Sementara itu tanpa Suri sadari sepasang mata terus menatapnya tak berkedip dibalik tirai yang memisahkan ruang tidur dan ruang mandi, nafasnya memburu, jantungnya berdetak lebih cepat seperti genderang perang yang ditabuh begitu kencang.
Dialah Pangeran Indra Buana, saat dia ingin masuk menemui Dayang Suri langkahnya terhenti, melihat pemandangan yang seharusnya tak dilihatnya.
Para dayang sedang melepaskan pakaian Suri, Pangeran Indra tercekat, hatinya bimbang ingin melangkah mundur tapi pemandangan dihadapannya sangat sayang untuk dilewatkan melangkah maju juga tidak mungkin.
Dayang Suri pasti tak akan mengampuninya, akhirnya Pangeran Indra hanya berdiri mematung menyaksikan Suri mandi di bantu dayang dayangnya. Saat Suri dan dayang melewati tempat persembunyiannya Pangeran Indra menahan nafas dan memejamkan mata, setelah mereka berlalu barulah ia merasa lega, masih tertinggal harum dari tubuh Suri, aroma mawar yg sangat disukai Pangeran Indra.
Pangeran terus memperhatikan Suri, hingga selesai berpakaian kembali, sangat cantik bisik pangeran dalam hati, saat Dayang Melati hendak keluar dari Paviliun dia baru menyadari ada seseorang dibalik tirai.
Melati menyingkap tirai dan Pangeran Indra dengan sigap langsung mendekap mulut Melati, memberinya isyarat agar diam, Melati pun mengangguk faham dan segera berlalu dengan hati yang berkecamuk.
"sejak kapan pangeran disitu? apakah dia melihat putri tadi?" Melati tersenyum licik, dan wajahnya memerah memikirkan putra mahkota kerajaannya yang tertangkap basah mengintip, "Ternyata bukan hanya lelaki biasa yang suka mengintip perempuan mandi, pangeranpun suka mengintip", Melati terkikik geli.
Suri merebahkan tubuhnya terasa sangat nyaman bantalnya lembut dan wangi mawar yang terbawa angin makin membuat nyaman, angin sepoi sepoi dari jendela paviliun yang terbuka lebar membuat Suri mengantuk.
Tak lama berselang Suri terlelap, Pangeran Indra Buana segera keluar dari persembunyiannya, bergegas menuju paviliunnya, pengawal yang berjaga di depan paviliun yang sedang mengantuk langsung sigap membuka pintu melihat kedatangan pangeran yang tergesa gesa.
"perintahkan dayang Mirah segera menyiapkan air untukku mandi, aku kegerahan" perintah pangeran "menjunjung titah pangeran", pengawal membungkuk hormat, sambil berjalan memanggil dayang Mirah.
Pengawal bergumam bingung, "gerah? padahal cuaca sedang tidak panas? aneh sekali" pengawal itu menggeleng-geleng tidak mengerti.
Selesai dayang Mirah menyiapkan air untuk mandi, pangeran memerintahkannya untuk keluar, "kali ini aku mandi sendiri,tak usah dilayani, pergilah". "Menjunjung titah pangeran" dayang Mirah melangkah mundur, sambil bertanya-tanya dalam hati "Ada apa dengan pangeran, kenapa bertingkah aneh biasa mandi dilayani tak pernah mandi sendiri, ah sudahlah kenapa harus memikirnya", Mirah segera meninggalkan Paviliun Pangeran Indra.
Sepeninggal Mirah pangeran segera mandi, melepaskan gerah di tubuhnya yang bergejolak, ada sesuatu di bawah sana yang membutuhkan penyelesaian, tubuh Suri yang tanpa busana masih terlihat jelas dimatanya.
Selesai mandi pangeran tersenyum puas, lega lepas dari siksaan, senyum mengembang diwajahnya, "Suri Kekasihku kau akan segera jadi milikku seutuhnya" bisiknya.
Selesai berpakaian pangeran kembali ke Paviliun Mawar Putih, dilihatnya Suri masih terlelap, senyum bahagia terpancar di wajahnya, pangeran tak kuasa menahan diri, membelai rambut Suri mencium rambutnya yang wangi, menyentuh wajah Suri, hidungnya matanya, bibirnya, pangeran mencium kening Suri, berpindah ke matanya, hidungnya, saat hendak menyentuh bibirnya Suri terjaga.
"Pangeran!! apa yang kau lakukan, lancang sekali, kenapa pangeran ada disini, masuk tanpa izin, sungguh tidak sopan" Suri terus mengomel tanpa henti, Pangeran Indra hanya tersenyum melihat tingkah Suri bukannya takut tapi malah membuatnya makin gemas,.
Melihat bibir Suri yang terus saja mengomel, pangeran sigap memeluk Suri dan mencium bibirnya , Suri melotot terdiam kaku tak menyangka akan mendapat serangan mendadak.
"Pangeran kau" Suri geram giginya menggeretuk, rahangnya menegang menahan marah, Pangeran Indra hanya tersenyum, meledek Suri, "marah" kalau kau marah makin cantik, membuatku makin ingin ******* bibirmu.
Reflek Suri menutup mulut dengan kedua tangannya, melihat itu Pangeran Indra tertawa makin keras, hingga harus memegangi perutnya menahan sakit karena geli melihat tingkah Suri yang takut dicium lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
Bang Regar
semangat berkarya, sering-sering promosi agar pembacanya nambah 👍👍👍
2021-05-27
0