Rizky Pratama adalah lambang kegagalan; hidup miskin, sering dipecat, dan selalu sial, sampai sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Namun, maut justru membawakannya keajaiban berupa Liontin Dewi yang menyatu dengan tubuhnya, memulihkan lukanya secara instan dan melambungkan kecerdasannya di atas rata-rata manusia. Lebih gila lagi, liontin itu memberinya kemampuan mengendalikan tanaman, dari mempercepat pertumbuhan, menemukan herba langka, hingga menciptakan varietas obat ajaib yang belum pernah ada sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Indah berjalan mendekati Rizky lalu jarak mereka kini hanya tersisa satu meter saja.
Hidung Indah yang sangat mancung itu tiba-tiba mengendus udara di sekitarnya dengan cepat.
"Aroma apa ini? Manis, menyegarkan, tapi ada sentuhan herbal kuno yang sangat kuat," gumam Indah dengan kening berkerut.
Mata cerdas Indah langsung tertuju pada pot plastik yang dipeluk erat oleh Rizky.
"Maaf Mas, boleh saya lihat tanaman yang ada di dalam pot itu?" pinta Indah dengan nada sangat sopan.
Siska dan Pak Danu terbelalak kaget mendengar atasan mereka malah berbicara lembut pada pemuda lusuh itu.
"Mbak Indah jangan dekat-dekat, nanti tertular penyakit kulit," cegah Siska panik.
"Siska, tolong diam, jangan mengganggu konsentrasiku," balas Indah dingin tanpa menoleh sedikit pun.
Rizky tersenyum puas lalu menyodorkan pot itu ke hadapan Indah dengan perlahan.
"Silakan diperiksa Nona Apoteker, hati-hati jangan sampai daunnya terluka sedikit pun."
Indah mengeluarkan sebuah kaca pembesar kecil dari saku jasnya lalu membungkuk menatap tanaman itu.
Tiga helai daun ungu keemasan dengan urat perak itu tampak bersinar redup di bawah cahaya lampu lobi.
Napas Indah tertahan saat melihat pola urat daun yang sangat rumit dan unik tersebut.
Jantung Indah berdebar sangat kencang seperti baru saja melihat hantu di siang bolong.
"Ini tidak mungkin, bentuk fisiknya sangat mirip dengan catatan di ensiklopedia botani kuno," ucap Indah dengan suara bergetar.
Indah lalu mendekatkan wajahnya untuk mencium aroma dari batang tanaman tersebut secara langsung.
Aroma khas itu langsung menyapu bersih rasa pusing di kepala Indah akibat bekerja lembur semalam.
"Akar Tunjung Langit, dan melihat tingkat kepekatan warna ungunya, ini usianya lebih dari empat puluh tahun," gumam Indah tak percaya.
Rizky hanya diam mendengarkan analisis akurat dari apoteker cantik di depannya ini.
"Nona ini punya mata yang sangat teliti, tebakan usianya hampir mendekati sempurna," puji Rizky dalam hati.
Indah segera menegakkan tubuhnya lalu menatap Rizky dengan pandangan yang benar-benar berbeda dari sebelumnya.
Tatapan itu kini penuh dengan rasa hormat, penasaran, dan kekaguman yang tak bisa disembunyikan.
"Mas, dari mana Anda bisa mendapatkan tanaman herbal tingkat legendaris yang nyaris punah ini?" tanya Indah serius.
Kalimat Indah barusan sukses membuat lobi klinik itu hening seketika seperti kuburan.
Mulut Siska menganga lebar, sementara Pak Danu mematung kaku seperti balok es.
"Legendaris? Nona Indah pasti bercanda kan, itu cuma rumput liar yang dia pungut dari selokan," sangkal Pak Danu tergagap.
Indah menoleh tajam ke arah satpamnya itu dengan tatapan marah.
"Pak Danu, rumput liar yang Anda sebut ini harganya bisa dipakai untuk membangun ulang seluruh gedung klinik ini."
JEDIAAAR.
Bagaikan disambar petir di siang bolong, Pak Danu dan Siska merasa kaki mereka lemas tak bertulang.
"Membangun ulang seluruh gedung klinik ini?" ulang Siska dengan suara mencicit ketakutan.
Mereka berdua kini sadar baru saja mencoba mengusir dan menyinggung seorang tamu penting yang luar biasa.
Rizky tertawa pelan memecah keheningan yang sangat canggung tersebut.
"Nona Indah terlalu melebih-lebihkan, ini cuma kebetulan saja saya temukan saat jalan-jalan di hutan pinggir kota."
Rizky tidak mungkin menceritakan rahasia sistem liontinnya pada orang yang baru pertama kali ia temui.
Indah menggelengkan kepalanya pelan merespon alasan santai Rizky.
"Tanaman seumur ini tidak mungkin tumbuh subur begitu saja tanpa perawatan seorang ahli botani kelas atas."
"Tapi mari kita abaikan dulu asal-usulnya, apakah Mas berniat menjual tanaman ini kepada klinik kami?" tanya Indah langsung ke tujuan.
Rizky mengangguk mantap karena itulah tujuan utamanya datang kemari sejak awal.
"Tentu saja saya mau menjualnya, asalkan harga yang ditawarkan klinik ini masuk akal dan adil bagi saya."
Wajah Indah terlihat sangat gembira seolah baru memenangkan lotre miliaran rupiah.
"Mari Mas, silakan ikut saya ke ruangan VIP di lantai tiga agar kita bisa bernegosiasi dengan tenang."
Indah mempersilakan Rizky berjalan mendahuluinya dengan sikap yang sangat sopan layaknya menyambut raja.
Rizky melangkah masuk melewati pintu kaca otomatis dengan kepala tegak dan dada membusung.
Saat melewati Pak Danu dan Siska, Rizky sengaja berhenti sejenak lalu menoleh pada mereka berdua.
"Lain kali, jangan menilai isi buku hanya dari sampulnya saja ya, itu pelajaran dasar anak SD," sindir Rizky dengan senyum ramah.
Wajah kedua staf itu langsung pucat pasi seperti mayat, tak berani menatap mata Rizky sama sekali.
Mereka hanya bisa menunduk dalam-dalam menahan rasa malu dan takut dipecat oleh manajemen.
Rizky kemudian melanjutkan langkahnya mengikuti Indah Sari menuju lift khusus di ujung lorong klinik.
Di dalam lift yang tertutup rapat, hanya ada Rizky dan Indah yang berdiri bersebelahan.
Wangi parfum bunga melati yang sangat lembut menguar dari tubuh Indah menggelitik penciuman Rizky.
"Maaf atas perlakuan staf kami di bawah tadi Mas, mereka memang sering menilai tamu dari penampilannya."
Indah membuka percakapan untuk mencairkan suasana canggung di antara mereka.
"Tidak apa-apa Nona, saya sudah sangat kebal dengan perlakuan seperti itu sejak saya lahir ke dunia ini."
Rizky menjawab santai tanpa ada nada sedih atau tersinggung sedikit pun di suaranya.
Indah melirik ke arah Rizky dari pantulan kaca lift lalu tersenyum manis.
"Ngomong-ngomong, nama saya Indah Sari, panggil saja Indah, lalu nama Mas siapa?"
"Nama saya Rizky Pratama, panggil saja Rizky, tidak usah pakai Mas karena rasanya ketuaan."
TING.
Pintu lift terbuka di lantai tiga yang suasananya jauh lebih tenang dan berdesain interior sangat mewah.
Lantai ini dilapisi karpet tebal berwarna merah marun dan dihiasi banyak lukisan kaligrafi di dindingnya.
Indah memandu Rizky menuju sebuah ruangan besar di sudut lorong yang bertuliskan Ruang Direktur.
"Silakan masuk Rizky, mari kita bicarakan harganya di dalam."
Indah membukakan pintu kayu mahoni berukir itu dan mempersilakan tamunya masuk terlebih dahulu.
Ruangan itu sangat luas, dengan meja kerja kayu jati besar dan sofa kulit asli di bagian tengahnya.
Rizky duduk santai di atas sofa empuk itu sambil tetap memegang erat pot tanamannya.
Indah duduk di sofa yang berseberangan dengan meja kaca kecil yang memisahkan mereka berdua.
"Jadi Rizky, terus terang saja, Akar Tunjung Langit adalah bahan utama paling penting yang sedang kami cari mati-matian saat ini."
Indah menatap langsung ke mata Rizky dengan ekspresi wajah yang berubah menjadi sangat serius.
"Kami membutuhkannya segera untuk menyelamatkan nyawa seorang pasien tokoh penting yang kondisinya sangat kritis siang ini."