Lawan yang menjadi Pendekar Tanpa Nama mulai bersiap. Bahkan sejak tadi, dia memang telah bersiap untuk segala macam serangan.
Begitu melihat serangan pertama cukup keras, dia kemudian menggerakkan kedua tangannya melintang di depan dada.
"Plakk …"
Benturan pertama terdengar. Suara beradunya tulang berasa ngilu di telinga. Pendekar Tanpa Nama tidak berhenti, serangan pertama gagal, dia segera melancarkan serangan kedua lainnya berupa tendangan kaki kanan yang mengarah ke batang leher.
Kalau tidak tertahan, bisa dipastikan tulang lehernya akan langsung patah bahkan remuk.
Tepat pada saat kaki itu hampir mencapai sasaran, lawannya kembali mengangkat tangan kiri sehingga terjadi benturan lagi.
Serangan kedua gagal. Namun Pendekar Tanpa Nama tidak mau menghentikan serangannya.
Kalau layar sudah dikembangkan, pandang surut diturunkan.
"Tapak Dewa Naga …"
Jurus pertama dari Kitab 7 Jurus Naga dan Harimau langsung dia gelar. Tujuannya tentu supaya mempercepat jalannya pertarungan.
Serangan Pendekar Tanpa Nama berubah menjadi lebih dahsyat lagi. Kedua tangan yang tadinya mengepal, kini berubah terbuka menjadi hantaman sebuah tapak. Gempuran serangan tapak yang mengandung kekuatan hebat sudah datang menerjang lawan.
Keduanya bertempur tangan kosong hingga beberapa jurus. Dua pendekar tersebut telah mengeluarkan jurus hebatnya masing-masing. Yang satu tapak, satu lagi sebuah pukulan.
Tubuh Pendekar Tanpa Nama melesat cepat ke depan mengincar dada lawan. Tangan kirinya dia gunakan untuk mengalihkan perhatian musuh.
Gerakannya terlihat sederhana. Tapi yang sederhana terkadang memang jauh mengerikan.
"Bukk …"
Benturan dua jurus dahsyat terjadi. Keduanya sama-sama terdorong.
Pendekar yang menjadi lawan Cakra Buana merasa tangannya mati rasa. Dia mulai kesal, pedang kembar yang dia miliki langsung dicabut lalu orangnya meluncur deras menerjang Pendekar Tanpa Nama.
Di sisi lainnya, pertarungan antara Raja Tombak Emas dari Utara melawan kakek tua yang selalu memegangi tongkat tengkorak mulai berjalan semakin seru dan menegangkan.
Kedua kakek tua tersebut sudah menggelar jurus-jurus tingkat dan tombak yang termasuk dalam jurus kelas atas. Sebagai datuk dunia persilatan, tentu si Raja Tombak Emas mempunyai jurus tombak yang sangat sakti.
Bahkan menurut rumor, sampai detik ini belum ada yang mampu mengalahkan jurus tombaknya tersebut.
Pertarungan mereka sudah memasuki tiga puluh jurus. Selama itu, keduanya masih terlihat imbang. Namun sering kali Raja Tombak Emas lebih menguasai pertarungan.
Sinar emas masih terus membelah malam menusuk udara kosong. Sinar itu bergerak tanpa henti ke segala arah membuat si kakek tua tongkat tengkorak merasa keder.
Tongkatnya memang bergerak, tetapi semua gerakannya terbatas karena terhalang oleh sinar emas yang berasal dari tombak milik lawan.
Benturan antara tongkat dan tombak terjadi sepanjang jalannya pertarungan. Raja Tombak Emas mulai marah. Dia masih kesal karena disebut bau tanah kuburan.
Atas dasar alasan tersebut, datuk dunia persilatan itu kemudian melancarkan salah satu jurus tombaknya yang terkenal ditakuti lawan disegani kawan.
"Tombak Menusuk Rembulan Membelah Cakrawala …"
Salah satu jurus pamungkas yang dia miliki sudah digelar. Kalau sudah mengeluarkan jurus ini, maka gerakan serangan dan permainan tombaknya akan berubah total.
Sejauh ini, belum ada yang mampu bertahan dari jurus tersebut. Sebab jurusnya dikenal sangat cepat dan tepat sasaran.
Andai kata dia ingin berkata menusuk telinga, maka tusukan akan tepat mengenai telinga sesuai apa yang dia inginkan.
Sinar emas kembali berkelebat. Arah tujuannya ke leher bagian atas. Raja Tombak Emas menyerang dari arah bawah menusuk ke atas. Seperti halnya seseorang yang ingin menyodok sang rembulan.
Tusukannya mengerikan. Sabetannya mematikan.
Lawan mulai kewalahan. Sebab serangan Raja Tombak Emas semakin lama semakin membuatnya pusing. Sinar emas itu semakin kelihatan banyak.
Tongkat tengkorak juga bergerak. Jurus terhebat yang dia miliki telah dikeluarkan. Dari mulut tengkoraknya mendadak keluar asap hitam yang menghalangi pandangan mata.
Tongkatnya mengeluarkan sinar aneh dan kekuatan dahsyat.
Sayangnya semua itu belum mampu untuk menandingi kekuatan jurus Tombak Menusuk Rembulan Membelah Cakrawala. Jurus itu jauh lebih cepat dan mengerikan lagi.
"Trakk …"
Suatu ketika tanpa disengaja, dua senjata berupa tongkat dan tombak itu berbenturan di tengah jalan. Akibatnya tubuh kedua tokoh tersebut bergetar hebat. Untuk beberapa saat mereka mengadu tenaga dalam.
Sepuluh tarikan suara nafas berikutnya, terdengar satu suara yang membuat salah satu tokoh merasa sakit.
"Krakk …" patah.
Tongkat tengkorak milik lawan patah. Tentu hal itu sangat menyakitkan bagi pemiliknya. Semangat untuk bertarung langsung lenyap. Konsentrasinya buyar seketika itu juga.
Hal ini tidak di sia-siakan oleh Raja Tombak Emas dari Utara. Secepat kilat dia menggerakkan tombak emasnya lalu menusuk ke bagian dada.
"Slebb …"
Tusukan yang sangat telak sekaligus membawa kematian.
Darah merembes membasahi ujung tombak. Tombak yang warnanya emas mulai bercampur merah darah.
Mulut si kakek tua itu mengeluarkan darah juga.
"Ka-kau menang tua bangka bau tanah kuburan …" katanya dalam suara menahan rasa sakit.
Begitu suaranya habis, nyawanya juga melayang. Saat tombak dicabut, saat itu juga dia langsung ambruk ke tanah dalam posisi tengkurap.
Pertarungan Bidadari Tak Bersayap lain lagi. Dia melawan seorang nenek tua yang menggunakan selendang merah darah sebagai senjatanya. Selendang itu sangat elastis.
Kadang kala bisa dibuat lemas, kadang kala bisa dibuat keras bagaikan sebatang tongkat.
Kekuatan nenek tua ini memang di bawah si kakek tua pemegang tongkat tengkorak, namun kelincahan dalam pertarungan, agaknya si nenek tua tersebut masih di atasnya satu tingkat.
Sangat cocok sekali jika disuruh bertarung dengan Bidadari Tak Bersayap yang juga selalu mengandalkan kecepatan dalam permainan pedangnya.
Nenek tua itu menyerang dengan ganas. Selendangnya dia luncurkan ke arah Bidadari Tak Bersayap dalam kecepatan tinggi.
Pedang Cantik dari Kahyangan sudah digenggam erat di tangan kanan.
Apalagi yang harus dia takutkan?
Menghadapi selendang yang meluncur cepat tersebut, Bidadari Tak Bersayap hanya perlu memiringkan badannya lalu melompat tinggi ke atas.
Berbarengan dengan saat itu, tangan kirinya di hentakkan ke depan sehingga keluar sinar kuning memanjang ke arah si nenek tua.
"Blarr …"
Tanah berlubang cukup dalam saat setelah ledakan selesai berbunyi. Si nenek tua ternyata berhasil menghindari serangan tersebut dalam waktu singkat.
Namun, dia sendiri cukup terkejut ketika menyadari bahwa kekuatan si gadis cantik yang menjadi lawannya ternyata cukup tinggi. Bahkan mungkin setara dengannya.
"Anak-anak zaman sekarang memang luar biasa. Aku akan bangga jika takdirku harus tewas di tangannya," gumam nenek tua itu.
"Gadis cantik, keluarkan semua kekuatanmu. Kalau sampai aku bisa tewas di ujung pedangmu, maka aku akan mati dengan tenang," teriak si nenek tua lalu melancarkan kembali serangan lainnya.
"Baik, aku akan berusaha sebisa mungkin," tegas Bidadari Tak Bersayap.
"Bagus," jawabnya.
Sambil berkata, mereka sambil tetap melanjutkan pertarungan yang semakin lama semakin hebat tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 371 Episodes
Comments
rajes salam lubis
keren
2022-07-10
1
Insp Herman Bonsai
👍🚒
2022-05-27
1
Alan Bumi
typo masih ada
2021-11-30
1