NovelToon NovelToon
Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Bima hanyalah satpam bergaji kecil di apartemen mewah Surabaya. Ia diremehkan preman, diinjak atasan, dan dipandang rendah penghuni kaya. Tak ada yang tahu, pria ini dulunya Sang Raja Serigala, pemimpin tentara bayaran legendaris, pewaris Aji Surya Candra, serta pemilik rahasia yang bisa mengguncang kota.
Kembali ke tanah air untuk menepati janji melindungi kerabat rekan seperjuangan yang gugur, Bima bersembunyi sebagai satpam dan menanggung segala hinaan. Musuhnya datang beruntun: korlap satpam, konglomerat pengirim pembunuh, hingga Padepokan Giri Wesi. Ia menumbangkan lawan di ring maut Sayembara Pedang Emas, membongkar konspirasi Kelab Arwah, dan mencapai puncak ilmu silat Manunggal.
Di sisinya berkumpul berbagai wanita: janda anggun, polisi cantik keturunan jenderal, direktur muda, dan pesilat wanita misterius. Cinta, dendam, kuasa dan rahasia saling bertaut.
Mereka memerintahnya berlutut. Bima membuat semua orang mendongak kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35: Tumbal yang Gagal

Tinju Guruh dan kedua telapak Bima bertabrakan di tengah hujan serpihan tembok.

Ledakan tenaga mendorong Bima setengah langkah ke belakang. Tumitnya menyentuh kaki bangku semen. Guruh melihat ruang sempit itu sebagai kesempatan dan mengirim pukulan kedua ke dada.

Bima berputar. Tinju Guruh lewat di depan kemejanya dan menghantam dinding. Sebelum lelaki besar itu menarik lengan, Bima menekan siku, memutar bahu, lalu menyapu kaki penopang dari sisi yang tidak dapat dilihat.

Guruh kehilangan keseimbangan, tetapi belum jatuh. Ia mencoba menurunkan berat badan dan mengunci lutut.

Bima mengubah arah sapuan.

Krak!

Tulang di bawah lutut Guruh patah saat beban tubuhnya sendiri berlawanan dengan putaran. Ia meraung dan jatuh bertumpu pada satu tangan. Tangan lainnya masih sempat meraih kaki Bima.

"Mati kau!"

Bima tidak memberinya kesempatan berdiri. Dua jari menekan titik di paha bagian dalam, disusul dorongan telapak pendek pada pangkal pinggul.

Totok Nadi memutus aliran tenaga ke kaki yang sudah rusak. Otot Guruh kejang, lalu tidak lagi menuruti perintahnya untuk sementara. Patah tulang dan kerusakan jaringan akibat sapuan berbeban itulah yang membuat kaki itu tidak akan kembali seperti semula meski mendapat operasi terbaik.

Bima sengaja tidak menyerang kepala atau jantung.

"Kamu tetap hidup," katanya. "Jadi nanti kamu bisa menyebut siapa yang mengirimmu."

Guruh mencoba bangkit dengan siku. Bima menekan bahunya ke lantai, cukup kuat untuk menahan tanpa menghancurkan sendi.

Lampu utama menyala mendadak.

Koridor dipenuhi petugas dengan senjata terarah. Bima segera mengangkat tangan dan mundur dari Guruh.

"Pistol di belakang pinggang saya," katanya. "Jangan mendekat dari sisi buta. Saya akan berlutut."

Ia berlutut perlahan. Seorang petugas mengambil pistol, sementara yang lain memborgol Bima untuk pengamanan. Dua anggota memeriksa Guruh. Tim medis dipanggil. Rangga tidak menunjukkan tanda kehidupan, dan tidak ada seorang pun yang memindahkan tubuhnya sebelum petugas identifikasi datang.

Kirana berlari masuk beberapa detik kemudian. Matanya pertama-tama jatuh pada Rangga, lalu Guruh, lalu pistol di tangan anggota.

Wajahnya kehilangan warna.

"Itu senjata saya."

Petugas mencatat nomor senjata dan memasukkannya ke kantong barang bukti sementara. Selongsong, proyektil yang kelak harus diambil, bilah pendek Rangga, kunci tidak sah, darah, sidik jari, rekaman kamera yang masih tersisa, dan kerusakan pintu masuk daftar awal tempat kejadian.

Bima tidak meminta dibebaskan. Ia hanya menunjuk Guruh dengan dagu. "Jaga dia. Dia saksi hidup."

"Anda jangan memberi perintah di tempat ini," kata Kirana tajam.

"Kalau begitu anggap sebagai permintaan dari tahanan yang baru diserang."

Guruh dibawa ke ambulans dengan kaki distabilkan. Dua petugas ditugaskan mengikuti sampai ruang rawat tahanan di rumah sakit rujukan. Rangga tetap di lokasi untuk pemeriksaan resmi. Tubuhnya bukan sekadar mayat penyerang, melainkan bukti bahwa seseorang dapat memasuki area tahanan saat listrik padam.

Seorang tenaga medis memeriksa Bima di bawah pengawasan. Tidak ada luka terbuka, memar baru, gangguan napas, atau keterbatasan gerak pada bahunya. Hasil singkat itu dicatat sebelum Bima dipindahkan. Petugas lain memasang garis pembatas, meminta semua anggota yang berada di koridor menulis posisi masing-masing saat tembakan terdengar, dan menyalin rekaman yang masih dapat diselamatkan. Bahkan dalam kekacauan, tempat itu tidak boleh berubah menjadi cerita berdasarkan ingatan semata.

Setelah keadaan terkendali, Kirana membawa Bima ke ruang pemeriksaan lain. Pintu ditutup. Tidak ada kamera yang aktif karena sistem baru saja dipulihkan.

"Kapan Anda mengambil pistol saya?"

"Saat Ibu mengambil berkas."

"Sebelum listrik padam?"

"Ya."

Kirana memukul meja dengan telapak terbuka. "Anda mencuri senjata dinas dari petugas! Kalau gerakan Anda salah sedikit, Anda bisa ditembak. Kalau pelurunya mengenai anggota saya, saya kehilangan orang dan Anda menghadapi tuduhan baru."

"Kalau saya tidak mengambilnya, Rangga memotong leher saya."

"Anda tidak tahu itu saat mengambil senjata."

"Saya tahu ada sesuatu yang salah."

"Naluri bukan izin."

Bima menerima kalimat itu tanpa membantah.

Kirana berjalan dua putaran kecil di ruangan. Dalam laporan awal insiden, senjata akan dicatat berpindah dari penguasaan petugas ketika listrik padam dan dipakai tahanan untuk menghentikan serangan bersenjata. Ia tidak menuliskan bahwa Bima telah mengambilnya beberapa menit sebelum gelap.

Keputusan itu melindungi Bima dari satu tuduhan tambahan, tetapi juga mengorbankan ketepatan catatan dan menaruh karier Kirana di ujung pisau. Ia sadar sepenuhnya bahwa itu pelanggaran pribadi, bukan kebijaksanaan prosedural.

"Saya tidak melakukan ini untuk Anda," katanya. "Saya melakukan ini karena ada dua pembunuh yang berhasil masuk ke ruang tahanan saya, dan saya belum tahu berapa orang di sistem ini yang sudah dibeli."

"Saya mengerti."

"Jangan membuat saya menyesal."

Menjelang dini hari, status Bima menjadi aneh. Ia tetap tersangka dalam perkara Yulia dan tetap ditahan, tetapi juga korban serangan terencana di dalam fasilitas polisi. Bukti awal jelas menunjukkan Rangga membawa senjata dan kunci tidak sah. Guruh ditemukan menyerang di ruang yang sama.

Laras menelepon meja penyidik sekitar pukul empat, meminta persyaratan kunjungan pengacara yang akan ia rekomendasikan. Kirana hanya menjelaskan jalur resmi dan waktu akses. Ia tidak menceritakan detail penyerangan melalui telepon.

Pukul enam lewat, kabar pertama datang.

Keluarga Yulia telah membawa jenazah keluar dan melakukan kremasi malam itu juga. Permintaan penyidik untuk pemeriksaan forensik lanjutan tidak sempat dijalankan. Dokumen pelepasan, waktu, dan pihak yang menyetujui masih harus diperiksa, tetapi kesempatan untuk visum ulang langsung atas tubuh telah hilang.

Kirana menutup telepon dengan rahang kaku.

Belum sempat ia memanggil petugas administrasi, kabar kedua masuk dari rumah sakit rujukan.

Sekelompok orang berseragam tenaga kesehatan dari rumah sakit swasta datang membawa surat pemindahan. Mereka memakai kendaraan medis, mengenal nama pasien, dan menunjukkan dokumen yang tampak resmi. Dalam pergantian jaga yang kacau, Guruh diserahkan kepada mereka.

Rumah sakit tujuan kemudian menyangkal pernah mengirim tim.

Kirana berdiri begitu cepat hingga kursinya terjatuh. "Dua petugas pengawal?"

"Mereka mengikuti ambulans sampai simpang besar," jawab suara di telepon. "Kendaraan medis itu masuk jalur berbeda setelah mobil lain menghalangi. Nomor pelatnya palsu."

Guruh hilang sebelum sempat memberi keterangan. Kakinya rusak permanen, tetapi ia tetap bukti hidup yang kini kembali berada di tangan pihak yang mengirimnya.

Pagi itu, Kirana menghubungi kolega di kota lain untuk memeriksa pola dokumen palsu, kendaraan medis, dan nama samaran Rangga. Tidak ada kecocokan cepat. Jalur pembayaran, asal kunci, serta gangguan listrik juga berhenti pada identitas pinjaman.

Ia meletakkan ponsel, lalu memukul meja pelan.

"Terlalu bersih untuk kebetulan," gumamnya.

Di luar ruang pemeriksaan, matahari sudah naik. Peluang membersihkan nama Bima melalui tubuh Yulia dan kesaksian Guruh justru lenyap sebelum sarapan.

1
GEMBONG SAKTI
hilangkan penyebutan saya, pakai aku malah lebih bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!