Semua orang sudah berkumpul di dalam ruangan rawat inap Delena. Mereka semua duduk di sofa dengan tenang sambil menunggu perkataan Dokter Iskandar mengenai kesehatan Delena, sementara Reno duduk dengan gelisah dan tidak tenang, Andini yang duduk disampingnya menenangkan Reno dari kegelisahan seraya mengusap lembut punggungnya.
"Reno tenangkan lah hatimu nak." ucap Andini, terus memberikan support dan kekuatan untuk sang anak "kalau kau tidak tenang begini, bagaimana dokter Iskandar bisa menjelaskan nya padamu?! Andini terus memberikan pengertian.
"Katakanlah padaku Dok! aku mendengarkan mu,,! ucap Reno dingin dengan pandangan mata kosong.
Dokter Iskandar membetulkan kacamatanya sebelum ia memulai bicara, "Hmm.. begini Tuan besar Mahesa, tuan Ramon dan tuan Reno, sebelumnya aku minta maaf bila perkataan ku akan membuat Tuan dan nyonya Andini bersedih, mengenai kondisi Nona Delena, saat ini kondisi Nona sangat memprihatinkan, kami team Dokter sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyadarkan Nona dari koma, mengenai kandungan Nona yang sudah berusia sembilan bulan kurang dua minggu, kami memutuskan bila dalam satu minggu Nona Belum sadar dari komanya, terpaksa kami tim Dokter akan menjalani operasi sesar untuk keselamatan anak dan istri tuan muda"
"Kenapa bisa begitu Dok,,,? apa tidak ada cara lain lagi?! tanya kakek Mahesa terlihat sedih, ia mendesah pelan.
"Karena bayi dalam kandungan Nona Delena semakin melemah jantungnya, dan harus segera secepatnya dilahirkan, bila tidak__" ucapan Dr Iskandar menggantung.
"Deg,, deg,, deg,, deg,,,,
Jantung Reno berdebar kencang, nafasnya tersengal menahan emosi. Seketika tatapannya menghunus tajam pada Dokter Iskandar yang berada di depannya. Aura wajah Reno memancarkan kesedihan yang sangat mendalam, tanpa terasa air mata Reno sudah mengalir bebas dari pelupuk matanya, Reno sudah tidak dapat berkata apa-apa lagi, bibirnya terasa kelu dan kaku, ia hanya bisa pasrah dan ikhlas mendengar ucapan Dr Iskandar, dadanya sesak seakan susah untuk bernafas, Reno hanya bisa menahan getir di hatinya.
"Sekarang semua keputusan kami serahkan pada Tuan Reno" kata Dr Iskandar iba
"Ren,, Reno,,! panggil Andini mengguncang guncang kan tangannya, Reno tidak bicara apa-apa sama sekali, ia hanya diam dengan pandangan matanya kosong, Reno beranjak dari duduknya berjalan kearah ranjang Istri yang sangat ia cintai, lalu duduk di sampingnya sambil memandang wajah cantik Delena yang terlihat pucat dan kurus.
Andini merasa bingung dengan sikap anaknya, ia ikut bersedih, Andini beranjak dari duduknya Ingin menghampiri Reno, Namun Ramon mencegahnya "Sudah biarkan saja Mah, jangan kau ganggu Reno dulu, mungkin dia masih syok, biarkan Reno tenang dulu ia butuh ketenangan, dan ia masih harus memikirkan keputusan Dr Iskandar dengan jernih, disaat ini kondisi Reno juga sedang tidak membaik. kita sebagai orang tua harus paham dengan kondisinya yang sedang terpukul." imbuh Ramon bijak.
"Baiklah kakek tetua, Tuan Ramon dan Nyonya Andini, kami semua pamit undur diri untuk meneruskan tugas kami,," Dokter Iskandar berkata dengan hati-hati.
"Baiklah,, tolong tunggu keputusan anak ku Reno, semoga Reno tidak salah dalam mengambil keputusan sendiri" kata Ramon prihatin
"Tapi bagaimana bila Reno tidak setuju?" tanya Andini sedih.
"Iya harus setuju, itu demi keselamatan istri dan anaknya,," kata kakek Mahesa tegas.
"Ayah lihat sendiri bukan? sikap Reno berubah dratis, pandangan matanya kosong, sekarang dia lebih banyak diam dan tidak mau bicara, aku takut Reno jatuh sakit,," Andini mulai meneteskan air mata, hatinya terasa pilu melihat kondisi anak dan mantunya yang sedang dalam kedukaan.
"Lebih baik kita banyak berdoa untuk cucuku anak dan mantu mu, jangan dibuat sedih, kasihan Delena sedang koma, ia masih harus memperjuangkan hidupnya untuk bangun dari koma, kita harus membantu Reno bangkit dari keterpurukan,," nasehat kakek Mahesa pada anak dan mantunya.
"Iya Yah..! ucap Ramon berusaha tegar.
"kami akan terus berusaha semampu kami sebagai seorang Dokter, untuk kesembuhan Nona Delena. Tolong ajak Nona Delena bicara seperti biasa, agar motorik di otaknya berkembang baik, dengan begitu ia bisa tersadar dari koma dan mengingat kembali kehidupannya." terang Dokter Iskandar
"Baik Dokter, terima kasih banyak!"
"Baik lah kalau begitu kami pamit undur diri, biarkan tuan Reno beristirahat agar lebih tenang dan rileks." Iskandar dan teamnya benar-benar pergi dari ruangan rawat inap Delena.
"kita harus pergi dari sini biarkan Reno memikirkan semuanya." kata kakek Mahesa turut bicara pada Andini dan Ramon, keduanya mengangguk sebagai respon. kakek Mahesa berjalan mendekati ranjang Delena, ia menepuk pundak cucu kesayangan nya.
"Reno,, kakek izin pamit dulu, tolong kau ambil keputusan yang bijak, kakek tidak ingin melihat kau bersedih terus. Ayo Ren, bangkitlah. kakek sedih bila melihat kau seperti ini" mata kakek Mahesa mulai berembun melihat cucunya sangat terpukul dengan kejadian tragis yang menimpa Delena, istri dari cucunya yang juga sangat ia sayangi sepenuh hati.
Reno menarik nafas dalam dan dihembuskan perlahan, lalu menoleh pada kakek Mahesa, ia meraih tangan kakeknya dan mencium punggung tangannya dengan takzim.
"kakek tenang saja ya, tidak usah khawatir, Aku akan terus berusaha kuat dan menunggu keajaiban dari Tuhan untuk kesembuhan istriku yang sangat aku cintai"
"Iya Nak, kakek percaya itu, keajaiban pasti akan datang, bersabarlah ini adalah ujian buat klurgamu, semoga kedepannya akan lebih baik lagi." Kakek Mahesa mengelus pucuk kepala cucunya penuh kasih sayang.
"Reno! Papa dan Mama mau pamit pulang juga, yang sabar ya Nak, jangan banyak melamun dan banyak berdoa untuk kesembuhan Delena, Papa percaya pasti ada jalan untuk kesembuhan ibu dari cucu-cucuku." Ramon menepuk pundak Reno dan memberikan kekuatan.
"Iya Pah, Mah, kakek,, terimakasih sudah peduli dan kasih aku support, do'akan semoga istriku secepatnya bangun dari koma. Dan kalian adalah kekuatan untuk Reno." terbesit senyuman tipis dari bibir Reno, walau wajahnya terlihat sedih.
"Iya sayang, Mama akan selalu mendoakan kesembuhan mantu kesayangan Mama." Andini mencium kening Reno lembut.
Mereka bertiga pergi meninggalkan ruangan rawat inap Delena, setelah Reno mencium punggung tangan mereka.
Reno masih terus menatap wajah delena yang tertidur pulas, mengelus lembut perut istrinya, ada pergerakan didalam perutnya, Namun tidak sekuat biasanya, airmata Reno sudah tidak bisa dibendung lagi "Anak ku, Daddy mohon... bertahan lah didalam, sebentar lagi kalian akan melihat dunia, Daddy menunggumu Nak" Reno mencium perut Delena yang membuncit penuh kehangatan.
Tatapan mata Reno beralih kepada istrinya dengan tatapan nanar, mengelus lembut kepalanya dengan penuh kasih sayang.
"Sayang..., sampai berapa lama lagi kau terus tidur seperti ini? aku sangat merindukanmu, teramat sangat rindu dengan senyuman dan tawamu yang renyah, bangun lah istriku. kapan kita bisa bersendau gurau bersama lagi, menikmati indahnya malam-malam bersama saat duduk diatas balkon sambil memandang bintang-bintang di langit. Aku merindukan masakanmu, rindu belaian manjamu." dari sudut mata Reno, airmata sudah berjatuhan membasahi wajahnya yang terlihat tirus. Guratan kesedihan tampak terlihat jelas.
"Bangun lah sayang.. aku menunggu kehadiranmu." mencium lembut kening istrinya dan berharap keajaiban itu akan datang.
🔥🔥🔥
@BERSAMBUNG
@Yuk terus ikuti kelanjutan nya jangan lupa untuk LIKE setelah membaca dan bantu Author untuk kasih VOTE/ HADIAH, sertakan juga KOMENTAR positifnya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 277 Episodes
Comments
Yuli Nar
cepat ambil keputusan reno, sblm terlambat kasian bayinya yg detak jantungnya semakin melemah.
2024-09-28
0
Emy Budi
seorang macan asia akhirnya luluh oleh delena . semoga delena cepat siuman dan sehat kembali.
2022-08-11
0
Iren
semoga keajaiban datang... semoga ttp semangat buat penulis nya... semang 45💪💪
2022-08-03
0