Rombongan Mapatih Narotama dan Mpu Barada telah memasuki istana Kahuripan
Rakryan Jayakerti sudah lebih dulu masuk melaporkan kedatangan mereka
Karena hari sudah mulai senja, Prabu Airlangga memerintahkan semua rombongan Mapatih Narotama dan Mpu Barada untuk beristirahat
Malam itu telah larut
Suasana dingin turun di ibukota Kahuripan
Tanpa sepengetahuan orang lain, Mpu Barada memasuki istana Sang Prabu Airlangga
"Ampun Nakmas Prabu,
Lelaki tua ini ingin menghadap"
ucap sang Resi Mpu Barada lewat Ajian Telenging Tawang yang mampu mengirim pesan tanpa terdengar orang lain
Saat itu sang Prabu Airlangga yang sedang duduk di tempat peristirahatan pribadi nya,
langsung berlutut dengan satu kaki dan tangan menyentuh pelipis kanan nya
lalu menjawab
"Titah Guru Resi siap murid dengar"
"Yayi,
Kangmas ada perlu sebentar, yayi tidur lah dulu", perintah Sang Prabu Airlangga pada permaisuri nya
Selepas berkata, Sang Prabu Airlangga melesat ke luar istana Kahuripan.
Di Paseban Siti Hinggil, sang Maharesi Mpu Barada sudah menunggu nya
"Mohon ampun Nakmas Prabu, mengganggu istirahat Paduka"
"Tidak apa-apa Guru Resi, aku yakin pasti hal penting yang guru resi ingin sampaikan"
"Begini Nakmas Prabu, lelaki tua ini sudah mendapat petunjuk Dewata. Namun sebelum melaksanakan nya, Maukah Nakmas Prabu mendengar kata dari orang tua ini? " ujar Mpu Barada dengan sopan
"Apa yang harus ku lakukan guru resi? aku ingin mendengar saran dari guru resi"
"Begini Nakmas Prabu, pertama Nakmas Prabu Airlangga harus memindahkan ibukota Kahuripan terlebih dahulu.
Ini untuk meredakan ketegangan juga membuat fokus para pembesar tidak melulu ke soal pemilihan putra mahkota"
"Benar juga kata Guru Resi, dengan memindahkan ibukota Kahuripan maka perhatian seluruh rakyat Kahuripan tidak hanya ke pemilihan putra mahkota saja Guru" jawab Sang Prabu Airlangga
"Lantas kemana aku harus memindahkan ibukota Kahuripan ini Guru Resi?"
"Dahanapura Nakmas Prabu"
Bagaimana menurut Nakmas?? " tanya Mpu Barada
"Apa tidak terlalu jauh Guru Resi?"
"Semakin jauh, semakin lama waktu yang dibutuhkan Nakmas Prabu,, maka fokus pada masalah putra mahkota akan berkurang jauh Nakmas Prabu"
"Baiklah, usul Guru Resi aku terima, aku sudah paham arah apa yang ingin Guru Resi tunjukkan padaku, tapi sebelum itu terjadi aku meminta Guru Resi mewakili aku ke Bedahulu lebih dulu.."
"Untuk apa kesana Nakmas Prabu?"
"Aku ingin meminta hak ku sebagai putra pertama Ramanda Prabu Udayana"
Apa Guru Resi bersedia?? tanya Sang Prabu Airlangga
"Hamba sanggup Nakmas Prabu"
"Besok kita adakan pertemuan di Siti Hinggil ini, sekalian aku umumkan apa yang aku setujui dari usul Guru Resi"
"Lelaki tua ini mohon diri Nakmas Prabu" ujar Mpu Barada dalam sekejap sudah menghilang dari pandangan Prabu Airlangga
'Hemm ini akan berat, tapi tidak ada pilihan lain agar putra putra ku tidak berperang'
batin Sang Prabu Airlangga sambil melangkah ke dalam istana Kahuripan
Esok harinya
Prabu Airlangga mengumpulkan semua pembesar istana termasuk Mpu Barada.
Kemudian mengumumkan pemindahan ibukota Kahuripan ke Dahanapura..
Semua orang di Siti Hinggil Kedaton Kahuripan terkejut bukan main tapi mereka tidak berani mempertanyakan keputusan Prabu Airlangga
"Paman Mapatih Narotama,
kirim utusan ke Dahanapura,
beritahukan pada Akuwu Panji Gunungsari mengenai masalah pemindahan ibukota ini
Juga atur pembangunan nya"
" Titah Gusti Prabu Airlangga akan hamba laksanakan" sahut Mapatih Narotama seraya menghaturkan sembah
"Pada hari Anggaramanis besok, Aku meminta bantuan kepada Guru Maharesi Mpu Barada untuk ke Bedahulu. Aku ingin meminta hak ku sebagai putra pertama Ramanda Prabu Udayana. Aku perintahkan kepada mu Senopati Jayakerti, dan kau Ranggawangsa kawal perjalanan Maharesi Mpu Barada ke Bedahulu"
"Daulat Gusti Prabu, titah paduka akan hamba laksanakan " ucap Senopati Jayakerti dan Ranggawangsa kompak..
Hari itu dimulailah perpindahan istana Kahuripan menuju Dahanapura
**
"Masing masing dari kalian harus pintar menata tenaga dalam juga menutup mata batin agar mampu bertahan di bambu itu"
"Sekarang kalian lompat ke atas dan tidur di atas batang bambu "
ujar Mpu Sakri kepada keempat orang muridnya
Huppp...
Warigalit, Panji Watugunung, Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang segera melompat pada batang pohon bambu yang di ikat tali dan di tambatkan pada pohon beringin besar di belakang Padepokan Padas Putih
Ya, hari itu memang awal latihan ilmu meringankan tubuh Ajian Sepi Angin, sebuah ilmu kanuragan yang ampuh untuk menunjang kemampuan beladiri
"Usahakan tidak jatuh, tata hawa murni tenaga dalam kalian"
sambil memberi pengarahan, Mpu Sakri terus memperhatikan kondisi murid murid nya
'Dilihat dari sisi manapun, kelihatan kalau Watugunung paling cepat menguasai ilmu ini' batin Mpu Barada
Memang Watugunung terlihat paling tenang, nafas nya teratur dan nyaris tanpa gerakan sama sekali setelah terlentang di atas batang bambu latihan..
Menjelang tengah hari, Sekar Mayang terjatuh dari batang bambu latihan yang langsung di sambar Resi Mpu Sakri sebelum menginjak tanah, tak berapa lama Warigalit juga jatuh setelah bertahan sekian lama..
Lewat tengah hari giliran Ratna Pitaloka menyusul jatuh,
Hanya Watugunung saja yang masih bertahan seolah tidur diatas peraduannya
"Kakang Watugunung memang hebat, dia yang paling lama bertahan" ucap Sekar Mayang
"Sudah tau, tak perlu cari muka ya?" Ratna Pitaloka ketus
"Kenapa Kangmbok marah? Aku kan hanya bicara kenyataan saja", Sekar Mayang tak mau kalah
"Sudah sudah, kenapa kalian selalu ribut?
Apa kalian berniat mengganggu konsentrasi Watugunung? " , potong Warigalit cepat
"Tidak! " ucap Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang bareng..
Dari kejauhan, nampak sesosok wanita cantik berbaju biru langit mendekat ke arah mereka..
"Resi, ini makanan nya.. Maaf kemampuan memasak q sangat buruk, mohon di maafkan kalau kurang enak" kata Dewi Anggarawati ke Resi Mpu Sakri sambil menyerahkan wadah makanan yang di buntal kain
"Huh tentu saja,
Putri manja kadipaten mana ada yang bisa masak?" sindir Ratna Pitaloka
"Masak mereka seperti itu kangmbok? " sahut Sekar Mayang dengan mimik wajah bego
"Kau coba saja, pasti tak karuan rasanya"
"Mulutmu tajam sekali Pitaloka, coba dulu baru protes", potong Warigalit
"Halah coba saja kalau tak percaya" ,ketus Ratna Pitaloka
Buru buru Sekar Mayang dan Warigalit membuka buntalan kain berisi makanan itu
Lalu mencoba sesuap sayur lodeh rebung
"Hemmmm ini enak, sangat enak..
Jauh lebih enak dari masakan Kangmbok Pitaloka" ujar Sekar Mayang
Ratna Pitaloka yang penasaran dengan omongan Sekar Mayang, segera bergegas mendekati mereka dan menyuap makanan
'Iya, ini memang enak' batin Ratna Pitaloka
"Bagaimana Kangmbok? Enak kan masakan Anggarawati? ", ucap Sekar Mayang dengan senyum mengejek Ratna Pitaloka
"Ah tidak, biasa aja tuh", Ratna Pitaloka mengelak
Dewi Anggarawati tersenyum simpul memandang kearah mereka.
Sementara mereka ribut, Watugunung masih bertahan di batang bambu seolah bertapa
Hari menjelang sore
Resi Mpu Sakri segera berteriak
"Watugunung turun, sudah cukup untuk hari ini"
Seketika Panji Watugunung membuka matanya dan melompat turun dengan pelan seringan kapas..
"Ayo kita makan, sudah waktunya mengisi perut"
*bersambung*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 325 Episodes
Comments
MATADEWA
Persaingan gadis2....
2025-03-24
0
Mahayabank
Yaudah lanjuuuut lagiiieee 👌👌👌
2023-12-19
1
Mahayabank
Mantaaap...Lanjuuuut lagiiee 👌👌👌
2023-12-18
0