Ferdi meminta keluar dari rumah sakit, alasannya ia sudah tidak nyaman terus memikirkan kondisi sang ayah.
Jordan dan Sean pun rasanya sudah cukup lenyeh-lenyeh, dengan mengabaikan pekerjaan mereka selama beberapa hari belakangan.
"Kamu yakin mau pulang?"
Clara datang kebetulan hari itu, dan Ferdi mengungkapkan keinginannya.
"Yakin mbak, dan saya mohon maaf karena mbak udah bayar rumah sakit ini full seminggu. Tapi saya bisanya sampe hari ini doang." ujar Ferdi.
"Ya udah nggak apa-apa, senyaman kamu aja." Clara menyetujui hal tersebut.
"Apa saya harus ganti?" tanya Ferdi lagi.
"Kalau iya, mbak kasih tau aja berapa nominal yang harus saya kasih ke mbak. Nanti pasti saya carikan uangnya."
"Nggak perlu, saya ikhlas koq. Saya terima kasih banyak, udah di tolongin dari mantan suami saya yang nggak bertanggungjawab itu." jawab Clara.
Ferdi diam sejenak.
"Mmm, apa selama saya disini dia masih ganggu mbak?" tanya pemuda itu kemudian.
"Nggak sih." jawab Clara.
"Dia itu nggak ganggu, tapi ghosting dan mangkir dari tanggung jawab terhadap anak-anak." lanjutnya lagi.
"Oh."
Ferdi agak sedikit panjang menarik nafas. Sejatinya ia telah mendengar sebagian isi dari pertengkaran antara wanita itu dan mantan suaminya tempo hari. Namun kini rasa penasaran Ferdi menjadi lebih tinggi, meski ia menahan diri untuk tak terlalu kepo.
"Memangnya saat bercerai, mbak nggak punya perjanjian sama dia?. Tentang bagaimana nafkah dan pembagian waktu untuk anak-anak?" tanya Ferdi.
Clara diam, Ferdi mendadak menjadi tak enak hati.
"Eee, sorry kalau pertanyaan saya menyinggung." ujar pemuda itu.
"Saya nggak bermaksud untuk ikut campur." lanjutnya lagi.
"Oh nggak apa-apa koq." jawab Clara lalu tersenyum pada pemuda itu.
"Dia emang mangkir aja. Sebenernya semua perjanjian sudah di tanda tangani dan disepakati saat sidang perceraian. Tapi ya, namanya juga cowok negri ini."
Clara agak mengecilkan suara di ujung kata-katanya. Takut kalau Ferdi tersinggung, perihal laki-laki di negri ini yang terkesan dipukul rata olehnya.
Namun Ferdi sendiri mengerti jika memang kebanyakan pria di negri ini, suka melepaskan diri dari tanggung jawab nafkah apabila telah bercerai. Kebanyakan menghilang dan tak lagi memberikan hak pada anak.
Baik itu hak untuk bertemu, mendapat kasih sayang, serta uang untuk biaya hidup dan juga sekolah. Padahal anak adalah tanggung jawab seorang ayah.
"Tuntut aja mbak, kalau nggak. Kan perjanjian yang dibuat itu kuat landasan hukumnya."
"Iya sih, harusnya emang saya bertindak seperti itu. Cuma belum aja saya lakukan. Saya masih mau biarin dia seneng-seneng dulu sama istri barunya, ntar baru saya bikin nggak enak." ucap Clara.
"Oh, dia udah nikah lagi?" tanya Ferdi.
"Ya, dari sebulan cerai udah lamaran. Kamu sebagai laki-laki pasti bisa menilai lah, apa yang telah terjadi sebelumnya dengan mereka. Nggak perlu saya cerita panjang lebar."
Ferdi hanya tersenyum tipis, begitupula dengan Clara. Kemudian Ferdi membereskan beberapa barangnya seperti handphone, charger dan lain-lain. Karena sebentar lagi ia akan segera meninggalkan rumah sakit itu.
"Saya antar kamu pulang ya." ujar Clara kemudian.
"Mmm, saya naik kendaraan umum aja mbak. Nggak enak saya ngerepotin." jawab Ferdi.
"Nggak apa-apa koq, sekalian saya jalan pulang." ucap Clara.
Ferdi tak kuasa untuk menolak, sebab wajah dan tatapan wanita itu tak reject able.
"Oke deh." jawabnya lagi.
Keduanya kini beranjak dan bersiap keluar dari kamar. Sebab tadi perawat telah masuk dan melepaskan selang infus, jauh sebelum Clara datang.
"Kreeek."
Ferdi membukakan pintu untuk Clara. Clara melangkah namun tiba-tiba ia hendak terjatuh, lalu dengan sigap Ferdi menangkap tubuh wanita itu dan menahannya. Lama keduanya bertatapan dengan rasa penuh debar dalam hati, sampai kemudian mereka saling menyadari satu sama lain.
"Eee, maaf." ujar Ferdi sedikit canggung.
"Nggak apa-apa koq, makasih." balas wanita itu tak kalah awkward.
Mereka kemudian berjalan sambil berbincang, hingga tiba di halaman parkir. Ferdi masuk ke dalam mobil Clara, begitupun dengan wanita itu.
"Rumah kamu dimana?" tanya Clara pada Ferdi, seraya menghidupkan mesin mobil.
Pemuda itu kemudian mengatakan dimana alamatnya. Clara sedikit terkejut, pasalnya itu adalah kawasan perumahan elit. Tak ada orang susah yang tinggal di tempat itu.
"Kamu punya rumah disana?" tanya Clara.
"Rumah orang tua saya mbak, saya mah belum punya apa-apa. Kerja aja baru tiga tahun belakangan." jawab Ferdi jujur.
Clara tersenyum.
"Kan rumah orang tua, rumah anak juga." ujar wanita itu.
"Ya bagi sebagian orang, tapi kalau saya nggak mau. Biar aja saya cari sendiri nantinya." tukas Ferdi.
Clara kembali tersenyum, kemudian menekan pedal gas mobilnya cukup dalam. Mereka lalu bergerak meninggalkan pelataran parkir rumah sakit. Di sepanjang jalan mereka masih berbagi cerita. Bahkan ada beberapa hal yang membuat mereka tertawa-tawa karena lucu.
"Kamu berapa sih umurnya?"
Clara bertanya pada Ferdi, setelah sekian pertanyaan ia ajukan dan dijawab dengan baik oleh pemuda itu.
"Dua puluh tujuh, mbak." jawab Ferdi.
"Oh, masih muda. Masih panjang waktu kamu untuk meraih banyak hal." ujar perempuan itu.
"Kalau mbak?" Ferdi balik bertanya.
"Saya 32 tahun." jawabnya.
"Oh." Ferdi menatap Clara.
"Dulu menikah usia 17, karena di jodohkan oleh orang tua saya."
"Mantan suami mbak itu juga nikah umur 17?" tanya Ferdi penasaran.
"Oh kalau dia waktu itu udah umur 27. Kami beda 10 tahun." jawab wanita itu.
"Tapi kelakuannya masih kekanak-kanakan sampai sekarang." lanjutnya lagi.
"Kata papa saya, umur itu nggak menjamin kedewasaan seseorang mbak. Justru pengalaman hidup, lingkungan tumbuh kembang dan peranan orang tua yang membentuk karakter seseorang."
"True, saya sangat setuju soal itu. Tapi kadang kesel juga, ngeliat laki-laki berumur tapi nggak bisa bersikap bijak." ujar Clara.
Kali ini Ferdi tertawa. Tak lama mereka pun mulai memasuki kawasan perumahan tempat dimana rumah orang tua Ferdi berada.
"Ini ya rumahnya?" tanya Clara seraya memperlambat laju kendaraan.
"Yang itu mbak, maju lagi dikit." ujar Ferdi.
Maka Clara pun melaju hingga ke tempat yang dimaksud.
"Nah iya, bener ini." lanjut pria itu.
Clara mematikan mesin mobil, dan memperhatikan rumah Ferdi yang besar dan megah tersebut. Bahkan rumahnya paling mewah diantara bangunan-bangunan lain yang berdiri di sekitar.
"Mampir dulu mbak." Ferdi menawari.
"Lain kali ya, soalnya mbak harus jemput anak-anak sekolah." ucap wanita itu.
"Oh oke deh, terima kasih udah nganterin saya."
"Sama-sama, semoga kamu sehat selalu."
"Mbak juga."
Ferdi lalu keluar dari dalam mobil tersebut, dan Clara pun berpamitan. Sementara dari dalam, sekuriti mulai membuka pintu pagar.
"Mas Ferdi baru pulang?" tanya sekuriti.
"Iya pak, papa ada di dalam kan?" Ia balik bertanya.
"Bapak ada, mungkin sedang istirahat."
"Oh baik, terima kasih pak." ucap Ferdi.
"Sama-sama mas."
Kemudian pemuda itu bergegas masuk ke dalam, untuk menemui sang ayah. Sedang Clara sudah menjauh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 195 Episodes
Comments
Kardi Kardi
langsung kang. LANGSUNGGG
2024-05-16
1
Anonymous
hahahahha
2022-10-05
1
Nana
kayaknya udah mulai saling tertarik nih. selanjutnya pasti lebih mudah
2022-07-28
1