Putri Dayang Suri terus memimpikan hal yang sama tiap kali ia memejamkan mata, putri sudah tak kuat lagi, hatinya resah dan gelisah, tidurnya tak lena, makan tak kenyang, apapun yang dilakukannya selalu teringat akan mimpinya.
akhirnya di hari ke tujuh Putri Dayang Suri memutuskan untuk pergi ke perbatasan menemui pangeran Indra Buana.
Putri memacu kudanya dengan kencang hingga tiba di hutan larangan, putri terus memacu kudanya tanpa henti dan tanpa ia sadari sudah tiba di gerbang istana Buana Gemilang.
Putri sangat takjub melihat istana Buana Gemilang yang sangat indah, istana yang sangat megah Dayang Suri berdecak kagum, belum pernah dia melihat istana seindah ini.
Gerbang istana di sangga 8 pilar utama, dan menara pengintai yg menjulang tinggi di setiap sudutnya semua bernuansa putih, dinding istana terbuat dari marmer putih, dihiasi pilar pilar yang memantulkan cahaya berwarna warni dari batu batu permata yang tertanam disana, ada merah delima, zamrud, dan yakut.
Semuanya tak ternilai harganya, jendela jendela yang menjulang tinggi, dihiasi tirai-tirai sutra putih bersulam benang emas yang makin menambah kesan mewah istana Buana Gemilang.
Belum hilang rasa kagum putri seorang pengawal datang menuntun kudanya hingga ke pintu utama istana, putri turun dari kudanya seraya masih terkagum kagum dengan keindahan istana.
Tiba-tiba Suri merasa bahunya disentuh seseorang, Putri langsung berpaling dan dilihatnya Permaisuri Intan Buana sedang tersenyum padanya, sangat cantik dan anggun dengan baju kebesarannya yang berwarna kuning muda dihiasi renda emas berhias batu permata di seluruh gaunnya, lengkap dengan mahkota bertakhtakan berlian yang berkilauan makin melengkapi keanggunan permaisuri.
Sesaat putri Dayang Suri terpegun karena kecantikan permaisuri Intan Buana kemudian tersadar dan langsung menghatur sembah "Ibunda Permaisuri" ucap Suri sambil tertunduk malu.
"Bangunlah anakku, kami sudah lama menunggumu" Permaisuri Intan Buana menyentuh bahu Dayang Suri, menuntunnya berdiri, mereka masuk ke istana diiringi 7 orang dayang dayang pendamping permaisuri.
Permaisuri membawa Dayang Suri menuju sebuah sebuah paviliun yang sangat indah, paviliun itu di kelilingi taman yang penuh dengan mawar putih, seluruh perabotannya berwarna putih, di atas peraduannya bertaburan kelopak mawar putih, di lantai terhampar karpet bulu binatang berwarna putih yang sangat lembut saat dipijak.
Putri sangat takjub, tak berhenti disitu mereka terus melangkah ke taman belakang paviliun, disana putri tak sanggup lagi menahan rasa takjubnya karena taman itu persis seperti mimpi mimpinya.
Taman yang penuh mawar putih dengan gazebo putih di tengah tamannya, "astaga...." putri menutup mulutnya tak mampu lagi menyimpan rasa terkejutnya, Permaisuri Intan Buana hanya tersenyum melihat Suri yang masih bingung karena terkejut.
Permaisuri tahu bahwa anandanya Pangeran Indra Buana telah menemui Suri dalam mimpinya, hal biasa bagi anggota kerajaan Buana Gemilang untuk melakukannya, mereka juga bisa melakukan telepati dan membaca fikiran orang.
Oleh karena itu tak ada yang bisa berbohong di kerajaan Buana Gemilang, berbohong sama saja dengan mengantar nyawa. "Ananda Putri silahkan beristirahat dahulu, ananda pasti lelah setelah perjalanan jauh" suara lemah lembut Permaisuri memecahkan lamunan Suri.
"Terima kasih ibunda Ratu" Suri menunduk hormat, "Dahlia, Melati, siapkan segala kebutuhan putri, layani tamu kita dengan baik".
Permaisuri pergi meninggalkan Dayang Suri yang masih bingung dengan apa yang terjadi semua di luar nalar sungguh tak masuk akal bisik suri dalam hati.
Suri menatap dayang-dayang yang duduk bersimpuh di lantai, "Siapa nama kalian?" tanya Suri, "hamba Dahlia putri" jawab dayang dengan baju berwarna merah muda, "hamba Melati putri" jawab dayang dengan baju berwarna putih.
"Baiklah aku lelah sekali ingin mandi dan istirahat sebentar", Suri berbicara sambil duduk di depan cermin. "baik putri" kedua dayang menjawab serentak, sambil berdiri ingin membantu Suri membuka pakaiannya.
Suri terkejut, "Hei apa yang kalian lakukan?" Suri menepis tangan Melati yang ingin membuka bajunya, wajah Suri memerah menahan malu dan marah karena Melati ingin membuka pakaiannya,
"Maafkan kami putri, kami hanya ingin membantu putri, kami hanya menjalankan perintah, jika ada keluhan dari putri maka kami akan dihukum mati".
Suri sangat terkejut, dan diam saja saat Dahlia dan Melati melucuti pakaiannya satu persatu, dan menggantinya dengan kemban untuk mandi, wajah Suri memerah menahan malu, karena dikediamannya dia tak mengizinkan dayang untuk membantunya mandi.
Suri biasa melakukannya sendiri, kecuali mandi dan berdandan untuk acara khusus, Suri menyerahkan dirinya dilayani para dayang.
Suri tak ingin membantah, teringat juga pepatah lama dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung, bukankah dia harus menghormati kebiasaan di tempat ini, lagipula dia takkan tega kedua dayang dihukum mati karena kesalahannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
Andi Nurfiana
Jangan dibilang demit dong kesannya kayak setan atau juriq gitu, serem, kan mereka ngga ada berubah berubah wajah jadi serem, Saya menyebutnya makhluk halus, kalo di daerah saya sih disebut makhluk bunian.
2022-10-15
0
🌹*sekar*🌹
🤔apkah kerajaan Indra Buana ini kerajaan demit thor..😁
tnya thor🤭🙏
2022-10-13
1
Rini
semangat terus
2021-12-06
0