"Lu ngapain ribut sama mantan suami orang, Ferguso?"
Jordan bertanya pada Ferdi, ketika Ferdi baru saja selesai mendapat perawatan di unit gawat darurat.
"Iya, gue udah pengen nanya banget dari di mobil tadi. Tapi takut itu mbak-mbak denger." timpal Sean.
"Gue itu bukan berantem sama mantan suaminya." jawab Ferdi.
"Lah tadi katanya?" Jordan menjadi bingung.
"Yang berantem itu dia, Alfonso. Gue itu nggak sengaja liat itu si Maria Marcedez, di cekik sama mantan suaminya, .akanya gue tolongin. Terus gue di pukul sama mantan suaminya itu, ya gue hajar balik." ujar Ferdi lagi.
"Oh begitu."
Jordan dan Sean akhirnya mengerti.
"Ngerti kan lo, Frederico, Fernando?" tanya Ferdi lagi.
Jordan dan Sean mengerutkan kening.
"Kenapa kita jadi kayak telenovela jadul ya?" tanya nya kemudian.
"Ya udah ganti. Ngerti kan lo, Bambang, Junaedi?" ujar Ferdi dengan nada setengah sewot.
"Jadi bukan gue yang sengaja cari gara-gara." lanjutnya kemudian.
"Gue kirain lo berebutan si mbak itu tadi sama mantan suaminya." ujar Sean.
"Gue kenal aja kagak." lagi-lagi Ferdi menjawab.
Tak lama perempuan itu masuk dan menemui Ferdi.
"Gimana, kamu udah nggak apa-apa kan?" tanya nya kemudian.
"Mmm, udah nggak apa-apa koq mbak." jawab Ferdi.
"Kamu di rawat aja dulu ya, selama beberapa hari ke depan."
"Kan saya nggak apa-apa, mbak. Dokternya juga tadi bilang, saya boleh pulang koq." lagi-lagi Ferdi menjawab.
"Nggak, saya akan merasa bersalah kalau nggak merawat kamu sampai tuntas. Jadi kamu disini saja dulu. Saya sudah pesan satu kamar VVIP dan udah saya bayar semua biaya perawatan sampai beberapa hari ke depan."
"Tapi mbak."
"Terima aja, Bambang."
Jordan mencubit bagian belakang tubuh Ferdi sambil berkata dengan nada super pelan, serta tersenyum pada perempuan itu.
"Makasih ya mbak, udah memperhatikan teman saya. Dia memang butuh perawatan agak lama disini." ujar Jordan.
"Iya."
Tiba-tiba handphone perempuan itu berbunyi kembali. Ia kemudian mengangkat panggilan yang tertera dan sedikit menjauh.
"Sakit, bego."
Ferdi menepis lengan Jordan yang masih mencapit kulit di tubuhnya.
"Udah lo sakit aja. Lumayan dapat duit rawat juga dari kantor." lanjut temannya itu.
"Iya juga ya." gumam Ferdi.
"Lo otaknya kagak mafia sih, Fer." timpal Sean dengan nada sewot tapi pelan. Karena takut didengar oleh si perempuan.
"Kan gue emang jiwa murni, nggak kayak lo berdua yang hatinya belatungan." seloroh Ferdi.
"Maka dari itu sekarang lo harus belatungan. Lagian selama mendampingi Nath mendirikan start up, kita jarang libur. Kan lumayan gue sama Sean punya alasan kalau nggak masuk, nungguin lo dirumah sakit." ujar Jordan.
"Iya, iya, iya. Oke deh." Ferdi akhirnya menyetujui.
"Lagian bukan lo ini yang bayar." bisik Sean di telinganya.
"Nah bener tuh." Jordan menimpali karena ia mendengar bisikan tersebut.
Si perempuan cantik selesai menelpon dan kembali pada Ferdi.
"Kita minta pindahin aja sekarang ya." ujar si perempuan.
"Mmm, oke." jawab Ferdi.
Maka tak lama setelah itu Ferdi dipindahkan ke sebuah ruang VVIP.
***
"Bro, gue baru inget. Kan bapak gue sakit yak. Terus kalau gue santai-santai disini, siapa yang jagain dia?" tanya Ferdi pada Jordan dan juga Sean. Ketika ia sudah berhasil dipindahkan.
Sementara si perempuan agaknya memang terlalu sibuk, sebab kini ia lagi-lagi menerima telpon. Ia berada di depan kamar tempat dimana Ferdi dirawat.
"Udah tenang aja, gue sama Sean yang bakal ngawasin om Jeffri." tukas Jordan kemudian.
"Ya tapi nanti kalau dia nanyain gue dimana, gimana coba?" tanya Ferdi lagi.
"Bilang aja kalau lo ditugaskan sama Nath ke luar kota, selama beberapa waktu." jawab Sean.
Ferdi diam.
"Udah nggak usah kebanyakan mikir." Jordan menimpali.
"Yang terpenting itu lo dapat tunjangan biaya perawatan dari kantor." lanjut pemuda itu.
"Tapi gue ngerasa nggak enak sama Nath. Masalahnya kan dia temen gue dan dia baik, masa gue bohongin dia. Lagian semua juga udah pada tau kalau start up kita masih butuh biaya banyak." Ferdi berkata panjang lebar
"Eh Bambang, lo nggak lagi berbuat dzalim sama si Nath. Lo lagi mengambil hak lo sebagai karyawan." ujar Sean.
"Iya, kan kita masing-masing emang dapat biaya perawatan kesehatan setiap bulan. Sayang kan kalau nggak diambil, hangus loh kalau kita nggak sakit." timpal Jordan.
Ferdi kembali diam.
"Udah, pokoknya lo sakit aja." Sean memaksa.
Tak lama si perempuan cantik selesai menelpon.
"Gimana, kamu suka kan kamarnya?" tanya nya pada Ferdi."
"Mmm, iya suka koq mbak." jawab Ferdi lalu tersenyum.
"Oh iya, ini simpan."
Perempuan itu menyerahkan sebuah kartu nama.
"Ini kartu nama pengacara saya. Kalau ada apa-apa, harap hubungi ke dia. Biar dia sampaikan sama saya."
"Baik mbak." jawab Ferdi.
"Nama kamu Ferdi kan?" tanya perempuan itu kemudian.
"Iya, mbaknya siapa?"
Malah Jordan yang bertanya pada perempuan itu.
"Saya..."
Handphone wanita itu kembali berbunyi.
"Sorry-sorry." ujarnya pada Ferdi, Jordan, dan juga Sean. Sesaat ia pun kembali berlalu dan menelpon.
"Itu cewek kayaknya sibuk banget ya."
Sean memperhatikan si wanita, diikuti tatapan Ferdi dan juga Jordan.
"Kalau dia nggak sibuk, mobilnya nggak akan semewah itu bro. Dan nggak akan bisa dia ngebiayain biaya perawatan Ferdi sampe beberapa hari ke depan." tukas Jordan.
"Tadi mantan suaminya gimana bentuknya, bro?" tanya Sean penasaran.
"Biasa aja sih, tapi kayaknya bos atau pekerja juga gitu tampilannya. Nggak ngerti gue, soalnya pake jas-jas juga sama kayak kita." jawab Ferdi.
"Kenapa mereka cerai yak?" gumam Jordan.
"Padahal cakep loh mbak-mbaknya." lanjutnya kemudian.
"Tadi lo denger nggak masalahnya apa?" Kali ini Sean yang bertanya.
"Lu kepo ya, kayak lambe murah." seloroh Ferdi kemudian.
"Ye, senapsaran gue." seloroh Sean.
"Penasaran."
Ferdi dan Jordan membenarkan bahasa teman mereka tersebut.
"Iya penasaran gue." ujarnya lagi.
"Mmm, gue sih nggak denger begitu jelas. Tapi tadi gue denger si cewek ini minta duit nafkah buat anak-anaknya." jawab Ferdi.
"Terus-terus?" Jordan dan Sean semakin kepo.
"Nah si cowok itu bilang kalau dia nggak mau kasih nafkah apa-apa, soalnya si cewek ini lebih kaya dari dia. Jadi dia menyerahkan tanggung jawab anak-anak mereka ke si cewek ini." lanjut Ferdi.
"Wah, nggak bener itu." ujar Jordan.
"Parah sih mantan suaminya." Sean menimpali.
"Nggak bertanggung jawab, anjay." ujar Jordan lagi.
"Apa?. Iya-iya?"
Si perempuan mulai serius dan sedikit panik di telpon. Ferdi, Jordan, dan Sean sempat terpaku sejenak melihat perempuan itu. Sampai akhirnya si perempuan menjauh dan hilang entah kemana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 195 Episodes
Comments
Fenny
ya ampun ...akuh bacanya ko ketawa Mulu dr tadi...jd ter corla corla deh rasanya😂😂😂
2022-11-28
1
Nana
like like. karyamu selalu bikin ngakak
2022-07-28
1
Dede Mila
marimar jadi nya...😂😂😂😂
2022-07-18
1