Dari kejauhan sudah terlihat cahaya obor dari rumah kediamannya, Dayang Suri memecut kudanya agar berlari makin cepat dia sudah sangat lelah ingin buru buru sampai ke rumah untuk beristirahat.
Sesampaina di gerbang pengawal penjaga gerbang berlari menyongsong sang Putri, menarik tali kekang pelana kudanya dan Putri Dayang Suri segera turun lalu memberi perintah pada pengawal untuk membawa rusa buruannya ke juru masak di dapur.
"Pengawal perintahkan juru masak untuk membuat sate, aku ingin makan hasil buruanku malam ini, dan besok pagi buatlah gulai daging rusa, buatkan juga lepat daun, aku ingin sarapan dengan menu itu".
"Baiklah Tuan Putri segera hamba laksakan" pengawal membungkuk tanda hormat sambil berjalan mundur. Putri Dayang Suri bergegas menuju kediamannya, "Suri" Dayang Suri menghentikan langkahnya dan menoleh ke asal suara "Ayahanda" Putri membungkuk hormat.
"Kenapa pulang terlalu larut, tak biasanya ananda pulang selarut ini, ada apa gerangan yang terjadi?" Panglima bertanya dengan cemas pada Dayang Suri. "Tidak ada ayahanda, aku hanya tersesat, tapi ayahanda tak perlu khawatir, ananda sudah selamat kembali" Putri menjawab sambil menunduk.
Dia takut jika ayahnya tahu dia berbohong. Panglima langsung memeluk erat Dayang Suri, sambil berbisik "Ananda tahu kan ayahanda sudah tidak punya siapa siapa lagi selain dirimu, ayahanda tak ingin kehilanganmu, engkaulah harta ayahanda yang paling berharga di dunia ini".
Panglima sangat menyayangi Dayang Suri Putri satu-satunya. "Ya ayahanda, ananda tahu itu, "Ayahanda tidak usah khawatir ananda bisa menjaga diri".
Dalam hati Dayang Suri berkata "maafkan ananda telah berbohong ayahanda, ananda tak ingin ayahanda khawatir, Dayang Suri melepaskan pelukan ayahandanya.
"Maaf ayahanda ananda lelah, mohon izin untuk membersihkan diri, nanti kita makan bersama ya, ananda sudah memerintahkan juru masak untuk membuat sate rusa hasil buruan ananda tadi".
Suri membungkuk mohon izin meninggalkan ayahandanya. "Baiklah anakku, sampai jumpa di ruang makan" jawab Panglima.
Sementara itu di istana Kerajaan Buana Gemilang Pangeran Indra Buana sedang berbaring di peraduannya, termenung menatap langit-langit kamarnya, pangeran seakan akan melihat Putri Dayang Suri sedang tersenyum padanya di langit-langit itu.
Pangeran indra berkata dalam hati, "Suri kau telah mencuri hatiku, kau harus membayarnya dengan cintamu, aku pastikan itu Putri", Pangeran tak dapat memejamkan matanya sepanjang malam dia terus memikirkan Putri Dayang Suri, seandainya bisa ingin rasanya ia terbang ke Kerajaan Swarna Bumi.
Pangeran Indra sangat gelisah, menahan rindu yang teramat sangat pada Putri Dayang Suri, "Ah, kenapa dadaku sesak sekali, apakah ini yang dinamakan rindu? sungguh aku tak kuasa menahan ini, rasanya sakit sekali, aku baru mengenalnya tapi seakan-akan hatiku sudah miliknya, ya dewa tolong lah, beri aku jalan" Pangeran sangat merana, merana karena rindu pada Putri Dayang Suri, besok aku harus mencarinya, aku bisa mati karena rindu kalau tidak bertemu dengannya.
Di kediaman Panglima Hang Tuah, Putri Dayang Suri sedang menikmati makan malam mereka, sate rusa hasil buruan Putri, mereka makan sambil sesekali bersenda gurau.
Panglima Hang Tuah memang berbeda, jika di luar dia bagaikan singa lapar yang siap membunuh siapa saja, tapi bersama putrinya dia seakan pribadi yang berbeda, ayah yang lembut dan bersahabat, mereka seperti dua orang sahabat bukan ayah dan anak.
Mereka makan dengan bahagia, tiba-tiba Uhuk uhuk Putri Dayang Suri tersedak, Panglima dengan sigap menepuk punggung Dayang Suri, dan segera memberinya minum.
"Minumlah nak" Putri Dayang Suri segera meneguk minumannya, "Ah leganya," terima kasih ayah, entah pangeran mana yang menyebut namaku hingga aku tersedak begini" putri tersenyum menatap Ayahandanya.
kemudian mereka tertawa bersama, "Dasar nakal" gumam Panglima, Dia tahu Dayang Suri sedang menggodanya, karena belum ada satupun pangeran maupun putra pejabat tinggi kerajaan yang berkenan di hati putrinya.
Panglima bergumam, "semoga aku bisa menemukan pendamping yang tepat untukmu nak, sebelum aku menutup mata".
"Ayah, aku tak ingin meninggalkan ayah" Suri memeluk ayahnya, perasaan bersalah menggayuti hati Suri.
terima kasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak ya 👍 💖
Lepat daun \= sejenis lontong terbuat dari beras dan santan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
Rini
suka banget makin menarik dan seru
2021-12-06
1
Rini
penulisan juga rapih
2021-12-06
1
Rini
keren banget kak sumpah
2021-12-06
0