"Fer."
Frans berbicara pada Ferdi yang kini berbaring di sampingnya. Mereka tengah berada di atas rooftop rumah, sambil memandangi bintang yang hanya muncul satu dua.
Beberapa menit lalu, mereka baru saja selesai bermain game online bersama dan juga makan di atas sana.
"Kenapa?" tanya Ferdi pada Frans.
"Lo pernah jatuh cinta nggak sih?" Frans balik melontarkan pertanyaan pada Ferdi.
"Yang deep banget gitu." lanjutnya lagi.
Ferdi diam dan berpikir, entah mengapa ia teringat pada saat melihat wajah Clara pertama kali. Ketika wanita itu bertengkar dengan mantan suaminya. Namun Ferdi mengalihkan ingatan tersebut, karena tak mungkin apa yang ia rasakan itu adalah cinta. Ia saja tak kenal pada Clara saat itu.
"Nggak, nggak pernah." jawab Ferdi.
"Lah itu lo sama Jessica?"
"Gue suka karena di cie-cie in sama temen-temen." jawab Ferdi jujur.
"Receh amat cinta lo." Frans berujar sambil tertawa dan menoyor kepala Ferdi.
"Ya abis gimana, setelah itu gue jadi suka." jawabnya kemudian.
"Kalau jatuh cinta yang pertama kali liat gitu nggak pernah?" tanya Frans.
Lagi-lagi Ferdi teringat pada Clara.
"Nggak, nggak pernah." jawab Ferdi.
"Lo sendiri?" Ia balik bertanya.
"Baru ngalamin." jawab Frans seraya menatap langit.
"Maksudnya, lo jatuh cinta deep banget sama Nadia baru kali ini?" Ferdi memastikan.
"Bukan sama Nadia, tapi sama cewek yang nggak sengaja tabrakan sama gue di acara tadi."
"Acara apaan emangnya?"
Frans lalu menceritakan pada Ferdi, bahwa ia dan Igor didaulat untuk menggantikan Jeffri dan juga Adrian yang tak bisa hadir ke sebuah acara pertemuan.
"Terus lo ketemu sama cewek itu?" tanya Ferdi lagi.
"Iya, dan gue ngerasa kayak apa ya. Itu perasaan suka yang bener-bener deep, yang pernah gue rasain seumur hidup gue."
"Sama Nadia nggak pernah gitu?" Lagi-lagi Ferdi bertanya.
Frans menggelengkan kepala.
"Lo cinta nggak sih sama Nadia?" Ferdi memastikan.
"Cinta, tapi ketutupan sama cinta yang barusan ini." jawab Frans.
"Koq bisa-bisanya elo ngomongin soal cinta, sama cewek yang bahkan nggak lo kenal dan baru ketemu tadi."
Kali ini Ferdi menoleh pada Frans, sementara kakaknya itu tengah tersenyum menatap langit.
"Fer, namanya cinta itu kita nggak pernah tau datangnya kapan dan dimana, terus sama siapa. Cinta itu bisa datang secara perlahan, tapi bisa juga secara instan."
Ferdi diam dan meresapi omongan kakaknya itu, namun rembes ke sekitar. Ia masih agak bingung dan tak sepenuhnya masuk di otak.
"Kalau gue sih lebih percaya sama cinta yang tumbuh karena biasa, ketimbang cinta yang kata lo pertama kali ngeliat langsung suka. Karena itu bisa jadi cuma euforia sesaat, sebab kita mungkin ngeliat dia cantik, mempesona atau tertegun sama hasil kerjanya dia dan lain-lain. Tapi kita kan nggak tau aslinya dia gimana, siapa tau bau mulut."
Kali ini gantian Frans yang terdiam, meski sejatinya sempat ingin tertawa. Ia berfikir apakah perasaannya terhadap Clara yang ia tabrak, hanya perasaan yang timbul sesaat akibat kekaguman semu. Tapi jika iya, mengapa rasanya ia bawa sampai ke rumah seperti ini.
"Lo ada sempat kenalan sama cewek itu?" tanya Ferdi.
"Mmm, nggak sih. Dia udah keburu pergi sama temen-temennya. Tapi disepanjang acara, ada kalanya gue dan dia saling pandang tanpa sengaja."
"Untuk selanjutnya lo mau gimana?" tanya Ferdi lagi.
"Gue nggak tau, Fer. Tapi gue pengen mengenal dia lebih jauh."
"Lo minta nggak nomor handphonenya?"
"Nggak." jawab Frans.
"Heh, si Bambang. Gimana mau mengenal lebih dalam, kalau lo aja nggak tau kontaknya dia."
Frans diam, namun detik berikutnya ia pun tertawa.
"Iya juga ya." ujarnya kemudian.
Maka ia dan Ferdi kini tertawa-tawa.
"Makanya jangan niat buruk sama Nadia." Ferdi mengingatkan.
"Lo lupa minta nomor handphonenya, berarti lo masih diingatkan kalau lo punya cewek." lanjutnya lagi.
"Iya sih." jawab Frans menimpali.
"Inget Frans, perselingkuhan itu awalnya karena kita penasaran sama orang lain. Lama-kelamaan kita jadi pengen tau lebih dekat. Terus kita mencari-cari tau tentang dia, sampai akhirnya kita melupakan apa yang udah kita punya."
Ferdi berkata dengan nada yang serius.
"Lo sendiri gimana?"
Frans yang kini menoleh pada Ferdi, tepat disaat Ferdi pun tengah menoleh pada kakaknya itu.
"Koq kita jadi tatap-tatapan ya, bangsat."
Frans menoyor kepala Ferdi lalu mereka kembali tertawa.
"Gue gimana apanya?" Ferdi balik bertanya.
"Ya soal perjodohan yang diminta oleh papa. Lo sendiri kan punya Jessica. Lo mau jadi pengkhianat atas hubungan kalian?"
"Kalau gue nggak jadi pengkhianat, siapa lagi yang bakal menyelamatkan perusahan papa, rumah ini, dan seluruh aset keluarga kita?. Gue berkhianat demi kepentingan bersama. Lah elo mau coba berkhianat dari Nadia, demi kepentingan pribadi."
Frans menahan senyum, seraya masih menatap adiknya itu.
"Lagipula, Jessica duluan yang mengkhianati gue."
Ferdi berujar dan kembali menatap ke langit.
"Dia selingkuh dari lo?" tanya Frans dengan nada kaget.
Ferdi mengangguk dengan melepas pandangannya jauh ke atas, membuat Frans jadi merasa iba pada adiknya itu. Selama ini ia memang tak terlalu mengikuti hubungan Ferdi dan Jessica.
Lantaran ia pikir itu adalah hak pribadi adiknya. Lagipula ia sibuk bekerja dan juga harus mengurus hubungannya dengan Nadia.
"Lo ngeliat dia selingkuh?" tanya Frans lagi.
"Bukan gue, tapi teman-teman kantor gue. Dan mereka merahasiakan itu, karena takut gue sakit hati. Tapi akhirnya mereka nggak tahan juga dan ngomong."
"Selingkuhannya lo kenal?"
Ferdi mengangguk untuk yang kesekian kali.
"Omnya Jordan." jawabnya kemudian.
"Hah?" Frans benar-benar terkejut.
"Gila." lanjutnya lagi.
Sejenak mereka pun sama-sama diam.
"Dia selingkuh sama cowok tua dong?" Frans melanjutkan.
"Iya, tapi tajir." jawab Ferdi.
"Lah, kita kan anak orang kaya juga. Walau kekayaan keluarga kita terancam disita."
"Masalahnya gue yang nggak tajir, Frans. Sejak gue cerita sama Jessica, kalau gue itu nggak bakal mau kerja di perusahaan papa. Terus gue juga nggak ngarep warisan, dari situ Jessica tuh mulai agak lain sama gue." ujar Ferdi.
"Dia sempat ada mendebat gue, nanyain gimana masa depan kami nanti, kalau gue hidupnya nggak kaya. Dia ngajarin gue soal hidup butuh duit yang banyak dan lain-lain. Tapi pada saat itu gue nggak berpikir sama sekali kalau dia akan selingkuh. Terlebih gue juga kenal sama omnya Jordan." lanjut pemuda itu kemudian.
Frans menarik nafas panjang, ia semakin merasa kasihan pada Ferdi. Adiknya itu terlalu baik untuk perempuan seperti Jessica.
"Udahlah Fer, lo tinggalin aja cewek model begitu. Rugi juga nggak. Dia yang rugi ninggalin orang baik kayak lo."
Ferdi diam.
Memang ia berencana melupakan, tapi itu semua tak semudah teori yang diungkapkan.
"Lo lebih baik konsentrasi buat perjodohan itu. Siapin diri, mental, fisik, otong."
Ferdi menoleh dan tertawa. Ia tak tahan untuk tak melempar kotak rokok ke kepala kakaknya itu.
"Kenapa bawa-bawa otong, anjay?" tanya nya kemudian.
Frans yang terkekeh pun akhirnya menjawab.
"Loh yang paling penting dalam pernikahan itu kan, selain mental ya fisik sama otong lo. Gimana mau menjalankan kewajiban sebagai suami kalau otong lo nggak tegang sempurna."
"Bangsat." Ferdi benar-benar tak kuasa menahan tawanya kali ini.
"Bener juga sih kata lo." ujarnya kemudian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 195 Episodes
Comments
Maple🍁
otongx kloh nggak bsa bgun di ksih makan bebek aja Fer🤭😂😁
2023-05-24
1
Nana
hihihi....siapin otong Fer. suka bener nih si Frans
2022-07-28
0
Irma Malini
tong gmn kuat ga..😃😃😃😃😃😃
2022-07-22
1