NovelToon NovelToon
Bayangan Penguasa

Bayangan Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Isekai / Reinkarnasi
Popularitas:913
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Selama sepuluh tahun, Bumi diinvasi oleh monster dari "Gerbang Dimensi" (Gates). Han Do-Yoon adalah seorang Hunter Peringkat-F yang bertahan hidup sebagai kuli panggul di dalam Dungeon. Pada Hari Kiamat, saat "Dewa Luar" (Outer Gods) menghancurkan pertahanan terakhir umat manusia, Do-Yoon mengorbankan dirinya untuk melindungi artefak kuno.
​Alih-alih mati, ia terbangun sepuluh tahun di masa lalu—tepat di hari di mana sistem kebangkitan pertama kali turun ke Bumi. Namun kali ini, ia tidak membangkitkan kelas biasa. Ia mendapatkan kelas tersembunyi berperingkat Myth: Pewaris Ketiadaan. Dengan pengetahuan masa depan dan sistem absolut di tangannya, Do-Yoon bersumpah untuk mengubah nasib dunia dan membantai para Dewa yang mempermainkan umat manusia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Akar Darah dan Sang Penjaga Terakota

​Sulur-sulur daging berwarna merah pekat itu berdenyut ritmis, menutupi seluruh lebar tangga yang mengarah ke permukaan bumi. Ukurannya sebesar batang pohon berusia ratusan tahun, saling melilit dan menghasilkan suara basah yang menjijikkan setiap kali mereka bergerak.

​Bau tanah basah yang bercampur dengan aroma darah kental menyengat hidung Yoo Ji-Ah. Ia harus menahan napas agar isi perutnya tidak kembali bergejolak. Dengan penglihatan barunya yang mampu menembus kegelapan, detail mengerikan dari sulur itu—pembuluh darah biru yang menonjol di balik selaput merahnya—terlihat sangat jelas.

​"Apakah ini monster tipe tumbuhan?" bisik Ji-Ah, tangannya menggenggam erat gagang pedangnya.

​"Bukan," jawab Han Do-Yoon santai, melangkah mendekati gumpalan daging raksasa tersebut. "Ini adalah Akar Darah. Mekanisme pertahanan alamiah yang tercipta ketika sebuah Pusaka Tersembunyi tingkat tinggi bereaksi terhadap energi sihir yang tiba-tiba membanjiri bumi. Artefak itu mencoba menyembunyikan dirinya dari para pemangsa."

​"Lalu, bagaimana kita melewatinya? Haruskah aku memotongnya dengan elemen angin?"

​"Jangan lakukan itu jika kau tidak ingin mati tenggelam oleh getah asam," cegah Do-Yoon seraya mengangkat tangannya. "Akar Darah menyerap energi kinetik dan sihir elemen dasar. Semakin keras kau menebasnya, semakin cepat ia beregenerasi, dan ia akan menyemburkan racun korosif yang bisa melelehkan tulangmu dalam tiga detik."

​Mendengar itu, Ji-Ah mundur selangkah, menelan ludah dengan susah payah. Pengetahuan Do-Yoon tentang dunia yang baru hancur sehari yang lalu ini benar-benar tidak masuk akal. Gadis itu semakin yakin bahwa pria di depannya ini bukanlah sekadar mahasiswa biasa, melainkan entitas yang menyamar menjadi manusia.

​"Mundur tiga langkah dan tutup telinga adikmu," perintah Do-Yoon.

​Ji-Ah segera mematuhi instruksi tersebut. Ia menutupi telinga Ji-Hye yang masih memejamkan mata di punggungnya.

​Do-Yoon berdiri di depan dinding sulur raksasa itu. Ia meletakkan telapak tangan kanannya tepat di atas selaput berdaging yang paling tebal. Denyut kehidupan yang sangat kuat terasa di bawah telapak tangannya.

​"Semua yang hidup," bisik Do-Yoon, matanya kembali menghitam pekat, "pasti bisa membusuk."

​Seketika, aura berwarna hitam legam—energi Kehampaan murni miliknya—merembes keluar dari telapak tangannya, menyuntikkan kegelapan absolut ke dalam jaringan urat Akar Darah tersebut.

​Tidak ada ledakan. Tidak ada suara tebasan.

​Hanya ada suara mendesis pelan yang mengerikan, layaknya sepotong daging yang dijatuhkan ke atas besi pijar. Namun alih-alih terbakar, sulur daging raksasa itu mulai berubah warna menjadi abu-abu pucat. Kegelapan Do-Yoon melahap energi kehidupan akar tersebut dengan rakus.

​Hanya dalam kurun waktu sepuluh detik, dinding sulur yang tak tertembus itu mengering, mengerut, dan akhirnya hancur menjadi tumpukan abu debu yang berserakan di atas anak tangga.

​[Anda telah menghancurkan Perisai Akar Darah.]

[Pemahaman Anda terhadap 'Domain Kehampaan' sedikit meningkat.]

​"Jalan sudah terbuka," ucap Do-Yoon sambil membersihkan debu dari tangannya. "Ayo naik."

​Mereka menaiki anak tangga stasiun dan akhirnya tiba di lantai bawah tanah Museum Nasional Korea.

​Suasana di dalam museum ini bertolak belakang dengan kekacauan yang terjadi di jalanan kota Seoul. Sangat sunyi, bersih, dan tidak ada satu pun tanda-tanda kerusakan atau mayat manusia. Cahaya biru redup berpendar dari langit-langit, bersumber dari kristal-kristal sihir kecil yang menggantikan fungsi lampu listrik modern.

​"Energi dari pusaka itu menciptakan perisai kedap suara dan fisik. Monster-monster di luar sana, bahkan gelombang Pawai Kematian, tidak akan bisa mendobrak masuk ke gedung ini," jelas Do-Yoon sambil berjalan menyusuri lorong pameran barang antik.

​"Lalu, apa sebenarnya yang kita cari di sini?" tanya Ji-Ah, matanya menyapu deretan guci keramik peninggalan Dinasti Joseon yang tertata rapi di dalam etalase kaca.

​Do-Yoon tidak langsung menjawab. Ia terus melangkah hingga mereka tiba di Aula Utama museum yang sangat luas. Di tengah-tengah aula tersebut, berdiri sebuah tumpuan pualam putih.

​Di atas tumpuan itu, melayang sebuah benda yang memancarkan cahaya keemasan lembut. Benda itu berbentuk seperti sebuah kompas kuno berukuran sebesar telapak tangan, terbuat dari logam perak yang tidak dikenal manusia, dengan jarum jam yang berputar melawan arah jarum jam.

​"Itu," Do-Yoon menunjuk benda tersebut dengan dagunya. "Kompas Dimensi. Sebuah artefak Tingkat Pahlawan yang bisa memanipulasi koordinat ruang."

​Mata Ji-Ah berbinar melihat keindahan artefak tersebut. "Apakah itu senjata?"

​"Bukan. Itu adalah kunci," jawab Do-Yoon, suaranya menjadi sedikit lebih berat. "Di masa depan, akan ada labirin-labirin yang tidak bisa dimasuki melalui pintu biasa. Labirin yang menyimpan rahasia terbesar mengapa Sistem ini diciptakan. Dengan benda itu, aku bisa menembus batasan ruang dan menantang para Rasi Bintang di wilayah mereka sendiri."

​Do-Yoon melangkah maju, berniat mengambil Kompas Dimensi tersebut.

​Namun, tepat saat ujung sepatu bot Do-Yoon melewati batas ubin melingkar di tengah aula, suara gemuruh berat mengguncang seluruh lantai museum.

​GRRRUUUMM...

​Debu-debu berjatuhan dari langit-langit. Lampu-lampu kristal biru di atas mereka berkedip-kedip merah.

​Dari empat sudut Aula Utama yang gelap, empat buah patung raksasa setinggi tiga meter yang terbuat dari perunggu dan tanah liat mulai bergerak. Debu tebal mengelupas dari tubuh mereka, memperlihatkan zirah kuno yang kokoh dan tombak panjang bermata kapak (Halberd) yang mematikan.

​[Peringatan! Anda telah membangunkan Penjaga Pusaka.]

[Ksatria Perunggu Terakota (Tingkat C) x 4 telah diaktifkan!]

[Misi Pemusnahan: Buktikan Kelayakan Anda!]

Keterangan: Artefak kuno tidak akan sujud pada manusia yang lemah. Hancurkan para penjaga atau matilah sebagai debu sejarah.

​Empat pasang mata patung perunggu itu menyala dengan api merah menyala. Mereka menoleh secara serentak ke arah Do-Yoon dan Ji-Ah, menghasilkan suara derit logam tua yang memekakkan telinga.

​"Empat monster Tingkat C sekaligus?!" Ji-Ah berseru panik, langsung menghunus Pedang Panjang Besi Hitam-nya. Ia masih ingat betul bahwa Penguasa Labirin di Gerbang Merah sebelumnya juga berperingkat C. Menghadapi empat sekaligus adalah bunuh diri.

​Di atas langit, saluran komunikasi para Rasi Bintang kembali meledak.

​[Rasi Bintang 'Penimbang Keadilan Bersayap' menggelengkan kepala melihat kecerobohan Anda.]

[Rasi Bintang 'Dewa Tombak Api' tertawa penuh kemenangan! "Mati! Hancur leburkan tubuhnya, patung rongsokan!"]

[Rasi Bintang 'Perawan Pedang Suci' memperingatkan inkarnasinya untuk segera melarikan diri!]

​Membaca pesan-pesan cacian tersebut, senyum miring yang khas kembali terbentuk di wajah Han Do-Yoon.

​"Kau takut, Yoo Ji-Ah?" tanya Do-Yoon tanpa menoleh, merentangkan tangan kanannya. Energi bayangan langsung memadat, membentuk Bilah Penebas Malam yang memancarkan kilau perak di ujungnya.

​"S-sedikit," jujur Ji-Ah, meski posisi kakinya sudah mengambil kuda-kuda bertarung yang kokoh. "Mereka terbuat dari perunggu padat. Pedangku mungkin akan patah jika menebas mereka."

​"Memang. Elemen angin tidak berguna melawan zirah padat seperti itu," Do-Yoon memutar pedang bayangannya dengan santai. "Tetaplah di tempatmu dan lindungi adikmu dari puing-puing. Biarkan aku yang membereskan rongsokan kuno ini."

​WUSSSHHH!

​Keempat Ksatria Perunggu itu melesat maju secara bersamaan. Terlepas dari tubuh mereka yang besar dan terbuat dari logam, kecepatan mereka melampaui Serigala Besi yang mereka temui di jalanan. Empat bilah tombak kapak raksasa menebas dari empat arah mata angin yang berbeda, menjebak Do-Yoon di tengah-tengah jaring kematian yang tak bisa dihindari.

​"Teknik yang terkoordinasi dengan baik," puji Do-Yoon dingin. "Sayang sekali, kalian terlalu lambat."

​"Keahlian: Langkah Petir Hitam."

​JDAR!

​Ledakan petir hitam menyambar lantai pualam. Sosok Do-Yoon menghilang dari titik asalnya hanya dalam sepersekian detik sebelum keempat tombak kapak itu beradu di tempat ia berdiri sebelumnya. Benturan senjata logam raksasa itu memicu percikan api dan menghancurkan lantai museum hingga berlubang.

​Do-Yoon muncul tepat di udara, lima meter di atas kepala Ksatria Perunggu yang berada di sebelah utara.

​Ia memegang Bilah Penebas Malam dengan kedua tangannya, mengarahkan mata pisaunya ke bawah. Atribut Penembus Zirah absolut 30% yang didapatkannya dari batu asah epik semalam berpendar terang. Dikombinasikan dengan energi Kehampaan murni, pedang itu menjadi senjata paling mematikan di tahap awal kiamat ini.

​Menambahkan seluruh bobot tubuhnya dan gaya gravitasi, Do-Yoon menghujamkan pedangnya lurus ke ubun-ubun helm perunggu patung tersebut.

​CRASHH!

​Tidak ada suara logam berbenturan. Yang terdengar hanyalah suara koyakan yang sangat halus, layaknya memotong selembar sutra. Pedang hitam itu menembus kepala perunggu sang Ksatria, membelah dada hingga perutnya dalam satu garis lurus yang sempurna.

​Saat Do-Yoon mendarat di lantai, Ksatria Perunggu pertama itu terbelah menjadi dua bagian simetris, ambruk ke kiri dan kanan dengan suara dentuman keras. Sisa-sisa energi sihir merah menguap dari belahan tubuhnya.

​[Anda telah menghancurkan Ksatria Perunggu Terakota (Tingkat C).]

[Tingkat Anda telah naik!]

​Tiga patung tersisa memutar tubuh kaku mereka, api merah di mata mereka berkobar semakin terang menandakan kemarahan sistematis. Mereka mengayunkan tombak kapak mereka secara mendatar, menciptakan badai angin yang menghancurkan etalase kaca di sekeliling aula.

​Do-Yoon mendengus pelan. Ia menunduk untuk menghindari sabetan pertama, melompat melewati sabetan kedua, lalu menjejakkan kakinya ke atas tiang tombak kapak Ksatria ketiga yang sedang mengayun.

​Menggunakan senjata lawannya sebagai pijakan, Do-Yoon berlari ke atas lengan perunggu raksasa itu. Ksatria itu mencoba menepis Do-Yoon dengan tangan kosongnya, namun kelincahan Do-Yoon jauh di atas akal sehat.

​Dalam satu putaran anggun, Do-Yoon menebas leher patung tersebut. Kepala perunggu seberat ratusan kilogram terlempar ke udara, berguling menghantam dinding museum.

​"Dua tersisa," bisik Do-Yoon saat ia melompat turun dengan gaya akrobatik.

​Melihat pertunjukan pembantaian sepihak itu, Jendela Sistem di atas langit kembali dibanjiri notifikasi.

​[Rasi Bintang 'Dewa Tombak Api' terdiam seribu bahasa!]

[Rasi Bintang 'Raja Serigala Pemakan Bangkai' melolong histeris dalam kekaguman absolut! Ia menyumbangkan 10.000 Koin Emas!]

[Rasi Bintang 'Dewa Perang Tanpa Nama' tersenyum lebar. Ia mengakui keterampilan bertarung Anda.]

​"Menyumbang 10.000 Koin hanya untuk menonton pertunjukan gratis?" Do-Yoon tertawa sinis, menepis debu logam dari jasnya. "Kurasa para dewa mulai bosan dengan mainan mereka yang lain."

​Ia menatap dua Ksatria Perunggu terakhir yang kini mengambil sikap bertahan, seolah kecerdasan buatan mereka menyadari bahwa manusia di hadapan mereka adalah monster yang sesungguhnya.

​"Mari kita akhiri ini," ucap Do-Yoon, mengumpulkan seluruh energi bayangan ke dalam bilah pedangnya hingga senjata itu membesar dua kali lipat, memancarkan aura kematian yang membuat udara di dalam museum membeku. "Waktuku terlalu berharga untuk dibuang bersama barang rongsokan."

1
Alia Chans
Hadir kak 💪


jangan lupa hadir juga 😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!