Acara terus berlangsung, Acara berbalas pantun, tari-tarian, nyanyian, dan pencak silat, semua pangeran dan putri bangsawan dari kerajaan Swarnabumi berlomba-lomba menunjukkan bakat mereka, dalam acara seperti inilah banyak yang bertemu jodoh.
Suri hanya diam hingga acara selesai, hanya menjawab jika ditanya, selebihnya hanya diam, menatap kosong ke panggung, menonton persembahan demi persembahan yang tidak menarik hatinya.
Acara selesai, keluarga Panglima Hang Tuah melepas kepulangan keluarga Raja Swarnabumi hingga ke pintu gerbang kediamannya.
Suri pamit pada ayahandanya untuk beristirahat, sebenarnya Panglima masih ingin berbincang dengan putrinya, tapi ia urungkan melihat suri yang sangat kelelahan.
"Sebaiknya besok saja kubicarakan, kasihan Suri sepertinya sangat kelelahan" bisik hati panglima.panglima mengangguk mengizinkan Suri untuk beristirahat.
Suri melangkah menuju paviliunnya, Suri melangkah tergesa gesa ingin segera tiba di paviliunnya, kasihan dayang Melati jadi berlari lari kecil mengikuti langkah junjungannya.
Sesampai di Paviliun, Melati membantu Suri untuk melepaskan riasannya, membersihkan diri, dan menyiapkan pakaian tidur untuk Suri.
Suri terus memperhatikan Melati, Melati yang tahu junjungannya hanya menunduk, "apa ada yang tidak kau katakan padaku Melati?" tanya Suri, Melati yang ditanya terkejut hingga menjatuhkan pakaian Suri yang baru diambilnya dari lemari.
"mlMati aku" bisik Melati dalam hati. "ti..tidak ada.. Putri" Melati menjawab gugup. "Beginikah seorang sahabat Melati" Suri menatap tajam pada Melati, Melati tak sanggup menatap Suri, "tatap aku Melati" Suri berkata lagi pada Melati, kali ini dengan suara lebih keras.
Melati mulai menangis dan akhirnya bersimpuh di kaki Suri, ampun tuanku, maafkan hamba tuanku, hamba tidak berani melawan perintah Tuanku Panglima, Melati menangis tersedu sedu.
"Meskipun itu harus mengorbankan kebahagiaanku Melati?" Suri berkata lirih terdengar giginya gemeretuk menahan marah.
"Panglima mengancam hamba tuanku, jika hamba memberi tahu putri, maka hamba beserta seluruh keluarga hamba, akan dihukum putri".
Melati menjawab sambil menangis, "Tega kau Melati, jerit Suri, kau tau aku tidak pernah menyukai Putra Mahkota!"
"Maafkan hamba tuanku, berfikirlah secara jernih tuanku, bagaimana nasib panglima jika menolak lamaran Putra Mahkota?" Seketika Suri terdiam.
Sunyi, hanya isak tangis keduanya yang sesekali masih terdengar. Suri tak ingin menikah dengan putra mahkota yang tidak dicintainya.
Suri terus menangis hingga tanpa sadar Suri tertidur karena lelah menangis.
Suara kokok ayam pagi tak mampu membangunkan Suri, Melati yang menunggu dipanggil di depan pintu tak berani membangunkan junjungannya.
"Kenapa putri belum bangun, tak biasanya putri begini" Melati berkata dalam hati. Saat matahari makin meninggi Suri tak juga kunjung bangun.
Melati makin cemas, akhirnya melapor pada Panglima Hang Tuah yang telah menunggu Suri untuk berlatih pagi itu.
"Ampun tuanku, Putri belum bangun, lapor Melati pada panglima. "Apa yang terjadi Melati?" panglima bertanya pada Melati, "Ampun tuanku, hamba tidak tahu" Melati menunduk.
"Hmmm baiklah, panggil pengawal, dobrak saja pintunya, nanti beta menyusul" Perintah Panglima Hang Tuah "menjunjung titah tuanku" Melati segera berundur setelah memberi hormat.
Pengawal datang dan mendobrak pintu utama Paviliun Suri. Melati melihat Suri tergeletak di lantai, langsung menjerit mendekati Suri.
"Tuanku.. apa yang terjadi tuanku" Melati menangis tak tega melihat Suri yang tergeletak tak berdaya. Panglima yang mendengar Melati berteriak segera berlari ke Paviliun Suri.
"Suri, suri anakku, cepat panggil tabib" Panglima memerintahkan pengawal memanggil tabib, dan memindahkan tubuh Suri ke atas peraduannya.
Melati bergegas ke dapur mengambil air dan kain untuk mengompres tubuh Suri yang panas sekali, Suri mengigil kedinginan padahal tubuhnya sangat panas sekali.
Tabib segera datang memeriksa tubuh Suri, "Bagaimana tabib, apa yang terjadi pada putriku?" Panglima bertanya dengan tidak sabar.
"Jangan khawatir panglima putri tidak apa apa, hanya demam biasa, tubuhnya tak kuat mendengar kabar yang mengejutkan sehingga dia demam" tabib menjelaskan.
"Hamba akan memberinya obat, sehari dua nanti dia pasti sudah sembuh" Tabib berkata lagi menenangkan Panglima yang terlihat sangat khawatir pada putri satu-satunya itu, "Terima kasih tabib" panglima tersenyum lega.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments