Matahari terbit di ufuk timur
Cahaya hangat menyibak dingin sang malam yang menyelimuti bumi
Sudah dua purnama Maharesi Mpu Barada melakukan perjalanan ke Bedahulu
Dari kejauhan dermaga Ujung Galuh, sebuah kapal besar sedang bersiap merapat ke dermaga.
Di dalam kapal semua orang bersiap untuk turun. Maharesi Mpu Barada, Rakryan Jayakerti dan Ranggawangsa juga sudah melakukan persiapan.
Terlihat wajah letih dari semua awak kapal setelah satu purnama melakukan pelayaran dari Bedahulu..
Perlahan kapal berhenti dan tepat bersandar.
Mpu Barada tersenyum lega
"Maaf Maharesi, sebaiknya kita menginap dulu di Ujung Galuh sebelum melanjutkan perjalanan ke Kahuripan. Saya dengar istana Kahuripan sudah sepenuhnya kosong, semua pejabat tinggi keraton sudah berpindah ke Dahanapura Maharesi" ujar Ranggawangsa berjalan di samping kiri Mpu Barada
"Iya sebaiknya begitu,
Lagi pula semua orang kelihatan letih
Selepas ini kita juga akan melakukan perjalanan jauh ke Dahanapura, Senopati" sahut Mpu Barada
Selepas barang selesai di muat di gerobak, semua rombongan menuju kediaman Tumenggung Ujung Galuh untuk beristirahat
**
Di lereng gunung Penanggungan
Di Padepokan Padas Putih
Hari ini Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati, bersiap untuk turun gunung..
Beberapa pengawal pribadi Adipati Seloageng juga di kirim untuk mengawal perjalanan pulang putri bungsu Adipati Seloageng. Nampak tak kurang sepuluh orang berpakaian biasa, namun kelihatan bahwa mereka prajurit prajurit pilihan kadipaten Seloageng yang dikepalai oleh seorang Bekel bernama Saketi..
Pria setengah baya berambut hitam bercampur putih nampak tegap dan gagah meski sudah tidak muda lagi..
Dewi Anggarawati mengenali Saketi sebagai pengawal pribadi ayahnya
Pria paruh baya itu mendekat kearah Dewi Anggarawati
"Sembah hamba Gusti Putri,
Hamba yang diutus Kanjeng Adipati untuk menjemput Gusti Putri pulang ke kadipaten Seloageng." ucap sang lurah prajurit seraya membungkuk hormat
"Terimakasih paman Saketi, aku sudah menyiapkan pakaian ku. Nanti Kakang Watugunung akan menyertai kita menuju kadipaten Seloageng Paman" jawab Anggarawati. Putri Adipati Seloageng itu memang terkenal sebagai putri Adipati yang tidak pernah membeda-bedakan kasta di istana Seloageng. Dia sangat akrab dengan rakyat di seputar istana kadipaten.
Berbeda jauh dengan dua kakak nya yang manja dan sombong.
"Watugunung itu siapa Gusti Putri?
Hamba belum mengetahui ada pengawal lain selain rombongan dari Seloageng"
"Nanti Paman akan mengenal nya"
ujar Anggarawati dengan mata berbinar binar
Panji Watugunung berjalan keluar dari bilik nya. Wajah lelaki tampan itu terlihat sedikit murung, Wajar saja, sudah lima tahun lebih sejak dia di titip kan pada Mpu Sakri oleh ayahnya. Tempat ini rumah kedua bagi Watugunung setelah Pakuwon Dahanapura..
Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang tak bisa menyembunyikan raut wajah sedih dari muka mereka. Wajah Ratna Pitaloka yang biasanya kasar dan kaku terlihat sembab setelah hampir semalam dia menangis. Bahkan Sekar Mayang mata nya juga terlihat bengkak dengan sisa sisa air mata di pipi nya
Dewi Anggarawati dan seluruh pengawal pribadi Adipati Seloageng sudah menunggu di halaman Padepokan Padas Putih. Hari ini Mpu Wanabaya selaku kepala sesepuh Padas Putih turut mengantar persiapan kepergian sang Putri.
Dari arah barat Padepokan, Panji Watugunung di iringi Gurunya Sang Resi Mpu Sakri, Warigalit dan dua adik seperguruannya yang terus menggelayut di tangan kanan kiri nya seakan tak rela melepaskan kepergian Panji Watugunung.
"Watugunung, pesan guru untuk mu.
Antar Anggarawati dengan selamat sampai ke istana Kadipaten Seloageng.
Hati hati, jangan mudah percaya dengan orang lain. Bijaksana lah dalam melihat segala sesuatu.
Guru yakin, kamu bisa membawa nama baik Padepokan Padas Putih ini di mata dunia persilatan Kahuripan" ujar Mpu Sakri sambil menepuk pundak murid kesayangannya itu
"Titah Guru akan murid ingat dan laksanakan"
"Kakang Wugunung, jangan lupakan kami ya" ujar Ratna Pitaloka sambil terus meneteskan air mata
"Kakang jangan lupakan Sekar ya, jaga kesehatan kakang hiks" ucap Sekar Mayang terisak sambil memegang tangan Panji Watugunung.
"Adik Watugunung, jaga dirimu. Dari sini Kakang selalu mendoakan mu semoga Sang Dewata selalu melindungi diri mu" ujar Warigalit bijaksana..
"Terimakasih semua saudara seperguruan ku, budi baik kalian akan ku ingat seumur hidup ku"
sambut Panji Watugunung " Paman Guru Wanabaya, saya mohon diri "
Watugunung membungkuk hormat kepada Resi Mpu Wanabaya yang membalas dengan senyuman dan lambaian tangan..
"Ayo Paman, kita berangkat"
Rombongan Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati lantas meloncat ke atas kuda meninggalkan Padepokan Padas Putih..
Semua pengantar sudah meninggalkan gerbang Padepokan Padas Putih
Sekar Mayang dan Ratna Pitaloka tetap di gerbang Padepokan, terus memandang rombongan itu sampai hilang di belokan bukit
Terlihat wajah mereka yang sedih melangkah gontai menuju kediaman Mpu Sakri..
Sementara itu, sepasang mata menatap kepergian Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati dari kejauhan...
**
"Kakang Wugunung,
Aku lelah.. apa tidak bisa kita beristirahat sebentar" teriak Dewi Anggarawati yang menaiki kereta kuda..
"Sebentar lagi Yayi, selepas hutan kecil ini kita mencari wanua atau kota untuk mencari penginapan" ujar Panji Watugunung
"Paman Saketi, apa masih jauh wanua terdekat dari sini? " tanya Dewi Anggarawati pada Saketi sang kepala prajurit
"Ampun Gusti Putri, selepas hutan ini ada kota kecil Pajarakan. Kita bisa beristirahat di penginapan di sana" jawab Saketi
"Aku lebih suka naik kuda dari pada naik kereta Paman" sahut Dewi Anggarawati cemberut, " kereta kuda terlalu lambat"
"Sabar Gusti Putri, sebentar lagi kita beristirahat"
Setelah melewati hutan kecil itu, mereka memasuki kota kecil Pajarakan. Walaupun kecil tapi kota ini cukup makmur dan ramai. Banyak fasilitas seperti penginapan dan rumah hiburan pun juga ada..
Rombongan Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati berhenti di sebuah penginapan besar yang bernama penginapan "Candramawa"
Penginapan itu cukup besar, ada rumah makan di lingkungan dalam penginapan. Berpuluh meja berjajar di situ
Panji Watugunung menatap suasana yang lumayan ramai, dia mencari bangku kosong untuk duduk. Ada beberapa bangku kosong di sudut ruangan yang dekat jalan. Panji Watugunung melangkah ke sana di ikuti Dewi Anggarawati dan rombongan nya
Sang pelayan berjalan mendekat.
"Mau pesan apa tuan?"
Sediakan kami makan dan minum" jawab Saketi
"Baik tuan,
Silahkan minum dan makan makanan kecil itu dulu tuan sambil menunggu pesanan tuan datang" kata pelayan dengan ramah
Pelayan bergegas ke dapur menyiapkan pesanan..
Tak berapa lama, pelayan rumah makan itu datang sambil membawa pesanan
"Silahkan tuan"
"Terimakasih,
oiya siapkan 7 kamar untuk kami bermalam"
Berapa semuanya?" tanya Saketi
"Semuanya dengan makanan tadi, 100 kepeng perak tuan"
"Ini ambillah"
Saketi memberikan satu kantong kepeng perak kepada pelayan itu
Sementara itu, dari sudut ruangan rumah makan. Sekelompok orang berwajah bengis edang memperhatikan rombongan Watugunung dan Dewi Anggarawati.
"Kakang, sepertinya mereka rombongan orang kaya. Lihat saja pakaian gadis itu dan pria tua yang di meja sebelah nya" bisik lelaki pendek berperut buncit
"Iya, seperti nya malam ini kita dapat mangsa besar, siapkan semua malam ini, panggil anggota kita yang lain. Selepas tengah malam kita beraksi" ucap pria berbadan besar dengan tompel besar di pipinya
"Baik kakang"
lelaki bertubuh pendek itu segera keluar dari rumah makan dan menghilang di keramaian
Panji Watugunung yang sadar di perhatikan, hanya tersenyum tipis sambil menyantap makanan nya..
'Sepertinya malam ini akan ramai'
*bersambung*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 325 Episodes
Comments
Bang Roy
ada empu wanabayanya seperti sanduwara radio dizaman aku kecil
2023-01-17
1
rajes salam lubis
mantap bener
2023-01-14
1
rajes salam lubis
kakaknya suketi
2023-01-14
2