NovelToon NovelToon
Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

Hendra Wijaya bertahan empat tahun di neraka beku pasca-kiamat, hingga orang terdekat meracuninya. Ia terlahir kembali tiga bulan sebelum bencana—kini hafal jadwal gelombang panas, banjir, dan badai −50°C.

Kali ini ia bersiap di bunker mewah, sambil menyaksikan dunia saling bunuh. Cincin tembaganya mampu menyimpan kapal tanker, mengawetkan makanan, dan naik level via Lima Unsur. Ia borong logistik, bangun benteng, dan balas dendam pada perampas perusahaan serta pembunuh orang tuanya.
Namun kiamat ini bukan alamiah—ada konspirasi, Bestia, dan ras kuno dari Antartika. Hendra menjelma jadi senjata pamungkas umat manusia.

Pertanyaan: apa sebenarnya cincin itu, dan sejauh mana ia bisa naik—hingga jadi penguasa dunia baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 001: Tanda Tangan Sebelum Kiamat

"Tanda tangani."

Suara Om Rusli Wijaya terdengar lembut, tetapi map hitam yang ia dorong ke depan Hendra seperti pisau di atas meja rapat.

Di dalam map itu ada dokumen pengalihan wewenang operasional PT Wijaya Sentosa.

Satu tanda tangan, dan Hendra akan berubah dari ahli waris menjadi pajangan.

Tiga bulan lagi, orang-orang di ruangan ini akan mengais makanan basi dengan tangan gemetar.

Pagi ini, mereka masih merasa sedang menang.

Hendra menatap pulpen perak di atas kertas.

Ujung pulpen itu menunjuk ke garis kosong di bawah namanya.

Hendra Wijaya.

Nama yang dulu ia tulis dengan tangan bergetar.

Di kehidupan lalu, ia marah. Ia membanting meja. Ia berteriak bahwa Om Rusli mencuri kuasa keluarga, bahwa Handoko bukan penyelamat perusahaan, bahwa kecelakaan ayah dan ibunya terlalu bersih untuk disebut musibah.

Hasilnya?

Ruang rapat menertawakannya.

Dokter perusahaan menyebutnya stres.

Media menyebutnya ahli waris muda yang tidak stabil.

Lalu satu per satu, saham, vila, rekening, dan nama keluarganya jatuh ke tangan orang lain.

Setelah itu dunia runtuh.

Panas ekstrem membakar Jakarta. Hujan besar menelan jalan-jalan pesisir. Lalu badai putih datang, menutup langit, membekukan kota, gudang, mayat, dan hati manusia.

Empat tahun Hendra bertahan.

Empat tahun ia menimbun makanan, merebut obat, menjaga api kecil di bunker, dan tidur dengan pisau di dekat tangan.

Ia tidak mati karena dingin.

Ia mati karena percaya.

Di lantai beton suaka penyintas, racun membakar tenggorokannya. Orang-orang yang ia selamatkan membongkar gudangnya, mengambil stok terakhirnya, lalu menutup pintu dari luar.

Sebelum napasnya putus, ia mendengar seseorang berkata, "Maaf, Bang. Dunia sudah berubah."

Lalu Hendra membuka mata di ruang rapat ini.

Tiga bulan sebelum kiamat.

Sebelum semua pengkhianat punya alasan untuk membuka taring.

Sebelum setiap rupiah di dunia lama berubah menjadi kertas sampah.

"Pak Hendra?" Sekretaris rapat menunduk canggung. "Dokumennya sudah ditandai. Bapak tinggal tanda tangan di tiga halaman."

Beberapa komisaris saling pandang.

Salah satu pria berjas abu-abu mendengus. "Kalau keputusan sekecil ini saja lama, bagaimana mau memegang perusahaan sebesar Wijaya Sentosa?"

Tawa kecil menyebar.

Handoko duduk di samping Om Rusli. Jasnya rapi, cangkir kopinya belum tersentuh, senyumnya sabar seperti orang tua yang sedang menghadapi anak keras kepala.

"Hendra," kata Handoko, "ini bukan perebutan. Ini perlindungan. Ayahmu pasti ingin perusahaan tetap stabil."

Nama ayahnya keluar dari mulut Handoko.

Ruang rapat terasa lebih dingin.

Jari Hendra berhenti di atas pulpen.

Kalau ini kehidupan lalu, ia sudah berdiri dan menghantam wajah pria itu.

Tapi kali ini, ia hanya mengangkat mata.

"Perlindungan?" tanya Hendra.

Om Rusli segera tersenyum. "Ya. Sementara saja. Om tetap keluargamu. Kau masih muda. Biarkan orang yang berpengalaman mengurus bagian beratnya."

"Bagian berat," ulang Hendra pelan.

Ia melihat tangan Om Rusli.

Tangan itu pernah menepuk bahunya di pemakaman.

Tangan itu pernah memeluknya di depan kamera.

Tangan itu juga yang, di kehidupan lalu, menyerahkan dokumen palsu ke notaris dan membuatnya terusir dari perusahaan ayahnya sendiri.

Kebencian naik dari dada Hendra.

Tebal. Panas. Hampir membuat napasnya berat.

Namun tepat saat amarah itu menyentuh tenggorokan, cincin tembaga di jari manis kanannya terasa dingin.

Hendra menunduk sedikit.

Cincin pusaka keluarga Wijaya.

Kusam. Tua. Tidak berharga di mata orang lain.

Tapi dalam kehidupan lalu, benda inilah yang membuatnya bertahan lebih lama daripada manusia biasa.

Ruang Penyimpanan.

Ruang gelap tanpa waktu. Makanan tetap panas. Obat tidak rusak. BBM tidak menguap. Selama benda itu mati, ia bisa disimpan di sana.

Di akhir kehidupan lalu, ruang itu sudah cukup besar untuk menelan truk dan kontainer.

Kalau cincin ini ikut kembali...

Mata Hendra perlahan menjadi tenang.

Om Rusli salah membaca ketenangan itu sebagai menyerah.

"Bagus," katanya cepat. "Tanda tangani sekarang. Setelah itu kita lanjutkan proses notaris dan RUPS."

Hendra mengambil pulpen.

Semua orang menunggu.

Ujung pulpen menyentuh kertas.

Lalu berhenti.

"Saya ke toilet sebentar."

Wajah Om Rusli membeku sekejap. "Sekarang?"

"Sekarang."

Handoko menatapnya lebih tajam. "Jangan terlalu lama, Pak Hendra. Semua orang punya jadwal."

Hendra meletakkan pulpen kembali di atas dokumen.

"Kalau hanya menunggu tanda tangan saya," katanya, "Anda semua pasti sanggup menunggu beberapa menit."

Suaranya pelan, namun ruang rapat mendadak sunyi.

Hendra berdiri dan berjalan keluar.

Di belakangnya, seseorang berbisik, "Anak itu mulai berlagak."

Hendra hampir tersenyum.

Berlagak?

Tidak.

Ia baru saja berhenti menjadi mangsa.

Toilet eksekutif kosong.

Begitu pintu terkunci, Hendra membuka keran, lalu menatap wajahnya di cermin.

Wajah itu masih muda. Belum ada bekas luka di pelipis. Belum ada mata merah karena kurang tidur berbulan-bulan. Belum ada bau asap, darah, dan salju busuk yang menempel di kulit.

Tapi mata itu sudah pernah melihat manusia memakan harapannya sendiri.

"Kali ini," bisik Hendra, "aku yang memilih siapa yang hidup nyaman."

Ia masuk ke bilik paling ujung.

Pintu terkunci.

Hendra mengangkat tangan kanan.

Cincin tembaga itu tetap diam.

Ia menggigit ujung telunjuk.

Rasa sakit menusuk. Darah keluar.

Setetes darah jatuh ke cincin.

Satu detik.

Dua detik.

Ukiran tua di permukaan cincin menyala seperti garis emas yang baru bangun dari tidur panjang.

Napas Hendra berhenti.

Kesadarannya jatuh ke dalam gelap.

Kosong.

Luas.

Sunyi.

Ruang Penyimpanan.

Belum besar. Jauh lebih kecil daripada yang ia miliki sebelum mati.

Tapi cukup.

Lebih dari cukup.

Hendra menatap tempat sampah logam kecil di sudut bilik.

Dalam satu niat, benda itu lenyap.

Di dalam kesadarannya, tempat sampah itu berdiri diam di ruang gelap, utuh seperti saat lenyap.

Hendra mengeluarkannya lagi.

Tempat sampah muncul di lantai dengan bunyi pelan.

Terakhir, ia menekan telapak tangan ke dada sendiri dan memerintahkan tubuhnya masuk.

Tidak ada reaksi.

Aturan lama tetap sama.

Makhluk hidup tidak bisa masuk.

Hendra menutup mata.

Untuk pertama kalinya sejak terbangun, ia tertawa pelan, seperti orang yang baru menemukan kunci gudang senjata saat musuh masih sibuk menghitung uang receh.

Tiga bulan.

Dalam tiga bulan, ia bisa mencairkan aset, menjual saham, membeli pangan, obat, bahan bakar, generator, baja, kendaraan, senjata, dan membangun bunker yang tidak akan terbuka hanya karena seseorang menangis di depan pintunya.

Dalam tiga bulan, ia bisa membuat Om Rusli dan Handoko membantunya tanpa sadar.

Dokumen di ruang rapat itu memang ingin mengambil kuasanya.

Tapi kuasa dunia lama tidak ada artinya saat langit berubah putih.

Yang ia butuhkan sekarang bukan jabatan.

Ia butuh uang cepat.

Ia butuh mereka percaya bahwa ia kalah.

Semakin mereka serakah, semakin cepat mereka membuka jalan baginya.

Hendra membasuh darah di jarinya. Air mengalir merah tipis, lalu hilang ke saluran.

Di cermin, cincin itu kembali kusam.

Seperti benda tua biasa.

Seperti Hendra yang akan kembali ke ruang rapat sebagai pemuda yang tampak tunduk.

Ia mengeringkan tangan.

Lalu ponselnya bergetar.

Notifikasi berita muncul di layar.

Gelombang panas ekstrem diprediksi melanda beberapa kota besar dalam beberapa pekan ke depan, kata judul itu.

Hendra menatap kalimat tersebut.

Di kehidupan lalu, berita kecil seperti ini lewat begitu saja. Orang-orang mengeluh, membeli minuman dingin, lalu lupa.

Kali ini, bagi Hendra, itu bukan berita.

Itu hitungan mundur.

Ia memasukkan ponsel ke saku, membuka pintu toilet, dan berjalan kembali menuju ruang rapat.

Map hitam masih di sana.

Om Rusli masih menunggu.

Handoko masih tersenyum.

Mereka mengira tanda tangan Hendra akan mengakhiri perlawanan.

Hendra mengambil pulpen.

Kali ini tangannya tidak gemetar.

Setiap goresan namanya akan menjadi umpan.

Setiap rupiah yang mereka dorong keluar dari tangannya akan berubah menjadi persediaan.

Dan ketika badai putih turun, orang-orang yang hari ini menyuruhnya menyerah akan berdiri di luar pintu bunkernya.

Hendra menunduk ke dokumen, lalu berkata dengan suara tenang, "Baik. Saya tanda tangan."

Mereka tidak tahu, tanda tangan yang mereka tunggu adalah langkah pertama Hendra untuk membeli masa depan sebelum dunia sadar bahwa masa depan itu sudah dijual.

1
Alia Chans
Hadir ni... semangat nulis nya😉/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!