Ratna Pitaloka terus menerus memandang langit. Berharap Resi Mpu Sakri segera sampai ke Padepokan Padas Putih.
Sekar Mayang juga demikian, sebentar sebentar tengok kanan kiri, namun yang di cari belum juga kelihatan batang hidungnya.
'Guru kenapa lama sekali sih' gumamnya tak sabar.
Sedangkan Warigalit seolah olah tak peduli, dia asyik membersihkan kotoran pada gagang tombak pendek nya.
Dari arah barat, melesat bayangan manusia seolah terbang menuju halaman kediaman Mpu Sakri yang berada di sisi barat Padepokan Padas Putih.
"Guruuuu...."
teriak Ratna Pitaloka dengan senyum gembira melihat gurunya mendaratkan kaki nya di halaman rumah.
Warigalit dan Sekar Mayang segera menoleh dan langsung memburu kearah guru mereka..
"Masih disini kalian rupanya"
"Tentu saja guru, kalau Kakang Watugunung belum datang mana mungkin kami bisa tenang" sahut Sekar Mayang sambil melirik ke arah Panji Watugunung di samping gurunya
"Dia siapa guru?"
tanya Ratna Pitaloka dengan mimik wajah menyelidik ke arah gadis cantik di samping Resi Mpu Sakri
"Ini Anggarawati, sementara dia akan tinggal disini" jawab Mpu Sakri
"Owhh..." jawab mereka bertiga kompak
"Kakang, kenapa diam saja?
Bagaimana latihan mu?
Sudah menguasai ilmu dari guru?"
berondong Ratna Pitaloka sambil mendekat ke arah Panji Watugunung
Belum sempat menjawab, Sekar Mayang pun bertanya, " Kakang, sudah makan belum? Tadi aku sudah memasak ikan lele bakar kesukaan kakang loh"
" Duh kalian ini, kalau tanya satu satu kenapa?
Lihat tuh Watugunung bingung mau jawab yang mana dulu" potong Warigalit sambil tersenyum melirik Panji Watugunung yang gelagapan dengan pertanyaan kedua adik seperguruannya
"Sudah sudah, jangan ribut..
Ayo semua masuk ke rumah" timpal Mpu Sakri
Mereka bergegas masuk ke rumah kediaman Mpu Sakri lalu duduk berputar di bale rumah
"Anggarawati, mulai sekarang kau bisa tidur di kamar gandok timur,
ingat disini tidak ada emban yang mengurus kebutuhan mu. Jadi kau harus mandiri tanpa merepotkan orang lain. Paham maksud ku?"
ujar Mpu Sakri
"Paham Resi, 3 pekan saya juga terbiasa mengurus kebutuhan saya sendiri saat bersama Kakang Watugunung di pondok latihan, iya kan Kakang??" jawab Dewi Anggarawati tersenyum sambil melirik ke arah Panji Watugunung
"Apa?? Tinggal bersama Kakang Watugunung?"
Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang kompak kaget, lalu serentak memandang Panji Watugunung sambil melotot tajam
'Mulut Anggarawati memang pintar bikin masalah' gerutu Watugunung
"Eh iya, ya begitulah"
Ratna Pitaloka dengan pandangan tajam memandang kearah Dewi Anggarawati yang tersenyum tipis
'Gadis ini selama 3 pekan bersama Kakang Watugunung, bisa jadi dia merebut Kakang Watugunung kalau aku tidak hati-hati'
Sekar Mayang lantas memandang Panji Watugunung tajam sambil berkata
"Kakang, aku butuh penjelasan"
"Kalian ini orang baru datang sudah main todong pertanyaan,
Seperti menanyai penjahat saja.
Nanti aku jelaskan"
Watugunung bersungut-sungut
"Kau ini memang penjahat, penjahat hati"
bisik Warigalit yang duduk di sebelah Watugunung sambil tersenyum mengejek
"Kakang Warigalit apaan sih" Panji Watugunung kesal
"Hadehhh, kalian semua ini.
Kalau jauh bingung seperti ayam kehilangan induk. Kalau dekat sebentar ribut terus. Kalian bukan bocah ingusan lagi.
Dewasa lah berpikir.
Paham?" potong Resi Mpu Sakri ,
Sekar Mayang
Pitaloka
Ambilkan makan untuk kami semua"
"Baik guru" Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang bergegas menuju dapur
"Apa boleh saya membantu Resi?" tanya Dewi Anggarawati pada Resi Mpu Sakri
"Silahkan kalau kau mau"
Dewi Anggarawati bergegas menyusul ke arah dapur, dimana Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang berada
Tinggallah Mpu Sakri, Warigalit dan Watugunung di bale rumah
"Aku minta kalian berhati hati mulai hari ini"
"Ada apa guru?" tanya Warigalit
"Kahuripan sedang panas akibat dua anak Raja Airlangga berebut pengaruh untuk menduduki kursi putra mahkota,
Aku takut akan terjadi bencana perang saudara jika masalah ini dibiarkan berlarut larut" jawab Mpu Sakri
"Kemarin, utusan dari Siwatantra Penanggungan mengirim surat ke Padepokan Padas Putih, intinya meminta kita berhati-hati dalam bersikap dan bertindak. Kakang ku Maharesi Mpu Barada sudah hampir sampai di istana Kahuripan. Semoga saja kebijaksanaan nya bisa memecahkan masalah ini dengan seadil-adilnya "
Oiya hampir aku lupa"
Mulai besok aku akan mengajari kalian semua ilmu meringankan tubuh Ajian Sepi Angin.
Ilmu ini penting untuk membantu kalian bergerak cepat saat di butuhkan"
Mengerti kalian?"
"Kami mengerti guru" Watugunung dan Warigalit kompak menjawab
Tak berapa lama, muncul Anggarawati, Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang membawa nampan berisi makanan
"Ayo kita makan"
Hari itu mereka makan dengan gembira
Sekar Mayang yang tiba paling awal di padepokan langsung memasak di dapur.
Ada lele bakar kesukaan Watugunung, urap daun pepaya kesukaan Resi Mpu Sakri, botok lamtoro, lodeh nangka muda dan nasi putih.
.
.
.
Usai makan, mereka membubarkan diri. Dewi Anggarawati membersihkan kamar tidur nya, Warigalit dan Mpu Sakri menghadap Mpu Wanabaya, pimpinan tertinggi Padepokan Padas Putih untuk melaporkan adanya orang baru yang tinggal di kediaman nya. Sekar Mayang membereskan sisa makanan dan menuju dapur..
Sedangkan Watugunung bergegas menuju belik berniat mencuci baju
"Kakang,
tunggu aku" teriak Ratna Pitaloka
"Kakang mau kemana?"
"Cuci baju adik, baju baju ku kotor belum sempat aku cuci tadi"
"Ikut kakang" pinta Ratna Pitaloka
"Ayo"
Sesampainya di belik, Panji Watugunung segera merendam baju bajunya
Sedangkan Ratna Pitaloka duduk di batu besar sambil memandang Panji Watugunung
'Kakang Watugunung semakin tampan saja' batin Ratna Pitaloka sambil senyum-senyum sendiri
"Eh kenapa adik senyum senyum sendiri?"
"Aahhh ti-tidak, memang aku tidak boleh senyum" ujar Ratna Pitaloka gugup
"Ya boleh, asal jangan senyum senyum sendiri, nanti orang menilai adik tidak waras hehehehe"
kekeh Watugunung
"Huuu kakang Watugunung bikin aku kesal saja" Ratna Pitaloka cemberut
"Hehehehe iya iya, Kakang minta maaf, kakang cuma bercanda"
"Kakang,
kenal Anggarawati dimana" tanya Ratna Pitaloka sambil memandang tajam kearah Panji Watugunung
"Oh dia, panjang ceritanya..
Kakang singkat saja ya"
Lalu Panji Watugunung menceritakan kejadian yang dialami Dewi Anggarawati saat bertemu pertama kali sampai akhirnya ikut tinggal di pondok latihan nya
"Begitu ceritanya" ujar Panji Watugunung sambil memukul mukulkan baju nya pada batu ceper untuk mencuci di tepi belik itu..
Tak lupa meremas buah klerak sebagai bahan membersihkan kotoran baju.
"Owh jadi dia putri bangsawan kadipaten Seloageng? "
"Benar adik, dia itu putri Adipati Tejo Sumirat dari Seloageng" jelas Watugunung
"Kakang naksir dia? " tanya Ratna Pitaloka sambil menyipitkan matanya
Hahhh..
'Pertanyaan macam apa ini?' batin Panji Watugunung
"Kau ini sembarang saja kalau ngomong,
Mana mungkin juga seorang putri istana Seloageng jatuh cinta sama aku?
Ada ada saja kau ini dik"
Panji Watugunung melengos pura pura serius mencuci baju
"Tapi aku lihat dia menyukai mu Kakang"
ucap Ratna Pitaloka sambil menahan diri
"Sudahlah adik, jangan berfikir macam macam.. lebih baik kita konsentrasi. besok guru menurunkan Ajian Sepi Angin untuk kita. Kuharap kita semua bisa berhasil menguasai nya, sekaligus untuk bekal kita di dunia persilatan " ujar Panji Watugunung mengalihkan pembicaraan
"Ayo kembali ke Padepokan,
cucian ku sudah selesai"
Tanpa menunggu jawaban Ratna Pitaloka, Panji Watugunung bergegas melangkah menuju Padepokan Padas Putih.
Ratna Pitaloka pun mengikutinya dari belakang tanpa berkata apa-apa namun di hati kecil nya ada rasa cemburu yang membakar
Sesampainya di padepokan, Sekar Mayang menghadang langkah Watugunung
"Kakang Watugunung,
ucap Sekar Mayang dengan gaya manjanya,
"Sini aku bantu menjemur"
"Alah mau cari perhatian ya dik Sekar? " ujar Ratna Pitaloka yang muncul di belakang Watugunung
"Aku kan niat bantu Kakang Watugunung, kenapa Kangmbok sewot??
Wong yang di bantu saja gak masalah kog "
"Alah dasar genit"
"Biarin, asal kakang Watugunung mau wekkk" jawab Sekar Mayang tak mau kalah
"Kau mengejek ku ya"
"Sudah sudah jangan ribut bisa tidak?!"
teriak Watugunung membuat dua gadis itu terdiam..
"Pitaloka, apa sudah kau menyelesaikan pekerjaan mu?
"Be-belum Kakang" jawab Ratna Pitaloka
"Sana kerjakan sekarang! "
"Iya iya, gitu aja marah" sahut Ratna Pitaloka sambil beringsut mundur ke pekarangan samping rumah
"Sekar, makan malam nya sudah siap?" tanya Watugunung
"Belum sih, kurang sedikit lagi"
"Nahh sana cepat kau selesaikan, mau kau di hukum guru hah?"
"Siap laksanakan" teriak Sekar Mayang sambil berlari menuju dapur
"Dasar pengacau "
Selalu bikin aku kesal"
Dari jendela kamar, nampak Dewi Anggarawati tampak tersenyum tipis
'Sainganku banyak'
*bersambung*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 325 Episodes
Comments
MATADEWA
Terussss.....
2025-03-24
0
Drra Andini
Udah jangan buruk sangka. Kalian berdua bisa jadi istri watugunung. 🤭😄
2024-04-03
1
Mahayabank
Yaudah lanjuuuut lagiiieee 👌👌👌
2023-12-18
1