🔥🔥🔥
"Tuan, apa saya benar-benar harus memandikan, tuan?" tanyaku berhati-hati, agar tak menyinggung perasaanya. Peraturan pertama saja sudah se ekstrem ini. Aku benar-benar akan gila, kalau terus begini.
"Tentu saja, kau harus melakukan hal itu padaku. Begitu juga yang lainnya,"
Mendengar itu, aku kembali fokus membaca peraturan lainya. Dan ternyata semua peraturan memang sangatlah aneh. Apa ini memang pekerjaan seorang budak, ini lebih mirip pekerjaan yang dilakukan oleh babysister pada seorang bayi.
Mulai dari mambangunkan tidur, memandikan, menyiapkan pakaian, Bukankah itu semua adalah pekerjaan seorang babysister yang dilakukan pada seorang baby. Sedangkan tugas lainnya masih aman menurutku. Seputar pekerjaan yang dilakukan oleh seorang asisten rumah tangga. Aku tidak keberatan dengan pekerjaan sejenis itu. Tapi memandikan, aku merasa agak aneh.
Tapi pada akhirnya, akupun terpaksa menyetujui semua peraturan itu.
"Tuan, apakah saya boleh menambahkan beberapa hal dari saya," tanyaku pelan.
"Katakan," jawabnya singkat.
"Izinkan saya tetap bekerja seperti biasa di perusahaan. Dan satu lagi tuan, izinkan juga saya untuk pulang seminggu sekali kerumah saya. Saya harus membawakan bahan makanan untuk adik saya. Saya mohon, tuan," mohonku padanya.
"Tidak masalah. Yang penting saat aku berada di rumah, kau juga harus sudah ada dirumah," ancamnya membuatku merinding.
"Sa-saya berjanji, tuan. Saya tidak akan terlambat pulang," jawabku yakin.
"Bagus, sekarag lakukan tugasmu. Aku lapar, dan cepat buatkan aku makanan," titahnya padaku.
"Baik tuan, akan segera saya laksanakan," jawabku over semangat.
"Satu lagi, aku tidak mengizinkanmu menyentuh makanan dirumahku. Karena kau bekerja, maka kau harus makan dengan uangmu sendiri. Kau paham," ucapnya membuatku menelan saliva bersusah payah.
"Ba-baik, tuan," jawabku tak lagi semangat.
Dengan langkah gontai aku menuju dapur.
Pov Author:
Setelah lona memghilang dari pandanganya, tuan Devan berkata.
"Tuan H*to. Aku akan menjadikan putrimu, sebagai media pembalasan dendam atas kematian Ayahku. Lihatlah putrimu sudah menaruh hatinya padaku, dan liat saja, penderitaan seperti apa yang akan ia alami," ucap tuan Devan dengan senyumam liciknya, tak lupa tanganya yang mengepal membentuk tinjuan. (sengaja disensor, biar misteri)😂 Baru bab 4 aja sudah othor kasih Spoiler😁 (reader pasti bingung nih)😂
Pov Ilona Willa:
Aku hanya dapat menelan saliva, kala melihat banyaknya makanan yang sangat menggugah selera dihadapnku. Baru kali ini aku melihat mekanan semewah ini, beruntung sekali nasib orang kaya. Aku tidak pernah mencicipi seperti rasa daging. Nasi, telur, roti, dan mie instan untuk tiga orang. Hanya itu saja yang kami makan sehari-hari, itu saja sudah sangat mewah bagiku.
Daging! Itu adalah makanan yamg dicita-citakan oleh kedua adikku. Mereka berdua sering mengatakan padaku, bahwa mereka sangat ingin mencicipi bagaimana rasanya daging.
Tapi, jika kami membeli daging. Itu artinya kami harus kelaparan selama sebulan. Lebih baik uangnya kami belikan mie instan, bisa dapat beberapa kardus mie instan.
Gajiku diperusahaan tidaklah banyak. Sering direbut oleh ibu tiriku. Dan yang tersisa hanya dua lembar uang berwarna merah. Sebisa mungkin aku mengaturnya agar kami tidak kelaparan.
Ibu dan Ayah jarang pulang kerumah, mereka sering makan diluar. Mereka tidak pernah sedikit pun memikirkan kami anak-anaknya, yang mungkin saja kalaparan.
Walaupun tidak pernah makan daging, tapi aku bisa mengolahnya. Itu terjadi karena aku pernah bekerja paruh waktu, disebuah lestoran. Dan akupun mulai memasak beberapa jenis olahan yang sangat menggugah selera. Begitu selesai aku segera menyajikannya di meja makan. Setelah itu aku menuju ruang tamu untuk memanggil tuan Devan.
Begitu sampai diruang tamu, aku tak lagi melihat sosok tampan itu dasana. Pikiranku mengatakan, jika tuan Devan, tengah berada dikamarnya. Dan akupun segera menuju kamarnya.
Pintu kamarnya sedikit terbuka, aku pun langsung mengetuknya. Lama aku mengetuk pintu kamar itu, tapi tidak ada sahutan dari dalam.
Akhirnya aku memilih untuk segera masuk, kedalam kamar berukuran jumbo itu.
"Tuan, tuan diamana?" ucapku sambil mengelilingi kamar itu.
"Aaaaaakh," teriakku karena tiba-tiba tergelincir. Saat akan tumbang, aku tak sengaja menarik tangan kekar seseorang. Aku terjatuh dilantai dengan keadaan seseorang mengukung tubuhku. Betapa terkejutnya aku, ketika membuka mataku ada wajah tampan seseorang yang tersenyum genit menatapku. Aku langsung memejamkan kembali mataku, ketika melihat orang di atasku sedang bertelanjang dada.
"Sepertinya kau sangat niat untuk menggodaku," ujarnya padaku.
"Tu-tuan, tuan bangunlah dulu," ucapku masih dengan memejamkan mata.
"Kenapa, bukankah kau ingin kita berc*uman. Kau bangun lalu menc*umku atau aku semakin kebawah agar menc*ummu. Kau pilih yang mana?" ujarnya membuat pilihan yang tidak menguntungkanku.
"Tidak keduannya, tuan. Saya pilih tuan berdiri agar saya juga bisa berdi.....," jawabku terhenti, ketika pria yang kini mengukungku, sudah mel*mat bibirku dengan membabi buta. Aku membulatkan mataku kaget, tak lama aku tersadar. Aku berusaha melepaskan pang*tan itu, tapi tenagaku tidaklah cukup untuk melawannya. Air mataku menetes ketika tuan Devan meng!git bibirku kasar, agar aku membuka mulutku dan ia punya kesempatan untuk menjelajah didalamnya.
C*uman pertamaku telah dicuri, Apa yang akan aku katakan pada jodohku natinya. Batinku menangis saat ini.
"Tuan, lepaskan saya tuan," ucapku lemah, ini pertama kalinya aku dicium seseorang dan rasanya manis dan membuatku mual.
"Kenapa? Bukannya kau yang menginginknya. Kalau tidak, kenapa kau masuk kedalam kamar seorang lelaki tanpa meminta izin terlebih dahulu," jawabnya membuatku tak percaya akan kata-katanya. Mana mungkin aku menginginkannya. Aku memang mencintainnya, tapi tidak semudah itu aku memberikan c*uman petamaku pada sembarang orang. Dua tahun aku berpacaran dengan kak Ansel, tapi aku maupun dia tidak pernah melakukan hal seperti ini. Kecuali hanya sebatas berpegangan tangan.
Sedangkan pria menyeramkan ini, baru beberapa jam saja aku bersamanya. Dia sudah berhasil mengambil ciuman pertamaku.
"Tuan, tadi saya sudah mengetuk pintuya. Tapi tuan tidak menjawabnya, hingga saya terpaksa masuk kedalam kamar, tuan," jelasku tak ingin disalahkan.
"Berani sekali kau menjawabku, kau kira siapa dirimu. Bahkan jika aku menginginkan tubuhmu, maka kau harus merelakannya. Kau lupa berapa uang yang aku berikan padamu. Sekalipun kau menjual tubuhmu yang standar ini, kau tidak akan pernah mendapatkan uang sebanyak itu. Jadi, jangan pernah menentangku. Atau aku tidak akan membiarkan kau dan juga keluargamu bisa hidup tenang di dunia ini," bentaknya mencengkram daguku kuat, luka akibat tamparan ayahku, masih tersisa sehingga darah segar kembali mengalir dari plaster yang sudah tak lengket lagi.
🍂🍂🍂
Nama pemeran yang hadir hingga episode ini:
Devano Dizon
Ilona Willa
Kalika dan kalina (adik kembar Lona)
Maya dan Brandi (orang tua Lona)
Aron Mero (sekretaris Aron)
H*to? Siapa ya😱
Like, Komen, hadiah, dan vote, pleaseeeeee🙏🙏🙏
Jangan lupa Rate bintang 5 juga🙏🙏🙏
Maafkan typonya🙏
Selamat membaca dan semiga suka💗💗💗
🔥🍂
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
💛💙💜🖤🤍
ayah kndung ilona
2024-07-03
0
玫瑰
Ayah yang bersalah, anak yang jadi mangsa.
Sungguh..Sungguh,....Sungguh kasihan.
2022-09-29
0
Leni
ni baca ulang thor .Hito ayah kandung nya Ilona
2022-04-09
0