"Tok, tok, tok."
Sebuah ketukan pintu kembali terdengar. Frans beranjak untuk membukanya. Ferdi sudah mengira itu Jeffri, tapi ternyata asisten rumah tangga yang membawakan makanan.
"Kata bapak, mas Ferdi suruh makan." ujar asisten rumah tangga tersebut pada Frans.
"Sini biar saya aja yang bawa."
Frans meraih nampan berisi nasi dan lain-lain tersebut, lalu ia meletakkannya ke atas meja di dekat Ferdi.
"Papa bilang lo makan dulu, nanti kita bicara lagi." lanjut pemuda itu.
Ia kemudian beranjak meninggalkan kamar Ferdi, dan tinggallah kini Ferdi terjebak dalam sebuah kebisuan. Ia benar-benar terpikir akan semua ini, rasanya tak rela melihat rumah masa kecil mereka akan terjual demi hutang.
Terlalu banyak kenangan yang akan tertinggal, jika rumah ini sampai jatuh ke tangan orang lain.
"Makan dulu!"
Sebuah I-message di terima Ferdi di handphonenya, dan itu adalah pesan dari Jeffri. Jeffri tau tadi Ferdi mengendap-endap untuk mengambil makanan di dapur.
Ia juga tau jika Ferdi sejatinya ada di rumah. Jeffri lebih peka terhadap langkah anak-anaknya sekecil apapun itu. Ketimbang sang istri Aini, yang sejak jaman baru menikah selalu sibuk mengurus kutek di kukunya.
Hubungan Jeffri dan anak-anaknya sangat dekat dan juga baik. Meski kadang mereka suka berselisih paham dan bertengkar.
Namun itu tak menjadikan perhatian Jeffri sebagai seorang ayah menjadi hilang. Ferdi pun akhirnya makan, meski dengan perasaan yang mulai berkecamuk.
***
"Jeff."
Adrian menelpon dan mengabarkan sebuah berita pada Jeffri. Saat itu Ferdi tengah membawa piring bekas makannya ke bawah. Jeffri tampak begitu kalut berbicara di telpon, bahkan sampai membuat Ferdi menjadi khawatir.
Pasalnya ia belum pernah melihat Jeffri sekacau itu selama hidupnya. Namun Ferdi berusaha untuk tak ikut campur ataupun mengganggu. Ia hanya pergi ke dapur dan meletakkan semua yang ia bawa di sana.
Ketika ia hendak kembali ke kamar, ia melihat Jeffri yang telah selesai menelpon. Namun pria berusia 56 tahun yang masih tampan dan gagah itu terlihat memegangi kepalanya.
Tak lama salah satu tangannya seolah mencari pegangan. Ia memejamkan mata lalu membukanya, seakan begitu berat beban yang tengah ia pikirkan.
Ferdi terus menatap ayahnya itu, hingga apa yang ia takutkan akhirnya terjadi. Ya, Jeffri jatuh tak sadarkan diri di hadapan Ferdi.
"Paaaa."
"Papaaa." Ferdi berteriak.
Frans, Aini, dan para asisten rumah tangga menghambur. Suasana pun menjadi riuh, Ferdi mencoba membangunkan Jeffri, sementara Frans menelpon ambulans.
Dalam waktu singkat Jeffri sudah dilarikan ke rumah sakit dan saat ini tengah berada dalam penanganan dokter.
Ferdi terdiam di kursi tunggu, dengan jantung yang berdebar kencang serta hati yang begitu sedih. Ferdi sangat dekat dengan Jeffri, diluar perdebatan mereka selama dua hari belakangan.
"Papa akan baik-baik aja." ujar Frans seraya menepuk bahu Ferdi.
Pemuda itu hanya tertunduk dalam, ia kini berharap jika semua itu benar adanya. Dan setelah beberapa saat berlalu, dokter menghampiri Ferdi sekeluarga. Dokter kemudian menyampaikan kondisi yang dialami oleh Jeffri.
Frans berbicara dengan dokter, Ferdi menunduk dalam lalu melangkah dan masuk begitu saja ke ruang tempat dimana Jeffri berada. Tampak ayahnya itu tengah tertidur lelap. Entah tadi ia sudah sadar atau belum dari pingsannya, yang jelas saat ini Jeffri terlihat masih memejamkan mata.
"Fer."
Frans ikut masuk, sementara Aini sang ibu kini tengah mengurus administrasi dan juga beberapa hal lain.
"Gue mau ketemu dengan Clara." ujar Ferdi seraya memperhatikan ayahnya itu.
"Lo serius?" tanya Frans pada Ferdi. Dan adiknya itu pun hanya mengangguk.
Frans menghela nafas, lalu menepuk bahu Ferdi.
"Kita bicarakan itu nanti, sekarang lo temenin papa dulu. Gue mau nyusul mama, ngurus ini dan itu. Tau sendiri kan kalau mama itu sering keliru dan nggak bisa diandalkan dalam mengurus berkas apapun."
Lagi-lagi Ferdi mengangguk, kemudian Frans berlalu meninggalkan tempat itu.
***
Di suatu tempat.
Clara tengah duduk bersama temannya Friska dan Valerie. Dua pengusaha sekaligus sosialita yang memiliki banyak pengikut di Instagram serta tiktok, sama seperti Clara.
"Lo mendingan cari pasangan deh, Cla. Dongkol banget ati gue liat mantan lo, si Nando." Friska berujar pada Clara.
"Bener, sok mesra banget sama si pelakornya itu." timpal Valerie.
Clara kini memperhatikan mereka berdua.
"Hhhh, namanya juga laki-laki. Ketika cerai ya, dia akan berusaha bagus-bagusin pasangan barunya di depan kita. Biar kita merasa sakit hati dan kehilangan dia. Padahal mah gue biasa aja, anjir. Ngapain gue sakit hati sama laki-laki insecure tukang selingkuh kayak dia. Istri barunya juga cewek nggak bener, nggak level." ujar Clara.
"Iya, tapi dengan misalkan lo punya pasangan. Apalagi yang lebih dari dia dalam segala hal. Dia pasti ketar-ketir dan sakit hati. Gantian lo yang buat dia jadi kayak gitu." ujar Friska lagi.
"Bener, Cla. Buktiin kalau lo bisa cari cowok yang mendukung kariernya lo. Nggak kayak dia, insecure sama penghasilan lo yang lebih gede, terus maksa-maksa lo berhenti kerja. Alasan ngurus anak bla, bla, bla. Padahal pengen punya istri yang bisa ditundukkan kayak hewan peliharaan." Valerie lanjut menimpali.
"Enek banget gue sama cowok model gitu. Sekarang kan dia lagi memuja-muji si pelakor itu tuh." ujar Friska.
"Yup, dia bilang istri idaman itu yang dirumah. Ngurus suami, ngebabu. Bilang aja istrinya nggak bisa cari duit." timpal Valerie.
"Ya iyalah mana bisa." Clara kembali bersuara.
"Selama hidupnya aja di biayain laki orang mulu. Kan ada tuh beberapa perempuan yang DM gue. Waktu foto dia sama mantan laki gue, gue sebar di sosmed. Pas yang mereka ketahuan selingkuh itu. Itu cewek-cewek, bilang kalau si murahan Ninis itu pernah gangguin rumah tangga mereka juga." lanjutnya kemudian.
"Oh ya?" Friska dan Valerie menatap Clara.
"Iya, waktu mereka lagi hamil. Suami mereka selingkuh sama si Ninis." lanjut Clara.
"Barengan atau gimana?" tanya Valerie.
"Gue nggak tau sih timingnya barengan atau nggak, yang jelas laki mereka selingkuh sama Ninis." jawab Clara.
"Si Ninis itu emang nggak bisa cari duit kali ya, kalau nggak dari jual apem sama laki orang. Mesti nunggu laki orang dulu yang nafkahin, baru bisa makan dan bergaya." Valerie menarik kesimpulan.
"Makanya pas dia dapat mantan laki gue, dia jadi penurut dan diem di rumah aja. Di empanin sama si Nando, ya nurut. Emang dia cewek yang nggak bisa hidup kalau nggak di empanin sama laki-laki. Nando aja goblok, cewek begitu di bangga-banggain" ujar Clara.
"Biasanya nih, cewek model kayak si Ninis itu. Dididik oleh orang tuanya buat nyari laki-laki berduit. Makanya dia hanya fokus nyari laki berduit. Nggak peduli laki orang, pokoknya ngangkang." seloroh Friska.
Ketiga perempuan kaya itu makin tertawa-tawa.
"Di negara kita tuh lumrah banget kayaknya ya, ngajarin anak perempuan untuk memburu laki-laki kaya. Jarang ada yang ngajarin anaknya untuk jadi perempuan kaya dari hasil kerja halal." ujar Clara.
"Udah membudaya, Cla." tukas Valerie.
"Cewek disuruh diam di rumah, nggak usah sekolah tinggi, nggak boleh kerja dengan alasan perempuan baik itu dirumah aja. Tapi disuruh juga nyari laki-laki kaya, dengan alasan realistis. Akhirnya laki orang pun di embat, yang penting berduit." ujar Clara.
"Aturan mah anak perempuan itu diajarkan mandiri, dan pesankan untuk tidak merebut atau merusak rumah tangga orang." ucap Friska.
"Iya, bukan malah merebut terus dengan pedenya bilang gini, "Harusnya istri sah instrospeksi diri, kenapa suaminya selingkuh sama kita." Elu yang harusnya introspeksi diri, blay. Ngapain lu ngangkangin laki orang?"
Valerie berapi-api, membuat Clara dan Friska terbahak-bahak.
"Pelakor emang selalu mencari alasan untuk membenarkan tindakannya, say. Padahal yang namanya rumah tangga, kalau istri sah emang bermasalah. Harusnya suami ngajak diskusi dong, membedah masalah itu. Bukan malah selingkuh solusinya." ujar Clara.
"Itu mah emang gatel aja." timpal Friska.
"Ember." ucap Clara lagi.
"Nggak usah mencari pembenaran lah. Emang istri doang yang suka salah, suka khilaf?. Laki juga sama, mereka lebih sering malah berbuat kesalahan terhadap kita. Tapi nggak ada tuh tiap mereka salah, terus kita cari solusi dengan selingkuh. Emang dasar gatel aja." lanjutnya kemudian."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 195 Episodes
Comments
Anita EndLs
wkwkwkwk kenapa sih ghibahannya bener banget
2023-03-15
1
Nana
lbh suka ngurusin kutex drpd anaknya. oh god.... ada ya emak2 kek gitu
2022-07-27
0
Mister Fikri
agak2 curiga deh ama emakny ferdi tapi apa yaaa. gue blm nemu alesanny cuma nge feel aja ada sesuatu ama emakny....
2022-06-17
2