selama ini kita sama-sama saling menjaga, sama-sama saling memperhatikan, dan sama-sama tak berani mengatakannya."
Anisa terpaku mendengarnya. Matanya membelalak perlahan, seakan baru menyadari arti kata-kata itu. Kenzo... ternyata merasakan hal yang sama?
"Selama ini aku berpikir hanya aku sendirian yang berubah hatinya," lanjut Kenzo pelan namun jelas, matanya tak berpaling sedikit pun dari wajah Anisa. "Aku takut mengatakannya dan takut kau menolaknya. Namun kesalahan kecilmu hari ini... membuatku sadar bahwa kita sama-sama takut kehilangan satu sama lain. Bahwa benci yang dulu ada itu ternyata hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih indah. Dan... maafkan aku karena baru kali ini berani mengakuinya. Aku pun... merasakan hal yang sama persis sepertimu."
Suasana hening sejenak melingkupi mereka. Anisa menatapnya lekat-lekat, air matanya menetes pelan bukan karena sedih, melainkan karena bahagia yang meluap tak terduga. Kesalahan yang awalnya ia takuti ternyata justru menjadi jembatan yang menyatukan perasaan mereka berdua. Menyadarkan mereka bahwa selama ini perhatian-perhatian kecil yang saling diberikan bukan sekadar kebiasaan semata, melainkan awal tumbuhnya kasih sayang yang tulus dari lubuk hati yang terdalam. Bahwa rasa yang mereka simpan diam-diam ternyata saling bertaut, menunggu waktu yang tepat untuk terungkap. Dan hari itu, melalui sebuah kesalahan kecil... akhirnya mereka berdua sama-sama menyadari: benih cinta itu telah tumbuh subur tanpa disadari, dan kini tak perlu lagi disembunyikan dalam diam.
BERSAMBUNG....