Mentari mulai bangkit dari peraduannya, menggugah seisi bumi dalam kehangatan selepas malam dingin nan tenang.
Burung burung mulai menggeliat dari sarang, bersiap bertarung mencari makan menyambung hidup.
Hari ini, tepat 1 purnama sudah murid murid Mpu Sakri berlatih dan meningkatkan ilmu kanuragan mereka.
Whussss blarrr!
Panji Watugunung menurunkan tangannya, sambil menatap batu tebing yang hancur berantakan setelah terbabat jurus Pedang Tanpa Bentuk ke 14 ___ Jiwa Dewa Pedang.
Nampak peluh mengalir ke pipinya
Dari arah pondok kayu, Dewi Anggarawati tersenyum memandang kearah Panji Watugunung dengan pandangan kagum
'Lelaki hebat. Sudah tampan, ilmu kanuragan nya juga hebat. Tak salah jika aku jatuh cinta padanya' batin Dewi Anggarawati
"Kenapa kau senyum senyum begitu yayi?"
Deggg...
Suara lelaki itu bagai angin kencang yang menghantam jantung Dewi Anggarawati..
Saat melamun, Anggarawati tidak sadar kalau Panji Watugunung berjalan mendekati nya..
"A-aku ah tidak-tidak kog" jawab Anggarawati tergagap..
'Ah bodoh bodoh bodoh, kenapa aku malah melamun sih'
"Kog kaget gitu? Ada apa yayi?" tanya Watugunung penasaran
"Anu ada itu burung ya burung kakang" Anggarawati gugup mencari alasan
"Mana? Perasaan tidak ada burung lewat dari tadi .."
"Sudah pergi kakang, iya sudah pergi kesana" Anggarawati tersenyum sambil menunjuk arah timur..
'Duhh bisa bisanya aku berbohong' rutuk Anggarawati jengah
"Ya sudahlah lah, hari ini kau mau makan apa? Ayam hutan, ikan bakar atau buah buahan?
tanya Watugunung ke arah Anggarawati
"Terserah kakang saja"
"Baiklah, aku akan ke hutan dulu, kau baik baik disini,
Kalau ada yang menggangu, kau bisa membela diri mu dengan jurus yang aku ajarkan"
"Iya Kakang" jawab Anggarawati mengangguk pelan
Panji Watugunung lalu mengambil busur panah nya, seraya golok pendek terselip di pinggang kiri.
Belum sempat masuk hutan, tiba tiba...
Srringgg..sringgg...
Dua pisau pendek melayang cepat mengincar dada Watugunung
Merasa angin dingin berhembus, Watugunung melompat ke kiri menghindari pisau dengan tatapan waspada.
"Haii, keluar !!
Jangan berani cuma main petak umpet!"
Tunjukkan wujud mu kalau kau manusia"
Dari rimbun pepohonan, melesat bayangan manusia yang langsung menyerang dengan tongkat kayu menusuk lurus ke dada
Whutttt..
Watugunung segera mencabut golok pendek nya, menangkis gesit
Trakkk..
Lalu melompat mundur sambil bersalto di udara, mendarat 2 tombak di belakang
"Tunggu Kisanak, ada apa kau menyerang ku?"
Bukannya menjawab, sosok bertopeng itu kembali melesat menghantamkan tongkat kayu nya ke pinggang Watugunung,
Mendapatkan serangan itu, Watugunung memutar tubuhnya di udara sambil membabatkan golok pendek nya.
Sosok bertopeng menundukkan kepala, kaki kirinya memutar dan mengincar dada Watugunung
Wush whuuusshhh...
Watugunung melompat ke samping dan bersiap dengan kuda kuda jurus Pedang Tanpa Bentuk
" Kau yang memaksa ku kisanak
Hiattttt...
Tebasan Pedang Langit..."
Angin dingin berbentuk gelombang tenaga dalam menerabas kearah sosok bertopeng itu dengan cepat
Menyadari ada gelombang angin tenaga dalam kearah nya, sosok bertopeng itu mundur dua langkah, memutar tongkat kayu nya dialiri tenaga dalam
"Dharrr....
Terjadi benturan disertai ledakan keras mengguncang hutan kecil pagi itu
Sosok bertopeng melompat mundur dua tombak dan mendarat dengan sempurna di tanah, seperti nya ilmu meringankan tubuh nya sangat sempurna.
Melihat itu Watugunung terkejut
Setelah mengukur ilmu Kanuragan lawan nya tinggi, Watugunung mundur selangkah.
Kali ini dia ingin menggunakan jurus ke 7 Pedang Tanpa Bentuk yaitu Langkah Dewa Pedang yang bertumpu pada kecepatan tinggi
'Tak ada pilihan lain'
"Langkah Dewa Pedang"
Seketika Panji Watugunung melesat kearah sosok bertopeng, sangat cepat.. Golok pendek nya menerabas leher sosok bertopeng misterius itu yang terkejut lalu menangkis dengan tongkat kayu nya..
Tranggg..
Kembali benturan kecil golok pendek dan tongkat kayu terjadi
Gerakan Watugunung 3 kali lebih cepat dari biasanya, sulit di ikuti mata biasa
Dari kejauhan, Dewi Anggarawati melihat pertarungan itu dengan harap harap cemas..
Sosok bertopeng misterius itu tersenyum
Dengan tenang dia menangkis sabetan golok pendek sambil sesekali mencoba mencari celah serangan Watugunung
Kali ini, sosok bertopeng misterius melihat ada sisi pinggang kanan Watugunung yang longgar pertahanan nya
Tongkat kayu di hantam kesana
Mendapat serangan itu, Watugunung menangkis cepat dengan goloknya
Seraya melompat mundur dua tombak ke belakang..
'Orang itu hebat, dia bisa mengimbangi jurus jurus ku dengan tenang' batin Watugunung sambil menyarungkan golok pendek nya
'Baiklah akan ku kerahkan tenaga dalamku"
Seketika sebentuk tenaga dalam tingkat tinggi berwarna biru terang mengalir di tangan kanan Watugunung, membentuk pedang energi yang besar.
Sosok bertopeng misterius itu terkejut lalu tersenyum tipis sambil memutar tongkat kayu nya dengan cepat. Tongkat kayu seketika berwarna biru terang
"Jurus ke 13_ Pedang Dewa Langit..."
Chiaaatttttt
Watugunung melompat seraya menyabetkan tangan kanannya kearah sosok bertopeng misterius
Bersamaan dengan itu, sosok bertopeng misterius menghantamkan tongkat kayu nya menghadang sinar biru dari Panji Watugunung
Whussss
*Dhuarrrr.....!!!
Ledakan besar tercipta akibat benturan tenaga dalam tingkat tinggi
Panji Watugunung terlempar 2 langkah ke belakang namun tidak apa-apa
Sedangkan sosok bertopeng misterius itu melompat ke udara menghindari guncangan ledakan dahsyat dan mendarat 2 tombak ke belakang.
Melihat sosok bertopeng misterius itu masih bisa bertahan, Panji Watugunung bersiap mengeluarkan jurus pamungkas Pedang Tanpa Bentuk nya..
"Cukup!!
Aku sudah puas melihat kemampuan mu Watugunung" ucap sosok bertopeng misterius itu sambil membuka topeng nya
"Gu-guru??"
"Hahahaha kau memang hebat murid ku"
Mpu Sakri tertawa puas
"Aku puas melihat kau mampu menguasai ilmu itu dengan sempurna"
Panji Watugunung segera bergegas mendekat dan membungkuk hormat kepada gurunya
"Maaf guru, murid tidak sopan terhadap guru"
"Aku justru senang, kemampuan mu bisa diandalkan untuk saat saat kritis,
Tak sia sia aku mendidik mu" jawab Mpu Sakri
"Bagaimana dengan kakang Warigalit guru? bukan kah dia lebih berbakat dari aku?"
"Kau itu selalu rendah hati Watugunung"
Melihat dua orang yang bertarung lantas bercakap-cakap, Dewi Anggarawati tersenyum seraya mendekati mereka
"Siapa ini Kakang?"
Suara merdu gadis bangsawan cantik itu langsung menghentikan percakapan guru murid itu
Mpu Sakri segera mengernyitkan dahinya
Hemmmm
Melihat itu, buru buru Watugunung berkata
"Guru, ini Dewi Anggarawati
Anggarawati ini guruku, Mpu Sakri dari Padepokan Padas Putih"
Mendengar lelaki tua berjenggot putih itu guru Watugunung, Anggarawati segera membungkuk hormat ..
"Salam hormat Resi,
Saya Dewi Anggarawati"
Mpu Sakri masih mengernyitkan keningnya seraya mencoba mengingat sesuatu
' wajah nya seperti seseorang yang tidak asing,
ah iyaaa
mirip dengan Tejo Sumirat'
Melihat gurunya masih belum menjawab, Watugunung kembali bertanya
"Ada apa guru? sepertinya ada sesuatu yang menggangu pikiran guru"
"Wajahmu seperti orang yang aku kenal"
"Siapa Resi? barangkali ada hubungannya dengan ku" jawab Anggarawati
"Si gemblung Tejo Sumirat yang sekarang menjadi Adipati Seloageng"
Hahhh...
"Bagaimana Resi bisa kenal ayahku?"
Dewi Anggarawati bingung
"Jadi benar kau anak si gemblung Tejo Sumirat itu??"
"Iya, Resi"
"Hahahaha sungguh suatu keajaiban,
Bagaimana bisa kau bisa sampai disini hem?
bukankah seharusnya kau di istana Seloageng?" tanya sang Mpu Sakri
"Maaf guru, lebih baik kita beristirahat dulu di pondok sambil mendengar cerita dari Anggarawati" potong Watugunung
"Mari Resi..."
Lalu mereka bergegas menuju ke pondok kayu
"Silahkan duduk Resi, akan aku ambilkan minum untuk Resi dan Kakang Watugunung"
Dewi Anggarawati tersenyum serta melangkah keluar mengambil kendi air minum di luar pondok..
"Hehh Watugunung, bagaimana bisa putri kadipaten Seloageng sampai kemari? kau menculik nya? " bisik sang Mpu kepada murid kesayangannya itu
"Guru sembarangan saja kalau ngomong, masak tampang ku ini mirip tampang penculik?"
"Ya siapa tau saja kau terpesona dengan kecantikan nya lalu kau culik anak gadis orang hehehehe"
Watugunung tak menjawab namun mencebikan bibirnya
Tak berapa lama kemudian, Dewi Anggarawati masuk seraya membawa kendi air minum dan sesisir pisang raja yang sudah matang
"Ahh segarnyaa..."
ucap sang Mpu sambil meletakkan kendi air
"Nah sekarang ceritakan tentang mu pada ku anak manis"
Lalu Dewi Anggarawati menceritakan kejadian di kota Kadipaten Seloageng sampai akhirnya nya di tolong Panji Watugunung
"Hemmmm, bisa disimpulkan ada sesuatu di balik rencana penculikan mu anak manis tapi itu nanti saja setelah kita kembali ke Padepokan Padas Putih"
"Jadi hari ini kita pulang guru??" tanya Watugunung
"Iya memangnya kau masih pengen terus disini?"
"Ya tidak guru, disini sepi.. Untung ada Anggarawati yang menemani. Kalau tidak bisa mati bosan aku disini"
Lagipula aku sudah kangen dengan semua orang di Padepokan terutama Kakang Warigalit, Dinda Pitaloka dan Sekar Mayang" jawab Watugunung
"Warigalit, Ratna Pitaloka, dan Sekar Mayang sudah ku jemput lebih dulu, kau yang terakhir"
Bereskan pakaian mu, hari ini kita juga kita pulang ke Padepokan Padas Putih"
Mendengar itu, Dewi Anggarawati memandang Panji Watugunung dengan tatapan memelas
"Kakang, ajak aku bersama mu"
Watugunung lalu bertanya
"Anggarawati bagaimana guru?"
"Dasar bodoh,
"Tentu saja juga aku bawa kesana.."
Mendengar itu Dewi Anggarawati tersenyum senang sambil menyiapkan buntalan kain berisi pakaian.. lalu mereka dirangkul pinggang nya oleh Mpu Sakri, melesat meninggalkan tempat itu menuju Padepokan Padas Putih..
*bersambung*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 325 Episodes
Comments
MATADEWA
Mungkin bakal timbul perang antar gadis2...
2025-03-24
0
Drra Andini
😆, mereka berdua sepertinya sahabat dekat
2024-04-03
1
Drra Andini
Ah? Ternyata benar adanya. 😄
2024-04-03
1