Jeffri akhirnya siuman. Ferdi yang menungguinya sejak tadi, kini bernafas lega.
"Fer."
Jeffri tersenyum pada puteranya itu, sementara Ferdi terus menatap Jeffri.
"Papa nggak apa-apa." Jeffri berujar seakan tau arti dari tatapan anaknya tersebut.
"Fer?"
Ferdi menunduk.
Jeffri meraih beberapa helai tissue dari meja samping tempat dimana ia berbaring, kemudian memberikan tissue tersebut pada Ferdi. Ferdi lalu menyeka air matanya yang mengalir.
"Udah, ngapain nangis?. Udah umur berapa kamu?" goda Jeffri.
Ferdi masih saja menangis, ia memang memiliki perasaan yang sangat halus. Di samping sikapnya yang nakal, pembangkang dan terkadang sangat menyebalkan.
Untuk urusan lain Ferdi boleh setegar karang. Tapi untuk keluarga, terutama sang ayah. Ia bisa mendadak menjadi lemah.
"Pa."
"Hmm?"
"Ferdi..."
Ferdi memberi jeda ucapannya dengan menarik nafas.
"Kenapa?" tanya Jeffri.
"Ferdi mau ketemu Clara."
Ia berkata seraya menatap mata Jeffri. Jeffri pun terkejut, namun reaksinya tak berlebihan.
"Kamu yakin?. Sekarang papa malah yang nggak yakin." ucap Jeffri.
"Loh, kenapa?" tanya Ferdi kemudian.
"Papa nggak mau mengorbankan perasaan dan kebahagiaan kamu. Papa ngerasa udah sangat egois dalam hal ini. Yang papa pikirkan cuma bagaimana menyelamatkan perusahan dan seluruh aset berharga milik kita. Tanpa papa sadari kalau kamu dan keluarga kita adalah hal yang paling berharga dalam hidup papa. Papa seharusnya lebih mementingkan kebahagian kalian, ketimbang keinginan papa."
"Tapi kebahagiaan papa adalah kebahagiaan Ferdi. Gimana Ferdi bisa bahagia, kalau papa nggak bahagia?"
Jeffri terdiam mendengar semua itu.
"Mama, dia nggak bisa hidup susah." ujar Ferdi.
"Dari kecil dia lahir di keluarga kaya-raya, menikah sama papa dalam posisi papa sudah kaya. Walaupun saat itu papa juga masih berjuang merintis perusahaan, tapi mama nggak pernah ngerasain kesulitan dalam hal keuangan." lanjutnya kemudian.
"Ya kalaupun papa terpaksa hidup dalam keadaan nggak punya apa-apa lagi, mama kamu harus siap menerima papa. Kan katanya cinta, masa mau enaknya doang?"
Jeffri sedikit tersenyum sambil menatap Ferdi. Sementara Ferdi masih berkutat dengan sisa air mata uang mengalir di pipinya.
"Beneran koq pa, Ferdi mau ketemu Clara." ucap Ferdi lagi.
Belum sempat Jeffri memberikan tanggapan atas hal tersebut, Adrian dan Frans tiba-tiba masuk ke ruangan itu.
"Bro, lo nggak apa-apa?" tanya Adrian panik.
"Nggak apa-apa, santai." ucap Jeffri.
"Mama mana?" tanya Ferdi pada Frans.
"Lagi nebus obat." jawab Frans.
"Sorry, bro. Ini semua salah gue." Adrian tampak merasa begitu bersalah.
"Harusnya kita ketemu dulu dan baru bicara soal permasalahan yang kita hadapi. Tapi tadi gue bener-bener panik, makanya gue langsung telpon lo dan mengabarkan itu semua. Gue nggak tau efeknya akan begini." lanjut pria itu.
"Udahlah, udah terjadi juga. Yang penting sekarang gimana caranya kita harus menghadapi semua ini. Kita harus selesaikan satu persatu." jawab Jeffri.
"Yang penting papa sehat dulu." tukas Frans.
"Iya, lo harus sehat dulu. Kalau nggak, gue bakalan terus ngerasa berdosa." ujar Adrian.
***
"Eta terangkanlah."
"Dung tak dung, dung tak dung."
"Eta terangkanlah."
Nova berjoget-joget layaknya cacing besar Alaska yang kepanasan, sambil menertawai Ferdi. Beberapa menit lalu Ferdi bercerita pada Nova, Jordan, serta Sean. Perihal dirinya yang mungkin akan menikah dengan Clara.
"Lo nggak bisa simpati dikit apa Va, sama gue?"
Ferdi sewot pada Nova, sedang Nova saat ini persis seperti ubur-ubur bikini bottom.
"Untuk bokap lo gue sangat simpati." ujar Nova seraya menyedot es teh manis yang ada di dekatnya.
"Tapi buat lo, gue jadi seneng. Akhirnya kutukan gue berhasil, seorang Ferdi Nichol Aditya Atmaja akan menjalani kehidupan seperti di novel online."
"Eta terangkanlah."
"Dung tak dung, dung tak dung." Nova kembali berjoget.
Ferdi melempar remote air conditioner milik Sean ke arah gadis itu, meski tidak kena. Saat ini memang mereka tengah berada di rumah Sean.
"Nova emang akhlak less, Fer. Nggak usah heran." celetuk Sean pada Ferdi.
"Tau lu, temen mau nikah sama janda malah seneng." timpal Jordan.
"Eh Jordan, lo jangan mengunderestimate seorang janda. Mending Ferdi nikah sama janda, dari pada nikah sama Jessica."
"Ups."
Nova menutup mulutnya, sekian lama ia menahan diri untuk tidak mengatakan hal tersebut. Tapi hari ini ia seakan melakukan tendangan bunuh diri.
"Sorry Fer." ujarnya kemudian.
Ferdi mengerutkan kening seraya menatap Nova. Nova pun akhirnya mendekat lalu duduk di sisi Ferdi.
"Gue, Sean, sama Jordan. Kita bertiga nggak ada yang suka sama Jessica selama ini." Nova akhirnya berkata jujur.
Ferdi baru hari ini mengetahui hal tersebut, sementara Jordan dan Sean kompak saling diam. Namun mereka tidak membantah sedikitpun omongan Nova.
"Gue tuh benci banget ngeliat lo bucin sama Jessica. Itu bukan lagi bucin akut, Fer. Itu goblok kalau menurut gue."
Ferdi masih diam, sebab belum pernah sekalipun teman-temannya mengomentari masalah percintaan yang ia lakoni selama ini.
"Jordan sama Sean itu pengen banget ngomong sama lo, tapi mereka takut lo tersinggung. Lo tuh diperlakukan kayak sampah, Fer. Si Jessica tuh sok kecakepan, sok banyak yang naksir, padahal mah yaelah. Coba lo suruh copot tuh softlens Barbie nya dia. Cabut filler dagu sama benang di hidungnya, cantikan juga mbak-mbak yang jaga warteg masih."
Nova berkata dengan penuh dendam, karena di samping ia tidak menyukai Jessica secara personal. Ia juga tak rela sahabat baiknya Ferdi berpacaran dengan gadis itu.
"Kita tuh sayang sama lo, Ferdi." lanjut Nova lagi.
"Dia itu pernah pacaran sama omnya Jordan."
"Nov."
Sean mengingatkan, sebab sepertinya gadis itu kembali tak sengaja bicara. Ferdi jadi makin terkejut, sementara Jordan merasa begitu tak enak hati pada Ferdi.
"Maksudnya?" tanya Ferdi tak mengerti.
Ia bergantian menatap Nova, Sean, dan juga Jordan. Berharap segera mendapat jawaban dari ketiga temannya itu.
"Ember sih lo." gerutu Sean nyaris tanpa suara pada Nova.
"Gue keceplosan." ujar gadis itu kemudian.
"Ini ada apaan sih, lo pada kenapa deh rahasia-rahasiaan gitu sama gue?. Gue pikir kita temen."
Ferdi berkata dengan nada agak kecewa.
"Bukan gitu, bro. Jujur gue nggak enak banget mau ceritain ini ke elo. Nggak enak karena kejadiannya sama om gue sendiri. Kalau orang lain, udah gue kasih tau sama lo dari kapan tau." ujar Jordan.
"Ini maksudnya Jessica cewek gue, jalan sama om lo gitu?" Ferdi memastikan.
"Iya, lo inget om Ricardo kan?. Sepupu bokap yang punya arena pacuan kuda, yang kita pernah kesana. Sama Sean, Nova, Jessica juga." ujar Jordan.
Ferdi diam, ia mengingat jelas peristiwa itu. Ia bertemu dengan saudara ayahnya Jordan, si pemilik arena pacuan kuda di daerah utara ibu kota.
"Terus, lo ngeliat mereka jalan apa gimana?" tanya Ferdi lagi.
"Bukan gue doang, Nova sama Sean juga ngeliat. Waktu itu kita lagi bertiga mau ketempat lo, nggak sengaja ngeliat mereka masuk hotel. Mau ngapain coba, cewek muda sama laki orang ke hotel kalau nggak begituan."
Tubuh Ferdi mendadak gemetar, aliran darahnya kini seakan naik ke ubun-ubun.
"Kenapa lo nggak bilang ke gue?" Ferdi kembali berujar dengan nada setengah emosi.
"Gimana mau bilang, Fer. Lo nya aja bucin banget." ujar Nova.
"Kita nggak segampang itu buat bilang ke elo, bro. Kita takut lo sakit." timpal Sean.
Ferdi berusaha keras mengatur nafasnya yang mulai tersengal. Rasanya ia ingin segera menemui Jessica dan menampar wajah perempuan itu dengan sekuat tenaga.
Selama ini apapun yang Jessica inginkan, Ferdi selalu berusaha untuk memenuhi. Meski ia tak sekaya ayahnya, Jeffri. Tapi tak pernah sekalipun ia mengajak Jessica untuk hidup susah. Bahkan sekedar makan di warung tenda pinggir jalan pun, mereka belum pernah.
Ia tahu kekasihnya itu menyukai sesuatu yang berkelas, maka Ferdi dengan sekuat tenaga mengusahakan itu semua. Tetapi ini balasan yang ia dapatkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 195 Episodes
Comments
Nana
wah.... buang aja Fer si Jessica. dedemit kek gitu gk pantes dpt cintamu
2022-07-27
1
Zamie Assyakur
cewek bgini nih.. mao duit ny doang
2022-07-14
1
💗Ani Sumarni💗
akhirnya terbongkar juga siapa jesika
2022-06-16
2