Satu purnama sudah berlalu, Sang Mpu Barada sudah ada di Bedahulu menjadi utusan Prabu Airlangga meminta hak atas takhta kerajaan. Namun Prabu Udayana ternyata telah memberikan takhta Bedahulu kepada putra keduanya, Marakata. Sebagai gantinya Prabu Airlangga mendapatkan upeti besar tiap tahun dari Bedahulu.
Mendapat jawaban seperti itu, Mpu Barada dan rombongan utusan pamit pulang ke Kahuripan
Sementara pembangunan ibukota baru Kahuripan di Dahanapura sudah berjalan, istana baru sudah memiliki beberapa bangunan inti mengingat banyaknya rakyat yang sukarela bergotong royong mempercepat proses pembangunan. Beberapa pejabat tinggi keraton juga sudah mulai berpindah kediaman di ibukota baru Kahuripan, Dahanapura..
Panji Gunungsari di pindahkan jabatan menjadi bupati Gelang-gelang, daerah penyangga Dahanapura di sebelah selatan. Sementara ibukota Kahuripan baru dipegang Tumenggung Amancanegara, Dyah Adiguna.
**
Sementara itu di Padepokan Padas Putih, nampak Mpu Sakri sedang asyik berbincang dengan murid-murid kesayangan nya..
"Hari ini, aku sudah selesai memberikan ilmu Ajian Sepi Angin kepada kalian.. Meskipun tingkat keberhasilan tidak sama, tapi aku cukup puas dengan pencapaian yang kalian dapatkan"
"Terimakasih kasih guru" , Empat murid Mpu Sakri memberikan hormat
"Anggarawati, aku sudah mengirim surat ke ayahmu, kalau tidak salah mungkin pekan depan sudah ada jawaban darinya", ucap Mpu Sakri pada Dewi Anggarawati.
"Selama disini, pergunakan waktu sebaik-baiknya untuk belajar beladiri dari Watugunung, karna aku sedang ada kerepotan jadi tidak bisa mengajari mu"
"Terimakasih Resi, atas ijin belajar pada Kakang Watugunung" jawab Anggarawati senang
Sementara itu Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang cemberut mendengar nya
'Huh dasar putri istana manja, pasti dia memanfaatkan waktu untuk dekat dengan kakang Watugunung' batin Ratna Pitaloka.
"Aku akan menurunkan ilmu ku, Tapak Dewa Api pada kalian.. Masing-masing berdasarkan tingkat tenaga dalam kalian, semakin tinggi keberhasilan dari ilmu ini untuk hidup kalian "
Malam ini ku mulai dari kau Warigalit, sebagai kakak tertua kau mendapatkan giliran lebih dulu"
"Terimakasih guru, murid patuh pada guru" ucap Warigalit semangat..
'Apa boleh buat, walau mereka belum sepenuhnya siap tapi aku tidak bisa menunda menurunkan ilmu kanuragan tingkat tinggi ku.
Aku berlomba dengan waktu' batin Mpu Sakri
Malam itu, Warigalit berlari mengikuti sang guru melesat ke luar padepokan menuju tempat yang sudah di janjikan.
Dengan Ajian Sepi Angin tingkat 5 nya, dia mampu berlari seperti terbang dengan kecepatan tinggi.
Whussss
Jegg
Warigalit sudah sampai di atas batu besar, di samping tebing batu curam
"Sekarang kau akan menerima jurus Tapak Dewa Api, sampai jurus keberapa itu tergantung kemampuan tenaga dalam mu Warigalit"
"Murid mengerti guru" jawab Warigalit
Lalu Warigalit duduk bersila, memusatkan tenaga dalam nya
Resi Mpu Sakri kemudian meletakkan tangan nya diatas kepala Warigalit
Seberkas sinar kemerahan seperti api, keluar dari tangan Mpu Sakri masuk ke tubuh Warigalit
Hawa panas seketika masuk membuat Warigalit berusaha keras untuk menahan nya
Keringat bercucuran dari kening dan tubuh Warigalit, sampai di titik tertentu Mpu Sakri melepas tangannya membuat Warigalit bisa bernafas lega walau hawa panas itu masih terasa ditubuh nya..
Resi Mpu Sakri tersenyum lega
" Kendalikan tenaga dalam mu, jangan kau lawan hawa panas yang masuk"
Pusatkan semua titik lubang tubuh mu bernafas agar tubuh mu bisa menerima"
Huffft
Perlahan hawa panas itu menghilang dari tubuh Warigalit, lalu Warigalit membuka matanya..
Mpu Sakri lega
"Kau mampu sampai tingkat 7 Warigalit, bagus untuk pemuda seusia mu.. Dulu seusia mu aku baru sampai tingkat 5"
"Sekarang kau coba Tapak Dewa Api, hantamkan pada batu itu, jangan semua tenaga mu, cukup separuh nya saja"
Warigalit berdiri, memutar dua tangan didepan tubuhnya, lalu menyilang kan tangan di dada, memusatkan tenaga dalam pada tangan
Seketika muncul sinar kemerahan dari tangan kanannya, Warigalit melompat ke atas dan menghantamkan tangan kanan
Seberkas sinar merah keluar menerabas batu sedang di sisi tebing.
"Dhuarrrr!!
Ledakan dahsyat terjadi
Batu tebing hancur berkeping keping
"Hahahaha bagus Warigalit bagus,
selepas ini kau tinggal menaikkan tingkat tenaga dalam mu agar kau bisa mencapai tingkat 9, tingkat tertinggi dari Ilmu Tapak Dewa Api ini"
"Terimakasih guru, murid akan melakukan perintah guru" ucap Warigalit senang
"Sudah hampir tengah malam, ayo kembali ke Padepokan" ujar Mpu Sakri
Warigalit mengangguk, lantas mereka berdua melesat menembus gelap malam menuju Padepokan Padas Putih...
.
.
.
Esok harinya nya,
Mentari sudah keluar menghangatkan bumi
Kicau burung mulai bersahutan di sekitar Padepokan Padas Putih
"Oah segar sekali rasanya" teriak Dewi Anggarawati sambil memejamkan mata sambil berendam di belik pemandian belakang Padepokan Padas Putih..
"Woy, putri istana mau sampai kapan kau mau berendam di situ! "
Hari ini giliran mu memasak"
Suara itu membuat Dewi Anggarawati membuka matanya
Cihhhhh
'Dasar pengacau'
Kalau bukan adik seperguruannya kakang Watugunung sudah kucakar wajah bengis nya itu'
"Iyaa Kangmbok Pitaloka yang paling ayu, ini aku sudah mau berganti baju" jawab Anggarawati dengan gaya mengejeknya
Ratna Pitaloka mendengus kesal dan segera pergi menuju Padepokan meninggalkan Anggarawati yang tersenyum penuh kemenangan..
Anggarawati segera naik dan berganti baju, seraya membawa keranjang berisi pakaian yang baru di cuci
Saat menaiki tangga menaiki tangga di belakang rumah, tiba tiba Anggarawati terpeleset
Saat hendak jatuh, satu bayangan melesat
tangan kanan nya merangkul pinggang Anggarawati
Uhhhh
Anggarawati seketika tersihir oleh raut wajah lelaki yang menolong nya itu.
'Tetap saja tampan' gumam Anggarawati
Jantung Anggarawati berdetak kencang seraya melingkarkan tangannya ke kepala lelaki itu yang tak lain adalah Panji Watugunung..
Seperti tak sadar, karna terbius oleh ketampanan Watugunung, Anggarawati mencium bibir laki laki pujaan hatinya..
Cup
Panji Watugunung yang juga terbius oleh kecantikan wanita itu tak sempat mengelak saat bibir Anggarawati mendarat sempurna di bibirnya.. Dadanya berdegup kencang sekali
"E-eehh ma-maaf Kakang"
ucap Anggarawati gagap setelah tersadar dari tindakan nya
Wajahnya merah seperti tomat matang, dia malu sekali
Hemmmm
"Iya iya gak apa apa yayi" Watugunung mencoba tenang menghindari kegugupan hati nya
Segera tangan nya melepaskan diri dari tubuh gadis cantik itu
Anggarawati merasa ada sesuatu yang hilang dari tubuhnya
"Maaf kakang, aku minta maaf
janji jangan marah ya" tatap Anggarawati memelas
"Sudah gak papa kog, tapi kamu harus janji dulu"
"Janji apa Kakang? "
"Tak ada orang yang boleh tau soal ini"
jawab Watugunung
"Iya Kakang, Anggarawati janji"
"Ya sudahlah, aku mau berburu ke hutan dulu.. Kau pengen apa? Biar nanti ku carikan"
"Telur ayam hutan kakang"
Panji Watugunung tersenyum karena dia tau apa kesukaan gadis cantik itu dan sudah menduga apa pesanan nya..
"Kakang pergi dulu"
"Hati hati kakang"
Panji Watugunung segera melesat ke hutan di barat Padepokan Padas Putih sambil menenteng busur panah dan golok pendek terselip di pinggang
Begitu masuk hutan, Panji Watugunung melompat ke pohon asem tinggi untuk mencari buruan.. Matanya berbinar melihat telur ayam hutan di balik pohon randu alas yang bolong..
Watugunung segera bergegas menuju pohon randu bolong. Dengan hati hati dia membungkus telur telur ayam hutan itu dengan daun krombang , kemudian memasukkan ke dalam buntalan kain yang ada di punggung nya..
Lalu pemuda tampan itu melesat masuk ke hutan,
Tiba tiba dari arah berlawanan muncul dua bayangan berpakaian hitam
Panji Watugunung segera menyelinap di balik pohon besar
' Siapa mereka? sepertinya bukan anggota Padepokan Padas Putih' batin Watugunung
"Kang Wugu, kenapa kita di suruh kesini lagi?
Bukankah laporan yang kita berikan kemarin sudah lebih dari cukup" sahut lelaki kurus yang berjalan di belakang
"Aku hanya di perintah sesepuh Tangan Setan untuk memeriksa laporan telik sandi yang mengatakan di padepokan itu ada gadis bangsawan" jawab lelaki gempal yang di panggil Wugu tadi
"Sebaiknya kita hati hati Kakang, jangan sampai tugas kita tercium oleh mereka.
Kita sudah dekat Padepokan Padas Putih"
"Aku tau itu Tambir" jawab Wugu
Sementara itu dari balik pohon Panji Watugunung mendengar semua percakapan mereka
'Hemmm jadi ada mata mata di Padepokan Padas Putih'
Seketika Panji Watugunung melompat menghadang mereka
"Berhenti kalian"
*bersambung*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 325 Episodes
Comments
MATADEWA
Penyusup.....
2025-03-24
0
Mahayabank
Yaudah lanjuuuut lagiiieee 👌👌👌/Facepalm/
2023-12-19
1
Mahayabank
/Good//Good//Good//Ok//Ok/
2023-12-18
1