Suasana pagi itu sangat cerah
Langit biru dengan awan putih berarak disana
Setelah malam yang dingin, maka hangat pagi ini terasa menyenangkan..
Panji Watugunung baru pulang dari sungai kecil tidak jauh dari tempat nya berlatih, 3 ekor ikan lele cukup besar berhasil dia tangkap. Lekas dia membuat api unggun di depan gubug kayu tempat tinggal selama latihan nya di lereng selatan gunung Arjuna itu.
Bau ikan bakar itu ternyata mengundang tamu tak di undang. Suara ranting pohon kering yang terinjak menyadarkan Panji Watugunung ada sesuatu yang mendekati nya. ' Suara langkah kaki mendekat' batin Panji Watugunung. Walaupun sangat pelan tapi Panji Watugunung semakin waspada terhadap bahaya yang mengancamnya...
Kletheeek klek..
Kletheeek klek...
Suara itu semakin mendekat, lalu tiba tiba...
"Haummmmm hauuu......"
Seekor harimau besar, melompat untuk menerkam nya. Panji Watugunung berguling ke kanan menghindari terkaman harimau besar itu..
Menyadari mangsanya lolos, harimau besar itu memutar badannya, dan berancang-ancang untuk menyerang lagi. Namun Panji Watugunung yang sudah berdiri sudah bersiap untuk melindungi dirinya..
"Kau ingin memakan ku ya?
Tak semudah itu kucing besar" ucap Panji Watugunung dengan wajah datar dan tatapan mata dingin nya..
Harimau itu melompat, bermaksud menerkam kaki kanan Panji Watugunung namun Panji Watugunung yang sudah mengetahui gelagat harimau besar itu melompat keatas dan bersalto di udara lalu mendarat diatas batu 3 tombak di belakang nya.. Merasa mangsa nya lolos, harimau besar itu menggeram keras lalu kembali melompat menerjang kearah Panji Watugunung..
" Baiklah kau memaksa ku, akan kucoba jurus jurus kedua dari Kitab Pedang Tanpa Bentuk, majulah kucing besar..."...
Watugunung lalu mengambil ranting pohon yang ada di dekat nya, lalu mengalirkan tenaga dalam nya ke ranting pohon yang dipegangnya. Sebentuk pedang semu dari aliran tenaga dalam di tebaskan kearah harimau besar dengan sangat cepat..
"Jurus kedua Ilmu Pedang Tanpa Bentuk____Tebasan Pedang Hampa...."
Tebasan Pedang Hampa menerabas kearah harimau besar itu, tanpa sempat mendekat, harimau besar itu terputus kepalanya dan tewas seketika...Angin sambaran Tebasan Pedang Hampa terus menerabas lalu menghantam tebing batu dan menimbulkan suara ledakan dahsyat di pagi hari itu..
*Blammmm...
Batu tebing itu hancur berkeping keping..
Panji Watugunung tersenyum, lalu menata napasnya sesaat kemudian berjalan mendekati bangkai harimau besar itu..
"Salahmu sendiri ingin memakan ku, sekarang kau yang aku makan karna kau menghancurkan ikan bakar ku" ucap Panji Watugunung sambil menoleh ke ikan bakar nya yang morat marit dan kotor bercampur tanah...
'Ahh terpaksa makan daging harimau aku'
batin Panji Watugunung sambil menyalakan api unggun untuk membakar daging harimau yang sudah dia kuliti.....
**
Ditempat lain,
rombongan Mapatih Narotama yang sudah tiga hari menginap di Pakuwon Bandar sudah bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke Siwatantra Penanggungan. Luka luka akibat pertarungan dengan perampok Sepasang Setan Hitam yang dialami oleh para pengawal sudah sembuh meski belum sempurna. Berkat bantuan para tabib, di bantu dengan tenaga dalam mereka, juga obat obatan herbal yang di sediakan Akuwu Bandar, membuat mereka bisa sembuh dengan cepat.
"Gusti Mapatih, mohon ampun bila saya salah mengucap kata.. Hamba melihat luka luka Mpu Tandi dan para pengawal Gusti belum sepenuhnya pulih, apa tidak bisa di tunda keberangkatannya?", tanya Panji Dawuk kepada Sang Mapatih Narotama.
"Terimakasih atas saran dan bantuannya Ki Kuwu, tapi kami harus segera sampai ke tujuan"
jawab Mapatih Narotama, " Tidak baik jika kami terlalu lama disini"...
"Baiklah, hamba tidak memaksa Gusti Mapatih, hamba hanya bisa mendoakan semoga perjalanan Gusti Mapatih dan rombongan bisa selamat sampai di tujuan" , Akuwu Bandar berkata sambil membungkukkan badannya
"Terimakasih Ki Kuwu, kami mohon pamit...
Tandi, pimpin di depan..
Adhi Bayunata dan kau Senopati Jayakerti ikuti aku..
Yang lain, ikuti aku di belakang" ucap sang Mapatih Narotama kepada semua orang..
"Daulat Gusti Mapatih"....
Lalu rombongan Mapatih Narotama menggebrak kuda mereka masing-masing melesat menuju Siwatantra Penanggungan di lereng utara Gunung Penanggungan.
Siwatantra adalah daerah bebas pajak terhadap kerajaan, karna hasil bumi daerah tersebut di bayarkan untuk perawatan bangunan suci agama. Siwatantra Penanggungan saat ini di pimpin oleh seorang Resi sakti yang bernama Danghyang Mpu Barada, seorang Resi sepuh yang terkenal sakti mandraguna selain ilmu agama dia juga terkenal dengan ilmu Kanuragan yang sangat tinggi. Meski sudah berumur senja, namun kesaktian kakek tua berjenggot panjang itu belum tertandingi saat ini, bahkan para anggota persilatan golongan hitam pun memilih untuk tidak berurusan dengan Siwatantra Penanggungan daripada berakhir menyedihkan.
Bahkan ada rumor yang beredar bahwa kakek tua mampu terbang dengan kesaktiannya.
Rombongan Mapatih Narotama yang sudah berkuda 2 hari 2 malam akhirnya sampai di gerbang Siwatantra Penanggungan, segera melompat turun dari kuda mereka.
"Permisi Kisanak, ada keperluan apa kisanak dan rombongan mengunjungi tempat kami? " tanya penjaga gapura Siwatantra Penanggungan setelah melihat atribut bangsawan pada baju Mpu Tandi, Mapatih Narotama, dan rombongan nya
" Saya Mpu Tandi, bekel prajurit Kedaton Kahuripan bersama dengan Gusti Mapatih Narotama beserta rombongan ingin bertemu dengan Danghyang Mpu Barada kisanak" jawab Mpu Tandi
Mendengar itu, penjaga gapura itu tersenyum dan berkata " Ahh ternyata benar kata Danghyang bahwa hari ini ada tamu agung yang berkunjung, mari saya antar ke dalam Gusti..."
Mpu Tandi, Jayakerti, Dyah Bayunata saling berpandangan seolah tak percaya apa yang mereka dengar..
'Bagaimana bisa kedatangan rombongan ini di ketahui' batin mereka di penuhi pertanyaan sedangkan Mapatih Narotama tersenyum simpul memandang kearah bawahannya yang kebingungan..
"Mari Gusti mari, langsung saja ke bangsal tamu" kata penjaga gapura sekaligus penunjuk jalan itu..
Mereka bergegas masuk mengikuti penjaga itu menuju bangsal tamu di Siwatantra Penanggungan
Setelah semua duduk bersila membentuk lingkaran, tak berapa lama kemudian muncullah seorang lelaki sepuh berpakaian seperti brahmana serba putih, jenggot panjang putih menyentuh perut, tatapan mata nya teduh seperti kebanyakan brahmana pada umumnya namun berwibawa. Di usianya yang sudah senja beliau masih terlihat gagah. Dialah Sang Danghyang Mpu Barada, Kepala Siwatantra Penanggungan.
"Mohon maaf Gusti Mapatih, jika penyambutan yang kami berikan sangat sederhana walaupun ada tamu agung yang berkunjung. Mohon dimaklumi tempat tinggal kami ini sangat terpencil Gusti" , ucap Mpu Barada sambil mengangguk memberikan hormat kepada Mapatih Narotama
"Duhh Kakang Mpu, kau ini bilang apa? Ini sudah lebih dari cukup untuk kami" ,kata Mapatih Narotama dengan senyum, " bagaimana kabarmu Kakang? Apa kau sehat selalu? "
"Jagad Dewa Batara selalu menyayangi ku Gusti Mapatih, kabar ku baik baik saja,, Bagaimana kabar Gusti Mapatih sendiri?" tanya Mpu Barada dengan sopan..
"Seperti yang kau saksikan Kakang, aku pun baik saja" ujar Mapatih Narotama
"Mohon maaf , kalau boleh saya tahu, apa yang menjadi tujuan Gusti Mapatih Narotama berkunjung ke tempat terpencil ini? " tanya Mpu Barada sambil tersenyum
"Ahh kakang, kau sudah tau maksud kedatangan ku, kenapa masih bertanya lagi?" sergah Mapatih Narotama dengan senyum sopan
"Hehehehe, jadi benar Gusti Mapatih Narotama itu tujuannya??" tanya Mpu Barada
"Iya Kakang Mpu" jawab Mapatih Narotama
Hehhhhhh....
Sejenak Mpu Barada menghela nafas
"Andai saja dulu Sinuwun Gusti Prabu Airlangga mendengar kata-kata ku untuk tidak memperistri Dewi Rengganis, mungkin kejadian ini tidak akan pernah ada" ucap Mpu Barada sambil menerawang jauh seolah melihat ke masa lalu..
Semua yang di dalam bangsal tamu terkejut bukan main...
"Tapi itu sekarang bukan masalah lagi, yang jadi masalah adalah putra selir itu Kakang Mpu" ujar Mapatih Narotama sambil menatap kearah Mpu Barada
"Iya iya iyaa...
Memang bukan saatnya menyesali masa lalu Gusti Mapatih..
Aku akan bersemedi dulu Gusti Mapatih, jawaban akan ku berikan setelah senja kita bertemu lagi disini" jawab Mpu Barada, " aku mohon diri dulu Gusti Mapatih, silahkan beristirahat di penginapan tamu yang sudah kami sediakan,
Warsa, Gupita...."
Dua orang cantrik muda berlari kecil menuju guru nya
"Iya guru, apa guru memanggil kami?" jawab Warsa
"Iya, antar tamu tamu agung ini ke penginapan tamu, sediakan semua makanan dan minuman yang ada disini" perintah Sang Mpu Barada kepada 2 muridnya
Setelah memberikan hormat kepada Mapatih Narotama, Mpu Barada segera bergegas menuju sanggar pamujan yang ada dibelakang untuk meminta petunjuk Dewata..
*bersambung*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 325 Episodes
Comments
MATADEWA
Teruskan....
2025-03-24
0
Mahayabank
Mantaaap...Lanjuuuut lagiiee 👌👌👌
2023-12-17
0
rajes salam lubis
lanjutkan mantap
2023-01-07
1