Sudah 2 pekan Mapatih Narotama dan Rakryan Jayakerti berdiam di Siwatantra Penanggungan. Selama disana beliau mendalami ilmu agama sambil menunggu sang Mpu Barada dari semedi nya
"Gusti Mapatih,
Bukankah hari ini seharusnya Resi Mpu Barada menemui kita?" tanya Jayakerti seraya menatap wajah sepuh Narotama
"Sabar Jayakerti, aku tau kau sudah kangen suasana Kotaraja Kahuripan", jawab Mapatih Narotama sambil tersenyum, " tapi tugas kita dari Gusti Prabu Airlangga lebih penting dari sekedar kangen keluarga hehehehe"
"Hamba tidak berani Gusti Mapatih" sahut Jayakerti sambil menunduk
'Bagaimana Gusti Mapatih bisa menebak isi hati ku' batin Jayakerti sambil merutuki kebodohan nya..
Lalu tiba-tiba seorang cantrik muda berlari
menuju kearah mereka berdua.
"Ampun Gusti Mapatih, Danghyang Mpu Barada sudah selesai bersemedi, menunggu Gusti Mapatih di aula"
"Baik, aku akan kesana" ujar Mapatih Narotama yang segera bergegas menuju aula Siwatantra sambil di ikuti Rakryan Jayakerti
Sesampainya di sana, mereka sudah di tunggu Mpu Barada sambil tersenyum
"Monggo pinarak Gusti Mapatih,
mohon maaf membuat Gusti Mapatih harus tinggal di tempat sunyi ini lebih lama"
"Tak apa Kakang Mpu, aku hanya melaksanakan apa yang menjadi tugas ku dari Gusti Prabu Airlangga" jawab Mapatih Narotama, " Bagaimana Kakang, sudah ada petunjuk dari Dewata untuk masalah ini?"
"Sudah Gusti Mapatih, tapi sebaiknya kita bicarakan bersama Gusti Prabu Airlangga tidak di tempat ini" jawab Mpu Barada
Hemmmm
"Mohon Gusti Mapatih Narotama tidak tersinggung dengan jawaban ku, karna masalah ini sangat sensitif. Aku takut jika nanti menimbulkan penafsiran berbeda jika tidak langsung dengan Gusti Prabu Airlangga" timpal Mpu Barada
"Iya Kakang, aku memahami nya,
Kapan kita berangkat ke Kahuripan kakang Mpu?" tanya Mapatih Narotama
"Lebih cepat lebih baik Gusti Mapatih, karena semakin cepat terselesaikan ini akan semakin baik" tukas sang Mpu
"Jayakerti, siapkan bawahan mu..
Besok pagi kita berangkat ke Kahuripan"
titah sang Mapatih
" Titah Gusti Mapatih siap saya laksanakan"
Jayakerti segera menghaturkan sembah lalu mundur dari aula menyiapkan perbekalan untuk perjalanan besok kembali ke Kotaraja Kahuripan..
.
.
.
Esok pagi nya, rombongan Mapatih Narotama bersama kereta kuda membawa Resi Mpu Barada berangkat menuju istana Kahuripan
**
Sementara itu di Kotaraja Kahuripan, suasana semakin memanas
Sudah terbentuk dua kubu pembesar di istana.
Adipati Seloageng, Wengker, Anjuk Ladang, Tanggulangin, Karanganom memihak kepada Samara Wijaya di ikuti Mahamantri i Sirikan, beberapa Senopati muda, dan para tumenggung berpengaruh
Sedangkan kubu wetan Mapanji Garasakan di dukung oleh Adipati Ujung Galuh, Kanjuruhan, Dinoyo, Lamajang serta Mahamantri i Halu , beberapa bupati perdikan, 2 Senopati sepuh dan 1 tumenggung dari timur
Masing-masing kubu sudah mempersiapkan senjata dan diri mereka jika perang saudara meletus sewaktu waktu..
**
"Kakang Watugunung,
Ini ikan bakar nya sudah matang"
teriak Anggarawati memanggil Panji Watugunung yang sedang membelah kayu kayu kering dengan kapak
Peluh masih berceceran di dahinya,
Dia tersenyum tipis lalu berjalan mendekati Anggarawati yang meniup ikan bakar panas itu.
Sudah dua pekan Dewi Anggarawati ikut tinggal di pondok kayu tempat latihan. Gadis cantik itu semakin akrab dengan Watugunung, entah karena kebaikan hati Watugunung atau terpesona dengan ketampanan pemuda yang menginjak usia 18 tahun itu.
"Ayo kakang, buruan makan mumpung masih hangat... " ucap gadis itu sambil menyodorkan ikan bakar kearah Watugunung sambil tersenyum
"Atau kakang mau minum dulu, biar ku ambilkan", bergegas Dewi Anggarawati menuju ke pondok kayu gadis itu setelah ikan bakar diterima Panji Watugunung..
'Gadis ini, belum di jawab sudah main tinggal saja. Apa Benar dia putri bangsawan?' gerutu Watugunung
" Ini Kakang minum dulu ya"
"Terimakasih Denayu Anggarawati, seharusnya Denayu tidak usah repot-repot mengambilkan aku air minum segala" tukas Watugunung sambil melirik Anggarawati yang bersungut-sungut karna ucapan nya itu..
"Aku kan tidak di istana Kadipaten Seloageng, jadi berhenti memanggilku seperti itu atau aku tidak mau bicara dengan kakang lagi" sahut Anggarawati sewot sambil melengos kesal meninggalkan Watugunung menuju pondok kayu
"Iya Denayu eh yayi Anggarawati, kakang minta maaf..." Watugunung setengah berteriak..
'Hihihi, rasakan sekarang kau kakang. Memang enak dimarahi' Anggarawati tersenyum tipis sambil pura pura ketus
"Iya..." jawabnya
"Kog masih marah? Kan aku sudah minta maaf.." kata Watugunung lembut
"Telat" jawab Anggarawati singkat sambil pura pura sibuk merapikan tempat tidurnya
'Dihh perempuan ini mau nya apa sih?'
"Terus apa yang harus aku lakukan supaya yayi Anggarawati tidak marah lagi pada kakang? " ucap Panji Watugunung memelas..
Anggarawati tersenyum licik,
lalu berkata " Carikan telur ayam hutan"..
"Hahhh!!!
Itu kan sulit yayi" ujar Panji Watugunung
" Bukan urusan ku,
pokoknya aku mau makan malam dengan telur ayam hutan, titik! " Anggarawati ketus menjawab
"Iya iya Kakang carikan" ujar Panji Watugunung melangkah keluar
'Duh, dasar putri istana. Manja nya minta ampun'
Dewi Anggarawati tersenyum tipis melihat pria itu memasuki hutan kecil dengan bersungut-sungut kesal.
'Ternyata dia begitu baik padaku, jadi tambah suka deh. Gusti Dewata jodohkan aku dengan dia '.....
.
.
.
Sampai sore, Watugunung belum juga kembali ke pondok kayu. Dewi Anggarawati sebentar sebentar menatap jalan setapak di tepi hutan kecil itu dengan khawatir.
Begitu melihat wajah lelaki tampan yang dirindukan nya, Anggarawati tersenyum lalu menghambur ke arah nya..
"Gimana Kakang?
Dapat telur ayam hutan nya?
Berapa banyak kakang dapat?? "
"Kalau tanya satu satu, bingung kakang jawab nya" jawab Panji Watugunung garuk garuk kepala sambil menyerahkan 12 butir telur ayam hutan
Dewi Anggarawati meringis,
"Iya Kakang maaf, gitu aja marah"
"Tuh semua, rebus saja.. awas tak kau habiskan..
Malam ini aku mau makan daging celeng ini saja" ancam Watugunung seraya melempar tubuh babi hutan kecil yang mati terkena panahnya..
.
.
.
Malam ini, kabut tipis turun menyelimuti lereng Arjuna. Suasana malam begitu tenang seakan menjadi pengantar lelah
Panji Watugunung asyik menyantap daging celeng nya sedangkan Dewi Anggarawati sibuk mengupas kulit telur ayam hutan
"Yayi boleh aku tanya? " ucap Panji Watugunung menghentikan gerakan Dewi Anggarawati mengupas kulit telur ayam hutan..
'Ada apa Kakang Watugunung seperti itu'
"Iya, silahkan kakang,
Mau tanya apa?" jawab Dewi Anggarawati menatap kearah Panji Watugunung
" Bagaimana yayi bisa sampai ke tempat itu?" tanya Watugunung
" Jawab jujur, jangan sampai berbohong pada ku"
Huhhh...
Dengan membuang nafas kesal, Dewi Anggarawati berkata
"Sebenarnya aku di culik Kakang, ketika aku sedang berjalan di pasar dekat istana Kadipaten Seloageng"
"Hahhh bagaimana bisa??
apa yayi berjalan tanpa pengawalan? " Panji Watugunung terkejut
"Bukan begitu,
Awal mulanya aku marah pada Kanjeng Romo Adipati yang berkata ingin menjodohkan putri nya dengan anak salah satu kerabat keraton Isyana yang menjadi Akuwu di Dahanapura.."
Deggg..
Jantung Panji Watugunung seperti di hantam batu besar mendengar penuturan Dewi Anggarawati
"Putri Romo Adipati kan ada tiga, aku paling bungsu, masih ada Yunda Dewi Anggarasari dan Yunda Dewi Anggarasasi , tapi mereka belum menikah sedangkan Romo Adipati memaksa ku.. Namun sebagai putri nya aku tak bisa menolak keinginan Romo Adipati..
Aku yang kesal, lantas memutuskan untuk berjalan jalan di luar tembok kadipaten, tiba tiba aku di hadang rombongan penculik pimpinan Macan Kumbang itu.
Aku di sekap dan dibawa daerah Hantang ini,
Aku berhasil kabur dari penjaga di markas mereka tapi kaki tangan Macan Kumbang terus memburu ku..
Untung saja aku Kakang tolong, kalau tidak entah bagaimana nasib ku" Anggarawati sendu sambil menatap langit malam yang gelap..
"Kalau boleh tau, siapa nama saudara jauh Romo mu yayi" tanya Panji Watugunung
"Panji Gunungsari"
*bersambung*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 325 Episodes
Comments
MATADEWA
Jodohku.......
2025-03-24
0
Drra Andini
Oh? Itu kan ayahku. 🤭
2024-04-03
2
Drra Andini
Dahanapura. Jadi keinget cerita wayang, padepokan tirta dahana dari eyang semar dan menerima arjuna jadi muridnya. 😁
2024-04-03
1