Asap debu beterbangan di jalan luar Kotaraja,, tampak 3 orang berpakaian bangsawan dan sepuluh prajurit menggebrak kuda mereka melesat menuju keluar ibukota Kahuripan..
Mereka adalah orang-orang utusan Sang Prabu Airlangga untuk menemui Mpu Barada di lereng gunung Penanggungan.. Sang Mapatih Narotama sendiri yang memimpin utusan itu.
"Gusti Patih, berapa lama kita sampai di Siwatantra Penanggungan kalau terus menerus berkuda seperti ini?" tanya Mpu Tandi, sang kepala prajurit yang mengawal rombongan itu
"Menurut kakang Layang, kita bisa sampai kesana dalam 7 hari kalau mampu berkuda terus menerus seperti ini, tapi aku tidak yakin sebab kuda kuda kita juga perlu beristirahat bukan?? jawab Mapatih Narotama, " lagi pula aku juga sudah tua, tubuh ku tak sekuat muda dulu, jadi kita juga tidak bisa cepat sampai ke Siwatantra itu"
Pria sepuh berbadan tegap itu terus menggebrak kuda nya melesat ke arah selatan menuju Siwatantra Penanggungan..
**
"Pokoknya aku yang harus naik takhta, tidak ada yang pantas mewakili Yunda Sanggramawijaya menggantikan Ayahanda Prabu Airlangga selain aku, Samara Wijaya itu bocah lemah ibu, dia tidak pernah merasakan pahitnya pertempuran melawan pemberontak, jadi mana pantas dia menjadi raja di Kahuripan ini? " ujar Mapanji Garasakan di Puri Selir milik ibunya..
"Ibu tidak mendukung juga tidak mengiyakan keinginan mu Ngger Pangeran, karena kau juga punya hak atas takhta kerajaan Kahuripan, tapi ibu minta jangan membuat keributan yg memicu peperangan dengan Samara Wijaya, ibu pengen kalian rukun sebagai sesama putra Gusti Prabu Airlangga" balas Dewi Rengganis, ibu Mapanji Garasakan.. Wanita yang merupakan Selir kesayangan Prabu Airlangga itu tampak teduh menatap wajah putra semata wayangnya itu..
"Ibu harus membantu aku untuk membujuk Ayahanda Prabu Airlangga untuk mengangkat ku sebagai putra mahkota, karna ibu tau hanya aku yang pantas" ujar Mapanji Garasakan berapi-api , ibunya hanya menghela nafas panjang melihat putranya yang keras kepala itu..
Mapanji Garasakan bukan tanpa alasan bersikap seperti itu karna sebagian besar pembesar dan bangsawan di Kahuripan memang mendukung nya menjadi raja,, kisah kepahlawanan nya dalam membantu Sang Prabu Airlangga mengalahkan Raja Wengker memang menjadi pertimbangan para pembesar itu untuk mendukung nya walaupun dia hanya seorang putra dari selir..
**
Di sisi barat keputran Kahuripan
Tampak 4 orang berpakaian bangsawan dan seorang lelaki muda yang tampan sedang berbicara..
"Bagaimana Gusti Pangeran?? Apa sudah siap untuk menghadap Gusti Prabu Airlangga?" tanya Mahamantri i Halu Dyah Talang kepada pemuda yang dia sebut pangeran .
"Aku belum siap paman, karna paman tau sendiri jika aku tidak pernah mengharapkan untuk menjadi raja menggantikan posisi ayahanda" ujar Samara Wijaya sambil menghela nafas " Yunda Dewi Sanggramawijaya lebih tepat untuk memimpin rakyat Kahuripan ini paman"
"Tapi Gusti Putri tidak bersedia menggantikan Gusti Prabu Airlangga, dan memilih menjadi pertapa.. ingat Gusti pangeran, negeri ini butuh pemimpin yang merupakan putra Gusti Prabu Airlangga dengan Gusti Permaisuri, bukan dari selir" tukas Dyah Talang, lelaki sepuh itu benar-benar tidak rela jika takhta Kahuripan jatuh ke tangan Mapanji Garasakan..
"Kenapa paman sepertinya tidak suka jika Kakang Mapanji menjadi raja??" balas Pangeran Samara Wijaya sambil memandang tajam ke arah Dyah Talang.
"Ampun Gusti Pangeran, bukan hamba tidak suka Gusti Mapanji Garasakan menjadi raja, tapi hamba hanya meletakkan kebenaran diatas segala rasa,, karna bagaimana pun yang hamba sampaikan adalah adat istiadat wangsa Isyana yang sudah berlangsung dari leluhur pangeran, Sang Isyana Tunggadewa" ujar Dyah Talang
...
"Hemmmmm, baiklah paman beri aku waktu. akan ku pikirkan masalah ini, dan bila sudah ada jawaban nya, aku akan mengabari paman" tukas Pangeran Samara Wijaya.
"Hamba menunggu kabar baik dari Gusti pangeran, hamba mohon diri" Dyah Talang lalu menghaturkan sembah dan bergegas mundur dari kediaman Samara Wijaya..
'Aku sama sekali tidak berminat menjadi raja, Yunda Dewi Sanggramawijaya benar benar menyusahkan aku ' batin Samara Wijaya ...
**
Sementara itu di Padepokan Padas Putih
di timur padepokan itu, ada sebuah sungai kecil dan kebun yang di tanami palawaija,, di tepi sungai tampak seorang pemuda sedang bergerak lincah melatih jurus jurus ilmu beladiri..
Pemuda itu, Panji Watugunung tampak berlatih Ilmu Pedang Bayangan jurus ke 10 yg baru ia dalami...
Gerakan nya cepat dan juga bertenaga, seperti seorang tokoh dunia persilatan.
"Jurus ke 10 - Bayangan Bulan Sabit____"
.
Hiaaaaatttttt.....
Angin menderu mengikuti gerakan jurus pedang yang meliuk lincah, menyabet ranting dan daun di sekitar tempat itu..
Dari balik rimbun pepohonan muncul Ratna Pitaloka mendekat ke arah Panji Watugunung
di tangan nya menenteng sebuah tempat makan dari kain..
"Kakang, latihan nya istirahat dulu"
teriak Ratna Pitaloka
Seketika Panji Watugunung menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arah suara itu sambil tersenyum..
Ratna Pitaloka, gadis berusia 16 tahun itu memang cantik, dilihat dari sisi manapun tetap cantik, dan anggun seperti sebuah permata yang indah, walaupun tinggi nya hanya sepundak Panji Watugunung namun dia terlihat sangat menawan..
Perlahan Panji Watugunung melangkah ke arah Ratna Pitaloka yang duduk di batu besar di bawah pohon kosambi rindang..
"Jangan latihan terus kakang, kau juga perlu tenaga,, ini aku tadi menangkap ayam hutan.. sudah ku masak, makan lah kakang" kata Ratna Pitaloka dengan menyodorkan sebuah pinggan kayu kepada Panji Watugunung
"Terima kasih adik, kau tau saja kalau sudah lapar " balas Panji Watugunung dengan senyum manis..
"Kakang ini kalau sudah latihan selalu lupa makan" gerutu Ratna Pitaloka
"Iya iya, sudah jangan menggerutu terus, nanti adik cepat tua loh" seloroh Panji..
"Ihhh kakang ini mulai deh" tukas Ratna Pitaloka
"Duhh ngambek ya" , Jangan marah dong dik, Kakang kan cuma bercanda" balas Panji Watugunung dengan tersenyum
Ratna Pitaloka yang terlanjur cemberut di goda Panji Watugunung, seketika berbunga bunga melihat senyuman manis itu..
.
"Hai, makan gak ajak ajak.. Bagi dong kang" seruan itu mengagetkan mereka berdua
'Huhh, dasar pengacau, selalu saja mengganggu kesenangan ku" batin Ratna Pitaloka
"Sini dik, ayo kita makan bareng, masih banyak kog" panggil Panji Watugunung ke Sekar Mayang yang berteriak tadi
Sekar Mayang tanpa suara dua kali langsung mendekat ke arah Panji Watugunung, yang sedang asyik menikmati makanan nya..
"Kangmbok, aku minta makanan nya ya? Lapar Kangmbok" rengek Sekar Mayang pada Ratna Pitaloka..
"Itu tinggal ambil, tapi pinggan nya cuma dua jadi kalau mau makan, kamu pakai alas daun pisang saja ya" kata Ratna Pitaloka sambil tersenyum mengejek..
"Ih kenapa pinggan nya cuma dua Kangmbok, pasti rencana makan berdua dengan Kangmas Panji ya??" selidik Sekar Mayang sambil memicingkan matanya..
"Cerewet banget sih, buruan makan.. kalau gak mau tak habiskan ini" ancam Ratna Pitaloka
'Duh, ni bocah ngomongnya di depan kang Panji lagi, bikin aku salah tingkah saja '
"Iya iya Kangmbok, gitu aja marah.." huuu, gak seru " jawab Sekar Mayang
Mentari sudah di puncak gunung menyinari lereng gunung Penanggungan yang hijau..
Suasana cerah mengikuti hembusan angin yang sepoi-sepoi
Tak jauh dari sana dua pasang mata menatap mereka yang sedang menikmati makanan..
bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 325 Episodes
Comments
MATADEWA
Takutnya yg rebutan siapa yg dapat siapa....
2025-03-23
0
Buluh Tengon
mau ikutan baca cersil Nusantara
2025-01-18
0
Buluh Tengon
aku juga mau doong
2025-01-18
0