"Jeff, kita harus ambil tindakan untuk menyelamatkan perusahaan ini."
Adrian selaku wakil presiden direktur PT. Cahaya Mega Investama yang dipimpin oleh Jeffri Aditya Atmaja kini membuka suara.
Permasalahan yang mereka hadapi sudah sangat genting. Perusahaan terancam pailit jika tidak segera ditangani.
Selama beberapa waktu belakangan, terdapat banyak kesalahan yang mereka lakukan. Salah satunya kurang berinovasi dan gagal mengamati pergerakan kompetitor yang begitu cepat.
Ditambah lagi masalah hutang perusahaan yang semakin melilit, serta kasus penipuan dan penggelapan dana yang dilakukan salah satu jajaran tinggi di perusahaannya. Jeffri benar-benar dilanda kekalutan kali ini.
Hampir setiap hari rapat diadakan untuk membahas permasalahan yang tengah di hadapi. Dan hampir setiap hari pula semuanya berdebat, dan saling menyalahkan satu sama lain.
"Stop!"
"Bisa nggak kalian stop dulu?"
Jeffri akan berteriak seperti itu apabila ruang rapat mulai ricuh. Biasanya seluruh jajaran akan terdiam, lalu mereka kembali duduk di kursi dan membuang pandangan ke arah mana saja. Yang penting mereka tak melihat wajah Jeffri yang sudah dikuasai amarah.
***
"Kenapa mesti Ferdi?"
Ferdi marah pada ayahnya Jeffri, ketika pria itu mengungkapkan sebuah keinginan yang membuatnya benar-benar terkejut.
"Cuma kamu yang bisa menyelamatkan perusahaan keluarga kita, Ferdi."
"Itu perusahaan papa, bukan perusahaan Ferdi." ujar pemuda itu lagi.
"Tapi di dalamnya, papa juga menulis surat wasiat untuk kamu. Nantinya sebagian saham perusahaan itu akan jadi milik kamu dan juga tanggung jawab kamu."
"Ferdi nggak minta. Kalau papa mau coret nama Ferdi dari daftar nama ahli waris, silahkan!"
Kali ini Jeffri memejamkan sejenak matanya sambil menarik nafas panjang. Seakan ia hendak membuang emosi yang siap meledak dalam hatinya.
"Fer, tolong papa. Sekali ini aja papa minta tolong. Selama ini sebagai orang tua, apa pernah papa memaksa kamu ini dan itu?"
Jeffri menatap Ferdi, sementara Ferdi membuang tatapan matanya ke arah lain.
"Kamu mau sekolah di sekolah yang kamu mau, papa turuti. Mau melakukan apapun yang jadi passion kamu, papa dukung. Nggak pernah sebagai orang tua, papa menghalangi jalan kamu. Sekali ini aja tolong papa, menikahlah dengan Clara. Dia memiliki kekayaan melimpah, yang bisa membantu mengembalikan perusahaan kita seperti sedia kala."
"Kenapa nggak Frans aja?. Kenapa mesti Ferdi?"
Ferdi menyinggung soal kakaknya.
Lagi-lagi Jeffri menarik nafas panjang.
"Frans itu sudah banyak membantu papa dalam mengurus perusahaan kita. Dari jaman masih kuliah saja dia sudah bekerja membantu papa."
"Terus maksud papa, harus mengorbankan anak yang belum ada kontribusinya sama sekali untuk perusahaan papa, gitu?"
"Fer, Frans itu sudah punya Nadia dan mereka akan menikah dalam waktu dekat."
"Ferdi juga udah punya Jessica. Kenapa mesti maksa Ferdi?"
Ferdi berkata dengan nada sedikit membentak, hingga membuat sang ayah naik pitam.
"Nadia itu perempuan baik-baik, berpendidikan, dan perusahaan ayahnya bekerjasama dengan perusahaan kita. Sedang Jessica nggak jelas asal-usulnya, udah begitu sering selingkuh pula dari kamu. Kamunya aja yang bodoh, sudah di selingkuhi masih memaafkan. Nggak punya harga diri kamu sebagai laki-laki."
"Jessica nggak selingkuh, dia memang punya banyak teman laki-laki."
"Terus aja dengan kebucinan bodoh kamu itu."
Kali ini sang ibu yang sejak tadi diam sambil mengecat kuku, mulai bersuara.
"Ma, itu urusan pribadi Ferdi ya. Masalah Ferdi mau jadi budak cinta atau nggak, nggak ada urusannya sama mama dan papa."
"Oh jelas ada urusannya sama kami, kami ini orang tua kamu. Kami berhak menilai perempuan yang kamu cintai. Mengenai cocok atau tidak perempuan itu untuk masuk ke keluarga kita." Jeffri kembali mengoceh panjang lebar.
"Ferdi nggak mau, kenapa mesti Ferdi coba?"
"Ya siapa lagi kalau bukan kamu?"
"Papa kan bisa menikahi Clara, kenapa nggak jadiin istri kedua aja?"
Kali ini Jeffri dan istrinya Aini tersentak, penuh berasap kepala Aini menatap Ferdi.
"Anak kurang ajar kamu."
"Buuuk!"
Aini memukul kepala Ferdi dengan bantal, sementara Ferdi agak menghindar.
"Loh kenapa mama marah?. Clara itu kan janda anak 3, katanya. Kenapa nggak nikah sama papa aja?. Bukankah menikahi janda adalah jalan untuk memuliakan janda tersebut?. Terus yang menikahi juga akan mendapat pahala dan masuk surga?"
"Surga, surga. Mama nggak mau di madu." tegas ibu Ferdi.
"Lebih baik mama hidup menjanda dari pada harus berbagi suami." lanjutnya lagi.
"Loh, suami kan boleh punya istri lebih dari satu, dan nggak harus ada persetujuan istri pertama." ujar Ferdi.
"Makin kurang ajar kamu ya."
Aini ingin memukul kepala anaknya itu sekali lagi, namun Ferdi keburu berlari ke arah lain.
"Sudah-sudah. Pokoknya Ferdi, kamu harus menikahi Clara." ujar Jeffri kemudian.
"Kenapa harus dengan jalan menikah?" Ferdi makin kesal pada sang ayah.
"Bisa kan dengan cara lain. Pinjam uang di bank misalnya, atau cari investor lain. Emang papa tokoh utama sinetron azab ikan terbang?. Yang kalau bangkrut semua aset, relasi, tabungan, sampe baju pun di sita bank. Sampe pake pakaian yang dipakai jadi bolong-bolong saking miskinnya. Nggak kan?."
"Fer, kamu nggak ngerti permasalahannya. Justru perusahaan kita itu sedang terlilit hutang. Bank juga nggak mau memberikan kredit, sementara riwayat hutang masih menumpuk."
"Kenapa nggak jual semua aset?" tanya Ferdi.
"Nggak nutup, Ferdi. Hutang perusahaan itu banyak, sementara karyawan harus di gaji tiap bulan. Ngerti nggak kamu?"
"Ya kenapa mesti menikah, kenapa nggak coba pinjem aja sama si Clara-Clara itu?"
"Fer, kita butuh jaminan supaya Clara nggak menyerang kita di kemudian hari. Dengan kamu menikahi dia, apalagi sampai dia hamil dan punya anak. Hubungan diantara kedua perusahaan ini akan semakin erat. Sekalipun misalkan kamu nanti bercerai, ada anak yang jadi pengikat diantara kalian. Tolong papa sekali ini aja."
"Ferdi nggak mau. Enak aja nyuruh nikah sama janda, mana anaknya tiga lagi. Mending nyari cewek single kemana-mana, nggak repot ngurusin anaknya."
"Kamu nggak perlu ngurus anak-anaknya, anak-anaknya sudah besar dan dia itu kaya-raya. Ada pembantu yang ngurus mereka."
"Nggak mau."
"Ferdi, kamu harus tolong papa kamu." Ibunya kembali bersuara.
"Kenapa nggak mama aja yang nolong papa?. Kasih tempat buat istri kedua. Hitung-hitung pahala, berbakti sama suami."
"Kamu tuh ya."
"Buuuk!"
Aini melempar remote air conditioner pada sang putra. Ia berniat mendekat, namun Jeffri menghalanginya.
"Pokoknya Ferdi nggak mau. Bodo amat mau dibilang anak durhaka kek, nggak berbakti kek. Sekali Ferdi bilang nggak mau, tetap nggak mau."
Ferdi berlalu begitu saja meninggalkan sang ayah dan juga ibunya.
"Ferdi."
"Fer."
Jeffri berusaha memangil puteranya itu, namun Ferdi tak menoleh sedikitpun.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 195 Episodes
Comments
Ika Reno
Cah Gendeng koe fer
2023-02-14
1
Ika Reno
Sembrono km fer emang mau punya ibu tiri
2023-02-14
0
NO NAME
.
2022-10-04
0