Yao Han sudah berada dalam posisi duduk sambil memperhatikan sosok pemilik suara berat yang mengagetkannya. Seorang pria yang sepertinya berusia dipertengahan usia tiga puluhan tahun.
Tubuhnya tegap, memakai pakaian putih dengan beberapa garis hitam. Rambutnya yang panjang sepunggung berwarna hitam, begitu juga dengan alis tajam, kumis tipis dan janggut pendeknya.
Wajahnya tegas, sorot matanya tajam, dan pembawaannya berwibawa. Aura aneh yang terpancar dari sosok pria itu membuat Yao Han terintimidasi.
"Apa aku menakutimu? Tenang, aku tidak berniat melukaimu."
Yao Han baru menyadari pria itu membawa nampan besar yang diatasnya ada banyak hidangan. Tanpa bisa dicegah, perut Yao Han berbunyi cukup nyaring.
"Lebih baik kau isi dulu perutmu, baru setelahnya kita bicara." Pria itu meletakkan nampan ke hadapan Yao Han. Bocah itu terlihat bingung, karena pria itu membawakannya makanan seolah tahu dia akan terbangun.
"Apa kau tidak bisa bicara? Dari tadi kau diam saja." Suara pria itu terkesan datar saat bertanya.
Yao Han kemudian tersadar, berdeham pelan sebelum menjawab, "Maaf Paman jika aku tidak sopan. Apakah anda yang membawaku kesini?" Suara Yao Han lirih dan sedikit serak.
Pria itu menaikkan sebelah alis lalu tertawa, "Paman? Ini pertama kalinya ada yang memanggilku demikian..."
"Jika anda tidak suka, bagaimana jika aku memanggil anda dengan panggilan tuan?"
Pria itu tertawa kecil, "Aku bukan majikanmu, tidak perlu memanggilku Tuan. Kau boleh menggunakan panggilan Paman padaku."
"Baik, Paman. Namaku Yao Han, boleh aku mengetahui nama Paman?
Pria itu sedikit heran karena Yao Han memperkenalkan diri terlebih dahulu tanpa ditanya, "Namaku Feng Xian. Dan memang benar aku yang membawamu kemari. Jangan bicara lagi, makanlah dulu."
Feng Xian duduk di sebuah kursi, tidak jauh darinya. Yao Han merasa sedikit canggung, kemudian mulai makan hidangan yang dibawa Feng Xian. Ada sayur, buah, dan paling menggoda adalah potongan daging panggang yang mengeluarkan aroma sedap.
Yao Han makan cukup lahap, karena perutnya sangat lapar. Belum pernah dia kelaparan seperti ini dan sudah beberapa hidangan yang dia habiskan.
"Tidak perlu terburu-buru. Kau bisa tersedak dan perutmu juga akan kesulitan mencerna makanan. Kalau makanan ini tidak cukup, masih sangat banyak makanan yang bisa kuberikan."
Yao Han meringis malu, sebenarnya makanan yang diberikan Feng Xian ini termasuk banyak untuk bisa dimakan dalam waktu singkat.
Yao Han kembali melanjutkan makan. Dia fokus pada kegiatan kecilnya itu karena Feng Xian menatapnya, membuatnya risih.
"Paman, apa ada yang ingin ditanyakan?"
"Ya, ada beberapa hal yang membuatku penasaran, tetapi kau bisa menjawabnya nanti. Fokuskan pada makananmu, kita akan bicara nanti. Kalau kau mencariku, aku ada diluar rumah."
Feng Xian meninggalkan Yao Han yang kebingungan dengan sikap anehnya. Tanpa berpikir lebih jauh, Yao Han melanjutkan mengisi perutnya.
Kurang dari setengah jam, Yao Han berhasil menghabiskan semua makanan tersebut. Perutnya sedikit membuncit.
"Ah, sungguh nikmat..." Yao Han bersandar pada dinding kamar sambil mengelus perutnya. Ini adalah pertama kalinya Yao Han makan enak, karena biasanya dia makan makanan sederhana.
Setelah beberapa waktu, Yao Han baru merasakan perbedaan pada tubuhnya. Tenaganya kembali pulih, tetapi jauh lebih kuat daripada yang dia ingat.
"Eh, apa ini?"
Perhatian Yao Han teralihkan pada hal lain, ada sesuatu yang dia rasakan disekitar tubuhnya. Yao Han mengayunkan tangannya beberapa kali, sesuatu diudara itu terasa kuat tetapi membuatnya merasa sangat segar.
Ditengah kebingungannya, sesuatu melintas dalam pikiran Yao Han, ingatan tentang pertemuannya dengan pria serba putih, Bai Tian. Cukup lama dia merenung lalu menghembuskan napas panjang.
Yao Han tersenyum lebar mengetahui benda berwarna cokelat gelap yang ada di pergelangan tangannya. Sebuah gelang yang warna aslinya adalah hijau giok berukiran unik keemasan, gelang ruang pemberian Bai Tian.
"Hm, kalau menurut Paman Bai aku sekarang jauh dari rumah. Rumah Paman Feng ini... kira-kira dimana, ya?" gumam Yao Han sambil mengamati isi ruangan yang ditempatinya.
Tidak banyak barang, sehingga ruangan itu terlihat sangat sederhana. Samar-samar, Yao Han mencium aroma dari arah luar kamar.
"Aroma obat... Paman Feng ini sepertinya seorang tabib." Yao Han mencoba menebak.
Setelah merasa cukup bugar, Yao Han turun dari ranjang. Dia kaget pada tubuhnya ketika mencoba meregangkan otot-ototnya.
"Uh, berapa lama aku tidak sadarkan diri? Kenapa tubuhku terasa kaku begini?"
Yao Han berpikir setidaknya dia tidak sadarkan diri hanya beberapa jam, karena pertemuannya dengan Bai Tian hanya sebentar.
Setelah merasa cukup, dia memutuskan keluar untuk mencari Feng Xian. Isi rumah itu juga tidak banyak, tetapi tersusun rapi. Yao Han sempat berhenti sejenak didepan sebuah ruangan karena tercium aroma obat yang kuat saat melewatinya.
Saat mencapai pintu utama, Yao Han terkejut. Matanya melebar, begitu juga dengan mulutnya saat melihat pemandangan didepannya.
Didepan rumah Yao Han ada sebuah kolam besar. Diatas kolam ada sebuah jembatan kayu agak melengkung yang terhubung dengan teras depan rumah Feng Xian.
Yao Han melihat lebih dekat. Kolam itu tampak jernih, berisi banyak bunga teratai beragam warna dan ikan-ikan koi yang berenang santai. Ada juga kupu-kupu berwarna pelangi yang anehnya memancarkan aura kuat.
Kolam itu dibatasi bebatuan hitam cukup besar dan ukurannya nyaris sama satu sama lain. Halaman disekitar kolam tampak asri dan tumbuh hamparan rumput hijau dengan berbagai macam tanaman yang belum pernah dilihat Yao Han.
Disamping rumah besar Feng Xian ada sebuah bangunan lebih kecil dan sederhana. Disisi yang berlawanan, ada sebuah kebun luas. Tanaman dikebun itu mengeluarkan aroma sedap yang kuat.
Terlalu larut mengagumi keindahan sekitar rumah Feng Xian, Yao Han melupakan tujuan utamanya, sampai sebuah suara menyadarkannya.
"Bocah-! Kemari-!"
Yao Han menemukan Feng Xian berada puluhan meter darinya, duduk disebuah kursi batu. Ada juga meja batu bundar dan kursi batu lain yang kosong. Yao Han berjalan mendekat cukup cepat, tetapi melambat saat menyadari ada dua hewan berbeda warna yang ada diatas meja batu.
"Kenapa kau berdiri diam disitu? Ayo kesini, duduk bersamaku." Feng Xian mengetahui arah pandangan Yao Han tetapi tidak memberikan tanggapan. Feng Xian sendiri ternyata sedang melukis. Kanvas lukisnya baru selesai sepertiganya.
Yao Han duduk perlahan dengan matanya mengamati dua hewan diatas meja batu. Yang satu adalah burung merah indah dengan lima ekor cukup panjang. Satu lagi adalah ular bersisik hijau giok bergaris abu-abu memanjang dikedua sisi tubuhnya.
"Paman Feng, dimana kita sekarang? Pemandangan disini sangat indah sekali," puji Yao Han.
"Kita saat ini berada dipuncak gunung yang ada ditengah pulau bernama Pulau Bulan Bintang."
Catatan:
Feng artinya angin, Xian artinya dewa. Feng Xian berarti Dewa Angin. Nama ini diambil dari salah satu tokoh novel BTTH, yang merupakan teman dekat Yao Chen, guru Xiao Yan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 242 Episodes
Comments
Luo Zan Thian
lanjuuut
2025-02-03
0
Darwito
jcjcjc
2024-11-26
0
Cukup menarik
2024-01-30
1