Saat pangeran Indra membuka matanya dia sudah tiba di gerbang Istana Buana, Pengawal yang berjaga bergegas mendatangi pangeran, dan memegang pelana kudanya.
Pangeran turun dan segera masuk ke istana, langsung menuju paviliunnya, paviliun Elang, pavilun yang mencerminkan penghuninya yang gagah perkasa, seluruh dinding di cat coklat, semua perabot juga berwarna coklat, dengan ornamen dan pohon pohon yang rindang disekeliling paviliun sangat teduh dan nyaman.
Dindingnya dihiasi kepala kijang, rusa, gading gajah, dan burung2 yang di awetkan hasil buruan pangeran Indra.
Pangeran segera masuk ke pavaliun, dan segera memerintahkan dayang Kenanga dan dayang Juita untuk menyiapkan air hangat untuknya, hari yang sangat melelahkan pangeran ingin berendam untuk melepas penatnya.
Karena terlalu lelah pangeran tertidur saat berendam, pangeran terbangun saat hawa dingin mulai merasuki tubuhnya, "Ah dinginnya, ternyata aku tertidur hingga air mandiku yang hangat sudah berubah sedingin es".
Pangeran bergegas keluar dan mengeringkan tubuh di kamar, dan segera berpakaian, pangeran memanggil dayang Kenanga "Kenanga siapkan makan untukku, aku lapar sekali, sejak tadi aku belum makan".
"Menjunjung titah pangeran" dayang Kenanga menunduk hormat dan segera berundur menyiapkan makanan untuk pangeran.
Tak lama kemudian dayang Kenanga datang bersama 3 orang dayang lainnya, membawa makanan untuk pangeran Indra, Pangeran makan dengan lahap, terlihat sekali dia sangat lapar karena tadi siang setelah insiden dijamuan makan dia tidak sempat makan apapun.
Setelah makan pangeran Indra berjalan jalan mengelilingi taman di paviliunnya, memberi makan ikan-ikan di kolam peliharaannya, sambil memperhatikan para pengawal yang sedang berjaga.
Malam pertama sejak berpisah dengan Suri, pangeran Indra sangat gelisah bermacam andaian berkecamuk di difikirannya, "bagaimana kalau Suri menolakku? bagaimana jika dia membenciku? bagaimana jika Suri telah dijodohkan? accggghhhh.... kalau begini kepalaku bisa pecah.
Pangeran menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal, "aku harus mengirim telik sandi untuk mencari tahu".
"Pengawal perintahkan Angin Bayu untuk menghadap, ke paviliunku" Pangeran Indra memerintahkan pengawal yang berjaga di pintu belakang paviliunnya untuk memanggil Angin Bayu telik sandi kerajaan yang sangat handal.
(telik sandi \= mata mata kerajaan)
"Menjunjung titah pangeran" pengawal segera membungkuk hormat dan berjalan mundur, segera berlalu memanggil Angin Bayu di kediaman khusus para telik sandi di bagian barat istana Buana.
30 menit kemudian terdengar langkah langkah kaki mendekat dengan cepat Angin Bayu dan pengawal sudah tiba di hadapan pangeran "Sembah hamba pangeran, siap melaksanakan tugas" Angin Bayu memberi hormat.
"Aku ingin kamu pergi istana Swarnabumi, perhatikan setiap gerak gerik putri Dayang Suri, laporkan semua padaku" "menjunjung titah pangeran" Angin Bayu segera berundur dan memberi hormat.
Tidak bertanya apapun pada pangeran karena dia tahu sifat pangeran yang tidak suka jika bawahannya banyak bertanya sebagai telik sandi kerajaan harus pintar memahami tugas yang di emban, pintar menyusun strategi dan tinggi pula ilmu kanuragannya.
Angin Bayu segera mempersiapkan diri di kamarnya, dan mulutnya komat kamit merafal mantra dan sesaat kemudian tubuhnya menghilang, dan muncul kembali di kerajaan Swarnabumi, Angin Bayu berteleportasi, dan langsung mencari kediaman Suri.
Sementara itu di kediamannya, Suri baru saja selesai mandi. Suri termenung di depan kaca dia hanya duduk diam sementara dayang setianya Melati mengeringkan rambutnya yang basah, Melati memperhatikan saja tingkah tuan putrinya yang aneh.
"Aneh tak biasa Putri diam seperti ini, biasanya dia sangat ceria dan cerewet" Melati berkata dalam hati. Hingga selesai Melati menata rambut dan meriasnya Suri masih saja tak bergeming.
"Sudah selesai putri" Melati memecahkan lamunan Suri, terima kasih Melati kau boleh pergi, "katakan pada ayahanda aku lelah sekali rasanya aku ingin langsung beristirahat".
Suri memerintah Melati untuk segera meninggalkannya, "Maaf putri, tadi Panglima berpesan supaya putri segera turun ke ruang makan, Putra mahkota datang berkunjung" Melati menjelaskan sambil menunduk, dalam hati Melati berkata maafkan, maafkan hamba putri.
"hmmmm, baiklah, aku segera kesana", Suri mendesah pelan, mengambil selendang warna senada yang disiapkan Melati, menyampirkan dibahu dan berputar di depan cermin memastikan dandannya sudah rapi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments