Panji Watugunung melesat menuju pondok kayu tempat latihan nya. Dengan hati hati dia menurunkan tubuh gadis cantik itu ke dipan kayu yang di beri alas tikar lontar
Sejenak dia memandang wajah gadis cantik itu lalu beranjak mencari daun daunan yang biasa dipakai untuk mengobati luka luka.. Tak susah karna di hutan kecil sebelah pondok nya banyak di temukan.
'Sepertinya ini sudah cukup' batin nya sambil berjalan menuruni jalan setapak di hutan kecil.
Sesampainya di pondok, dia menumbuk daun daunan itu dalam lumpang kecil. Segera Panji Watugunung mengoleskan obat oles yang dia buat ke luka luka sang gadis. Begitu selesai dia menyobek kain dari buntalan pakaian nya kemudian mengikat luka gadis cantik yang masih tak sadarkan diri.
Kemudian Panji Watugunung melesat cepat menuju ke hutan kecil untuk mencari buruan atau makanan yang bisa dimakan.
Tepat saat Panji Watugunung sampai di pondok nya, gadis itu sadar...
"Uhhh,
aku ada dimana ini" tatap nya nanar melihat sekeliling pondok lalu mata gadis itu berhenti pada sosok lelaki muda yang sedang mencabuti bulu bulu ayam hutan di depan api unggun
"Hai, siapa kau??
Mengapa aku ada di sini?" tanya gadis itu dengan memegangi kepalanya..
Panji Watugunung yang mendengar suara memanggil nya seketika menoleh
"Ah kau sudah sadar rupanya Denayu"
" Si-siapa kau?" gadis cantik itu tergagap setengah ketakutan mengingat kejadian sebelumnya..
" Kau bukan anggota Macan Kumbang 'kan??
"Macan Kumbang itu apa Denayu?" tanya Panji Watugunung sopan
"Ya ya orang orang jahat" jawab gadis cantik itu dengan takut takut
" Bukan Denayu,
Aku tadi melihat 3 orang lelaki berwajah seram ingin membawa mu, Lalu aku berhasil merebut mu dari mereka. Kemudian aku bawa kemari, itulah yang terjadi" ucap Panji Watugunung memberi penjelasan..
"Oh begitu" ,
Ada raut lega di wajah gadis cantik itu
"Terimakasih sudah menolong ku kisanak, kalau tidak kau tolong entah apa yang mereka lakukan kepada ku"
"Sama sama Denayu,
Menolong orang itu tidak ada salahnya" ujar Panji Watugunung dengan tersenyum
'Duhh dia tampan sekali' batin gadis cantik itu sambil melirik ke Panji Watugunung yang sedang membakar ayam hutan
"Siapa nama mu?? dari tadi kau belum menyebutkan nama" tanya gadis itu sambil terus memandangi sosok lelaki muda yang menolong nya itu
"Nama ku Watugunung Denayu, untuk sementara aku tinggal disini" jawab Panji Watugunung tanpa menyebutkan nama depan nya yang menunjukkan identitas nya sebagai bangsawan, " siapa nama mu Denayu?"..
"Nama ku Anggarawati" jawab gadis itu
"Nama yang indah Denayu" sahut Panji Watugunung sambil membolak balik ayam hutan nya
Kriukkkkk
Krukkkkkkkk...
Seketika Anggarawati menundukkan wajahnya
muka nya merah menahan malu
Panji Watugunung tersenyum lalu membawa dua ekor ayam hutan panggang ke pondoknya..
"Makanlah ini Denayu Anggarawati,
tidak usah malu-malu" ujar Panji Watugunung sambil menyerahkan seekor ayam hutan panggang kepada Anggarawati.
Gadis itu sejenak memandang Panji Watugunung untuk meyakinkan diri bahwa Panji Watugunung bukan orang jahat..
"Sudah makanlah, aman kog.. lagipula aku hanya bisa memberikan ini untuk menyambut mu " ujar Panji Watugunung tersenyum tulus.
Setelah yakin, Anggarawati segera menerima ayam hutan panggang itu dan menyantap nya dengan lahap. Perut nya benar benar menuntut nya untuk segera mengisi dengan makanan, dia lupa dengan tata krama bangsawan yang lemah lembut dalam menyantap hidangan.
'Gadis ini makan seperti tidak makan berhari hari saja' batin Panji Watugunung sambil melirik Anggarawati yang seperti kerasukan menyantap ayam hutan panggang itu..
"Uhuk uhuk uhukk.."
tiba tiba Anggarawati tersedak makanan
Panji Watugunung segera mengambilkan air minum dan mengurut tengkuk gadis itu
"Pelan pelan Denayu,, kalau itu habis, kau bisa makan punya ku, itu masih separuh"
Glek glek glekk
"Ahhh....
Terima kasih kisanak",
ujar Anggarawati setelah minum air dan pernapasan nya lega..
Usai makan, Panji Watugunung segera beranjak meninggalkan pondoknya menuju sungai kecil sambil berlatih jurus ke 12 Pedang Tanpa Bentuk
Sedangkan gadis cantik itu, Anggarawati membaringkan tubuhnya di atas dipan kayu sambil tersenyum memandang kearah Panji Watugunung yang tengah berlatih..
'Dia tampan, baik hati lagi' batin Anggarawati
' Kenapa setiap di dekat nya jantung ku berdebar kencang ya'
Anggarawati tersenyum malu dan muka nya merah seperti udan rebus kala ingat tadi di pijit tengkuknya oleh Panji Watugunung..
* *
Sementara itu jauh di sebelah barat nampak sekumpulan orang sedang mendekati Ganden, Dompal dan Garu yang pingsan dan terluka dalam serius akibat di hajar Panji Watugunung...
"Kurang ajar !
Siapa berani menghajar orang orang ku?"
ujar lelaki bertubuh ceking dengan baju hitam gusar
"Lurah e, sebaiknya mereka segera kita bawa ke markas untuk diobati.. Kalau mereka sudah sadar baru kita tanya" ujar salah satu anak buah gerombolan itu, " Malam akan segera datang Lurah e"
"Benar,
ayo kita bawa ke markas"
jawab lelaki yang di panggil Lurah
Segera orang orang berpakaian hitam itu memapah Ganden, Dompal dan Garu menuju markas mereka..
**
Senja telah berganti malam yang dingin di lereng gunung Arjuna.
Suara burung malam bersahutan dengan suara nyaring jangkrik dan belalang
Angin semilir berhembus menciptakan suasana sepi dan tenang
Panji Watugunung duduk bersila didepan api unggun yang menyala, bersemedi mengheningkan cipta dan raganya, menata nafasnya dan menggerakkan tenaga dalam nya..
Uhuk uhuk uhukk
Suara batuk itu cukup mampu membuat Panji Watugunung membuka matanya,
Dengan sedikit tertatih Anggarawati duduk di batu di depan api unggun itu..
"Denayu Anggarawati, kenapa turun kesini? Tubuh mu belum pulih nona" ujar Panji Watugunung
"Sudah sedikit baikan kisanak, saya hanya ingin sedikit menghangatkan tubuh" jawab Anggarawati sambil tersenyum
"Oiya, kalau boleh tau, kenapa Denayu berurusan dengan orang orang tadi? Maaf kalau itu menyinggung perasaan Denayu" tanya Panji Watugunung sambil melemparkan kayu kering ke api unggun yang mulai mengecil
"Baiklah akan ku ceritakan tentang diriku, karna Kisanak orang baik..
"Namaku Dewi Anggarawati, putri dari Adipati Seloageng Tejo Sumirat"
Panji Watugunung terkejut, dan seketika menjauh dari Dewi Anggarawati seraya membungkukkan badannya tanda hormat
"Maafkan ketidak sopan saya Gusti Putri, saya yang bodoh ini tidak tau kalau sedang berbicara dengan dengan seorang putri" sahut Panji Watugunung..
"Sudahlah, jangan seperti itu, aku tidak enak jadi nya, apalagi dengan pahlawan yang sudah menyelamatkan nyawa ku", ayo duduk lagi" ucap Dewi Anggarawati dengan senyum manis..
"Baik Gusti Putri" Panji Watugunung kembali duduk..
"Oiya, berapa usia Kisanak? seperti nya kita sebaya"
"Saya bulan depan 18 tahun Gusti Putri" jawab Panji Watugunung
"Berarti kisanak lebih tua setahun dari ku, akan ku panggil Kakang saja kalau begitu" jawab Dewi Anggarawati seraya tersenyum tipis
"Jangan Gusti Putri, apa kata orang nanti jika saya orang biasa di panggil Kakang oleh Gusti Putri, akan sangat tidak baik" balas Panji Watugunung sopan
"Aku putri kan di istana Seloageng, kalau disini aku bukan siapa siapa"
Pokoknya mulai sekarang aku panggil Kakang Watugunung, dan Kakang tidak boleh memanggil ku Gusti Putri lagi" kata Dewi Anggarawati
"Lantas bagaimana saya memanggil Gusti Putri?"
"Panggil saja namaku Anggarawati atau kakang Watugunung juga bisa memanggilku dengan Yayi Anggarawati"
Hufttt
Panji Watugunung langsung pusing mendengar itu, bila sampai Ratna Pitaloka mendengar panggilan itu bisa terjadi Mahapralaya...
*bersambung*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 325 Episodes
Comments
MATADEWA
Aku jg pusing Watu.....
2025-03-24
0
Drra Andini
Nama desa di tempatku tinggal. 😊
2024-04-03
1
John Singgih
pasti itu 🤭🤭🤭
2024-03-11
0