"Hahaha-! Kau lihat itu ular jelek! Han'er berbakat dalam ilmu pedang! Dibandingkan menjadi Kultivator Racun, Han'er lebih baik menjadi Kultivator Pedang!" seru Meirong menunjuk Yutian.
"Hmph, jangan senang dulu. Han'er masih awal belajar ilmu racun dan pedang. Masih terlalu cepat untuk memutuskan apakah dia lebih berbakat dalam racun atau pedang."
"Tidak, tidak, tidak... dia pasti akan menjadi ahli pedang, bukannya ahli racun."
"Sudah kubilang ilmu pedangmu tidak akan cocok dengan Han'er. Dia lebih cocok dengan ilmu racun, yang memperkuat ilmu alkeminya..."
Selanjutnya, kedua hewan roh itu mulai berdebat. Yao Han hanya bisa melongo melihat tingkah keduanya, tetapi itu hanya sebentar karena kembali fokus terhadap ilmu pedang Bintang Jatuh. Dia berencana mengulang sampai seratus kali gerakan bintang pertama.
"Lagi-lagi mereka berdebat tentang hal tidak penting. Sepertinya aku keliru menjadikan Xiao Han sebagai murid mereka juga..." gumam Feng Xian.
***
Dua bulan berikutnya, Yao Han mampu menghapal kelima gerakan jurus pedang Bintang Jatuh. Hal ini membuat Meirong senang, tetapi muridnya itu perlu mengasah lebih jauh agar bisa mengeluarkan potensi menggunakan ilmu pedang ini sampai ke tingkat tertinggi yang dia bisa lakukan.
Meirong dan Yutian, sambil menemani Yao Han juga giat meningkatkan praktik, akhirnya mereka sudah mencapai puncak Ranah Dasar. Mereka sudah bersiap untuk memasuki Ranah Pondasi.
Mereka yang saat ini adalah hewan roh tingkat tinggi akan mampu membentuk pondasi terkuat, yaitu Pondasi Langit.
Berbeda dengan kultivator manusia yang harus melewati pembentukan Pondasi Fana dan Bumi sebelum membentuk Pondasi Langit, hewan roh bisa langsung membentuk Pondasi Langit dengan lama waktu yang sama dibutuhkan kultivator untuk membentuk Pondasi Langit, yaitu enam bulan.
Feng Xian juga sudah menyiapkan tempat untuk keduanya masuk dalam latihan tertutup membentuk pondasi mereka. Tempat ini dibawah kaki gunung, tepatnya di hutan yang termasuk kawasan zona aman.
Demi menghindari gangguan yang tidak perlu, tempat itu sudah dipasang formasi pelindung oleh Feng Xian.
Mengetahui tindakan Feng Xian, Meirong dan Yutian sampai kehabisan kata-kata dan hanya bisa terus berterimakasih pada pria berwajah tegas tersebut.
"Han'er, jangan lupa untuk berlatih. Aku harap kau mengejutkanku dengan hasil latihanmu saat kami kembali," pesan Meirong.
Sebelum Yao Han menanggapi, Yutian memotongnya, "Han'er, kau harus lebih rajin berlatih ilmu racun dan tunjukkan kau lebih baik menjadi Kultivator Racun..."
"Yutian, kau-"
"Apa?"
Yutian menjulurkan lidah ularnya beberapa kali mengejek Meirong yang geram menatapnya.
'Masih sempat-sempatnya mereka berdebat... Harusnya aku menempatkan mereka di zona bahaya..." Feng Xian menatap kedua hewan roh itu dengan malas, sementara Yao Han tersenyum canggung.
Yutian segera menuju tempat latihan untuknya sebelum Meirong mengomel.
"Aish, ular bodoh itu..." gumam Meirong, "Senior Feng, kami serahkan Han'er padamu..."
Feng Xian merasa lucu dengan pesan Meirong, tentu saja dia yang akan mengurus Yao Han tanpa perlu diminta, tetapi dia membalas dengan anggukan pelan.
"Sampai jumpa enam bulan lagi, Han'er..."
"Baik, Guru."
Meirong pun menuju tempat latihannya, yang berjarak beberapa puluh meter dari tempat latihan tertutup Yutian.
***
"Argh-! Kenapa aku tidak bisa membuatnya?!" jerit Yao Han sambil menjambak rambutnya frustasi.
Yao Han sudah mulai belajar seni melukis dari Feng Xian, tetapi tidak seperti perkembangan belajarnya terhadap ilmu yang dia pelajari dari Meirong dan Yutian, Yao Han bisa dikatakan tidak berbakat dalam hal melukis.
Dua bulan berlalu, Yao Han frustasi dengan hasil belajarnya yang tidak ada perkembangan sama sekali. Lukisannya bahkan tidak bisa dikatakan cukup bagus.
Feng Xian sama sekali tidak ada niatan untuk menghibur Yao Han, justru menertawainya. Hal ini membuat Yao Han menjadi kesal dan merasa rendah diri.
"Sepertinya aku tidak berbakat dalam hal melukis..." gumam Yao Han, "Guru, apa yang harus kau lakukan?"
"Melukis membutuhkan sentuhan perasaan didalamnya juga dipengaruhi oleh pengalaman si pelukis. Yang bisa kau lakukan adalah menenangkan dirimu dan menambah pengalaman."
"Apa maksudnya itu?"
"Kau pikirkan sendiri jawabannya."
Yao Han berdecak dalam hati terhadap tanggapan datar Feng Xian, gurunya itu juga tidak perlu repot-repot menoleh padanya. Dia kemudian mencari tempat untuk bermeditasi.
Setelah selesai, Yao Han kehilangan minat terhadap melukis, jadi dia melakukan hal lain seperti membuat lebih banyak jenis bubuk obat dan racun, berlatih ilmu bela diri dan pedang.
Hal ini dia lakukan setiap merasa frustrasi terhadap kemampuan melukisnya yang tidak berkembang. Disisi lain pemahamannya terhadap ilmu lain justru meningkat pesat.
Tidak berbakat dalam melukis, Yao Han mencoba hal lain yang sedikit mirip, yaitu seni membuat kaligrafi. Yao Han cukup puas dengan ini karena hasilnya jauh lebih baik daripada seni melukis. Tulisan tangan Yao Han pun menjadi lebih rapi daripada sebelumnya berkat ini.
"Hm... setidaknya kau menemukan bakat lain yang masih berhubungan dengan seni melukis," komentar Feng Xian, secara tidak langsung memuji tulisan tangan dan kaligrafi buatan Yao Han.
"Guru, mungkin Anda bisa mengajariku seni musik?"
"Tidak sekarang. Seni musik dan melukis memiliki tingkat kesulitan kurang lebih sama. Kalau kau tidak ingin frustasi lebih jauh, lebih baik jangan mempelajari dua bidang seni ini dalam waktu berdekatan."
Feng Xian kemudian memberikan sebuah slip giok, "Ambil ini dan pelajari teknik didalamnya. Kalau kau berhasil menguasainya dalam waktu satu bulan, aku akan memberikanmu hadiah."
Yao Han mengambil slip giok itu dan memeriksanya, "Langkah Angin Surgawi?"
Feng Xian menjelaskan sedikit bahwa Langkah Angin Surgawi adalah salah satu ilmu meringankan tubuh atau nama lainnya adalah teknik langkah kaki. Memungkinkan seseorang bergerak lincah dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat.
Feng Xian tidak menyebutkan hadiah yang akan dia berikan, tetapi itu memicu Yao Han menjadi lebih bersemangat mempelajari Langkah Angin Surgawi.
Yao Han akhirnya sanggup menguasai teknik ini lebih cepat dari batas waktu yang ditentukan, yaitu dua puluh hari.
"Ini bukan hanya sekedar hadiah, tetapi juga pusaka warisan. Namanya Kipas Gunbai." Feng Xian mengeluarkan sebuah benda aneh berukuran besar.
"Kipas?"
"Ya, terlepas dari ukurannya yang tidak wajar dan bentuknya yang aneh, kipas ini termasuk Pusaka Bumi tingkat tinggi. Sebelumnya pusaka ini diberikan guruku saat aku berhasil membentuk Pondasi Langit."
Yao Han tidak langsung menerima, "Kalau kipas ini adalah pusaka warisan, sepertinya aku harus menunggu mencapai Ranah Pondasi untuk pantas menerimanya."
"Tidak perlu, ambil saja ini. Lagipula benda ini sudah lama tidak aku gunakan. Lebih baik dia memiliki tuan baru."
Yao Han kemudian menerima kipas itu, saat tangannya menyentuh gagang panjang kipas itu, angin berhembus diantara mereka, membuat Yao Han kaget.
Feng Xian tertawa pelan, "Hambusan angin tadi adalah tanda kipas ini menerimamu sebagai pemilik barunya."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 242 Episodes
Comments
Darwito
kipas
2024-11-26
0
Ajo jatah
waduh senjata Madara ni
apa gak di ambil lagi Ama Madara nantik tu senjata🤭🤭🤫
2024-02-04
0
Kipas kayak Gitar....
2024-01-30
1