🔥🔥🔥
"Maafkan saya, tuan. Saya berjanji tidak akan mengulangunya lagi," ucapku meringis kesakitan, karena cengkramannya masih erat didaguku.
"Bagus, tapi jika kau berani macam-macam padaku. Tidak ada kata maaf untuk yang kedua kalinya." Ucapnya, lalu bangun dari mengukungku. Ia memperbaiki handuknya yang hampir lepas.
Sekali lagi aku melihat tubuhnya yang sangatlah kekar, otot-otot yang besar itu membuatku bergidik ngeri. Sayatan luka ada dimana-mana, membuatku semakin takut padanya.
"Apa lagi yang kau tunggu? Ambilkan pakaianku?" titahnya.
"Baik tuan," jawabku segera menuju, oh Iya, aku lupa, aku tidak tau diamana pakainnya. Melihatku kebingungan akhirnya tuan Devan membuka suara.
"Diruangan sana," tunjuknya pada sebuah pintu disana.
Aku segera menuju pintu itu, dan masuk kedalam ruangan yang didalamnya, berjejer rapi pakaian brandit.
Melihat penampilannya tadi, aku tanpa ragu memilihkan setelan baju yang sama dengan yang ia pakai sebelumnya. Pakaian santai seperti kaos oblong dengan celana pendek.
Tapi aku agak ragu memilihkan dalaman untuknya. Hingga akhinya, aku menjatuhkan pilihanku pada warna hitam. Aku tersedak salivaku sendiri melihat ukurannya, yang jika dibandingkan denganku bisa berkali-kali lipat.
Setelah mendaptakan apa yang aku cari, aku pun segera membawa pakaian itu pada tuan Devan yang sudah menungguku sedari tadi.
"Apalagi yang kau tunggu? Apa kau juga ingin memakaikan pakaianku?" tanyanya membuatku tersadar.
"Saya akan keluar, tuan," berjalan dengan cepat aku segera keluar dari kamar itu. Menuju dapur, aku membereskan semua peralatan masak yang tadinya berantakan.
Tak lama tuan Devan datang, ia langsung duduk dikursi. Ia langsung melahap makanan yang aku masakan, Tanpa melihatku apalagi menawarkanku makan.
Seketika itu juga cacingku berbunyi, aku baru ingat. Aku juga belum makan malam. Aku sangat lapar, aku segera mengambil tas lusuhku, yang tadinya aku letakkan diruang tamu.
Didalam tas itu, sudah ada beberapa bungkus roti berukuran kecil yang biasanya menjadi teman sarapanku dipagi hari. Tapi sepertinya, aku akan makan malam dengan roti ini.
Mengambil sebungkus roti, aku melahapnya dengan tak sabaran. Tidak kenyang memang, tapi setidaknya ini bisa menghentikan suara demo diperutku.
Kehausan, aku ragu menuju ruang makan. Tapi aku tidak punya pilihan lain.
" Tuan, apakah boleh saya meminta air putih," izinku dengan wajah memelas.
"Tidak boleh," jawabnya singkat, lalu kembali mengunyah makanannya.
"Kalau air keran boleh," tambahnya lagi.
Air mataku menetes tanpa seizinku, ketika mendengar ucapan pria iblis dihadapanku. Aku pasti sudah gila, sampai-sampai bisa jatuh cinta padanya.
Aku mengikuti arah tujukannya pada air kran didapur. Dan segera aku menuju air kran itu, dan aku tidak punya pilihan lain selain minum air mentah.
Dadaku terasa begitu sesak, aku berusaha keras menahan air mataku agar tak kembali tumpah. Tidak apa minum air kran untuk saat ini. Nanti sebelum tidur, aku bisa memasak air terlebih dahulu.
"Bersihkan ini," titahnya padaku, ia berdiri lalu kembali kekamarnya.
"Aku segera menuju meja makan. Entah selera makan tuan Devan besar, atau masakannya yang begitu enak.
Semua makanan yang kumasak ludes dihabiskannya. Hanya tersisa sedikit nasi dan juga kuah soup.
"Bukankah dia tidak melarangku untuk memakan, makanan bekas. Iya aku ingat tidak ada tulisan dikertas itu, jadi tak apa aku memakan, makanan sisanya," ucapku senang, aku tidak akan kelaparan malam ini. Ada sedikit nasi dan kuah sup yang enak menemaniku.
Dengan semangat aku langsung mencampurkan nasi dengan kuah sup tadi. Duduk dilantai aku segera menyantapnya dengan nikmat.
"Akhirnya, aku bisa makan malam ini," ucapku setelah menghabiskan makanan sisa tadi. Lalu aku kembali berdiri untuk segera mencuci piring.
🔥🔥🔥
Kini, aku sudah kembali keruang tamu. Aku bingung saat ini, aku bingung dimana tempatku untuk beristirahat. Karena bingung aku memilih untuk duduk dulu disofa, sekaligus melepaskan rasa lelehku.
"Apa yang kau lakukan disana ?" tanya tuan Devan datang tiba-tiba.
Aku segera berdiri dari sofa itu, karena takut dimarahi.
" Emmm.... Kamar saya dimana, tuan." tanyaku sangat berhati-hati.
"Disana," aku mengikuti telunjukknya yang mengarah pada pintu yang terletak disamping dapur.
"Terima kasih, tuan." Jawabku, lalu berjalan menuju pintu itu.
Aku memutar knop pintu dengan bersusah payah, hingga akhirnya pintu itu terbuka. Dan tampaklah bagian dalam dari ruangan yang dikatankan oleh tuan Devan adalah kamarku.
Aku mebalikkan tubuhku, menatap pada tuan Devan yang juga menatapku.
"Ada apa?" ucapnya dengan nada suara yang membuatku ciut.
"Tidak apa-apa, tuan," jawabku menundukkan wajahku takut.
"Baguslah," jawab tuan Devan singkat lalu berlalu pergi dari sana.
"Tidak apa-apa Lona, tinggal dibersihkan saja, setelah itu kamar ini akan segera menjadi layak," ucapku lalu pergi mengambil sapu dan lainnya, dan mulia mempersihkan gudang itu.
30 menit kemudian, aku telah selesai membersihkan gudang itu. Kini, ruangan yang tadinya adalah gudang, sekarang terlihat sudah rapi. Aku berhasil menyusun kardus-kardus yang tadinya berantakan menjadi rapi. Kardus yang kosong aku gunakan untuk menyusun baju-bajuku didalamnya, angap saja itu adalah lemari. Aku juga membuat tikar dari kardus, agar aku tidak kedinginan saat tidur. Efek kelelahan. Aku pun segera mengambil kain dari lemari kardusku, dan langsung berpulung didalam kain itu, kemudian tidur menuju alam mimpiku yang sangat indah.
🔥🔥🔥
Seperti biasa setiap paginya, aku selalu bangun tepat waktu. Sekitar pukul 5 pagi aku telah bangun. Karena tidak akan ada lagi yang akan membantuku menuju kamar mandi, aku pun membawa seember air untukku mencuci muka.Setelah mata dan mulutku bisa terbuka, aku segera menuju dapur untuk masak. 25 menit kemudia aku telah selesai membuatkan sarapan. Karena masih terlalu pagi, aku pun menuju kamarku untuk mengambil pakaian. Lalu menuju kamar mandi yang ada di dapur, dan langsung memmbersihkan tubuhku disana.
Begitu selesai berpakaian dan juga bersiap. Kini, sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Aku segera menuju kamar tuan Devan untuk membangunkannya.
Seperti anjurannya, jika pagi aku harus langsung masuk ke kamarnya, dan segera membangunkannya.
"Tuan, tuan bangun tuan. Sekarang waktunya bangun, tuan." Ucapku menggoyang-goyangkan tubuh tuan Devan.
Tak ada sautan darinya, membuatku kebingungan. Saat aku akan pergi,
"Aaaaaaakh....,"
🍂🍂🍂
Like, komen, hadiah, dan vote🙏🙏🙏
Rate bintang 5 juga ya🙏🙏🙏
Maafkan typonya🙏
Selamat membaca dan semoga suka💗💗💗
Lope readerss😍😘😘😘
🔥🍂
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
kavena ayunda
nangis bacanya bner2 iblis
2022-11-13
0
玫瑰
Sedih nya..
2022-09-29
0
Yanti Linggar
aku dr kmr bca novel yg kejam jg,tp suami yg kejam sm istrinya,dr eps 1-60 si istri disiksa lahir batin. apa nih nnt jg mo kya gitu thor,jgn atuh. nnt yg ada aku unfavorite bacaanmu thor☹️🙏
2022-02-13
0